TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
PERASAAN BERSALAH TRISTAN


__ADS_3

Selesai kejadian panas itu, Tristan tertidur lelap, sementara Jessica hanya menatap langit-langit kamarnya, tubuh mereka masih polos dan hanya tertutup oleh selimut tebal.


Jessica merutuki kebodohannya, bagaiman ia bisa menyerahkan mahkota kepada pria yang sedang patah hati dan masih mencintai wanita lain, bahkan pria ini bukan kekasihnya.


Air mata penyesalan yang keluar dari sudut matanya pun percuma, semua tidak akan bisa mengembalikan keadaan, Mahkotanya telah hilang direnggut oleh pria yang mungkin tidak sadar akan kelakuannya.


Jessica menatap wajah tenang Tristan yang masih terlelap, akankah Tristan mau bertanggung jawab? atau hanya akan membuangnya seperti barang satu kali pakai.


Lama Jessica tenggelam dengan pemikirannya sendiri hingga membuat ia terlelap.


Cahaya matahari pagi menembus gorden dikamar Jessica, perlahan Jessica mengerjapkan matanya. Ia melihat Tristan yang masih memeluknya dengan possesif, entah Tristan sadar atau tidak dengan sikapnya ini, karna semalam lepas kejadian panas itu Tristan tidur dengan posisi telungkup.


Jessica meraih ponsel dinakas sebelah tempat tidurnya, ia melihat waktu menunjukan hampir pukul delapan pagi.


"Gue ada kuliah jam sembilan, ada persentasi juga." Gumamnya.


Jessi dengan perlahan menyingkirkan tangan kekar Tristan, ia mulai beranjak dari tempat tidur, "Awwshhhh" Lirihnya meraskan nyeri yang teramat hebat dibagian inti sensitifnya.


Dengan sedikit tertatih, Jessi segera membersihkan dirinya dan memakai pakaiannya lalu meninggalkan apartemennya menuju kampus dengan menggunakan ojeg online.


Jessi meninggalkan Tristan seorang diri diapartemennya, ia juga meninggalkan sebuah memo yang ia tulis dan ditempelkan dipintu lemari es.


Tepat pukul sembilan pagi, Ponsel Tristan berdering, membuat Tristan perlahan mengerjapkan matanya.


"Gue dimana?" Tanya Tristan sambil mengusap pangkal hidungnya, kepalanya masih merasakan pusing.


Tristan mencoba bangkit dan duduk dari tidurnya, ia melihat dirinya tidak berpakaian sama sekali alias tubuhnya polos dan hanya bertutupkan selimut tebal.


"Apa yang terjadi sama gue?" Tristan mencoba mengingat kejadian yang ia alami.


Mata Tristan tertuju pada pakaian yang berserakan dilantai, ia sangat kenal pakaian itu.


"Itu kan baju yang Jessi pakai kemarin?" Lalu Trsitan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar.


"Ini kamar Jessi, gue diapartemen Jessi?" Tanyanya bingung.


Ia menyingkap selimut tebal yang menutup dirinya, betapa terkejutnya ketika ia mendapati bercak darah disprei putih itu.


"Gue nidurin Jessi? Oh my God, apa yang terjadi? kenapa gue bisa seceroboh ini meraw*nin anak gadis orang."


Tristan terus mencoba mengingat kejadian semalam.


"Akhh Sh*it, Jessi udah bilang dia bukan Ghea, tapi gue terus merayu dia." Sedikit demi sedikit Tristan mengingat kejadian semalam.


Tristan segera beranjak dari tempat tidur dan membersihkan diri, ia memakai kembali pakaian yang kemarin ia pakai.


Tristan keluar kamar, ia sengaja pergi kedapur untuk mencari air mineral karna tenggorokannya sangat kering, ia melihat sebuah memo tertempel dipintu lemari es.


"Kalo udah bangun, segera tinggalkan apartemen gue, mulai detik ini jangan anggep pernah kenal gue lagi. Mobil lo udah gue titip security, lo tinggal tunjukin STNK lo aja. ~Jessi~"


Tristan meremas memo itu,


"Gue keterlaluan, Jessi pasti marah banget udah gue jadikan pelampiasan gue sampai gue ambil kehormatannya, akhh Sh*it" Tristan terus mengumpat dan segera meninggalkan apartemen Jessica.


Dikampus, Fariz terus menghubungi Tristan namun tidak kunjung diangkat.

__ADS_1


Fariz melihat Jessi yang baru turun dari ojeg online.


"Jess.." Panggil Fariz.


Jessica menoleh kearah Fariz dan Fariz menghampiri Jessica.


"Sory semalam lo nelpon gue, ponsel gue lowbat. Ada apa Jess?" Tanya Fariz.


"Oh itu, gak ada apa-apa Riz, Gue cuma mau tanya soal game yang kemarin lo cerita." Jawab Jessi berbohong.


Jessi menjadikan alasan bertanya soal Game karna sebelumnya Fariz bercerita tetang game online yang sedang ia sering mainkan.


"Oh itu Jess.. iya ntar kapan-kapan kita online bareng deh, gue penasaran sama kemampuan lo." Jawab Fariz.


Jessi hanya tersenyum.


"Lo pucet Jess, lagi sakit?" Tanya Fariz.


"Ah engga koq. Ya udah gue masuk dulu ya, mau ada persentasi." Pamit Jessica.


"Oke Jess, Good luck ya."


Jessi hanya tersenyum menanggapinya dan masuk kedalam fakultasnya untuk menuju kelasnya.


Fariz mencoba menelpon kembali Tristan namun kali ini tidak terhubung.


"Kemana sih nih anak?" Gerutu Fariz.


Hingga masuk kelas, Tristan tidak menampakan dirinya dan hingga semua mata kuliah selesai, Tristan tetap tidak bisa dihubungi.


"Gue samperin aja deh kerumahnya." Gumam Fariz.


Fariz mengendarai mobilnya dan dia sempat melihat Jessica yang sedang berjalan menuju gerbang kampus. "Jesss.." Panggil Fariz dari dalam mobilnya yang ia buka kacanya.


"Hai Riz, pulang?" Tanya Jessica.


"Iya, lo mau kemana? motor lo belom bener?"


"Udah, ini mau gue ambil kebengkel."


"Ya udah ayo bareng sama gue." Ajak Fariz.


"Lo sendirian?" Tanya Jessi ragu-ragu.


"Iya, ayo cepet naik."


Jessi naik kemobil Fariz.


"Bengkelnya disebelah mana?" Tanya Fariz.


"Deket apartemen gue sih Riz. Lo beda arah kan Riz, gak usah anter gue."


"Engga koq, gue juga arah sana, kebetulan mau kerumah Tristan."


"Kerumah Tristan? ngapain Riz?" Tanya Jessi penasaran.

__ADS_1


Tuh sad boy hari ini gak ke masuk kuliah, gue telpon ga diangkat, ditelpon lagi malah gak aktif, gue mau cari kerumahnya, takutnya doi bunuh diri." Ucap Fariz sambil tertawa karna bercanda dengan ucapannya.


Jessica hanya diam.


"Lo mau ikut gue kerumah Tristan gak Jess? temenin gue. Gabut juga sendirian." Ajak Fariz.


"Sory Riz gue gak bisa, abis ambil motor gue mau ngerjain proyekan sama temen-temen komunitas gue." Jawab Jessica berbohong.


"Yahh sepi banget hari ini, Ghea masih sakit, Stevi ada Kakaknya, lo sibuk, Tristan gak jelas." Gerutu Fariz.


"Nanti juga ada waktunya ngumpul Riz." Ucap Jessi.


Tiba dibengkel, Jessi segera turun dari mobil Fariz dan Fariz melajukan kembali mobilnya kearah rumah Tristan.


"Smoga Tristan udah keluar dari apartemen gue." gumam Jessi dalam hati.


Tiba dirumah Tristan, Fariz segera masuk setelah Monica membukakan pintu.


"Siang Tante, Tristan ada?"


"Ada, lagi tidur kayanya, katanya abis bergadang sama kamu semalaman main game ya Riz?"


"Hah Game?" Tanya Fariz heran.


"Nih anak bikin masalah apalagi, bawa-bawa nama gue." Batin Fariz.


"Udah sana kamu naik kekamar Tristan, lain kali kalo Tristan nginep, suruh hubungi tante ya Riz, ponselnya dari semalam gak bisa dihubungi, pagi-pagi pulang bilang nginep dirumah kamu nemenin kamu lagi galau katanya." Monica tertawa.


Sementara Fariz hanya nyengir aja menanggapi Monica.


"Galau dari hongkong, jelas dia yang galau, bener-bener nih anak bawa-bawa nama gue." Batin Fariz kembali sambil berjalan kekamar Tristan.


"Riz kalau mau makan atau minum, minta bibi aja ya, Tante mau kerumah sakit lihat Ghea dulu." Teriak Monica saat Fariz sudah dipertengahan anak tangga.


"Siapp Tante, makasih ya, dan hati-hati dijalan." Balas Fariz.


Falshback On ⬇️


Tristan memutuskan pulang kerumahnya setelah ia keluar dari apartemen Jessica.


Ia tidak sanggup jika harus kuliah dengan kondisi kacau, terlebih takut bertemu dengan Jessica, bingung harus bersikap seperti apa.


Monica menyambutnya dan bertanya dari mana Tristan semalaman dan Tristan hanya menjawab menemani Fariz yang sedang galau lalu bergadang main game semalaman.


Dikamar, Tristan harus berfikir, bagaimana ia akan menghadapi Jessica, meski Jessica memintanya untuk tidak saling kenal lagi, namun ada perasaan bersalah dihati Tristan, ia sudah menghancurkan masa depan gadis itu.


Tristan tengah bingung harus bersikap bagaimana.


Flashback Off ⬆️


.


.


.

__ADS_1


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2