TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
S2-TAKDIR CINTA (Chelsea&Zayn) 08


__ADS_3

Diperjalanan, Chelsea hanya diam, jantungnya berdegup dengan kencang.


"Siapa dosen pembimbingmu Sea?" Tanya Zayn memecah keheningan.


"Ibu Dora." Jawab Chelsea singkat.


"Kakak ada perlu apa kekampus?" Kali ini Chelsea yang bertanya.


"Hmm mau lihat tempat kerjaku nanti." Jawabnya santai.


"Kakak jadi dosen di kampusku?"


Zayn mengangguk,


"Ya Ampun, calon dosen dikampus ternyata, untung aku udah mau lulus." Ucap Chelsea.


"Kenapa memangnya?" Zayn menaikan satu halisnya dan itu menambah point ketampanan Zayn versi Chelsea.


"Gak apa-apa sih, cuma gak bisa bayangin aja kalau aku di dosenin sama tetangga depan rumah aku sendiri." Chelsea tertawa.


"Gak usah dibayangin, dulu aja Mama Ghea di dosenin sama suaminya sendiri."


Chelsea tersenyum, "Ya aku tau itu dari Mami."


"Jam berapa bimbingannya?" Tanya Zayn.


"Jam sepuluh, masih satu jam lagi kok."


"Lho, koq jalannya pagian?" Tanya Zayn heran.


"Gak apa-apa. Udah janjian sama temen, mau bantuin aku benerin laptop aku."


"Laptop kamu baru kan? kenapa dibenerin?"


"Dari kemarin eror terus, gak mau connect ke internet, tiap save data gagal terus." Jawab Chelsea.


"Kenapa gak minta tolong aku aja?"


Chelsea menoleh kearah Zayn dan melihat wajah pria itu, "Kapok, gak aman kalo minta tolong Kakak, privasiku Kakak buka dan main hapus aja." Jawabnya datar.


Zayn terkejut mendengar ucapan Chelsea, ia menoleh sekilas kearah Chelsea lalu kembali melihat kedepan dan fokus mengemudi.


"Wajar aku hapus, yang aku hapus fotoku yang kamu crop, ada candid segala lagi, jelek semua mukaku, Sea. Harusnya kalo mau foto aku tuh bilang, kan aku bisa kasih fotoku yang bagusan dikit." Ledek Zayn menggoda Chelsea.


Chelsea terkesiap mendengar penuturan Zayn, wajahnya merona merah, ia palingkan wajahnya kearah jendela disampingnya, tidak ingin Zayn melihat wajah yang memerah itu.


Zayn memberhentikan mobilnya ketika lampu merah, ia melihat chelsea yang masih memalingkan wajahnya. Zayn tersenyum melihat wanita yang kini sudah satu keyakinan dengannya bersikap malu-malu.


Tiba diparkiran kampus.


Chelsea membuka seat belt nya "Makasih, kak Zayn." Ucapnya, tangannya sambil membenahi tas yang akan ia bawa turun.


"Sea.." Panggil Zayn ragu.


"Iya, Kak." Jawab Chelsea sambil tetap membenahi tas nya.


"Kakak suka penampilanmu yang sekarang, smoga istiqomah." Ucap Zayn tulus.


Seketika membuat Chelsea langsung menoleh kearah Zayn.


Tangan Zayn terulur mengusap kepala Chelsea yang kini tertutup hijab. "Jika butuh sesuatu, carilah aku sebagai orang pertama yang kamu cari dan kamu butuhkan."


Chelsea mematung, ia merasa bermimpi, Zayn bersikap sangat baik padanya, bahkan menawarkan bantuan tanpa diminta.


"Hei.." Zayn melambai-lambaikan tangan tepat didepan wajah Chelsea. "Kok bengong?"


Chelsea terkesiap, tersadar dari lamunannya. "Aku permisi dulu Kak, terimakasih tumpangannya." Ucapnya gugup.


"Sea, kalau sudah selesai keruanganku ya, kita pulang bersama." Ucap Zayn sebelum Chelsea benar-bebar turun dari mobilnya.

__ADS_1


"Aku naik busway aja Kak, atau naik ojeg online." Jawab Chelsea sambil terus mencoba menetralisirkan rasa gugup nya.


"Gak bisa, Sea. Kita pulang bersama. Kamu mau aku dimarahi oleh Papimu?" Kata Zayn mengingatkan.


Chelsea mengangguk, "Baiklah, nanti aku keruangan Kakak."


Chelsea turun dan jalan tergesa-gesa, demi apapun, Chelsea merasa gugup, jantungnya berdetak seolah ingin melompat.


Chelsea duduk dikantin menunggu temannya hingga datang.


"Chell." Panggil Ammar.


"Hai Am." Jawab Chelsea yang kemudian bersikap biasa.


"Mikirin apa sih? Aku lihat dari jauh kamu kayak lagi banyak pikiran." Tanya Ammar


"Ishh sok tau.. Aku nungguin kamu tau!!"


Ammar tertawa, "Mana laptopnya." Ucap Ammar kemudian Chelsea memberikan laptopnya pada Ammar.


"Kita udah mau lulus lagi aja." Gumam Chelsea.


Ammar mengangguk, tetapi matanya masih menatap layar laptop milik Chelsea.


"Aku kangen Dessy, harusnya kita nyusun skripsi bareng, sidang bareng dan wisuda bareng juga." Lirih Chelsea yang mengingat teman baiknya dari jaman ospek hingga satu kelas itu.


"Kalau kangen, doakan Almarhumah, pasti Almarhumah Dessy akan senang disana." Jawab ammar bijak.


Chelsea mengangguk, "Aku mendapatkan hidayah lewat Almarhumah Dessy, dia yang memberikanku jilbab untuk dipakai melindungi diri dari gerimis, tetapi qadarullah jilbab itu juga yang meyelamatkan aku dari kejadian naas itu."


"Ya, hidayah itu bisa datang dari mana saja. Semoga kamu tetap istiqomah dan ke istiqomahan kamu menjadi amal jariyah untuk Almarhumah Dessy dialam sana."


"Aamiin." Ucap Chelsea dan Ammar bersamaan.


Zayn melihat keakraban mereka dari kejauhan, meski tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, namun terlihat Chelsea dan Ammar begitu dekat.


"Apa dia pacar ABG labil itu?" Gumam Zayn yang kemudian masuk kedalam gedung yang menunjukan salah satu ruangannya didalam sana.


Siang harinya,


Tring


Zayn mengirimkan pesan pada Chelsea.


Zayn,


"Udah selesai? Aku nunggu kamu diruanganku."


Chelsea,


"Udah Kak, aku masih dimasjid kampus, baru selesai dzuhur."


Zayn tersenyum membaca balasan dari Chelsea.


Zayn,


"Ya udah ketemu diparkiran aja, lebih dekat kan."


Chelsea,


"Oke."


Zayn menunggu Chelsea didalam mobilnya, ia menyalakan pendingin dengan suhu tinggi agar suhu didalam mobil itu terasa sejuk, terlebih diluar panas dan ia memikirkan Chelsea yang kini memakai hijab, pasti akan sangat kegerahan, pikirnya.


"Maaf lama ya, Kak." Kata Chelsea basa basi.


Zayn hanya tersenyum, kemudian ia mulai menjalankan mobilnya keluar kampus.


"Tadi dimasjid kampus ada Aldrich dan Davan." Ucap Chelsea. "Kakak tadi gak ke masjid, sudah sholat?" Tanya Chelsea.

__ADS_1


"Aku sudah sholat diruangan tadi. Aldrich dan Davan ada bimbingan skripsi jam satu ini." Jawab Zayn.


Zayn menepikan mobil disebuah restoran seafood. "Aku lapar, kamu temani aku makan ya."


"Aku di traktir nih?" Tanya Chelsea.


Zayn membuka seat belt sambil mengangguk, "Iya, aku tanggung makan siangmu." Jawab Zayn sambil keluar dari mobil dan diikuti oleh Chelsea.


Mereka memesan berbagai menu seafood disana.


"Tau dari mana restoran ini, Kak?" Tanya Chelsea.


"Dulu sebelum berangkat ke Amrik, aku sering makan disini sama Papa. Papa penggemar seafood, tapi Mama gak mau masakin papa seafood, katanya amis. Jadinya sering makan disini." Jawab Zayn.


"Kirain sering kesini sama pacar Kakak." Kata Chelsea yang ingin tau kehidupan pribadi Zayn.


Zayn mengangkat satu halisnya, "Sedang menyelidiki urusan pribadiku, ya?" Tanyanya menggoda.


Chelsea terlihat salah tingkah, Zayn ternyata bisa menebak isi pikirannya.


Chelsea menunduk, ia menyembunyikan wajah yang bersemu merah itu.


"Tadi aku lihat kamu dikantin sama pria? Pacar ya?" Tanya Zayn menyelidik sekaligus mengalihkan pembicaraan.


Wajah Chelsea terangkat menatap wajah Zayn, pandangan mereka bertemu, entah apa yang Chelsea rasakan, meski jantungnya berdegup kencang, meski mereka duduk berhadapan, namun seperti masih ada jarak yang begitu jauh dengan Zayn.


"Sea..." Panggil Zayn.


Chelsea menghela nafas lalu mengusap pelipisnya.


"Aku perhatikan, kamu sering sekali melamun." Ucap Zayn.


Chelsea mengatur perasaanya, "Yang tadi bukan pacar aku, hanya saja kami memang dekat sejak kematian Dessy. Almarhum Dessy adalah kekasih Ammar, dan Dessy meninggal saat kejadian naas bersamaku, lewat Dessy juga Allah memberikanku hidayah."


Zayn menganggukan kepalanya, "Jadi seperti rasa bersalah pada pria tadi makanya kamu jadi dekat dengannya?"


Chelsea hanya diam,


"Sea.. Kamu tau takdir?" Tanya Zayn.


Chelsea menatap wajah Zayn dengan serius, mencoba mendengarkan apa yang selanjutnya pria itu katakan.


Zayn menghela nafas, "Sea, setiap manusia memiliki ketentuan takdirnya sendiri."


Chelsea mengangguk paham. "Aku hanya merasa bersalah pada Ammar, Ammar begitu terpukul saat tau Dessy meninggal." Lirihnya.


"Lalu kamu mau menggantikan posisi Almarhumah Dessy untuk pacarnya?" Tebak Zayn.


Chelsea hanya diam.


"Misal temanmu masih hidup, belum tentu ia berjodoh dengan pria itu. Jadi kenapa kamu harus merasa bersalah?" Ucap Zayn.


Chelsea masih diam, sampai ketika Zayn mengatakan sesuatu.


"Kamu sudah melupakan perasaanmu terhadapku?"


Degg..


Deggggg..


.


.


*N**amanya juga Bonchap/Expart.. Ceritanya ga berteletele ya.. Langsung pada tujuan dan tetap mengikuti alur cerita aja*.


Chelsea lebih baik sama Zayn atau Ammar nih?


Nadira belum tampil ya, nanti akan tampil bareng Damian..

__ADS_1


Bantu support dong, dengan like, koment, hadiah dan Vote kalian.


Thankyou Raders 😘


__ADS_2