TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
KEBAHAGIAAN TRISTAN


__ADS_3

Fariz mulai fokus mengelola perusahaan yang ditinggalkan Kakek Tara, Erick slalu membantunya jika ada yang tidak dimengerti oleh Fariz, Erick dan Bryan juga banyak mengajarkan Fariz soal bisnis dan strateginya. Stevi yang mempunya bekal karna kuliah di bisnis dan ekonomi pun membantu Fariz sebisanya.


"Masih ngerjain kerjaan Pap?" Tanya Stevi yang menaruh mug berisikan air jeruk hangat untuk Fariz.


"Masih Yank." Fariz melepas kacamata anti radiasinya dan memijat pelan pangkal hidungnya.


Stevi memberikan sentuhan agar Fariz sedikit rilex, ia memijat pundak Fariz lembut agar Fariz tidak terlalu tegang.


"Jangan terlalu diforsir Pap, nanti kamu malah sakit." Ucap Stevi lembut, kini pijatannya beralih kekepala Fariz.


"Aku masih belajar didunia bisnis Yank, aku nyesel kenapa saat dulu ada Kakek aku tidak membantunya, mungkin sekarang aku tidak terlalu berat."


"Jangan merasa bersalah gitu Pap, Kakek pasti tau perjuangan kamu, dan Kakek pasti Bangga."


Fariz mengangguk. "Maaf kalo waktu untukmu jadi berkurang ya. Jangan marah dan jangan ditinggalin aku." Fariz meraih tangan Stevi yang sedang memijatnya kemudian mengecupnya.


"Ishh bucin kali Papap Bayi ini." Stevi mengecup sekilas bibir Fariz, berusaha menggodanya.


"Ishh.. kamu ini.." Fariz meraup bibir manis Stevi dan menariknya kepangkuannya, ciuman panas pun terjadi diantara mereka.


Setelah pasokan udara habis, Stevi melepas pagutannya. "Pap, dede minta ditengok." Ucap Stevi menggoda, tangannya masih setia melingkar dileher Fariz.


"Dede apa Mamanya? hem?" Fariz meremas salah satu bukit kembar Stevi.


"Mamanya juga Mau Pap.." Goda Stevi.


Fariz tersenyum, Stevi memang agresif, bisa melemaskan kanebo kering nan kaku seperti Fariz. Dalam permainanpun Stevi lebih mendominan dari pada Fariz, dan Fariz suka itu.


"Aku kekamar mandi dulu ya Pap." Bisik Stevi.


"Baiklah, aku selesaikan dulu kerjaanku yang tinggal dikit lg ya." Bujuk Fariz dan diangguki oleh Stevi.


Stevi membuka lemarinya dan mengambil sesuatu dari sana, ia bergegas masuk kedalam kamar mandi.


Fariz hanya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya, sungguh ia memang membutuhkan wanita seperti Stevi, begitu agresif dan menggoda, bisa mencairkan kekakuan yang ada pada dirinya.


Fariz segera menyimpan data-datanya didalam laptopnya dan segera mematikannya. Suara pintu kamar mandi terbuka, terlihat Stevi dengan memakai lingerie berwarna hitam yang kontras dengan kulit putihnya, membuat Fariz menelan salivanya.


"Sayang..." Panggil Fariz.


Stevi sangat seksi, terlebih kini tubuhnya lebih berisi dengan perut yang mulai membulatnya itu.


Fariz mendekati Stevi dan mengecup keningnya dengan rasa sayang.


"Kamu Sexy sekali Yank." Ujar Fariz dengan Suara paraunya.


Stevi mengalungkan tangannya kembali dileher Fariz, "Aku akan menyenangkanmu malam ini Pap.." Goda Stevi.


Fariz menggendong tubuh Stevi kearah tempat tidur. Tangan Stevi dengan segera membuka kaos oblong yang tengah dipakai oleh Fariz.


"Kamu tidak sabar? hem?" Goda Fariz.


"Aku slalu tidak sabar jika itu menyangkut bercinta denganmu."


Fariz tertawa, sungguh Stevi slalu mampu membuat hatinya senang dan tubuhnya merasa puas.


Kini posisi Stevi berada diatas Fariz, ia menciumi tubuh kekar Fariz, memberi tanda merah didada Fariz yang tak akan terlihat oleh orang lain. Perlahan ciuman Stevi semakin kebawah, membuka celana pendek Fariz hingga pusakanya yang tadi terasa sesak keluar dengan begitu kokohnya.

__ADS_1


"Adikmu manis sekali Pap." Ucap Stevi.


"Mainkan Yang.. Aku slalu suka." Ucap Fariz.


Stevi mulai memegang pusaka Fariz memainkannya dengan tangannya, lalu Stevi mencoba hal lain yang membuat Fariz terkesiap, Stevi meletakkan pusaka Fariz diantara belahan kedua gunung Stevi dan menjepitnya, lalu memainkannya dengan memaju mundurkannya.


"Akhhh.. Enak sekali Yang.." Faris sedikit meracau.


Stevi tersenyum puas saat melihat wajah Fariz yang merasakan kenikmatan yang tlah ia beri.


Kini Stevi duduk diatas Fariz.


"Suka Pap?" Tanyanya sambil menggusar rambut Fariz dan menenggelamkan kepalanya didua gunung kembar itu.


"Jangan ditanya." Suara Fariz semakin berat karna hasratnya semakin naik.


Tangan Fariz mengusap paha Stevi hingga menyentuh bagian intinya. "Kamu basah Yang.."


"Aku sudah siap bermain denganmu Pap.."


Fariz terus memainkan jarinya dibagian sensitif Stevi, membuat istrinya itu melenguh nikmat.


"Masukin Pap, aku sudah tidak tahan." Racau Stevi.


Fariz memposisikan dirinya, ia menidurkan Stevi dibawah kungkungannya, perlahan tapi pasti, Fariz menggempur Stevi dengan durasi yang cukup lama, namun Fariz masih memperhatikan kehamilan Stevi, membuatnya sangat berhati-hati.


***


"Happy Birthday Bang.." Jessi mendaratkan kecupan singkat dibibir Tristan.


"Makasih Bee.." Ucapnya dengan membalas kecupan dikening Jessi.


"Apa isinya?" Tanya Tristan.


"Buka.."


Jessi menggiring Tristan untuk duduk di sisi tempat tidur.


Tristan perlahan membuka kotak pemberian dari Jessi. Dirinya begitu terkejut saat mendapati dua buah tespek yang berada didalam kotak tersebut.


"Bee.. ini...?" Tanya Tristan.


Jessi mengangguk, "Kita dipercaya tuhan lagi Bang, kali ini dengan jalan yang benar." Jessi berkata penuh haru.


"Ya Tuhaann, Bee.." Tristan memeluk erat Jessi. menghadiahi Jessi dengan banyak kecupan diwajahnya.


"I love u Bee, always love u Bee.."


Jessi tersenyum, "Love u too Bang.."


"Kapan kamu tes ini?"


"Minggu lalu, Mama yang suruh saat kamu muntah-muntah. Mama bilang kamu muntah-muntah karna aku sedang hamil."


"Jadi udah dari minggu lalu?"


Jessi mengangguk, "Mama bilang rahasiakan ini sampai ulang tahun kamu. Maaf Bang."

__ADS_1


Tristan mencubit hidung mancung Jessi. "Kerjasama sama Mama ya, tapi aku suka Bee, hadiah terindah ini." Tristan mencium bibir Jessi dan dibalas oleh Jessi.


"Siang ini kita kontrol ya." Ajak Tristan.


Jessi menggelengkan kepalanya, "Hari ini kan mau ngumpul disini Bang." Jessi mengingatkan Tristan.


"Kita pergi sebentar, siapa tau ada dokter kandungan praktik pagi, hari ini aku ijin sama Papa untuk gak masuk kerja."


Jessi mengangguk. "Iya bang."


"Anak kita nanti gak jauh umurnya sama anaknya Fariz." Ucap Tristan.


"Bisa sahabatan kayak Papa dan Mamanya ya Bang."


Tristan mengangguk. "Semoga Zayn juga cepat punya adik, biar seumuran semua, satu sekolah, main bersama." Tristan tersenyum.


"Kalo nanti ada yang cinlok lagi gimana Bang?" Kayak kamu sama Ghea dulu." Cibir Jessi.


"Enggalah Bee, diantara kita bertiga kan beda agama, lagian Fariz sama Ghea juga udah terikat jadi saudara."


***


Monica ikut menemani Tristan dan Jessi periksa, ia begitu antusias menyambut cucu ketiganya itu, karna sebelumnya Krisna sudah memberikan dua orang cucu, hanya saja mereka sudah tidak tinggal bersama.


"Lima minggu." Ucap sang dokter.


"Sudah lima minggu dok?" Tanya Tristan.


"Iya dan janinya sehat."


Tristan merasa takjub saat melihat bulatan kecil dilayar monitor.


"Bee.. jangan cape-capek dulu ya." Ucap Tristan saat didalam mobil.


"Aku ga pernah cape Bang. Tanya aja Mama." Jawabnya.


"Kamu harusnya yang jangan bikin Jessi Capek, hamil muda begini kurangin olahraga malamnya " Ledek Monica.


Jessi tertawa.


"Mama suka ngintip ya?" Tanya Tristan.


"Gak ngintip juga mama tau Tan, tiap hari ada aja tanda merah yang baru dileher Jessi, siapa lagi pelakunya kalo bukan kamu yang olah raga malam." Cibir Monica.


Tristan hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sementara tangan satunya memegang kemudi.


.


.


.


Ada yang masih punya jatah Vote? Bolehlah bantu Vote novel ini..


Author juga masih setia lho nunggu Bunga/Hati/Kopi dari kalian.


Terimakasih Readers 🤗

__ADS_1


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2