TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
TRISTAN & JESSICA


__ADS_3

Pulang dari rumah sakit, Tristan mengantar Jessi pulang, sementara Fariz pulang bersama Stevi.


Dipertengahan jalan, Tristan berbicara pada Jessi.


"Jess.. lo kalo gue turunin di halte depan gimana?" Tanya Tristan hati-hati.


"Boleh." Jawab Jessi santai.


"Emang lo mau kemana? gak langsung balik?" Tanya Jessi, pasalnya arah rumah Tristan pasti melewati apartemen Jessica.


Tristan hanya diam dengan raut wajah yang tidak bisa Jessica artikan.


Sedari keluar dari kamar perawatan Ghea, Tristan memang lebih banyak diam, entah apa yang ada didalam pikirannya. Lelaki itu memang masih menyimpan hati untuk Ghea, namun ia bisa menyimpannya dengan rapih dan apik sehingga tidak membuat orang tau dan melihat perasaan itu.


"Lo baik-baik aja Tan?" Tanya Jessica lagi.


Namun Tristan tetap diam tidak menjawab pertanyaan Jessi.


Jessi tampak berfikir, ia sedikit takut Tristan melakuan hal-hal bodoh.


"Si sad boy ini benar-benar menyusahkan, mana bisa gue pulang duluan, kalo dia gimana-gimana pasti gue yang ditanyain karna gue orang terakhir yang pulang sama dia. Oh tuhan aku harus bagaimana?" Gumam Jessica dalam hatinya.


"Hemm.. Bang gue ikut lo boleh gak? gue lagi bete nih di apartemen sendirian (Padahal emang setiap hari sendirian 🤭 Jessi bisa modus juga.)


"Gue lagi mau sendiri Jess." Ucap Tristan dingin.


"Gue ikut lo deh Bang, gue juga lagi bete banget nih." Bujuk Jessica.


"Tapi lo jangan ganggu gue, jangan bawel, gue butuh ketenangan!!" Ucap Tristan dengan tegas.


"Iya, iya Bang, santai aja keles."


Tristan mengemudikan mobilnya kesebuah pantai, dia mencari tempat yang sepi lalu memarkirkannya.


"Lo jangan ngikutin gue, terserah lo mau jalan-jalan kemana, kalo lo mau pulang duluan lo bisa naik taxi." Ucap Tristan pada Jessica sambil membuka bagasi mobilnya dan mengambil sesuatu dari sana.


Diam-diam Jessica memperhatikannya,


"Whatt?? dia bawa minuman beralkohol? dia mau mabuk? Sendirian? disini?. Jessica bertanya pada dirinya sendiri.


Jessica melihat punggung Tristan yang pergi berjalan kaki mendekati bibir pantai sambil menenteng botol minuman keras yang terbungkus kertas sampul coklat.


Tristan duduk sambil menatap ombak-ombak yang saling bergulung ke bibir pantai.


Rambut pria tampan itu acak-acakan terkena angin pantai.


"Dia menyedihkan sekali." Gumam Jessica yang terus memperhatikan Tristan dari jauh.


Hari semakin senja, langit jingga perlahan berubah menjadi hitam. Tristan masih betah duduk ditepi pantai sambil sesekali menyesap minumannya, matanya sudah memerah, terlihat bahwa pria itu tengah mabuk.


"Gheaaaaaaaaa" Teriak Tristan.


"Aku mencintaimu Ghe, slalu mencintaimu, kenapa takdir cinta kita begitu kejam, kenapa kamu begitu gampang berpaling dan mencintai dia Ghe, aku hancur Ghe, hancur sehancur-hancurnya." Lirih Tristan dalam tangisnya.


Ia terus meluapkan apa yang ada dalam hatinya, Tristan sedih saat mengetahui kehamilan Ghea, dia sadar bahwa kini Ghea nya bukan lagi Ghea miliknya seperti dulu.


Beda agama, keyakinan berbeda, terikat pernikahan, dan kini Ghea akan memiliki anak, tertutup sudah jalan cinta mereka.

__ADS_1


Dihadapan semua orang, Tristan mencoba tenang, bersikap sebiasa mungkin, tapi ternyata dia hancur, sakit yang tidak berdarah. Dia memendam semuanya.


Jessica merasa ini sudah sangat lama ia membiarkan Tristan berlarut dalam kesedihannya untuk meluapkan beban dihatinya. Kini akhirnya Jessi mendekat pada Tristan karna pria itu kini sudah sangat mabuk.


"Lo bodoh Bang, lo cowok terbodoh yang pernah gue temui." Maki Jessica.


"Ghea udah bahagia, lo ketinggalan jauh dari Ghea, harusnya lo kejar kebahagiaan lo sendiri. Mau lo paksain juga Ghea gak akan bisa jadi milik lo Bang, sedari awal kalian berbeda!!" Jessi terus menceramahi Tristan meski Tristan tidak mendengarkannya karna sudah sangat mabuk dan setengah sadar.


Jessi pada akhirnya memapah Tristan kedalam mobil Tristan, dia mencari kunci mobil disaku celana Tristan dan Jessi yang mengemudikan mobil Tristan.


Jessica mencoba menelpon Fariz untuk meminta alamat Tristan atau mengantar Tristan kerumah Fariz, namun ponsel Fariz tidak kunjung terhubung.


"Duh, gue harus bawa lo kemana Bang? gue gak tau rumah Fariz dan gue juga gak tau rumah lo dimana, nyusahin banget sih lo Bang." Gerutu Jessi sambil mengemudikan mobilnya.


Akhirnya Jessica memutuskan membawa Tristan pulang keapartemenya.


dari parkiran hingga berjalan ke flat Jessica, Tristan terus meracau "Ghe, gue cinta sama lo." "Ghe, gue gak bisa lihat lo sama dia." Dan masih banyak lagi racauan lainnya.


Jessica membanting tubuh Tristan keatas tempat tidurnya. Lalu ia duduk disisi tempat tidur dan menatap intens wajah Tristan, "Gue kayak pernah lihat lo tapi dimana ya?" Jessi kemudian berdiri, namun saat Jessi hendak berdiri tangannya ditarik oleh Tristan sehingga Jessica jatuh percis diatas Tristan dan wajah mereka saling berhadapan.


Deg..


Jantung Jessica berdegup sangat kencang saat matanya menatap mata Tristan yang masih memerah.


"Bang, lepas.." Ucap Jessica.


"Gue mau lo sekarang." Ucap Tristan parau.


"Bang gue Jessi bukan Ghea. Lo mabuk Bang." Ucap Jessi sambil berusaha bangkit dari atas Tristan.


Namun tenaga Tristan jauh lebih kuat, ia membalikkan tubuhnya dan tubuh Jessi sehingga kini posisi Jessi dibawah kungkungan Tristan.


"Bang lepas, lo mabuk!!" Jessi mulai berontak dan mendorong Tristan sehingga Tristan terjatuh dan berbaring disebelah Jessica.


Jessica hendak bangkit namun lagi-lagi tangannya dicekal oleh Tristan dan Jessica kembali jatuh, kali ini percis disebelah Tristan, Tristan membelai lembut pipi Jessica, merapihkan anak rambut yang sebagian menutupi wajah Jessi.


"Kamu cantik." Ucap Tristan parau yang mampu membuat hati Jessica berdesir, padahal Jessica tau bahwa Tristan mengucapkan hal itu dibawah alam sadarannya.


Tristan kembali mengecup bibir Jessi, sedikit melum*tnya kemudian melepaskannya dan kembali menatap wajah Jessica. "Manis, aku suka bibirmu."


Tristan meraih tengkuk leher Jessica, menciumnya kembali dengan sangat lembut


Entah mengapa Jessica terbawa suasana, ia tidak mampu lagi menolak ciuman lembut Tristan, akalnya ingin menolak namun tubuhnya menginginkannya. Jessica mulai membalas ciuman Tristan, mereka saling bertukar saliva dan lidah mereka membelit satu sama lain.


Tangan Tristan pun mulai menjelajah kedalam pakaian Jessi, dan lagi-lagi akal Jessi tidak mampu menolaknya, tubuhnya menikmati segala sentuhan itu.


Jessica melepas sebentar pagutannya, "Bang gue Jessi bukan Ghea." Lirihnya dengan mata yang mulai memelas.


"Aku suka kamu, aku menginginkanmu." Tristan berbicara dengan sangat lembut dan kembali mencium bibir manis Jessi.


Ciuman lembut Tristan berubah menjadi panas, ia semakin gila menikmati setiap senti tubuh Jessica, Ciuman Tristan turun keleher jenjang Jessi dan semakin turun ke kedua bukit kembar Jessi, meninggalkan jejak jejak merah keunguan di dua bukit itu, tangan satunya setia memainkan salah satu bukit itu dan tangan satunya mulai menjelajah kebagian sensitif Jessi.


"Akhhh.." suara des*han indah keluar dari mulut Jessi saat Tristan menenggelamkan wajahnya didua bukit itu.


"Bang please gue Jessi, bukan Ghea. Akhh." Jessi terus mencoba menyadarkan kesadaran Tristan.


"Jessi, Jessica, aku mau kamu malam ini." Entah Tristan sadar atau tidak menyebut nama Jessi, membuat Jessi akhirnya pasrah dan menyerahkan dirinya pada Tristan setelah namanya disebut.

__ADS_1


Tristan mulai membuka pakaian Jessi satu persatu, bibirnya terus menelusuri tubuh Jessi, aroma tubuh Jessi membuat Tristan semakin menggila, Tristan menciumi Jessi dari puncak kepala, turun hingga keujung kaki, seolah menandakan bahwa Jessi hanya akan jadi miliknya.


Lama Tristan menjelajahi tubuh Jessi, kini ia mulai memposisikan wajahnya sejajar dengan wajah Jessi.


"Aku mau kamu, bolehkah?" Tanya Tristan.


"Aku Jessi Bang, bukan..." belum sempat Jessi menyelesaikan omongannya, Tristan membungkamnya dengan kecupan dibibir Jessi.


"Bolehkah Jess?" Tanya Tristan dengan menyebut nama Jessica.


Jessica seperti bukan dirinya sendiri, ia mengangguk karna tubuhnya kian memanas akibat sentuhan demi sentuhan yang diberikan oleh Tristan.


Tangan Jessica terulur mengusap pipi Tristan, kemudian Jessi berani mengecup bibir Tristan yang sedari tadi sudah berhasil menjelajahi tubuhnya.


Tristan menyunggingkan senyum, ia mulai memposisikan pusakanya dibagian inti Jessi. Perlahan mulai memasukannya, Tangan Jessi menahan pinggul Tristan.


"Sakitt Bang.." Lirihnya sambil menggigit bibir bawahnya.


Tristan kembali menciumi wajah Jessi dan kembali mencium bibir manis Jessi kemudian melepaskannya.


"Hanya sebentar sayang." Bisiknya lembut.


Panggilan sayang dari Tristan membuat hati Jessi berbunga, tanpa Jessi sadari, pusaka Tristan terus berusaha menerobos bagian inti Jessi.


"Aaakkh.. " Jessi berteriak sambil memejamkan matanya dan terlihat buliran kristal keluar dari kedua ujung mata Jessi.


Tristan menatap lekat wajah Jessi, entah mengapa hatinya sedikit menghangat dan merasakan adanya kenyamanan.


Tristan memulai gerakannya dengan sangat lembut, rasa sakit yang Jessi rasakan tadi perlahan menjadi kenikmatan, mereka saling mendes*h.


"Bang lepas, gue mau pipis." Ucap Jessi.


"Sebentar lagi aku sampai Sayang, kita lepaskan sama-sama." Jawab Tristan.


"Hemmmm.." Suara des*han Jessi tanda Jessi sampai dipelepasannya.


"Erngghhh." Disusul suara erangan Tristan yang juga mencapai pelepasan pertamanya.


Tristan menciumi seluruh wajah Jessi, kemudian menarik dirinya dan tertidur begitu saja disisi Jessica.


.


.


.


Sampai sini mau bilang apa sama Tristan?


Ada yang mau disampaikan pada Jessi?


Selanjutnya ada yang bisa menebak kelanjutan kisah Tristan dan Jessica?


Kencengin komentar, like dan bantu vote nya ya Readers ku tersayang..


Love U All 😘


.

__ADS_1


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2