
Kondisi Ghea mulai stabil, meskipun Ghea masih shock dan enggan berbicara, dirinya masih merasa takut saat disentuh oleh orang lain.
Kini Ghea berada diruang perawatan. Tristan menelpon Monica untuk menemani Ghea, dia merasa sedih melihat Ghea dengan kondisi seperti ini.
Fariz, Jessi dan disusul oleh Stevi juga setia menunggu Ghea meski diluar kamar perawatan.
"Lo udah nelpon suaminya Ghea Stev?" Tanya Tristan.
"Udah puluhan kali Tan, tapi gak diangkat, kayanya Pak Fadhil hpnya di silent deh, soalnya gue lihat chatnya terakhir online tuh tadi pagi jam delapan."
Tristan menghela nafasnya. "Keluarganya Pak Fadhil gimana?"
"Mana gue tau nomer keluarga suaminya Ghea Tan."
"Kak Bryan juga udah hubungin Pak Fadhil tapi sama gak diangkat juga, Kak Bryan juga gak tau nomer keluarga Pak Fadhil."
"Tan.." Panggil Bryan.
"Iya Kak.." Kemudian Tristan duduk disebelah Bryan dan Erick.
"Makasih Tan, kakak gak tau kalo kamu gak ada gimana nasib Ghea." Lirih Bryan.
"Kakak tenang aja, Ghea sahabat aku, dari kecil kami slalu bersama-sama, udah sewajarnya aku jagain Ghea."
"Maafkan Om Tan.. Om menikahkan Ghea dengan pria lain, dan tidak memikirkan perasaan kalian dulu." Ucap Erick.
"Ini bukan salah Om, aku sama Ghea kan memang berbeda Om, tanpa Om pisahin pun Kami tetap akan berpisah karna keyakinan kami tidak sama."
"Tristan, tetaplah jadi sahabat terbaik Ghea, tetaplah menjaga Ghea sebisamu" Lirih Erick.
"Tristan akan berusaha terus menjaga Ghea sebagai sahabat Tristan Om, Tristan yakin, jika Pak Fadhil ada juga pasti dia akan menjaga Ghea dengan baik."
***
Mobil Fadhil tiba dihalaman rumah keluarga Latif, ia sungguh tidak sabar ingin menemui Ghea sang istri. Rasa rindunya sungguh besar pada Ghea.
"Fad.. sudah pulang? Tanya Miranti yang sedang duduk berkumpul bersama suami, anak dan menantu juga cucu-cucunya."
"Iya Ma.." Fadhil mengedarkan pandangannya namun tak menemukan sosok istrinya.
"Ghea mana Ma?" tanya Fadhil heran.
"Justru Mama mau tanya sama kamu, dari siang Ghea belum pulang, Mama telpon ponselnya tidak terhubung, Mama telpon kamu juga gak diangkat. Mama bingung mau telpon kemana lagi, gak tau nomer ponsel temannya maupun keluarganya Ghea."
Fadhil mengambil ponsel dari dalam tas nya, memang benar ponselnya dalam mode silent, "Hp Fadhil di silent Ma, maksud Fadhil biar pas penutupan seminar tadi gak keganggu, beres acara Fadhil buru-buru pulang dan gak lihat ponsel lagi."
Fadhil melihat isi ponselnya, benar saja puluhan panggilan tidak terjawab dari Stevi dan juga Bryan.
Dengan segera Fadhil menelpon Bryan.
Betapa terkejutnya Fadhil ketika diminta Bryan datang kerumah sakit.
__ADS_1
Fadhil segera memberitahu Miranti juga Latif.
"Beginilah kalau kita tidak terlalu dekat dengan keluarga besan, ada hal seperti ini kita tidak tau." Kesal Miranti.
"Sudah Ma.. yang penting kita kesana dulu." Ucap Alya menenangkan.
Pikiran Fadhil sudah tidak karuan, terakhir ia menghubungi Ghea pagi tadi sebelum Ghea berangkat kekampus, kegiatan Fadhil diBandung yang lumayan padat membuat waktunya tersita sehingga ia tidak sempat melihat ponselnya maupun menghubungi istrinya itu.
Mereka tiba dirumah sakit, segera mendatangi kamar perawatan Ghea, diluar kamar terlihat Erick, Bryan juga Tristan dan Krisna Kakaknya Tristan.
Bryan dan Tristan menceritakan soal kejadian Ghea dengan detail tanpa terlewatkan, Fadhil sangat emosi sehingga terucap akan membawa perkara Yasmin dan Arnold kepihak berwajib. Hal itu juga didukung oleh Miranti yang merasa geram atas perbuatan kejam Yasmin dan Arnold kepada Ghea.
Fadhil masuk kedalam kamar perawatan Ghea, terlihat Ghea terlelap dan disisinya ada seorang wanita paruh baya yang dulu mendampingi saat Ghea menikah.
"Sayang..." Panggil Fadhil dengan nada sedih.
"Pelan-pelan nak Fadhil, Ghea baru saja tertidur. Sedari tadi Ghea terus menanyakanmu."
"Benarkah Tante?"
Monica tersenyum dan mengangguk, "Temani Ghea, dia sudah merasa nyaman denganmu."
"Tante...?" Tanya Fadhil menanyakan siapa dirinya.
"Saya Monica, Mamanya Tristan, tetangga Ghea dan yang tau Ghea sedari kecil."
"Terimakasih Tante." Ucap Fadhil sopan.
"Sama-sama jeng, Ghea sudah seperti anak saya sendiri, jangan sungkan." Ucapnya.
"Ghea pernah bercerita tentang anda, dan saya tau anda dan keluarga anda sangat baik dan juga sayang sama Ghea."
Monica tersenyum, "Terimakasih telah menjaga dan memperlakukan Ghea kami dengan sebaik mungkin."
"Fad, kalau Ghea sadar, jangan terlalu banyak ditanya soal kejadian tadi ya, biarkan Ghea tenang dulu." Ucap Monica kembali.
"Iya Tante, trimakasih."
Monica berpamitan untuk pulang, dan berniat akan kembali membesuk Ghea esok hari.
"Malang sekali nasibmu Nak." Lirih Miranti sambil mengusap kening Ghea.
"Fad, Papa tidak mau ambil resiko, mulai detik ini, jika kamu tidak bisa pulang dan pergi bersama Ghea, Papa akan menyuruh supir untuk mengantar maupun menjemput Ghea." Ucap Latif.
"Iya Pa, nanti kita bicarakan kembali saat Ghea sudah membaik." Jawab Fadhil.
Malam ini diputuskan hanya Fadhil seorang diri yang akan menjaga Ghea, Bryan dan Erick sudah kembali pulang. Tristan juga sudah pulang bersama Monica dan Krisna. Begitu juga dengan keluarga Fadhil yang lain, pulang setelah melihat keadaan Ghea.
Fadhil mengusap kepala Ghea, "Maafkan aku Ghe, sebagai suami, aku gak bisa melindungimu." Lirih Fadhil dengan penuh penyesalan.
Fadhil tertidur dengan posisi duduk disisi brankar Ghea. tangannya setia menggenggam tangan Ghea dan tangan satunya ia jadikan bantal untuk menopang kepalanya.
__ADS_1
Hingga pagi, Ghea tetap terlelap, nampak terlihat jelas diwajahnya bekas tamparan dan bibir yang sedikit terluka.
Fadhil merasa sedih dan geram melihat luka-luka pada wajah dan tubuh istrinya itu.
"Aku tidak akan melepaskan mereka Ghe." Ucap Fadhil.
Miranti dan Monica datang bersamaan, mereka menjadi cocok dan dengan sayangnya merawat Ghea, mereka bagaikan ibu kandung dan mertua yang sangat memperhatikan Ghea.
"Anggap saja kita berbesan Mba." Ucap Miranti pada Monica.
"Iya Mba, Ghea sama-sama anak kita ya." Jawab Monica.
Seorang dokter masuk kedalam kamar perawatan Ghea, memeriksa dan menjelaskan kondisi Ghea.
"Nona Ghea mengalami Trauma yang cukup besar, butuh waktu untuk pemulihannya. Untuk sementara lebih baik tidak diingatkan kembali kejadian yang menimpanya, terlebih sekarang kondisi Nona Ghea sedang mengandung."
"Apa dok? Ghea hamil?" Tanya Miranti.
"Iya Bu, Ini sudah memasuki sepuluh minggu, sudah cukup besar, apa tidak ada yang tau?"
Miranti menatap tajam pada putranya, siapa lagi kalau bukan Fadhil.
"Kamu tidak tau ini Fad?"
Fadhil hanya menggelengkan kepalanya.
"Apa passien sering mengalami muntah dipagi hari?" tanya dokter itu.
"Tidak dok, tapi suka muntah saat malam menjelang tidur atau dini hari seperti jam satu atau dua dini hari." Jawab Fadhil.
"Itu menunjukan gejala kehamilan Pak, saya harap bapak lebih memperhatikan lagi kondisi istri bapak. Terlebih saat ini dirinya sangat membutuhkan dukungan untuk sembuh kembali dan melupakan traumanya."
"Tapi kenapa istri saya belum sadar juga ya dok?" Tanya Fadhil heran.
"Itu pengaruh obat penenang dan dari passien sendiri terlihat sangat lelah. Tidak apa Pak, ini tidak akan berlangsung lama."
Setelah memeriksa dan menjelaskan keadaan Ghea, dokter pun meninggalkan ruang perawatan Ghea.
Monica mendekati brangkar Ghea kemudian mengecup keningnya.
"Kamu akan jadi seorang ibu Ghe, sembuhlah dan berbahagialah demi anakmu." Ucap Monica.
Miranti dan Fadhil melihat ketulusan pada Monica. Mereka tak menyangka keluarga Tristan begitu sangat perduli dan menyayangi Ghea.
.
.
.
.
__ADS_1
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....