
Malam hari Erick berdiri dihalaman belakang, ini sudah cukup larut namun ia tidak bisa memejamkan matanya untuk tidur, padahal esok adalah hari pernikahannya bersama Diana.
"Belum tidur Yah?" Tanya Bryan.
Erick menoleh kearah sumber suara. "Eh kamu Bry.. Kamu sendiri kenapa belum tidur?" Tanya Erick balik.
"Pengen ngerokok Yah, tapi Rokoknya lupa belum beli, mau keluar males." Jawabnya santai.
"Kurangi merokok Bry, kasian anak dan istrimu kebagian racunnya, belum lagi Maura kan lg hamil juga."
"Iya Yah, itu juga udah dikurangin."
"Ayah kenapa belum tidur? deg-degan ya besok mau buka puasa?" Ledek Bryan.
"Kamu ini senang sekali meledek Ayahmu ini Bry."
Bryan tertawa, "Cepet tidur Yah, jangan sampai besok pas waktunya buka puasa Ayah malah ngantuk, kan kasian Tante Diana kalo dicuekin ditinggal tidur pas malam pertama."
Erick hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, ia sudah tidak heran menghadapi kegesrekan Bryan.
***
Pagi hari dirumah Erick.
Erick memanggil Bryan dan Ghea untuk masuk kedalam kamarnya, ada hal penting yang ingin Erick sampaikan.
"Bry.. Ghe.. Beberapa jam lagi Ayah akan menikahi Diana, itu tandanya Diana akan menjadi ibu sambung kalian, dan Fariz menjadi saudara tiri kalian. Ayah harap kalian benar-benar bisa dengan ikhlas menerima Diana dan Fariz. Mungkin Diana akan tinggal bersama kita disini, untuk Fariz mungkin dia hanya sesekali akan tinggal disini."
Erick menghela nafas sebelum melanjutkan bicaranya.
"Bry.. Ghe.. Didalam kotak ini ada perhiasan peninggalan Almarhumah ibu kalian, Ayah tidak punya hak untuk menyimpannya karna kalian yang lebih berhak menerimanya."
Bryan menerima kotak berupa peti kecil dan membukanya, disana terdapat beberapa koleksi perhiasan Sofia.
"Yah kenapa tidak disimpan aja untuk kenang-kenangan Ayah?" Tanya Ghea.
Erick menggelengkan kepalanya, "Tidak Ghe, Diana akan tinggal disini, demi menghargai Diana Ayah menyerahkan ini pada kalian."
Ghea mengangguk tanda mengerti, dulu diawal pernikahannya bersama Fadhil pun, Ghea menolak barang-barang seserahan yang ditujukan untuk Yasmin meski belum pernah dipakai oleh Yasmin.
"Ghe, kamu kan anak perempuan, kamu aja yang simpan ini." Ucap Bryan.
"Jangan kak, malah aku maunya Kakak aja yang simpan." Jawab Ghea.
Mereka diam seolah tenggelam dalam pemikirannya masing-masing.
"Yah, Kak Bry, Bagaimana kalau masing-masing kita mengambil satu sebagai kenang-kenangan Almarhum ibu, sisanya kita jual untuk disumbangkan misal untuk pembangunan masjid, yayasan panti asuhan atau yang lainnya."
"Bryan setuju Yah, setelah kita mengambil satu perhiasan sebagai kenang-kenangan, lebih baik sisanya kita jual untuk disumbangkan atas nama Ibu."
Erick tampak berfikir. "Kalian tidak keberatan dan Ikhlas?"
Ghea dan Bryan pun mengangguk.
"Baiklah kalau itu kesepakatan kalian. Ayah akan ikut."
Erick membuka kotak perhiasan kembali dan mengambil sepasang cincin pernikahan mereka. "Ayah akan simpan ini sebagai kenang-kenangan, jika nanti Ayah meninggal, cincin ini kalian bagi dua, satu untuk Ghea dan satu untuk Bryan."
Ghea dan Bryan mengangguk tanda mengerti.
Bryan mengambil kotak perhiasan dan memilih sebuah gelang. "Bry ambil ini Yah." Ucap Bryan.
__ADS_1
"Gelang itu, Hadiah yang Ayah belikan untuk Ibumu saat Ibumu melahirkanmu Bry.." Lirih Erick.
Bryan tersenyum.
Ghea meraih kotak perhiasan saat Bryan memberikannya. "Ghea ambil apa ya Yah, adakah yang bernilai penuh kenangan Ayah bersama Ibu?" Tanya Ghea.
Erick mengambil kalung berbandulkan hati. "Ini Ghe, ini hadiah dari Ayah untuk ibumu saat ulang tahun pernikahan pertama Ayah dan Ibu."
"Baiklah Ayah, Ghea akan ambil ini." Jawabnya sambil menggenggam kalungnya.
"Sisanya Bryan yang urus ya Bry, Maura kan tau soal pelelangan untuk kegiatan amal." Ucap Erick.
"Iya Ayah, nanti Bry bicarakan dengan Maura dulu."
Erick menutup kotak perhiasan tadi, dan menyerahkannya pada Bryan. "Smoga amal ini sampai kepada Almarhumah ibu kalian."
"Aamiin." jawab Bryan dan Ghea bersamaan.
Ghea memeluk Erick, kemudian Bryan memeluk Ghea yang tengah memeluk Erick.
"Ayah harus bahagia, kali ini Ayah harus bahagia." Lirih Ghea.
"Ghea juga harus bahagia sama Fadhil ya, Maafkan kesalahan Ayah dimasa lalu, dan kamu Bry, jaga dan sayangi Maura karna dia adalah ibu dari anak-anakmu."
***
Erick menyempatkan bermain bersama Damian dan Zayn sebelum berangkat keacara akad pernikahannya.
"Yah, semua mobil udah siap. Apa kita akan jalan sekarang?" Tanya Ghea.
Erick mengangguk, "Sebentar Ayah ambil jas Ayah dikamar dulu." Jawab erick.
Erick mengambil jas nya didalam kamar, dia menatap sekeliling kamarnya, kamar yang pernah ia tempati bersama Sofia.
Erick menutup pintu kamarnya dari luar, ia melangkah dengan membaca Bismillah dan wajah yang tersenyum.
***
"Saya terima nikah dan kawinnya Diana Amalia Dewantara dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Erick berhasil mengucap ijab kabul dalam satu tarikan nafas sambil menjabat tangan Yoga Dewantara atau biasa dipanggil Kakek Tara.
Sah..
Sahh..
Ucap saksi-saksi.
Ghea menitikan air mata tanda kebahagiaan, ia bahagia karna akhirnya Erick mendapatkan pendamping yang baik dan tulus.
Stevi dan Jessi mendampingi Diana untuk turun dan menghampiri Erick yang kini resmi berstatus suami Diana.
Erick terpukau melihat kecantikan Diana, dengan balutan kebaya berwarna broken white dan make up naturalnya membuat Diana tampil elegan.
Diana duduk percis disebelah Erick, setelah doa bersama, Diana meraih tangan Erick dan mencium punggung tangannya sebagai tanda bakti dan Erick mencium kening Diana sebagai tanda sayangnya pada istrinya kini.
Semua tamu yang datang memebrikan doa restu dan mengucapkan selamat pada Erick dan diana, Keluarga Daniel dan keluarga Latif sebagai besanny Erick pun turut hadir.
"Mas apa mereka itu kerabatmu?" Tanya Diana.
"Pak Daniel dan Ibu Monica itu tetangga depan rumahku, sudah seperti keluarga sendiri, mereka ibunya Tristan sahabat anakmu juga."
Diana mengangguk, dirinya masih merasa asing dengan orang-orang baru disekitarnya. Padahal sewaktu acara lamaran bulan lalu, keluarga Daniel pun ikut menghadirinya.
__ADS_1
"Kalau yang barusan itu besanku, pak Latif Salman, Papanya Fadhil dan mertuanya Ghea."
"Kalo besan mas satu lagi?"
"Mertua Bryan mereka tidak tinggal di indo, mereka tinggal di Belanda mengelola bisnis susu dan keju disana." ucap Erick menjelaskan
"Aku kira Monica itu dulu orang yang sedang dekat denganmu, karna itu Ghea memanggilnya Mama juga."
Erick tertawa kecil, "Apa saat itu kau cemburu?"
"Sedikit." Jawab Diana polos.
"Ghea memanggilnya Mama karna Ghea sedari kecil dekat dengan keluarga Tristan, malah mereka mengangkat Ghea sebagai anak. Itu sebabnya Ghea memanggil Ibu Monica dengan sebutan Mama dan Pak Daniel dengan sebutan Papa."
Diana terdiam, sempat ada yang dipikirkannya.
"Ada apa? masih ada yang mau ditanyakan?" Tanya Erick.
"Hmm itu Mas, Ghea masih memanggilku Tante dan Bryan memanggilku Ibu Diana, aku juga ingin mereka memanggilku Mama." Lirih Diana.
Erick tersenyum, "Nanti saat pertama kali kamu kerumahku, aku yakin mereka akan memanggilmu Mama."
"Apa setelah acara ini kita akan kerumahmu Mas?" Tanya Diana.
"Tidak.."
"Tidak? terus kita menginap disini?" Tanya Diana Heran.
"Tentu tidak juga."
Diana semakin bingung, "Lalu kita kemana Mas?"
"Aku ingin buka puasa dihotel milikku." Jawab erick dengan menaikan satu halisnya.
"Buka puasa? apa Mas Erick sedang puasa? tapi tadi aku lihat Mas minum dan makan beberapa cemilan."
Erick tertawa, "Buka puasa yang lain dong Sayang."
Namun sayang kode dari Erick tetap tak membuat Diana mengerti.
.
.
.
Buka puasa Ayah Erick dan Mama Diana di Bab selanjutnya ya, alias besok Senin.
Kalo like dan koment nya kenceng, gak dilama-lamain deh..
Apalagi kalo dikasih Vote, Vote, dan Vote karna besok senin ðŸ¤
Maafkan Author..✌✌✌✌
Author ijin traveling dulu biar ngehalunya makin lancar ya 😚😚😚
.
.
.
__ADS_1
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....