TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
ALDRICH


__ADS_3

Ghea, Stevi dan Jessi tengah berjalan-jalan disebuah Mall. Mereka berencana untuk berbelanja keperluan bayi, terutama untuk Stevi yang sudah mendekati bulan kelahirannya, dan jessi yang akan segera menyusul. Sementara Ghea belum berencana untuk membeli perlengkapan bayinya karna belum tau jenis kelaminnya, namun Ghea membelikan pakaian tidur untuk Zayn.


"Mama Monica pasti tambah sayang sama lo Jess, ngasih cucu perempuan." Ujar Ghea sambil membantu memilih bando bayi yang lucu untuk bayinya Jessi.


"Sebelum tau bayi gue cewek juga Mama udah sayang banget sama gue Ghe."


Ghea tersenyum, "Iya Mama Monica itu seperti malaikat Jess."


"Tristan makin sayang dong sama lo Jess?" Goda Stevi.


Jessi mengusap perutnya yang sudah membuncit itu, "Tristan makin perhatian sama gue."


"Nanti anak-anak kita sepantaran ya, ga sabar pengen tau jenis kelamin bayi gue apa." sahut Ghea.


"Cewek Ghe, biar nanti bayi gue ada temennya. Kalo cowok kan udah ada Zayn dan baby nya Stevi." Jawab Jessi.


"Gue juga berharapnya Baby Girl, tapi sedikasihnya Allah aja, yang penting sehat." Ucap Ghea sambil tersenyum.


***


Stevi merasakan sakit yang luar biasa didaerah pinggulnya.


"Aww Ssttt.." Stevi bangun dan duduk di sisi tempat tidur.


Dilihatnya Fariz yang masih terlelap tidur, pekerjaan Fariz yang terlalu banyak membuatnya sangat lelah sehingga ia tidak terusik dengan Stevi, terlebih ini masih jam dua dini hari, dimana rasa kantuk masih menyelimutinya.


"Udah mau keluar ya De.. Tunggu Papap bangun dulu ya sayang, kasian Papap kalo dibangunin." Ucap Stevi seraya mengajaknya berbicara pada bayi yang masih didalam perutnya sambil mengelus perutnya.


Stevi mencoba merebahkan kembali tubuhnya, seketika perutnya merasakan mulas yang berlebihan.


"Arggghh." Stevi sedikit berteriak.


Fariz perlahan mengerjapkan matanya. "Kenapa Yank?" Tanya Fariz mulai panik.


"Pap, dede sepertinya mau keluar." Ucap Stevi setenang mungkin dengan senyum yang dipaksakan. Ia tidak ingin membuat Fariz panik.


"Ya ampun Yank, kenapa gak bangunin aku. Udah berasa dari tadi ya?" Fariz segera beranjak dari tempat tidurnya, membantu Stevi untuk duduk, dan mengambil pakaian ganti untuk Stevi.


"Sayang.. kamu ngompol?" Tanya Fariz heran saat mendapati kasurnya basah.


Stevi meraba bagian basah itu dengan tangannya dan menciumnya, "Tapi gak pesing Pap, sepertinya ini air ketuban."


"Ya ampun Yank.." Fariz segera mengganti pakaian Stevi dan pakaian dirinya, ia segera menggendong Stevi untuk kerumah sakit.


Fadhil yang kebetulan habis sholat tahajud dan turun kedapur untuk mengambil air mineral melihat Fariz yang terburu-buru sambil menggendong Stevi.


"Riz, Stevi mau melahirkan?" Tanya Fadhil.


"Iya Mas" Setelah mereka lulus kuliah, mereka sepakat mengganti panggilan bapak menjadi Mas kepada Fadhil.


"Saya mau bawa Stevi kerumah Sakit."


"Ayo saya antar Riz, pake mobil saya aja, sebentar saya ambil kunci dulu." Ucap Fadhil.


Fadhil mencium pipi Ghea yang masih tertidur pulas sambil memeluk Zayn dan tidak membangunkannya. Kemudian Fadhil meraih kunci mobil dan segera mengantar Fariz kerumah sakit.


"Ayo Riz." Fadhil membukakan pintu mobil untuk Fariz dan Stevi.


Tiba dirumah sakit, Stevi segera masuk keruangan bersalin, terlihat wajah Fariz yang tegang dan begitu panik.


"Banyak-banyak istigfar Riz." Fadhil menepuk pundak Fariz.

__ADS_1


"Makasih Mas." Jawabnya dengan nada bergetar.


"Suami ibu Stevi.." panggil seorang suster yang keluar dari ruangan bersalin.


Fariz segera beranjak dan menghampiri suster itu, setelah diberi arahan oleh suster, Fariz kembali menghampiri Fadhil.


"Mas saya masuk kedalam ya dampingin Stevi, tolong hubungin orang rumah." Ucap Fariz kepada Fadhil.


Fadhil memgangguk. "Smoga diberi kelancaran dan kemudahan untuk Stevi melahirkan buah hati kalian." Doa tulus Fadhil.


"Aamiin.." Makasih Mas.


Fadhil segera mengabari Ghea soal kondisi Stevi yang akan melahirkan dan Ghea memberitahu Diana juga Bryan, tak lupa Ghea juga menghubungi Tristan dan Jessi.


Tepat selesai adzan subuh, suara bayi menggema diruang bersalin, bayi laki-laki Stevi Fariz tlah lahir kedunia dengan selamat.


"Bayi kita lahir Yank." Lirih Fariz pada Stevi.


Stevi tersenyum dengan wajah lelahnya, Fariz mengecup sekilas bibir dan kening Stevi.


"Terimakasih." Ucap Fariz tulus.


Stevi dan bayinya dipindahkan keruangan VVIP, Fariz memberikan fasilitas terbaik untuk istri yang tlah memberinya kebahagiaan tak terhingga itu.


Pukul sepuluh pagi, Ghea dan Mama Diana juga Ayah erick mengunjungi Stevi.


"Tampan sekali." Lirih Mama Diana yang menimang cucu dari anak satu-satunya itu.


"Matanya coklat seperti Daddy." Ujarnya.


"Benarkah Ma?" Tanya Fariz.


"Iya.. Mirip dengan Kakekmu."


"Aldrich Dewantara."


"Keren, apa artinya?" Tanya Ghea.


"Aldrich artinya Penguasa yang bijak, Dewantara itu nama Kakek, gue sengaja masukin nama Kakek, kelak Aldrich jadi pria kuat dan hebat seperti Kakek." Ucapnya penuh harap.


"Aamiin.." Sahut mereka semua yang berada diruangan.


Menjelang sore giliran Tristan dan Jessi yang menjenguk Fariz.


"Papa muda nih udah lahir jagoannya." Goda Tristan yang langsung memeluk Fariz dengan pelukan ala persahabatan.


"Gue jadi Papa Tan." ucap Fariz dengan wajah penuh haru.


"Selamat ya Stev." Jessi memeluk Stevi yang masih duduk di brankarnya.


"Thanks Jess, Tan." Jawab Stevi.


"Sore begini baru kesini, sibuk banget pengacara." Ledek Fariz.


"Tadi ada sidang Riz, gue kan harus dampingin klien."


"Ngoyo banget Pak kerjanya." Ledek Stevi.


"Ya mau gimana lagi Stev, gue bukan CEO pemilik perusahaan kayak laki lo ini." Jawab Tristan cuek.


"Gak nyangka aja, padahal dulu di SMA Tristan ini orangnya santai banget, sekarang bisa gila kerja." Sahut Fariz.

__ADS_1


"Karna udah punya tanggung jawab." Jawab Jessi membela Tristan sambil mengusap perutnya yang kian membuncit itu.


"Untung sekarang kita tetanggaan, kalo suami-suami sibuk, istri-istri bisa tetep ketemu dan gak kesepian." Ucap Fariz.


"Iya lo bener.. By the way Ghea sama Mas Fadhil udah kesini?" Tanya Tristan.


"Mas Fadhil yang semalam anterin gue, Ghea tadi jam sepuluh sama Mama dan Ayah kesini."


Tristan mengangguk.


"Ini sih miniatur Fariz, mirip banget sama Fariz." Ucap Jessi yang memandangi bayi Aldrich di box bayinya.


"Iya mukanya lo banget Riz." Ucap Tristan sambil memperhatikan bayi mungil itu.


"Ya jelas lah.. Namanya juga anak gue." jawab Fariz dengan bangga.


"Gue jadi degdeg an nunggu Jessi lahiran."


"Nanti pas waktunya, lo bukan lagi deg-deg an Tan, tapi panik banget deh."


"Masa sih?" Tanya Tristan.


"Panik, tegang jadi satu."


***


"Rumah ini semakin ramai Di." Ucap Erick pada Diana saat mereka sedang menikmati santai sore dihalaman belakang.


"Iya Mas.. Rumah ini semakin ramai."


"Aku senang menikmati masa tuaku, ada kamu, anak-anak kita, dan cucu-cucu kita."


Erick menghela nafas. "Dulu rumah ini begitu dingin, hanya ada ketegangan dan tidak pernah ada tanda-tanda kebahagiaan disini." Ucap Erick mengingat masa lalu.


"Mas, bagaimana menurutmu jika aku ingin hamil lagi?" Tanya Diana ragu-ragu.


Erick menoleh kearah Diana dan menatap matanya. "Aku tidak mau Di. Jangankan kamu, bahkan sewaktu aku tau Ghea mengandung adik Zayn aku begitu takut." Lirih Erick.


"Kenapa?" Tanya Diana polos.


"Sofia meninggal setelah melahirkan Ghea, aku masih trauma Di, aku takut Ghea akan selemah Sofia, dan juga usia mu tidak muda lagi Di, cukuplah kita bermain bersama cucu-cucu kita, jangan tambah anak lagi, aku tidak sanggup jika harus kehilangan istri lagi."


"Mas..." lirih Diana.


"Bukan aku tidak menginginkan keturunan darimu Di, tapi aku lebih mencintai nyawamu." Erick mengusap lembut pipi Diana.


"Iya Mas, aku mengerti."


.


.


Maaf untuk hari ini cuma bisa Up satu bab dulu ya, Author check Up Debay dulu.


Makasih untuk yang udah mampir dan slalu setia sama novel ini.


Love banget sama kalian yang slalu ninggalin jejak mau di Like, Koment, Vote, maupun hadiah-hadiah yang kalian beri untuk Author.


.


.

__ADS_1


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2