TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
S2-TAKDIR CINTA (Chelsea&Zayn) 06


__ADS_3

Enam tahun berlalu.


Seorang gadis cantik dengan hijab berwarna mocca tengah dikerubuti oleh anak-anak panti asuhan yang diasuh oleh sebuah pesantren.


Gadis itu tersenyum lebar kala mendengar suara mengaji anak anak pesantren yang begitu menenangkan.


Ia bersyukur hingga detik ini masih bisa bernafas setelah kejadian dirinya hampir mati tatkala terbawa arus sungai yang cukup deras.


Gadis itu menghirup udara bersih dan sejuk sambil merentangkan kedua tangannya, hingga seorang santri memanggil namanya.


"Kak Chelsea..."


Chelsea menoleh kearah sumber suara, "Zahra."


"Kak, dipanggil Umi." Ucap Zahra.


Chelsea mengangguk lalu mengusap kepala Zahra.


"Assalmualaikum Umi.." Ucap Chelsea.


"Waalaikumsalam.. Masuklah Sea." Jawab Umi Aira.


"Umi mau mengucapkan terimakasih untuk bantuan teman-temanmu yang disalurkan untuk pesantren ini." Ucap Umi.


Chelsea tersenyum.


"Bagaimana dengan hafalanmu? Apakah ada kendala?" Tanya Umi.


"Alhamdulillah, tidak ada, Umi."


Ya, wanita itu adalah Chelsea Nathaniel, wanita yang selamat dari maut saat dirinya terjebak arus sungai.


Falshback On⬇️


"Kamu harus hati-hati ya Ci saat KKN nanti, mana lagi musim hijan, Kok Mami berat ya lepasin kamu." Ucap Jessica yang baru pertama kali melepas Chelsea untuk KKN disebuah desa untuk beberapa waktu.


"Ck, Mami ini, aku sudah besar Mi.. Percaya sama aku kali ini aja." Jawab Chelsea yang saat itu kuliah disemester tujuh.


"Tapi buat Mami, kamu itu tetap bayi kecilnya Mami."


"Mi, kan disana juga banyak teman-teman aku yang lain, kami saling menjaga satu sama lain, terlebih teman-teman satu kelompok."


Jessi menghela nafas, "Harusnya kamu satu jurusan dengan Davan dan Aldrich, saat seperti ini Mami bisa tenang jika mereka bersamamu."


"Mami lebay, aku sudah dewasa, aku bisa jaga diri tanpa harus merepotkan Davan dan Aldrich."


Jessi dan Tristan dengan berat melepas Chelsea untuk KKN disebuah Desa selama delapan minggu. Chelsea menikmati suasana Desa yang begitu sejuk dan asri.


"Chel, gue sholat dulu ya di musholla." Ucap Dessy teman satu kelompok Chelsea.


Chelsea mengangguk, ia memperhatikan teman-temannya yang jalan beriringan menuju sebuah tempat yang bernamakan musholla.


"Kak Zayn, apa kabarmu disana?" Gumam Chelsea sambil melihat langit yang terus menghitam.


Enam minggu sudah Chelsea berada di desa ini, saat ini ia sedang berada disungai untuk mencuci pakaiannya di sungai yang memiliki air masih sangat jernih, namun akibat hujan deras semalam, membuat air sungai sedikit keruh dan lumayan deras."


"Kayaknya gak bisa nyuci sekarang deh." Ucap Dessy.


Chelsea mengangguk, "Ya udah kita balik lagi ke desa. Udah gerimis lagi aja nih."


"Kamu pake jilbabku aja, Chel. Gerimis begini bikin kepala pusing." Ucap Dessy sambil memberikan satu jilbab yang akan dicucinya tapi belum terlalu kotor.


"Aku terlihat seperti seorang muslim." Chelsea tertawa lalu memakai jilbab milik Dessy.


"Tapi kamu cocok lho Chel."


Chelsea hanya tersenyum, lalu mereka menaiki jembatan untuk menuju desa, teman-teman yang lain sudah lebih dulu kbali ke desa.

__ADS_1


"Chel, koq kayaknya jembatannya goyang ya." Ucap Dessy.


Chelsea menghentikan langkahnya dan tetiba jembatan itu ambruk hingga Dessy dan Chelsea jatuh kedalam sungai dan terbawa arus.


"Dessy..." Pekik Chelsea yang melihat Dessy terbawa arus dan Chelsea berada dibelakangnya.


Chelsea mencoba meraih bebatuan namun gagal, ia sudah merasakan kedinginan dan tenaganya pun semakin melemah, bahkan Chelsea sudah tidak melihat keberadaan Dessy lagi. Hingga Chelsea merasakan tubuhnya kian ringan dan terbawa arus sungai. Dan ia merasakan seketika tubuhnya seperti ditarik, rupanya jilbab nya tersangkut pada ranting yang menjuntai ke sungai.


Lantunan suara anak-anak mengaji membuat Chelsea terbawa ke alam sadarnya, perlahan ia mulai mengerjapkan matanya.


"Alhamdulillah, kakak sudah sadar." Ucap Zahra lalu berteriak memanggil Umi dan Abah.


Dokter dipesantren memeriksa keadaan Chelsea. "Kondisinya baik, tapi passien masih shock." Kata sang dokter.


"Kalian siapa? Aku dimana?" Tanya Chelsea dengan suara lemah.


"Aku Umi Aira, dan ini suamiku Abah Hussein. Kamu berada dipondok pesantren kami." Ucap Umi lembut.


Chelsea melihat dirinya memakai kain penutup kepala, seperti hijab yang suka dipakai oleh Ghea, namun jilbab itu bukan milik dessy yang dipinjamkannya saat itu.


"Siapa namamu, dan dimana rumahmu?" Tanya dokter Arifin.


"Saya Chelsea dan rumah saya di kota."


"Kenapa saya bisa disini?" Tanya Chepsea kemudian.


"Kamu ditemukan oleh santri disini, sepertinya kamu terseret arus sungai. Sudah tiga hari kamu berada disini."


Chelsea mengingat kejadian naas hari itu.


"Dessy.." Gumamnya.


"Siapa Dessy, Nak?" Tanya Umi Aira.


"Dia teman saya bu, ikut jatuh dari jembatan juga. Kami mahasiswa dari universitas XX, sedang KKN di Desa." Lalu Chelsea menceritakan kejadian naas saat itu.


Tristan sangat terkejut saat mengetahui jika Chelsea menelponnya, bahkan sejak Chelsea dikabarkan hilang oleh pihak kampus, ia meminta bantuan Fariz untuk menggerakan anak buahnya mencari Putri kesayangannya itu.


Tristan, Jessi, dan Fariz segera mendatangi pondok pesantren tersebut.


"Checi..." Pekik Jessi dan langsung berhambur memeluk Chelsea.


"Puji tuhan. Kamu masih hidup sayang." Ucap Tristan lalu memeluk Chelsea juga.


Tanpa mereka sadari Chelsea masih memakai kain penutup kepala yang bernamakan hijab itu.


Setelah kondisi mulai tenang, Tristan menceritakan tentang nasih temannya Chelsea.


"Apa Pi? Dessy ditemukan meninggal?" Tanya Chelsea tak percaya.


Tristan mengangguk, dan Chelsea sudah berurai air mata kembali, menangisi kepergian salah satu teman terbaiknya.


"Ci, kita pulang ya." Ajak Tristan.


Chelsea mengangguk. Lalu dirinya berpamitan pada pimpinan pondok,


"Bu, bolehkan aku meminta hijab ini?" Tanya Chelsea menunjuk pada jilbab milik Zahra yang dipakai olehnya.


"Pakailah jika kamu merasa nyaman, Nak." Ucap Umi Aira sambil memberikan juga jilbab milik Dessy yang pernah dipinjamkannya itu.


Jessi dan Tristan menatap heran pada putrinya tersebut.


Selama beberapa hari Chelsea dirawat dirumah sakit, namun ia masih enggan melepas hijabnya. Jessi tidak mempermasalahkan hal itu, yang penting kondisi Chelsea segera membaik.


Ghea masuk kedalam ruang perawatan Chelsea.


"Ghe, kebetulan kamu datang. Aku titip Chelsea dulu ya, aku harus pulang dulu sebentar." Ucap Jessica.

__ADS_1


"Iya Jess, biar gue jaga Checi disini." Jawab Ghea tak menolak.


Ghea menyuapi Chelsea, "Kamu cantik sekali memakai jilbab." Ucap Ghea tersenyum.


"Jilbab ini yang menyelamatkan Checi Ma.." Lirih Chelsea.


"Apa ada larangan seorang non muslim memakai jilbab, Ma?" Tanya Chelsea.


Ghea tersenyum, "Kembali kedirimu sendiri, jika kamu merasa nyaman, pakailah. Semoga kamu mendapatkan hidayah dari Allah." Doa Ghea tulus.


Chelsea menggigit bibir bawahnya seperti ingin bicara sesuatu.


"Ada apa?" Tanya Ghea sambil menggenggam tangan Chelsea.


"Jika Chelsea menjadi seorang muslim, apa Papi dan Mami tetap akan mengakui Chelsea sebagai anaknya?" Tanya Chelsea hati-hati.


"Masya Allah." Ghea menutup mulutnya tanda tak percaya. "Kamu mendapatkan hidayah Ci?"


"Chelsea ingin mendoakan teman Chelsea, Ma. Dia yang memberikan jilbab pada Chelsea. Tapi Chelsea takut Papi dan Mami marah. Mama Ghea bisa bantu Chelsea?"


Ghea memeluk Chelsea, "Baiklah, sayang. Mama Ghea akan membantumu bicara pada Papi dan Mamimu."


***


"Apa?? Chelsea ingin menjadi mualaf?" Tanya Tristan tidak percaya.


"Tan, Chelsea bilang dia merasa nyaman menggunakan hijab, menurutnya hijabnya itu yang menyelamatkannya."


"Tidak bisa. Ini tidak boleh." Ucap Tristan menolak.


Sementara Jessi hanya mengusap pelipisnya.


"Tristan, kamu tidak boleh seperti itu." sahut Monica yang masuk dalam percakapan.


"Ma.. Chelsea masih labil." Ucap Tristan


"Chelsea sudah dua puluh satu tahun, Tan. Dia bisa memilih mana keyakinannya." Ucap Monica.


"Kenapa Mama mendukungnya?" Tanya Tristan tak mengerti.


"Keyakinan itu tidak bisa dipaksakan, Tan. Apa lagi keyakinan Chelsea bukan karna sebuah alasan, tapi dia mendapatkan kenyamanannya dengan menjadi seorang muslim." Jawab Monica bijak.


Tristan menghela nafas.


"Tristan, dengan Chelsea menjadi seorang mualaf, bukan berarti dia berhenti menjadi anakmu dan anak Jessi." Kali ini Fadhil mencoba memberi pengertian.


"Didarah Chelsea tetap ada darah kalian berdua." Ucapnya lagi.


"Ini hanya masalah keyakinan dan Chelsea sudah menemukan keyakinanya."


"Iya Tristan, tidak ada yang salah. Lihatlah adik Papamu, mereka juga mualaf dan tetap menjaga silaturahmi dengan Papamu, tetap menghormati Papamu sebagai Kakaknya." Ucap Monica.


Tristan menoleh kearah Jessica. "Bee, menurutmu bagaimana?" Tanya Tristan.


"Aku memang menginginkan kita satu keluarga berada dalam satu keyakinan, tapi jika Chelsea sudah merasa nyaman dengan keyakinannya, aku hanya bisa mendukungnya, Bang. Semoga ini yang terbaik untuk Chelsea." Lirih Jessi.


Tristan menyugar rambutnya.


Flashback off⬆️


.


.


Jangan Bully Othor ya cinta-cintaku..


Tandain Typo nya kalo ada ya.

__ADS_1


Masih mau berbagi like dan hadiahkah?


__ADS_2