TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
CURHATAN JESSI KEPADA GHEA


__ADS_3

Tristan memarkirkan mobilnya didepan rumah Ghea.


"Bang, koq gak parkir dirumah kamu aja? terus kita nyebrang kesini, gak enak kalo dilihat mama kamu aku langsung mampir kesini." Ucap Jessi.


"Mama sama papa gak ada dirumah, tadi habis ibadah langsung ke butik untuk feeting baju udah gitu ketempat catring test food atau apalah, aku gak ngerti Bee.."


Jessi hanya mengangguk.


"Nanti lusa giliran kita feeting baju ya Bee, sama Ghea juga. Kita nanti ada dua baju Bee, untuk acara pemberkatan dan resepsi, kalo Ghea sama Pak Fadhil cuma satu baju aja karna mereka hanya ikut saat resepsi aja."


Dan lagi-lagi Jessi hanya mengangguk, dia masih bersikap cuek dan datar terhadap Tristan.


Tristan masuk kedalam rumah Ghea dengan menenteng dua bungkusan berisikan makanan dan minuman, disana sudah ada Fariz dan Stevi.


"Lama banget." Ledek Fariz.


"Sory, pacaran dulu tadi." Jawab Tristan santai.


"Hah, pacaran ama siapa lo? sama Jessi?" Tanya Fariz heran sambil menatap bergantian kearah Tristan dan Jessi.


Tristan melihat kearah Ghea dan Ghea berbicara. "Gue belum bilang apa-apa Tan, itu tugas lo buat ceritain ke Fariz maupun Stevi."


"Tunggu-tunggu.. lo pacaran sama Jessi?" Tanya Fariz mendalam.


"Kelihatannya?" Tanya Tristan balik sambil merangkul bahu Jessi setelah meletakkan dua bungkusan tadi diatas meja.


"Oh my God, serius ini?" Fariz tertawa.


"Jess, serius lo sama si sad boy ini?" Tanya Fariz pada Jessi.


"Iya Riz.." Jawab Jessi seperti kurang percaya diri.


Fariz meninju bahu Tristan, "Jadi ini yang bikin lo galau pas minggu tenang kemarin?"


"Galau?" Tanya Jessica.


Fariz mengangguk, "selama minggu tenang gue nginep dirumah dia Jess, dia Sampe ga bisa tidur, tiap malam ngelayap sendiri tau kemana, balik-balik ngelamun di balkon kamarnya, udah kaya orang frustasi." Fariz menceritakan kelakuan Tristan saat minggu tenang menjelang ujian, tepatnya saat Jessica pulang kampung ke kota dimana orangtuanya tinggal.


"Gak usah buka kartu Riz, seneng banget lo jatohin harga diri gue." ketus Tristan.


Kemudian Tristan menceritakan soal perjodohan oleh orangtuanya dan orang tua Jessi kepada Fariz didepan Ghea, Fadhil dan Stevi juga Jessi.


"Jodoh gak kemana. Ya udah sih langsung nikah." Ucap Fariz.


"Gue juga maunya nikah sih, tapi Jessi masih mau selesein kuliah dulu."


"Dalamin hati dulu Riz, gue kan belum tau jelek-jeleknya Tristan kayak gimana." sahut Jessi santai.


"Justru dengan menikah kita bisa makin tau dan mengenal pasangan kita, terus bisa saling menerima satu sama lain." sahut Fadhil yang kemudian merangkul pundak Ghea.


"Tuh Bee, denger pengalaman langsung dari senior." Ucap Tristan.


"Apa? Bee? Ciyeeee romantis juga lo Tan.." Sahut Stevi.


"Gue juga romantis Stev, makanya terima gue jadi pacar lo Stev, biar lo tau romantisnya gue kayak gimana." Ucap Fariz yang tidak menyerah mengejar Stevi.

__ADS_1


Hal itu membuat mereka tertawa, Rumah Ghea dipenuhi tawa, diam-diam Erick memperhatikannya dan tersenyum.


"Akhirnya rumah ini hangat dan tidak ada kesedihan lagi." Batin Erick.


***


Ujian tlah selesai, Erick membawa Bryan, Maura, Ghea dan Fadhil ke makam Sofia yang tak lain Istri Erick dan Ibu dari Bryan juga Ghea.


Keesokan harinya mereka berlibur kesebuah Resort yang akan diresmikan oleh Erick dan Bryan.


Tristan, Fariz, Jessi dan Stevi pun ikut berlibur. Namun keluarga Tristan tidak bisa ikut hadir karna masih mengurus keperluan pernikahan Krisna. Keluarga Fadhil datang dan menginap satu malam karna Latif akan meneruskan perjalanan Bisnis ke luar kota dan mengajak sang istri.


"Liburaaann..." seru Fariz.


"Stevi dan Jessi satu kamar ya, Tristan dan Fariz juga satu kamar." Ucap Ghea sambil memberikan kunci kamar untuk mereka.


"Gue gak bisa sekamar sama Jessi Ghe?" Tanya Tristan.


"Jangan macam-macam Tan? mau gue bilangin ke Mama Monica kalo lo mulai Nakal?"


Tristan nyengir dan menggaruk keningnya yang tidak gatal itu.


"Jangan aneh-aneh Bang, aku mau sama Stevi aja." Sahut Jessi.


Tristan berdecak, "Ck, coba udah nikah, bisa sekalian honeymoon."


"Gak modal lo, honeymoon gratisan." Fariz mentoyor kepala Tristan.


"Panas nih lihat yang honeymoon." Tristan melirik kearah Ghea dan Fadhil.


"Ya udah lah, sekarang istirahat dulu aja, sorean kita keluar ya" Ajak Ghea.


Mereka menuju kamarnya masing-masing.


Jessi merasakan pusing dan sedikit mual, dia merebahkan tubuhnya untuk beristirahat sejenak, Stevi membuatkan teh hangat untuk Jessi supaya perutnya terasa lebih nyaman.


"Masuk angin kali Jess, mau gue kerokin gak?" ucap Stevi.


"Engga stev, gue gak biasa dikerok, biasanya istirahat sebentar dan minum teh hangat juga baikan sih."


"Ya udah lo istirahat aja, masih ada tiga jam lagi buat nanti ngumpul sore." Stevi memijit kepala Jessi.


"Thanks Stev, liburan lo malah buat ngurusin gue."


"Santai Jess, kita kan temenan, susah seneng ya harus berbagi lah." Jawab Stevi.


Jessi tersenyum, dia bersyukur bisa mendapat teman yang begitu baik seperti Ghea, Stevi, dan Fariz.


Saat sore mereka sudah berkumpul untuk jalan-jalan ditepi pantai, Fadhil selalu menggenggam erat tangan Ghea.


Ghea menangkap wajah Jessi yang sedikit pucat, diam-diam Ghea mendekati Jessi saat Tristan, Fariz dan Stevi bermain air dibibir pantai, sementara Fadhil sedang menerima telpon dari rekan kerjanya.


"Jess, lo sakit? wajah lo pucat."


"Engga Ghe, gue mungkin cuma mabuk angin pantai atau angin laut aja." Jawabnya seperti menyembunyikan sesuatu.

__ADS_1


"Jess, lo kenapa? lo bisa percaya gue Jess." Bujuk Ghea.


Jessi sempat terdiam, kemudian dia bertanya. "Ghee, sejauh mana Tristan cerita soal hubungannya sama gue?"


Ghea menghela nafasnya, "Semua Jess, termasuk kejadian malam itu." Bisik Ghea pelan.


Jessi memejamkan matanya.


"Jess, cuma gue yang tau, dan gue juga gak cerita sama Mas Fadhil." Ghea meyakinkan Jessi bahwa rahasianya aman bersama Ghea.


"Gue lebih murahan dari seorang pel*c*r ya Ghe, bahkan pel*c*r aja dapat bayaran tapi gue gak sama sekali ada harga dirinya." Lirih Jessi.


Ghea mendekatkan dirinya pada Jessica dan mengusap punggung Jessi. "Ssst Jess, lo gak boleh ngomong gitu. Tristan mengaku salah, dia khilaf Jess, dan dia mau tanggung jawab nikahin lo."


Jessi menggelengkan kepalanya, "Gue gak siap untuk rumah tangga Ghe, gue masih mau meraih masa depan gue, cita-cita gue."


"Jess lo lihat gue? gue bisa jalanin semua ini, gue masih tetap bisa pergi sama temen-temen gue, masih bisa berkuliah."


"Tapi Pak Fadhil udah mapan Ghe, dia punya penghasilan, dan bisa nanggung semua hidup lo, sedangkan Tristan? bahkan biaya kuliahnya dan sehari-harinya masih dari orang tuanya. Gue gak mau masih ngelibatin orang tua di rumah tangga gue."


Ghea cukup berfikir akan isi hati Jessica, sebagai wanita, dia mengerti apa yang Jessi khawatirkan.


"Lo sakit, apa karna lo...?" Ghea tidak menyelesaikan perkataanya.


"Gue positif Ghe, gue hamil, tapi gue gak mau Tristan tau."


"Jess, Tristan wajib tau."


Jessi menggelengkan kepalanya, "Please Jess, Tristan jangan tau, gue percaya lo karna itu gue bilang sama lo."


"Jess..."


"Ghe please, gue bisa menjauh dari kalian semua kalo Tristan tau ini, gue belum siap Tristan tau."


Ghea memijat pelipisnya. "Anak lo gimana Jess? perut lo semakin lama semakin membesar." Lirih Ghea.


"Masih ada dua sampai tiga bulan lagi untuk gue berfikir Ghe, gue juga mau lihat keseriusan Tristan. Lagi pula keluarga Tristan sekarang lagi sibuk sama persiapan pernikahan Bang krisna, gue gak mau nambah beban."


Ghea mengangguk, "Gue gak ada hak untuk kasih tau Tristan Jess, semua keputusan ada di lo, tapi gue berharap lo bisa berfikir yang terbaik buat janin lo Jess, dia berhak hidup, dia berhak punya keluarga yang utuh."


"Iya Ghe, gue cuma butuh waktu berfikir, Tristan juga berhak tau, tapi please gak sekarang. Gue juga masih shock, gue juga harus mikirin perasaan keluarga gue."


Ghea menggenggam tangan Jessica, "Jess.. kalo butuh temen cerita, lo bisa hubungin gue kapanpun, jangan lo pendam ini sendirian ya, ibu hamil gak boleh banyak fikiran. Dan pulang dari liburan ini, gue mau ajak lo kedokter kandungan untuk cek kandungan lo, gue harap lo terima niat baik gue."


Mata Jessi nampak berkaca-kaca. "Trimakasih Ghe, lo baik banget sama gue. Beban gue berasa terangkat, sebenernya gue takut Ghe."


"Jangan pernah merasa sendiri ya Jess." Ghea tersenyum dengan tulus.


.


.


.


.

__ADS_1


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2