TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
GHEA DIBAWA PAKSA


__ADS_3

Dua hari berlalu Ghea LDR an dengan Fadhil, selama itu juga Ghea slalu langsung pulang jika sudah selesai kelas.


Selama dua hari, Tristan pun tidak berhenti memantau Ghea lewat Stevi, memastikan wanita yang masih bersemat dihatinya langsung pulang jika jam kuliah usai, dirinya masih merasa khawatir Yasmin akan datang dan menyakiti Ghea.


Hari ketiga ini Fadhil akan pulang dari Bandung sore, dan dihari ini jam kuliah Tristan dan Fariz cukup padat, hingga dirinya tidak sempat menghubungi Ghea maupun Stevi.


Tristan dan Fariz larut dalam kesibukannya.


"Ghe langsung balik?" Tanya Stevi.


"Iya Stev, hari ini Mas Fadhil pulang."


"Ciyee yang mau ketemuan sm yayang." Ledek Stevi.


"Apa sih Stev.." Wajah Ghea memerah.


Mereka berdua terus jalan menuju gerbang kampus sambil asik ngobrol.


"Besok pulang kuliah ngemall yuk Ghe, cari buku sekalian. Udah tiga hari juga nih gak jalan sama Tristan dan Fariz."


Ghea menyenggol lengan Stevi, "Lo suka kan sama Fariz? jujur deh Stev."


"Apa sih Ghe, gue lebih nyaman begini, temenan berempat. Lebih bebas aja."


"Yakin Stev? gue denger Fariz lagi deket sama cewek anak Fakultas Teknik."


"Anak fakultas Teknik?" Tanya Stevi heran.


Ghea mengangguk.


Stevi nampak berfikir, "Ohh Jessi.. Cewek tomboy diFakultas Teknik."


Ghea mengangguk lagi. "Iya, lo tau? emang katanya ceweknya tomboy, tapi baik."


Stevi tertawa, "Gak lah, Jessi kan beda agama sama Fariz Ghe, mungkin mereka cuma temenan, Fariz juga pasti belajar dari kisah lo sama Tristan, cinta beda agama itu gak bisa bersatu."


"Oh ya?"


"Iya.. Agama Jessi itu sama kaya Tristan."


"Gue kira Fariz deket sama Jessi Jessi itu Stev."


"Iya deket, mereka sering ikut acara kampus, kaya baksos gitu, perwakilan dari fakultas dan jurusan masing-masing."


"Jessi fakultas teknik jurusan apa Stev?"


"Arsitek kalo gak salah sih Ghe."


"Keren juga ya, cewek tomboy biasanya kuat, gue pengen bisa jadi cewek kuat dan gak lemah."


Sebuah mobil berhenti agak menyerempet ke Ghea dan Stevi.


"Gila, mobil siapa sih?" Umpat Stevi.


Ghea dan Stevi melihat seorang wanita turun dari sebuah mobil, dan dibelakangnya dua orang berbadan besar seperti bodyguard yang mengawal dengan motor besar percis dibelakang mobil Yasmin.


"Kak Yasmin." Gumam Ghea yang terdengar oleh Stevi.


Yasmin berjalan mendekat kearah Ghea.


"Bisa ikut gue?" Tanya Yasmin to the point.


"Ke.. kemana Kak?" Ghea nampak gugup, terlihat ketakutan diraut wajahnya.


"Ghe, lo langsung balik aja, atau ke kost an gue dulu." Sahut Stevi.


Yasmin menatap sinis Stevi, membuat Stevi takut dan sedikit menunduk, tapi lengannya tetap setia menggandeng lengan Ghea.


"Gue ada perlu, ada yang mau gue omongin."

__ADS_1


"Disini aja Kak." Ucap Ghea.


"Disini panas Ghe, ayo kita kehotel Ayah aja, gue juga laper dan haus, bisa sambil makan di restonya." Yasmin menarik paksa Ghea.


"Kak, nanti dulu, aku harus ijin dulu Mas Fadhil."


Yasmin semakin mencengkram lengan Ghea dengan kuat, "Gue bilang ikut ya ikut, lo denger gue gak sih."


Yasmin menyeret Ghea kedalam mobilnya.


Stevi yang menahan tangan Ghea pun dilepas begitu saja oleh Yasmin. Kedua bodyguard itupun memasang wajah garang kepada Stevi.


Stevi yang tidak mampu mencegah Yasmin membawa Ghea segera kembali kedalam kampus, ia berlari menuju fakultas hukum tempat kuliah Tristan dan Fariz.


Beruntungnya Stevi bertemu dengan Fariz dan Tristan saat diparkiran.


"Riz, Tan.. Gheaa.." Nafas Stevi terengah-engah karna habis berlari.


"Lo kenapa Stev?" Tanya Fariz.


"Minum dulu Stev." Tristan memberikan botol air mineral untuk Stevi.


Stevi meneguknya dan setelah tenang dia mulai berbicara.


"Ghea dibawa kakaknya." Ucap Stevi.


"Apa Stev? koq bisa?" Tanya Tristan yang mulai panik.


"Tadi gue sama Ghea jalan menuju gerbang kampus buat naik taxi, belum sampai gerbang ada mobil mepet kita, dibalakangnya ada dua cowok gede-gede kaya bodyguard gitu. Ghea dipaksa kakaknya masuk kedalam mobil."


"Ya Tuhann Stev.. koq bisa sih." Tristan tambah panik, apa yang dikhawatirkannya terjadi, Ghea dibawa oleh Yasmin.


"Dibawa kemana? lo tau Stev?" Tanya Fariz.


"Tadi kakaknya bilang cuma mau ngobrol, katanya ngobrol di resto hotel Ayahnya. Lo tau Tan?"


"Ya udah, kita susul." Ajak Fariz.


"Gue ikut." Ucap Stevi.


"Bahaya Stev, mana ada dua bodyguard, lo lebih baik bantu hubungin pak Fadhil."


Stevi hanya pasrah. Fariz dan Tristan masuk kedalam mobil, Fariz mengendarai mobil Tristan karna Tristan sedang dimode panik sehingga todak akan fokus menyetir.


"Si*al.. Macet Riz.."


"Sabar Tan, kita jangan panik."


"Gimana gue gak panik Riz, Ghea dalam bahaya. Gue tau Kak Yasmin orangnya bagaimana."


"Macet panjang ini Tan, kalo naik motor bisa selap selip." Ucap Fariz.


Tristan nampak memperhatikan jalan sekitar, mencari ojeg online yang kosong dan bisa disewa secara Offline.


"Ojeg online juga pada isi penumpang, gimana ini Riz."


"Jelas lah Tan, ini jam sibuk."


"Ya Tuhann.. Bantu aku, kasih aku jalan." Ucap Tristan sambil memegang kalung salib di lehernya.


"Tan.. Tann.. lihat kiri lo." Fariz menunjukan dengan dagunya.


"Cewek tomboy itu?" Tanya Tristan.


"Lo nebeng Jessi aja, dia jago naik motornya."


Tristan nampak berfikir,


"Jangan kelamaan berfikir Tan, Ghea dalam bahaya!!" Bentak Fariz.

__ADS_1


Tristan langsung membuka seat beltnya dan langsung turun dari mobil, dia begitu saja naik kemotor gede nya Jessi.


Jessi terkesiap dan menoleh kebelakang.


"Lo ngapain?" Tanya Jessi.


"Tolong gue Jess, temen gue dalam bahaya, dia dibawa paksa orang. Gue ngejar naik mobil kejebak macet."


"Temen lo diculik?"


"Ya seperti itulah, ayo Jess jalan mumpung ada celah."


"Pake helm dulu." Jessi menyerahkan helm yang berada didepannya kepada Tristan.


Dengan keahliannya, Jessi mengendarai motor dengan lihai, mencari celah dan terkadang naik ke trotoar (Jangan ditiru ya Readers 🤭) Setelah jalan cukup lancar, Jessi mengendarai motornya dengan kecepatan tinggi.


"Arah mana?" Tanya Jessi.


"Hotel Grand XX."


Jessi memacu motor kesayangannya dengan cepat.


Tiba di loby hotel, Tristan langsung melepas helmnya, dia masuk kedalam hotel untuk mencari keberadaan Ghea.


Setelah memarkirkan motornya, Jessi menyusul Tristan, terlihat Tristan sedang berdebat dengan resepsionist.


"Teman saya dalam bahaya, anda mau tanggung jawab? ini penculikan." Ucap Tristan dengan emosi.


"Nona Yasmin adalah anak pemilik hotel ini, dia datang bersama nona Ghevana adiknya yang juga anak pemilik hotel ini, tidak mungkin ada penculikan."


Tristan menggebrak meja resepsionist, "Beritahu saya dimana kamarnya!!"


Resepsionist bukannya memberitahu malah memanggilkan security.


"Tan udah ayo mending keluar." Bujuk Jessi.


"Gak bisa Jess, Ghea dalam bahaya."


"Mereka bilang temen lo itu sama Kakaknya, gak mungkin seorang kakak akan mencelakai adiknya kan?"


"Lo gak kenal Ghea, lo gak tau siapa Ghea." Tristan menatap tajam mata Jessi.


Deg...


Jantung Jessi berdegup lebih kencang saat melihat tatapan tajam mata Tristan yang seperti elang.


Tristan diseret oleh security, beruntung seseorang melihatnya dan itu adalah Bryan.


"Stop!! ada apa ini?" Tanya Bryan pada kedua security.


"Kak Bry.."


.


.


Kencengin yuk Lika nya, koment nya, Vote nya.


Author ngantuk nih, kasih hadiah kopi juga biar semangat.. hihihi.


.


.


Mohon maaf hari ini cuma bisa 1 Bab ya, Author lg disuruh istirahat nih.. doakan aku ya readers, smoga lekas membaik dan pulih..


tetap diusahakan Up tiap hari meski 1Bab ya..


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....

__ADS_1


__ADS_2