
Tristan keluar kelas dengan wajah tak bersemangat.
"Kenapa lo?" Tanya Fariz yang memperhatikan Tristan sedari dikelas terlihat tak biasa.
"Gapapa." Jawab Tristan datar.
"Gue kenal lo udah dari SMA, lo berantem sama Jessi?"
"Bukan berantem sama Jessi, tapi ini soal Jessi sih."
"Kenapa lagi Tan?"
Fariz dan Tristan duduk ditaman kampus sambil menunggu Stevi dan Jessi keluar kelas, rencananya hari ini mereka berkumpul dirumah Ghea.
"Bokap gue, nolak gue nikah muda. Huff." Tristan menghela nafas dan menengadahkan kepalanya melihat langit biru.
Fariz menaikan satu halisnya, "Maksud lo?"
"Bokap maunya gue lulus kuliah dan kerja dulu, kata bokap bukan soal mampu biayain anak orang, tapi masalah tanggung jawab juga." Lirih Tristan.
"Bukannya lo mau tanggung jawab sama Jessi kan?"
"Bokap kan gak tau gue udah jauh sama Jessi bahkan sampe hampir punya anak. Ahh rasanya gue mau bilang yang sebenarnya aja."
"Gila lo, lo mau dih*jar sama Bokap lo dan bang Krisna juga?"
"Tapi setidaknya abis gue dih*jar, gue boleh nikahin Jessi."
Fariz mentoyor kepala Tristan. "Lo memang belum dewasa dalam menyikapi masalah. Gak begitu juga kali Tan. Lo gak mikir nanti pandangan keluarga lo ke Jessi kayak gimana?"
"Kayanya gue serbasalah Riz?? terus gue harus gimana?"
"Ya lo buktiin ke orang tua lo kalo lo berubah gak begini terus, lo bisa tanggung jawab, belajar ngelola emosi lo, dan bisa menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, lo sih kerasa kepala, bokap lo takut kali kalo lo nanti gak bisa ngalah sama Jessi."
"Gimana gue bilang sama Jessi ya?" Gumam Tristan.
"Coba aja lo obrolin masalah ini sama Jessi berdua. Gue rasa Jessi ga keberatan."
"Tapi gue yang keberatan Riz, lo tau gue udah pernah ngelakuin hal itu sama Jessi, gue takut kebablasan lagi."
"Makanya menghindar, hindari berduaan sama Jessi. Kalo Stevi lagi gak diapartemen, lo jangan ke apartemen lah."
"Huff.. Bisa gak ya?"
"Pasti bisa Tan.. Sabar dua tahun lagi lulus Tan."
Tristan mengangguk, tak lama terlihat Jessi menghampiri Tristan dan Fariz.
"Udah selesai Bee?" Tanya Tristan lembut.
"Udah Bang." Jawab Jessi.
"Hai Riz." Sapa Jessi.
"Hai juga Jess.." Jawab Fariz.
"Tan lo sama Jessi duluan aja." Ucap Fariz sambil memberikan kode.
Tristan mengerti, "Okey gue duluan deh."
Tristan menggandeng tangan Jessi menuju mobilnya. "Bee, kita makan dulu ya."
"Gak makan dirumah Ghea Bang?"
"Ya udah kita cari ngopi dulu ya.. ada yang mau aku omongin juga." Tristan tersenyum.
Jessi hanya mengangguk dan mengikuti kemana kekasihnya membawanya pergi.
__ADS_1
Tristan sengaja memberhentikan mobilnya disebuah coffee shop, hanya sekedar minum kopi untuk sambil berbicara.
"Ada apa Bang?" Tanya Jessi.
"Bee.. Aku udah obrolin soal niat aku untuk menikahimu pada Papa dan Mama."
"Oh ya? terus Bang?"
"Bee.. apa kamu bisa menungguku dua tahun lagi?" Tanya Tristan dengan tak bersemangat..
"Ada apa Bang? apa ada masalah?" Tanya Jessi perhatian.
"Papa gak ijinin aku nikah muda Bee, Papa bilang aku belum bisa tanggung jawab sama kehidupanku, Papa takut aku bikin malu didepan Papa Jody."
Jessi tersenyum lalu menggenggam tangan Tristan yang duduk disebelahnya. "Orang tua tau yang terbaik untuk anaknya Bang, terkadang kita merasa paling tau dan mengenal diri kita sendiri seperti apa, tapi nyatanya orang tua lah orang yang paling tau dan kenal kita lebih dalam lagi Bang."
Tristan mengangguk, "Kamu gak keberatan Bee?"
"Gak sama sekali Bang, semoga kita memang berjodoh ya Bang, tapi aku takut kamu berpaling." Lirih Jessi.
"Aku paling susah jatuh cinta dan membagi hati Bee, aku kan berusaha untuk kamu. Please kamu percaya sama aku ya Bee."
Jessi mengangguk. "Iya Bang, kita jalani ini sama-sama, sambil merencanakan masa depan kita kedepannya." Jessi menyandarkan kepalanya dibahu kiri Tristan dengan tangan yang masih bertautan dengan tangan Tristan.
Tristan merasa lega meski hatinya tampak kecewa terhadap orang tuanya, setidaknya Jessi mau mengerti dan menunggunya. Tristan berjanji pada dirinya untuk membuktikan pada orangtua nya bahwa ia bisa bersikap tanggung jawab sebagai pemimpin rumah tangga.
***
Fariz dan Stevi menuju rumah Ghea, hubungan mereka berjalan natural, Fariz slalu bersikap dewasa dan begitu menjaga Stevi, Stevi pun mengisi kekosongan Fariz dengan begitu memperhatikan Fariz. Mereka berdua seakan saling melengkapi satu sama lain.
"Riz, mampir dulu di drive thrue ya, Ghea pesen burger."
"Busui bawaanya laper terus kayaknya." ucap Fariz.
"Yah baru diisi makan udah diserap lagi sama Zayn, tapi aku salut lho, Ghea kasih asi eksklusif ke Zayn."
"Kamu juga nanti gitu kan Stev, kasih eksklusif ke anak kita?"
"Kamu mau kerja Stev?"
"Sayang ijazah aku Riz." jawab Stevi tersenyum.
Fariz menganggukan kepalanya. "Aku sih maunya kamu gak kerja Stev, tapi kalo kamu maunya kerja, ya aku ga bisa larang juga."
Stevi terdiam nampak berfikir.
"Stev, koq diam?"
"Eh engga Riz, aku cuma mikirin aja kalo aku gak kerja nanti gimana."
"Gimana apanya?"
"Engga Riz, udah gak usah dibahas." Jawab Stevi mengakhiri.
Fariz membelokan mobilnya di area pom bensin, dia memarkirkan mobilnya tepat di depan area mini market yang terdapat didalam pom bensin.
"Aku beli minum dulu ya." Ucap Fariz lembut.
Stevi mengangguk dan tersenyum.
Setelah kurang dari sepuluh menit, Fariz kembali masuk kedalam mobil sambil membawa dua kantong cemilan.
"Minum Stev." Ucap Fariz sambil memberikan sebotol teh rasa buah yang sudah dibuka sealnya kepada Stevi.
"Makasih." Jawab Stevi.
"Beli cemilan banyak banget?" Tanya Stevi.
__ADS_1
"Iya, satu plastik untuk dirumah Ghea, satu plastik lagi untuk kamu diapartemen."
"Ya ampun Riz slalu aja kamu inget sama aku."
"Ya iyalah inget, kan sama calon istri, masa gak inget." Jawab Fafiz santai.
Stevi tersenyum, "Kamu mau aku gak kerja dan dirumah Riz?" Tanya Stevi ragu.
Fariz menoleh kepada Stevi yang duduk disebelahnya. "Jujur iya Stev, tapi aku juga gak mau egois. Aku gak mau batasin ruang gerak kamu, aku mau percaya sama kamu."
"Hmm.. Aku juga belum punya rencana sih Riz, mungkin kalo kondisi Mama Diana masih seperti sekarang, aku maunya rawat Mama kamu juga, dan aku juga berfikir kalo kita langsung punya anak, aku mau full time jadi seorang Ibu dan Istri. Omongan aku tadi itu hanya semisalnya. Kamu gak marahkan?"
Fariz tertawa pelan, "Aku gak marah, malah aku berfikir kalo kamu mau kerja, lebih baik kerja dikantor Kakek aja buat gantiin aku. Karna aku ga bisa bantu Kakek mengelola perusahaan. Jurusan kuliah kamu juga kan pas untuk kerja dikantor Kakek."
"Kamu masih tetap ingin jadi pengacara?"
Fariz mengangguk, "Tapi gak tau juga, sekarang sih aku mau fokus untuk menyelesaikan kuliahku dulu."
Stevi mengangguk.
Fariz mengusap puncak kepala Stevi dengan sayang. "Terimakasih untuk slalu mengerti aku Stev."
Stelah mereka sekedar mengobrol untuk rencana masa depan, Fariz kembali mengemudikan mobilnya kerumah Ghea.
Ghea dan Zayn menyambut Kedatangan Stevi dan Fariz dimuka pintu.
"Hai Auntie Stev, hai uncle Riz."
"Wahh Baby Zayn makin bulat pipinya." Ucap Stevi yang gemas kepada Zayn.
"Kenapa mirip banget Pak Fadhil ya? gak ada lo nya Ghe." Ucap Fariz saat menggendong Zayn.
"Jelaslah, kan bapaknya, biar diakui lah Riz." Jawab Ghea asal.
"Kata orang kalo anak mirip bapaknya, itu tandanya istrinya cinta mati sama Suaminya "
"Nah kelihatan kan, lo jaim-jaim taunya bucin setengah mati sama Pak Fadhil." Ledek Fariz.
"Iya dong, masa iya gue nyetak anak gak pake cinta, mana maulah gue." Ghea tertawa.
"Jadi waktu lo bikin Zayn, lo cinta dulu sama Pak Fadhil Ghe?"
"Apa sih koq jadi bahas bikin Zayn, itu rahasia perusahaan lah, gak boleh diumbar."
Mereka bertiga tertawa, hingga Ghea bertanya soal Tristan.
Tristan dan Jessi kemana?"
"Oh itu, Tristan mau ngobrol dulu sama Jessi katanya."
"Ada hal serius Riz?" Tanya Ghea mendalam.
Fariz mengangguk "Orang tua Tristan gak setuju Tristan nikah muda, takut Tristan gak bisa bertanggung jawab, dan umurnya yang masih labil."
Ghea mengangguk tanda mengerti. "Iya Tristan memang masih labil, gue juga sempet khawatir, Gue lihat Jessi banyak ngalah sama Tristan. Tapi memang Tristan butuh pendamping seperti Jessi sih Riz."
"Smoga aja mereka bisa sampai ke pernikahan." Sahut Stevi yang diaminkan oleh Ghea dan Fariz.
.
.
.
Semangat senin.. Adakah yang mau kasih aku sebuah Vote?
.
__ADS_1
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....