
Jessi pulang kerumah orangtuanya yang berada di kota Semarang, ia dijemput oleh Freddy Abraham sang kakak yang meniti karier diJakarta namun tidak tinggal bersama Jessy.
"Lo kenapa? sepanjang jalan diem aja?" Tanya Freddy saat perjalanan dari Jakarta menuju semarang yang memakan waktu enam-tujuh jam.
"Gapapa Bang, cuma males aja gue balik, takutnya Papa sama Mama bahas lagi perjodohan gue."
"Bang Mike (Kakak Tertua Freedy dan Jessi) bilang Papa dan Mama memang masih mau jodohin lo karna khawatir lo maunya tinggal sendiri dijakarta, jadi biar ada yang jagain."
Jessi berdecak, "Ck, dijagain apaan. Papa Mama pikir gue bocah apa Bang? Udah dari SMA gue biasa mandiri, lagian Papa kenapa sih betah banget di Semarang, gak pindah lagi ke Jakarta."
"Yeee kan rejeki Papa disana Jess, karier Papa dan Mama berkembang disana."
Jessi hanya menghela nafas beratnya, ia bingung dengan dirinya yang kini berstatus gadis namun tidak sempurna akibat kebodohannya disatu malam.
"Bang.. gue mau tanya sama lo."
"Hem, apa?" Tanya Freddy balik.
"Menurut lo, cowok yang udah jatuh cinta belasan tahun terus tau-tau putus, dia bisa move on gak sih?"
Freddy tertawa, "Ahahaha, lo nanyaim cowok?" cowok siapa Jess?"
"Ishh lo mau jawab gak sih Bang?" Kesal Jessi.
"Jessi, Jessi... begini ya, cowok dan cewek tuh beda, kalo cewek lebih berpikir dengan hati atau perasaannya, tapi kalo cowok lebih berpikir dengan logika. Jadi klo cowok patah hati, pasti logikanya masih berjalan, dan pastilah bisa Move on."
"Masih bisa mencintai cewek lain Bang?"
"Bisa." Jawabnya santai sambil tetap mengemudikan mobilnya.
"Berapa persen kemungkinannya?"
"100% pun mungkin, asal dia udah move on, dan menyelesaikan hati dan perasaannya terlebih dahulu."
"Lo pernah patah hati Bang?"
Freedy terkesiap dengan pertanyaan Jessica, "Uhuk.. Uhukk."
"Gue pernah patah hati, cewek gue dulu gak bisa nunggu gue selesein study gue, padahal gue cinta banget sama dia, pacaran udah dari SMA, gimana gak patah hati, status kami waktu itu belum putus, terus tau-tau gue nerima undangan pemberkatan pernikahan dia." Cerita Freddy.
"Makanya lo pindah kejakarta Bang?"
"Iya, itu satu alasan gue kenapa gue lebih pilih Jakarta."
"Hati lo sekarang?"
"Kan lo tau Jess, pas gue meniti karier, gue udah deket sama Fransiska, dan dia yang nemenin gue dari nol sampai sekarang, gak ada alasan buat gue masih nyimpen perasaan sama mantan."
"Jadi kesimpulannya, cowok tuh pasti bisa move on kalo ketemu orang yang tepat ya Bang?"
__ADS_1
"Ya seperti itulah Jess.."
Sementara dirumah Tristan, Fariz masih asik bermain game diponselnya, sementara Tristan masih tenggelam dengan pikirannya sendiri.
"Tan, udah dua hari gue nginep disini, katanya lo mau ada yang diceritain?."
Tristan menghela nafas, "Menurut lo, definisi nyakitin cewek itu yang seperti apa yang gak termaafkan Riz?"
Fariz seketika menaruh ponselnya dan menatap sengit pada sahabatnya itu. "Lo mau nyakitin siapa?"
"Bukan mau nyakitin siapa, tapi kayaknya gue udah nyakitin cewek Riz, bahkan dia gak mau ngomong sama gue lagi, padahal gue mau minta maaf dan cari solusi terbaik."
"Bentar-bentar Tan, hubungan lo sama Ghea baik-baik aja kan?"
Tristan menghela nafas, "Gue bukan lagi ngomongin soal Ghea."
"Lo lagi deket sama cewek? koq gue gak tau?"
Tristan hanya diam tidak menjawab.
"Cewek mana Tan? lo nyakitin dia gimana?"
"Gue belum bisa cerita dia siapa, dan gue lakuin hal apa kedia."
"Susah masalah lo Tan, gimana gue bisa kasih solusi buat lo kalo lo gak cerita detail sama gue."
Fariz terus berfikir, bagaimana bisa Tristan dekat dengan seorang gadis lain, dan hal apa yang udah Tristan perbuat pada gadis itu hingga membuat Tristan merasa bersalah.
***
Dirumah kekuarga Latif,
Sehabis makan malam, Ghea tidak ikut berkumpul bersama keluarga Fadhil untuk mengobrol bersama, hari ujian yang semakin dekat membuat Ghea terus dikamar untuk belajar dan menyelesaikan tugas yang belum rampung.
Fadhil masuk kedalam kamar dengan membawakan susu hangat untuk istri kecilnya itu, Ghea nampak duduk bersandar ditempat tidur sambil membaca materi di buku catatannya.
"Little Mommy, ayo minum dulu susunya." Ucap Fadhil sambil duduk disisi tempat tidur dan meghadap kearah Ghea.
"Ishh apa sih By, umurku udah mau dua puluh tahun, udah cukup umur untuk punya anak. Aku bukan anak kecil lagi, apa lagi disebut Mama kecil." Ghea terkikik dengan sebutan yang diberikan oleh suaminya.
Fadhil tersenyum dan mengusap pipi lembut Ghea, "Aku tuh merasa berdosa sama kamu sayang, umurmu belum dua puluh tahun, kamu masih kuliah, masih seneng berkumpul bersama teman-temanmu tapi aku malah mengikatmu dengan pernikahan dan malah membuatmu hamil."
Ghea meraih susu hangat dari tangan Fadhil dan meminumnya hingga tandas.
"Tapi aku merasa tidak dikekang olehmu By, kamu masih membebaskan aku main dan berkumpul bersama teman-temanku seperti Stevi, Fariz, dan bahkan Tristan. Kamu juga tidak membebaniku dengan tugas masalah rumah tangga dan malah lebih cenderung memanjakanku. Aku sama sekali tidak terbebani By."
"Karna aku tidak ingin merenggut semua masa mudamu sayang, aku percaya sama kamu, dan teman-tanmu juga, mereka teman-temanmu yang baik dan tidak menjerumuskanmu, apa lagi setelah kejadian waktu lalu, mereka yang menjaga dan menyelamatkanmu pas aku sedang tidak ada."
Ghea merangkum wajah Fadhil dan mencium bibirnya sekilas, "Hubby, Aku beruntung dikelilingi oleh orang-orang baik, dan sangat bersyukur berjodoh denganmu By."
__ADS_1
Fadhil meraih tangan Ghea dan mengecup kedua tangan Ghea, "Kamu tau? aku begitu mencintaimu, karna itu aku begitu percaya padamu, percaya pada perasaanmu, percaya pada takdir cinta kita yang sudah berjalan sejauh ini.
***
"Jadi pulang besok Jess? Mama masih kangen." Ucap Rose Mamanya Jessi.
"Lusa Jessi udah ujian Mam, ya harus pulanglah." Jawab Jessi sambil mengepak pakaiannya ke dalam koper.
"Libur semester pulang lagi kan?"
"Entahlah Mam, Jessi ada proyekan sama komunitas Jessi, lumayan uangnya Mam."
"Apa uang yang Papa kirim kurang Jess?" suara Jody Abraham menghampiri Rose dan Jessi.
"Cukup Pa,, malah lebih dari cukup, tapi kan Papa sendiri yang mengajarkan Jessi untuk berusaha sendiri dan tidak menyia-nyiakan masa muda."
Keluarga Jessi terlahir bukan dari keluarga kaya, Jody Abraham memulai kariernya sebagai pengacara dari nol, otaknya yang encer membuat ia mendapatkan beasiswa kuliah hukum dan bertemu dengan Rose kekasih yang kini menjadi istrinya. Rose sendiri adalah seorang Guru swasta ternama di kota Semarang.
Jody cukup keras namun sangat penyayang terhadap ketiga anaknya, yaitu Mike, Freddy dan Jessica. membuat anak-anaknya jadi cukup mandiri dan tidak bergantung kepada orang lain.
Jody adalah sahabat lamanya Daniel, mereka meniti karier dari Nol dan berjuang sama-sama saat diperguruan tinggi, susah senang mereka lalui bersama hingga persahabatan mereka terjalin hingga kini. Bahkan Freddy bersahabat baik dengan Krisna kakak dari Tristan. Namun Jessi tidak pernah bertemu dengan Daniel maupun Krisna, hingga ia pun tidak bisa mengenal Tristan dengan baik.
"Libur semester nanti, Papa dan Mama yang akan berkunjung kejakarta, menghadiri acara pernikahan anak Om Daniel."
"Papa akan lama diJakarta?" Tanya Jessi.
"Sekitar dua minggu, Papa akan menginap diApartemen Freddy. Dan persiapkan dirimu, Papa akan memperkenalkan dirimu keanak bungsunya Om Daniel."
"Perjodohan lagi, bisakah tidak membahas itu Pa?"
"Papa bukan menjodohkan, hanya memperkenalkan kalian, siapa tau kalian cocok satu sama lain. Soal jodoh Papa serahkan sama Tuhan, jika kalian berjodoh, akan ada jalannya." Ujar Jody.
Jessica hanya menghela nafas, "Harusnya Bang Freddy dulu Pa, Umur Jessi masih dua puluh tahun."
"Freddy akan langsung menikah dengan Fransiska dalam waktu dekat, besok kita kejakartapun sekalian untuk berkenalan dengan keluarga Fransiska."
Jessica hanya pasrah, dalam pikirannya, entah pria seperti apa yang akan dikenalkannya itu.
Kini yang sekarang Jessi persiapkan hanyalah dirinya yang akan kembali keJakarta dan akan bertemu dengan Tristan kembali. Tristan yang berhasil membuat perasaan cewek tomboy ini terombang ambing tidak jelas.
"Tristan.. kenapa lo harus wara wiri dalam pikiran gue sih? padahal sudah jelas pikiran lo cuma tertuju sama Ghea." Batin Jessica sambil merebahkan tubuhnya diatas kasur empuknya dan menatap langit-langit dikamarnya.
.
.
.
.
__ADS_1
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....