
"Stev, gue jalan dulu ya, Tristan udah nunggu di Lobby." Ucap Jessi saat akan berangkat Ibadah.
"Iya Jess, hati-hati dijalan ya." Jawab Stevi yang sambil membersihkan area ruang tamu.
"Gak usah bersih-bersih Stev, sisain kerjaan rumah juga buat gue."
"Santai Jess, gue udah numpang gratis disini, cuma masalah bersih-bersihmah kecil." Jawab Stevi cengengesan.
"Sama temen gak ada istilah numpang Stev, ya udah gue jalan dulu ya." Jessi menempelkan pipi kanan kiri ke Stevi kemudian meninggalkan apartemen.
Drtt.. Drtt..
Tanda sebuah pesan masuk diponsel Stevi.
"Assalamualaikum pacarnya Fariz, dua jam lagi aku jemput ya diapartemen Jessi."
Stevi tersenyum mendapat sebuah chat dari pria yang kini berstatus pacarnya itu dan segera membalasnya.
^^^"Waalaikumsalam Riz, oke tunggu di lobby aja ya, Jessi lagi gak di apartemen, gak enak nerima tamu, takut jadi fitnah."^^^
"Iya Stev.. Nanti aku kabari kalo udah jalan ya. Love U.."
^^^"Love U Too."^^^
Stevi segera menyelesaikan acara membersihkan apartemen Jessi, meski Jessi sudah melarangnya karna akan ikut membersihkannya juga, namun Stevi tetap pada pendiriannya. Bagi Stevi, dia sudah menumpang, kadang dibayari makan oleh Jessi, belum lagi Bang Freddy yang kini jadi orang tua asuh untuk biaya kuliah Stevi, semakin membuat Stevi merasa berhutang budi.
Menjelang siang, Fariz menjemput Stevi ke Apartemen Jessi, dan menunggunya di didepan lobby.
Terlihat Jessi keluar dan menghampiri mobil Fariz.
"Hai, lama nunggu ya?" Tanya Stevi berbasa basi.
"Engga koq, baru lima menit." Jawab Fariz yang kemudian melajukan mobilnya perlahan.
"Kita mau kemana Riz?"
"Mau ngajak kamu ketemu seseorang."
Stevi sedikit tau dia mau dibawa kemana, Ghea pernah menceritakan sekilas soal kondisi ibunya Fariz dan alasan kenapa Fariz menyembunyikan identitasnya selama ini.
Mereka tiba diparkiran bertuliskan Rumah Sakit Jiwa. Stevi merasa gugup, Fariz meraih satu tangan Stevi kemudian menggenggamnya.
"Ada yang mau aku kenalkan sama kamu, tapi aku takut setelah kamu tau siapa orangnya, kamu akan meninggalkan aku." Ucap Fariz dengan nada tidak percaya diri.
Stevi tersenyum, "Yuk turun, aku mau kenal sama orang yang ingin kamu kenalkan ke aku."
__ADS_1
Fariz Mengangguk.
Fariz menelusuri koridor rumah sakit hingga mereka tiba dipojokan taman, tempat favorit Diana sang Ibu yang sedang duduk dengan tatapan kosongnya.
"Stev, dia Mamaku." Lirih Fariz.
Stevi memandangi wajah Diana. "Berapa usianya Riz? Mamamu masih terlihat muda dan cantik sekali."
"Empat puluh tahun. Sewaktu Mama kuliah diusianya yang baru dua puluh tahun, Mama diperk*sa oleh temannya sendiri Stev, hal itu membuat masa depan mama hancur, terlebih setelah Mama tau kalo Mama mengandung aku, Kakek memburu pria itu untuk bertanggung jawab, namun menjelang pernikahan, pria brengsek yang juga adalah Papa biologisku melarikan diri dan dia mengalami kecelakaan hingga meninggal ditempat. Mama yang shock dan bingung akan kehamilannya menjadi depresi, ditambah keluarga Papa biologisku yang enggan mengakui janin yang Mama kandung dengan alasan itu adalah sebuah a...ib. Ya aku adalah aib bagi keluarga Papa biologisku Stev." Fariz menatap malang kearah sang ibu.
"Riz.." Panggil Stevi.
Fariz tersenyum dalam kecewanya. "Mama depresi dan menjadi seperti ini, bahkan saat melahirkan aku, kondisi Mama sudah seperti ini Stev. Kakek yang merawatku dari bayi, sementara Mama hingga kini tidak pernah berbicara maupun tau keberadaanku meskipun aku sering mengajaknya berbicara."
Hati Stevi terenyuh mendengar cerita dari Fariz, sungguh ia tak akan mampu jika menjadi Fariz, kini Stevi tau, Fariz adalah lelaki yang kuat dan tegar.
"Kenapa Mama dirawat disini Riz? kenapa tidak dirumah aja?"
Fariz mengangguk. "Adakalanya Mama mengamuk histeris Stev, melukai Kakek, dan juga melukaiku. Dia menyerang semua pria yang berada disekitarnya. Dia membenci semua pria Stev. Kakek yang semakin tua dan juga masih memegang kendali akan bisnisnya terpaksa memasukan Mama kesini, disini terlihat Mama semakin tenang. Dan dokter bilang jika kondisinya begini terus, tidak menutup kemungkinan, Mama bisa dibawa kembali pulang dalam waktu dekat."
"Kamu hebat Riz, kamu lelaki kuat dan tegar." Puji Stevi.
Fariz mengangguk, "Apa kamu masih mau nerima aku Stev? apa kamu masih mau menjalani hidup dan menatap masa depan bersamaku?" Tanya Fariz sambil menatap kedua mata indah Stevi.
"Riz, tidak ada alasan untukku menolakmu apalagi meninggalkanmu yang sudah begitu menerimaku apa adanya. Bersama kamu, aku merasa dilindungi dan juga dicintai." Kata-kata lembut itu terucap dari bibir Stevi.
"Kita masih kuliah Riz umur kita baru dua puluh tahun."
"Tidak masalah, karna Kakek menyuruhku untuk segera membawamu kerumah. Dirumah itu hanya aku dan Kakek yang tinggal. Asal kamu bersedia menikah denganku Stev, kita akan segera menikah."
"Apa kamu sedang melamarku Riz?" Tanya Stevi.
Fariz menggeleng, "Tidak mungkin aku melamarmu tanpa sebuah cincin Stev."
Stevi tertawa.
Mereka duduk bersama Diana, hingga seorang suster membawakan makan siang untuk Diana dan Fariz dengan telaten menyuapi sang Mama.
***
Ghea menelusuri pertokoan didalam Mall bersama sang suami. Tujuannya ingin mencari celana khusus untuk ibu hamil dan juga beberapa baju hamil karna kini perutnya semakin membuncit dan beberapa celana kasual yang biasa ia pake kuliah sudah merasa sesak saat dipakainya.
"By, ini udah lebih dari cukup." Ucap Ghea pada Fadhil.
"Yakin? nanti kurang gak sayang?"
__ADS_1
"Engga By, udah cukup koq, takutnya nanti malah gak kepake, lagian cuma kepake beberapa bulan aja By."
"Pasti kepake, iya memang beberapa bulan, tapi kan nanti kepake lagi kalo kamu hamil lagi."
Ghea tertawa sambil bergelayut manja dilengan Fadhil, "Emangnya mau deket-deket hamil laginya By? aku mau menyelesaikan kuliah dulu, baru tambah anak lagi ya By."
"Iya sayang, setelah ini kita jeda dulu sampai kamu selesai kuliah, aku juga maunya kamu selesai kuliah dulu."
"Hmm kamu memang pengertian By."
Selesai memilih baju, Fadhil dan Ghea menuju toko sepatu, Ghea mulai terbiasa memakai sepatu kets semenjak kehamilannya. Ia memilih dua buah sepatu untuk dirinya.
"By, yang ini aku bayar sendiri boleh?" Tanya Ghea saat melepas sepatu yang baru saja ia coba.
"Maksdunya?" Tanya Fadhil yang mengernyitkan dahinya.
"Ayah memberiku kartu platinum, kemarin ia menanyakan kenapa aku tidak pernah memakainya, Ayah merasa kalo aku masih marah sama Ayah, jadi biar kali ini aku pake kartu dari Ayah ya By, sebagai bentuk menghargai kasih sayang Ayah. Boleh ya By." Bujuk Ghea.
Fadhil tersenyum dan mengangguk, istri polosnya ini slalu jujur dan terbuka. Ia tau bahwa sang mertua kini seperti menebus dosanya dimasa lalu, memberikan apa yang Ghea butuhkan meski kini Ghea sudah bukan lagi tanggung jawabnya karna sudah mempunyai suami yang slalu mencukupi kebutuhannya.
Erick pun memberikan Ghea sebuah Apartemen yang cukup luas dengan segala isinya yang siap huni, awalnya Ghea menolak apartemen itu, namun Erick berkata bahwa apartemen itu adalah hadiah untuk pernikahannya bersama Fadhil. Sebelum menerimanya, Ghea meminta ijin dulu pada Fadhil dan Fadhil pun memberikan ijin kepada Ghea untuk menerimanya.
Hari tua Erick sangat bahagia, kini hidupnya sangat damai bersama dua anaknya dan tengah menanti dua cucu yang akan terlahir secara berturut-turut dari kedua anaknya.
Bryan dan Ghea pun menyarankan Erick untuk menikah lagi dan mendapatkan pendamping dimasa tuanya, namun Erick tidak pernah menanggapi saran dari kedua anaknya itu. Padahal usia Erick belum genap lima puluh lima tahun, dan wajahnya masih terlihat muda berkharisma terlihat seperti pria berusia empat puluh tahunan.
Kini Ghea dan Fadhil pun lebih sering tinggal dirumah Erick, karna tidak tega membiarkan sang Ayah tinggal sendiri. Dan beruntungnya Ghea, Fadhil menyetujui segala keputusan Ghea. Hanya jika Erick berada diluar kota ataupun diluar negri karna urusan pekerjaan, baru Ghea kembali kerumah orang tua Fadhil.
.
.
.
Cerita Ghea, Tristan, Fariz dengan pasangannya masing-masing masih akan terus berjalan ya.
Dibantu like dan Koment nya agar Author terus semangat.
Satu Vote kalian disetiap minggunya sangat berarti untuk Author.
Trimakasih 😊🥰
.
.
__ADS_1
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....