
"Kamu..!!" Ucap Jody saat melihat Tristan.
Jessica dan Rose pun ikut terkejut saat mata mereka kearah Tristan.
"Tristan..." Gumam Jessi yang terdengar oleh Rose dan Jody.
"Selamat siang Om, Tante, saya Tristan Anak bungsunya Papa Daniel dan Mama Monica." Ucap Tristan dengan percaya diri, lalu Tristan melirik kearah Jessi dan mengedipkan satu matanya sambil tersenyum penuh kemenangan.
Ghea hanya tersenyum melihat kelakuan labil sahabatnya itu.
"Jadi kamu??.." Tanya Jody yang belum selesai.
"Kalian udah saling kenal?" Tanya Daniel.
"Ini anakmu Niel?" Tanya Jody masih dengan heran.
Memang slama ini Jody hanya sering bertemu dengan Daniel dan Krisna untuk urusan pekerjaan.
"Iya, ini putra bungsuku yang rencananya akan kuperkenalkan padamu dan putrimu satu-satunya. Apa kau sudah mengenalnya?"
"Pa.. Putri Om Jody masih satu kampus dengan Tristan dan Ghea, kami cuma beda Fakultas aja Pa.." Sahut Tristan.
"Owhh bagus kalau begitu, jadi kita tidak susah payah mendekatkan mereka." Daniel tertawa.
Mereka akhirnya duduk bersama, Daniel dan Monica pun memperkenalkan Ghea dan Fadhil sebagai anggota keluarga mereka juga. keluarga Jody sangat kagum akan toleransi antar agama dikeluarga Daniel, terlebih yang mereka lihat, Ghea berhijab dan menutup auratnya.
Tristan membawa Jessi, Ghea dan Fadhil untuk duduk dihalaman belakang rumah Tristan, kebahagiaan begitu terlihat diwajah Tristan meski Tristan menyembunyikannya dan bersikap cool seperti biasanya.
"Jadi gak usah dikejar juga jodoh nih?" Ledek Ghea.
"Belum tentu koq Ghe, orang tua juga gak maksain buat jodoh, cuma ngenalin doang." Jawab Jessi dengan cuek.
"Telpon Fariz dong Tan, suruh kesini skalian ajak Stevi." Pinta Ghea.
"Sayang, kita kan harus kembali kerumah Ayah." Fadhil mengingatkan Ghea.
"Oh iya.. ya udah, Lusa kita ketemu dikampus ya, gue sama Mas Fadhil balik dulu kerumah Ayah, Ayah gak boleh banyak ngelamun dan harus banyak diajak bicara."
"Iya Ghe, nanti gue nyusul kesana deh sama Jessi, sekalian lihat Om Erick."
Ghea hanya mengangguk, kemudian dirinya mendekati Jessi, dan membisikan sesuatu seraya memeluknya, "Jess, percayalah kalo sekarang hati Tristan itu milikmu, dia hanya kurang percaya diri saja."
Jessi menatap mata Ghea, untuk pertama kalinya dia mendapatkan seorang sahabat yang begitu tulus seperti Ghea.
Setelah Ghea dan Fadhil pulang, kini tinggalah Tristan dan Jessi duduk berdua dengan tetap menjaga jarak.
"Gimana perasaan lo?" Tanya Tristan.
"Gak gimana-gimana." Jawab Jessi datar.
"Lo mau kan nikah sama gue? meski gue belum punya apa-apa."
"Engga lah.. gue belum kepikiran nikah Tan."
"Gue gak suka lo manggil gue Tristan, gue lebih suka panggilan lo dulu ke gue."
Jessi hanya terdiam, dia masih cukup terkejut dengan segala yang terjadi hari ini.
"Jess.. lo mau kan mulai sama gue?" Tristan meraih tangan Jessi.
"Jalani aja dulu, gue masih bingung."
Tristan mengela nafas, memang perbuatannya malam itu tidak bisa termaafkan, tapi bukankah Mereka melakukannya tanpa terpaksa. Tristan kadang bingung sendiri, bukankah Jessi juga tidak terpaksa? Bukankah Jessi sendiri terlihat pasrah dan menikmatinya juga?
__ADS_1
Keluarga Jody berpamitan untuk pulang, namun Tristan menahan Jessi untuk tetap disini dengan alasan akan menengok Papanya Ghea.
Tentunya Jody dan Rose kini mengijinkannya, tidak Jody pungkiri, Jody menyukai sikap gentle Tristan saat mengakui dirinya adalah kekasih Jessi dan siap menikahinya kapanpun. Sikap Tristan yang seperti itu membuat Jody teringat akan masa muda Daniel yang nekat menikahi Monica disaat belum memiliki apapun dan jauh dari kata mapan.
Jessi duduk bersama Monica dan berbincang hangat, Monica sangat menyukai Jessi karna Jessi anak yang supel dan bisa mengakrabkan diri.
"Jadi sebelum kalian tau akan dijodohkan, kalian sudah menjalin hubungan?" Tanya Monica.
"Gak gitu juga sih Tante, kami cuma deket aja karna sering nongkrong bersama, bareng Ghea, Fariz dan Stevi juga."
"Panggil Mama dong sama calon mertua." Celetuk Tristan.
Monica tersenyum, "Tristan benar Jess, panggil Mama ya."
Jessica hanya tersenyum kikuk.
"Mama senang, akhirnya Tristan punya kekasih Jess, Mama kira Ghea bohong saat bilang Tristan udah punya pilihan sendiri."
"Ghea Ma? Ghea bilang apa?" Tanya Jessi.
Monica tersenyum. "Ghea bilang kalo Tristan gak mau dojodohin karna udah punya pilihan sendiri. Mama kira awalnya Ghea cuma disuruh Tristan biar perjodohan ini batal, ternyata Ghea bener."
"Ya sudah, Mama mau istirahat dulu, kamu temenin Jessi ya Tan.." Monica mengusap tangan Jessi dan kemudian meninggalkan Jessi dan Tristan diruang tamu.
Tristan pindah duduk disebelah Jessi, kepalanya ia sandarkan di bahu Jessi.
"Tan apaan sih, gak enak nanti ada yang lihat." kesal Jessi.
"Biarin, kalo ga ada yang lihat, gue bisa lebih dari ini." Jawabnya asal.
"Ishh apa sih Tan.."
"Panggil gue Abang, baru gue bangun." Pinta Tristan.
Tristan malah semakin menggoda Jessi, kini ia merebahkan dirinya dan kepalanya berada diatas pangkuan Jessi.
"Tristan..!!" Pekik Jessi.
"Abang atau gue bisa lebih dari ini?"
Jessi menghela nafas, ia malas jika harus berdebat dengan Tristan.
"Abaang please bangun, gue gak mau dilihat orang."
Tristan tersenyum penuh kemenangan, "Good Bee."
"What?? Bee?? So sweet banget dia." Batin Jessi.
"Bee, besok ibadah aku jemput ya." Tristan mulai berbicara secara lembut pada Jessi.
"Gak bisa, gue pulang ibadah mau survey lokasi, ada project make over untuk ruko." Jessi menjawab seperti biasa, masih belum terbiasa dengan perlakuan lembut Tristan.
"Nanti aku anterin sekalian Bee."
"Gue kalo kerja lama Bang, belum nanti juga ada temen-temen gue juga, lo pasti bosen."
"Cewek apa cowok Bee?"
"Rata-rata sih cowok Bang."
Jawaban Jessi seketika membuat wajah Tristan jadi muram, ya Tristan cemburu.
Jessi menangkap wajah Tristan yang berubah. Namun Jessi bersikap cuek.
__ADS_1
"Bisa gak kalo kamu jaga jarak sama temen cowok?" Tristan mulai mengeluarkan uneg-uneg nya.
"Apa Bang? jaga jarak sama temen cowok? gak salah denger? Emang lo siapa gue Bang? Koq ngatur-ngatur." Kesal Jessi.
"Bee, aku kan pacar kamu." Tristan menatap mata Jessi.
Jessi menghela nafas, "Sejak kapan? emang lo pernah nembak gue? apa karna hubunga kita satu malam lo jadi ngerasa milikin gue?"
Jawaban Jessi membuat Tristan cukup berfikir, memang benar adanya, Tristan tidak pernah menyatakan cinta pada Jessi, dia hanya mengatakan ingin bertanggung jawab untuk perbuatannya malam itu.
Tapi.. Bukankah tadi pagi saat diapartemen Jessi, Tristan sudah mengungkapkan isi hatinya? Apa Jessi lupa? Atau Jessi tidak menangkap adanya keseriusan didiri Tristan? Ahh sungguh wanita itu makhluk paling susah dimengerti. Sepertinya Tristan harus mengulangi lagi pernyataanya kepada Jessi.
Tristan mengantar Jessi pulang setelah mampir sebentar kerumah Ayahnya Ghea untuk menengok Erick.
Tristan mengikuti Jessi ke flatnya padahal Jessi sudah memintanya untuk mengantarnya hanya sampai lobby.
"Papa dan Mama pulang kemana Bee?" Tanya Tristan saat mereka memasuki apartemen Jessi.
"Kerumah Bang Mike atau ke Apartemennya Bang Freedy." Jawabnya sambil mengambilkan air minum untuk Tristan.
"Kenapa gak disini?"
"Apartemen gue gak sebesar apartemen Bang Freedy yang punya tiga kamar, disini cuma ada satu kamar, mau tidur dimana?"
"Aku gak nyangka kalo kamu ternyata adiknya Bang Freddy, Bang Freddy itu sering main kerumah sama Bang Krisna, kadang nginep juga."
Jessi berdiri didekat pintu balkon apartemennya, dia menatap gedung-gedung didekat apartemennya.
Tristan mendekat pada Jessi, memeluknya dari belakang dan mendaratkan dagunya di bahu kanan Jessi.
"Bang apaan sih lepas deh.." Jessi berkata demikian seolah risih padahal hatinya tengah berbunga, apalagi sewaktu Tristan mencium ceruk leher Jessi yang memabukkannya itu.
"Aku nyaman seperti ini Bee.."
Seketika membuat Jessi diam membeku.
"Bee.." Panggil Tristan lembut lalu Tristan membalikan tubuh Jessi untuk menghadapnya, menarik pinggang Jessi untuk semakin dekat dengannya. Mata Jessi menatap mata tajam Tristan.
"Bee.. aku menyukaimu, entah sejak kapan, tapi aku yakin aku menyukaimu. Dan aku yakin perasaan suka ini akan semakin dalam dan menjadi cinta. Yang jelas perasaanku saat ini, aku begitu nyaman bersamamu, rasanya aku tidak suka jika ada pria lain yang dekat denganmu. Bee, maukah kamu jadi pacarku, jadi kekasihku, atau bahkan menikah denganku?" Ungkapan isi hati Tristan.
Jessi tidak ingin kecewa terlalu dalam, ia begitu tau hancurnya Tristan saat dipantai itu karna Ghea. kini dalam kurang dari satu bulan, Tristan sudah megungkapkan perasaanya pada Jessi. Tapi Jessi juga teringat akan kata-kata Ghea padanya tadi siang. Sungguh Jessi sedang berada dibatas keraguan, antara mempercayai Tristan dan Ghea atau percaya pada jalan pemikirannya sendiri.
"Bee.. Jawab aku.." Lirih Tristan.
.
.
.
Kira-kira Yes or No nih?
Penuhin komentarnya yuk.
Yang masih punya jatah Vote, bantu Votenya dong.. Like nya kencengin juga ya..
.
.
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....
__ADS_1