
Jessica sudah mulai terbiasa kembali dengan Tristan, sesuai permintaan Tristan, Jessi kini tidak lagi menghindarinya.
Ghea menangkap perubahan pada Tristan, ia sangat ingin tau apa yang terjadi pada Tristan, karna hingga kini, Tristan tetap belum bercerita pada Fariz.
Ghea berinisiatif untuk mengajak Tristan berbicara, Ghea mengirimankan pesan kepada Tristan.
^^^"Titann.. gue ikut lo balik dong, kangen mama monica."^^^
"Ijin dulu ama Pak Fadhil Ghe."
^^^"Udah Titann, gue udah ijin sama Mas Fadhil, nanti dia jemput gue dirumah lo."^^^
"Oke entar gue jemput lo ke fakultas lo ya."
^^^"Iyaa.. makasih Abang Titaann."^^^
Sebelumnya Ghea memang tlah meminta ijin pada Fadhil untuk pulang bersama Tristan dan memintanya menjemputnya dirumah Tristan nanti sepulang kerja Fadhil.
Fadhil pun mengijinkan karna begitu percaya pada Ghea.
"Hati-hati Ghe, cinta lama belum kelar." Ledek Fariz yang mengetahui bahwa Ghea akan pulang bersama Tristan
"Ishh apa sih Riz, Titan itu sekarang Abang gue."
"Ya tapi kan mana tau perasaan Tristan ke lo kayak gimana?" Sahut Stevi.
Diam-diam Jessi menyimak obrolan itu, sementara Tristan sedang ke toilet.
"Justru gue lagi mau ngorek Titan, dia tuh lagi jatuh cinta sama siapa sih?"
"Nah bener tuh Ghe, mungkin dia cerita kalo sama lo." ucap Fariz.
"Makanya, gue bener-bener pengen ngorek isi hati Titan, lo semua dukung gue kan?"
"Dukunglah.. Tapi kalo dia belum move on dari lo gimana Ghe?" Tanya Stevi.
"Feeling gue sih bilang, kalo Titan emang lagi pendekatan sama cewek lain."
"Ssst.. ssstt Tristan udah datang." ucap Fariz memberitahu.
"Jadi kalian gak ada yang ikut?" tanya Tristan.
"Gue sih gak bisa Tan, udah keburu pesen tiket buat nonton sama Stevi." Jawab Fariz.
"Ck, harusnya klo mau nonton bilang-bilang kan bisa bareng-bareng Riz." Ujar Tristan.
"Yeee, namanya juga lagi pendekatan, masa rombongan."
"Lo Jess, gimana?" Tanya Tristan pada Jessi.
Sebenarnya Tristan sangat ingin mengajak Jessica juga untuk kerumahnya, ia ingin memperkenalkannya pada sang Mama.
"Gue ada kerjaan, mau survey lokasi." Jawab Jessi.
"Sama siapa?" Tanya Tristan dengan nada posessif.
"Temen sekomunitas." Jawab Jessi lagi.
__ADS_1
Tristan mengangguk, "Ya udah, kalo gitu gue bawa Ghea dulu kerumah."
Mereka berpisah, Fariz pergi dengan Stevi, Jessi naik motor kesayangannya pergi seorang diri dan Ghea naik kemobil bersama Tristan.
"Ghe.. sebenarnya lo bukan mau ke Mama kan?" Tanya Tristan saat mereka sudah dijalan.
Ghea tersenyum, "Titan tau banget."
"Lo mau apa? apa yang lo mau tau?" Tanya Tristan.
"Lo bener udah ada cewek yang lagi lo kejar Tan?" Tanya Ghea to the point.
"Lo tau gak sih Ghe, gue ada masalah yang akhir-akhir ini bikin gue stres dan gue bingung mau cerita sama siapa."
"Tan, lo bisa percaya sama gue, apa lo butuh bantuan gue?"
Tristan menatap jalanan didepannya sambil tetap fokus menyetir. "Gue sangat butuh bantuan, tapi gue bingung siapa yang bantu gue."
"Siapa Tan? siapa cewek yang berhasil bikin lo galau begini?"
Tristan menengok kearah Ghea kemudian fokus kembali menyetir. "Kita mampir cafe ya Ghe, lo bilang dulu sama Pak Fadhil biar gak salah paham."
Ghea meraih ponselnya dan mengirim pesan pada Fadhil.
^^^"Hubby sayang, aku mampir ke caffe sebentar ya, Tristan lagi butuh teman ngobrol, boleh?"^^^
"Iya sayang, boleh.. jadi nanti aku jemput dimana?"
^^^"Belum tau By, nanti kalo kamu udah mau pulang, telpon aku dulu ya. Tristan cuma mau cerita tapi gak bisa dirumah karna ada mama monica."^^^
"Oke sayang."
Mereka duduk berdua dan memesan minuman serta makanan ringan.
"Jadi?" Tanya Ghea.
"Siapa ceweknya?" Tanyanya lagi.
Tristan menghela nafas.
"Lo tau kan gue mau dijodohin, walapun Mama bilang kalo cuma perkenalan tapi tetap aja ujung-ujungnya perjodohan Ghe."
"Jujur Ghe, hati dan perasaan gue kacau sewaktu gue lihat lo diculik kak Yasmin, rasanya saat itu juga gue mau bawa lo kabur dan memanfaatkan keadaan pas lo lagi gak berdaya. Tapi akhirnya gue sadar, pas gue tatap mata lo saat itu, dimata lo udah gak ada cinta buat gue."
"Tan.." Lirih Ghea.
"Ghe, dengerin gue cerita dulu." Perlahan Tristan mulai bercerita kembali.
"Gue bawa lo kerumah sakit, dan minta Mama datang untuk menemani lo, dan gue denger lo terus-terusan nanyain Pak Fadhil, gue semakin sadar kalo kenyamanan lo sekarang bukan gue lagi, melainkan Pak Fadhil."
"Lo tau rasanya Ghe? sakit." Tristan tersenyum tipis.
"Harapan itu semakin tenggelam saat gue tau dari Mama kalo lo hamil. Rasanya gue semakin jauh dari lo, benteng besar diantara kita bertambah, selain agama dan keyakinan, kini ada pernikahan dan anak yang sedang tumbuh dirahim lo."
Ghea mencoba mendengarkan dan mencerna apa yang diceritakan oleh Tristan.
"Sampai hari itu, gue memutuskan untuk benar-benar tulus melepas lo, tapi gue butuh pelepasan, gue pergi kepantai, dan gue coba minum minuman keras, berharap setelah gue melepaskan uneg-uneg gue, gue akan bisa lupain lo. Tapi suatu hal lain terjadi sama gue Ghe."
__ADS_1
"Apa Tan?"
"Pas gue lagi mabuk dan puas ngungkapin uneg-uneg gue, gue ditolong sama satu cewek yang rupanya dia ngikutin gue, terus karna kondisi gue udah mabuk, dan dia gak tau harus bawa gue kemana karna gak tau rumah gue akhirnya gue dibawa keapartemen dia."
Tristan menjeda ceritanya dan menghela nafas.
"Dengan sisa kesadaran gue, gue merayu dia Ghe, entah kenapa rasanya ada kenyamanan yang gue dapat dari dia, dan gue mengambil kehormatan dia dimalam itu."
"Titaann!!" Ghea cukup terkejut dengan pengakuan Tristan.
"Gue salah Ghe, iya gue salah, setelah kejadian malam itu gue dihantui rasa bersalah, gue terus mikirin dia dan tanpa gue sadari, perasaan gue ke lo juga berubah, gue mulai mikirin dia dan berusaha minta maaf sama dia meski dia terus menghindari gue."
"Siapa orangnya Tan?"
"Ghe lo janji jaga rahasia ini." Pinta Tristan.
"Siapa ceweknya Tan?" Ghea menatap sengit pada Tristan.
Tristan menghela nafas. "Jes..si..ca.." Jawab Tristan.
Ghea memejamkan matanya, "Tan lo harus tanggung jawab. Jessi cewek baik-baik."
"Gue udah samperin dia Ghe, gue bilang mau tanggung jawab, gue udah ajak dia nikah, tapi dia nolak gue."
"Apa alasan Jessi nolak lo? gak mungkin kan ga ada alasan."
"Jessi bilang gue harus menyelesaikan dulu masalah perasaan dan hati gue ke lo Ghe."
"Ya terus? bukannya lo udah ga ada perasaan sama gue Tan?" Tanya Ghea mendalam.
"Awalnya gue pikir, gue masih menyimpan perasaan sama lo Ghe, tapi sekarang gue yakin perasaan itu udah berubah." Jawab Tristan yakin.
"Perasaan lo ke Jessi?"
"Ini masih gue gali Ghe, gue masih mendalami apa perasaan gue ke Jessi, yang jelas hampir tiap waktu gue mikirin kesalahan gue ke dia, gue gak suka tiap lihat dia akrab sama temen-temen cowoknya, gue gak suka waktu dia hindarin gue."
Ghea menghela nafas, "Berjuanglah Tan, gue yakin perasaan lo itu akan semakin dalam ke Jessi."
"Tapi lo tau sendiri, Mama akan jodohin gue." Lirih Tristan.
"Mama dan Papa jodohin lo karna menganggap lo masih ada perasaan sama gue dan lo gak kunjung punya pacar, coba lo ajak Jessi kerumah kenalin ke Mama dulu."
"Tadi juga udah gue ajak, lo tau sendiri Jessi masih menghindari gue." Kesal Tristan.
"Biar gue nanti ngobrol sama Jessi ya Tan, boleh kan?"
"Lo mau bantu gue Ghe?"
"Tan kita sahabatan dari kecil, meskipun kita pernah melibatkan perasaan tapi dimasa kini hati kita udah saling menerima takdir dengan ikhlas. Gue akan bantu lo, lo sama Jessi seiman, seagama, dan hal itu harus lo perjuangin, perjuangan yang gak akan sia-sia Tan."
.
.
.
.
__ADS_1
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....