TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
BERTEMU PAK ANAS, MEMBAHAS MASA SMA.


__ADS_3

Acara Aqiqah Aldrich digelar dirumah Erick, Fariz juga mengundang teman-teman semasa SMA yang dulu menjadi tim basket bersama Tristan.


"Lo ngundang anak-anak?" Tanya Tristan.


"Iya, kangen gue sama mereka, ada Pak Anas juga."


"Serius Pak Anas ikut datang juga? lima tahun gak ketemu."


"Iya.. gue waktu kapan ketemu Dimas, dia masih intens hubungan sama anak-anak dan Pak Anas, tapi yang nanti datang kayaknya Dimas dan Pak Anas doang. Yang lain udah pada sibuk masing-masing Tan."


"Ya udahlah, emang masa kita ngumpul sama temen udah habis, setiap waktu kita kan akan ketemu sama orang-orang baru. Tapi gue bersyukur sama Tuhan karna lo dan Ghea tetep jadi sahabat gue."


Fariz menepuk pundak Tristan. "Iya.. gue juga gak nyangka bisa sejauh ini sama kalian."


Acara Aqiqahan selesai. Dimas dan Pak Anas baru datang setelah acara selesai.


"Riz.." Panggil Pak Anas.


"Bapak..." Jawab Fariz kemudian tos ala persahabatan dan mencium punggung tangan Pak Anas.


"Wahh.. penampilan kamu sekarang berubah ya Riz, lebih gemukan dan berisi."


"Kan udah nikah Pak, udah ada yang ngurusin." Jawabnya cengengesan.


"Mana istrimu?"


"Didalam lagi menyusui anak saya dulu Pak."


Pak Anas Mengangguk.


"Lho Pak Anas, Dimas.." Seru Ghea yang tak percaya melihat ada Pak Anas Pelatih tim basket di SMA nya dulu, dan Dimas teman masih satu sekolahnya dulu.


Pak Anas mengernyitkan dahinya.


"Siapa coba Pak?" Tanya Fariz.


"Ghea kan? Ghesayangnya Titan ini?" Ucap Pak Anas menirukan panggilan Tristan ke Ghea saat dulu mereka masih sekolah.


"Ishh Bapak, koq inget saya bagian itu aja sih."


"Kamu berjilbab? terus kamu sama Tristan bagaimana? kalian kan beda___" Pak Anas tidak meneruskan ucapannya saat Jessi datang dan menaruh piring-piring berisikan kue untuk Pak Anas dan Dimas.


"Ini istri lo Riz?" tanya Dimas.


"Bukan, istri gue masih didalam, masih nyusuin anak gue, nanti juga kesini."


"Ghe, terus Tristan mana?" Tanya Pak Anas Penasaran.


Pak Anas belum mengetahui bahwa Ghea dan Tristan tlah memiliki takdirnya masing-masing.


"Jess, Tristan mana? bilang Tristan ada Pak Anas dan Dimas." Ucap Fariz.


"Tadi di belakang sama Mas Fadhil, nah itu Tristan." Tunjuk Jessi.


"Pak Anas..." Seru Tristan langsung duduk disebelah Pak Anak dan memeluk Pak Anas.


"Udah gue duga, dimana ada Ghea, disana pasti ada Tristan." Sahut Dimas.


Pak Anas tertawa, "Bener banget namanya juga Ghesayangnya Titan."


Semua mata menatap Dimas dan Pak Anas.


"Koq pada lihat gue sama Pak Anas begitu." Ucap Dimas sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu.


Ekheemm..

__ADS_1


Ghea berdehem.


"Maaf Pak Anas, Dimas, Ini Jessi istrinya Tristan, dan Saya sendiri juga sudah menikah dengan suami saya, malah saya udah punya satu anak dan sedang mengandung anak kedua." Ghea mencoba menjelaskan.


"Jadi kalian__" Tanya Pak anas yang tak diselesaikannya.


"Kami mempunyai takdir cinta masing-masing, yang sama-sama seiman dengan keyakinan kami masing-masing." Ghea tersenyum tulus.


Pak Anas tampak terkejut, pasalnya ia adalah salah satu saksi bagaimana kedekatan Tristan dan Ghea saat di SMA dulu, bagaimana dulu Tristan begitu menjaga Ghea dan Ghea yang slalu bergantung pada Tristan.


"Maaf, bapak tidak tau." Ucap Pak Anas yang masih terlihat bingung dan menyayangkan karna antara Ghea dan Tristan tidak berjodoh.


"Sory, kalo ada omongan gue gak ngenakin." sahut Dimas.


"Santai aja sih, kenapa jadi tegang begini. Lagian gue sama Ghea udah sama-sama bahagia, dan istri gue ini malah sahabatnya Ghea." Ucap Tristan sambil merangkul pundak Jessi.


Suasana kembali mencair, Ghea memperkenalkan Fadhil sebagai suaminya, dan Zayn anak pertamanya. Fariz juga memperkenalkan Stevi.


Setelah lama mereka mengobrol, Ghea ijin untuk menidurkan Zayn yang sudah rewel, Jessi pun ijin pulang bersama Monica karna pinggangnya yang sudah merasa pegal.


Tinggalah Fariz, Tristan, Pak Anas dan Dimas.


"Jadi gimana ceritanya Tan?" Tanya Pak Anas yang masih penasaran.


"Iya gimana ceritanya sih?" Dimas ikut penasaran.


Tristan menghela nafas, "Jadi waktu abis lulus, saya kan ke Amrik Pak, itu sengaja untuk coba jauh dari Ghea, dan Ghea bisa membuka hati sama orang lain. Saat itu kita pisah baik-baik Pak. Tapi kenyataannya keputusan yang saya ambil salah. Saya memutuskan untuk kembali pulang ke Indo dan mau bawa Ghea menikah diluar negri, pernikahan yang bisa beda agama."


"Terus.." Tanya Pak Anas tak sabar.


"Pas saya kembali, taunya Ghea udah nikah, Ghea dipaksa nikah sama yang jadi sumainya sekarang, jadi pengantin pengganti kakaknya yang kabur Pak."


"Jadi Ghea dipaksa menikah? Umur berapa itu Tan?" Tanya Pak Anas.


Pak Anas hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Saat itu, saya mau rebut Ghea lagi, saya yakin Ghea terpaksa dan Gak bahagia. Tapi ternyata saya salah Pak, Suaminya Ghea itu baik banget, sangat menyayangi Ghea dan ternyata perasaan Ghea juga sudah berpaling, dia mencintai suaminya."


Pak Anas semakin terkejut mendengar cerita Tristan.


"Bapak kira kamu sama Ghea happy ending Tan."


"Kami Happy ending Pak, tapi dengan pasangan masing-masing."


Pak Anas mengangguk.


Fariz pun menceritakan hubungannya dengan Ghea yang kini menjadi saudara tiri.


"Takdir tuhan tidak ada yang tau, semua itu misteri." Ucap Pak Anas bijak.


"Boleh bapak tau bagaimana sekarang perasaanmu Tan?"


"Saya mencintai istri saya Pak, dan saya menganggap Ghea sebagai adik yang harus saya lindungi. Hanya sebatas itu."


"Baguslah Tan, karna lelaki itu yang dipegang omongannya, apa lagi pernikahan kalian didepan tuhan kalian."


"Gue gak nyangka Tan, lo bisa lepas Ghea." Sahut Dimas.


"Tapi kenyataannya begitu Dim." Ucap Tristan.


"Gue saksinya, dari jaman Ghea dan Tristan cinta-cinta an, pisah baik-baik, dan bahagia dengan pilihannya masing-masing." Ujar Fariz


"Hebat kamu Riz." Ucap Pak Anas.


Tristan merangkul pundak Fariz. "Sahabat sejati nih Pak."

__ADS_1


Mereka berempat tertawa, mereka melepas rindu sambil menceritakan kegiatan masing-masing. Dimas yang ternyata masih menganggurpun ditarik oleh Fariz untuk kerja bersamanya di DW Group. Sementara Pak Anas, kini menjadi pelatih Tim basket di PON.


Karna hari semakin sore, Pak Anas dan Dimas pun undur diri. Terlebih kini acara sudah selesai.


Ghea, Tristan dan Fariz mengantar Pak Anas dan Dimas hingga depan pagar rumah.


"Pak Anas, Dimas makasih ya udah mau datang." Ucap Fariz.


Pak Anas tersenyum. "Kalian harus jaga silaturahmi, kapan-kapan kita kumpul lagi. Dan pesan saya untuk kalian, apapun kini jalan kalian, terima dengan ikhlas dan tulus."


Ghea tersenyum, "Makasih pak untuk nasihatnya."


Tristan kembali pulang kerumahnya, dia segera masuk kekamarnya, dilihat Jessi yang baru saja selesai mandi dan masih memakai kimononya sambil mengeringkan rambutnya.


"Betah banget ketemu temen lama, sampai bahas Ghesayang nya Titan." Cibir Jessi.


Tristan yang sedang membuka kemejanya pun mengernyitkan dahinya.


"Jessinya gue marah." Gumam Tristan, lalu mendekat pada Jessi dan memeluknya dari belakang.


"Bee, koq bahas itu sih, tadi Pak Anas sama Dimas gak tau."


"Iya.. Iya..." ucap Jessi dengan wajah masih ditekuk.


"Bee.. jangan ngambek gitu dong." Bujuk Tristan sambil mengecupi rambut Jessi yang lembab.


"Kamu dulu romantis banget ya sama Ghea?" Tanya Jessi.


Sebenarnya Jessi enggan membahas ini, sedikit banyak, Jessi sudah tau masa lalu Tristan dengan Ghea. Tapi hormon hamil ini sangat membuatnya menjadi Sensitif dan tiba-tiba bersedih.


Tristan membawa Jessi untuk duduk di sisi tempat tidur dan mengarahkan Jessi untuk duduk dipangkuannya. Tangan Tristan mengusap pipi lembut Jessi.


"Maaf Bee, jika masa lalu ku bersama Ghea membuatmu sakit." Ucap Tristan lembut.


Jessi jadi merasa tak enak hati sendiri. Harusnya ia tak membahas masa lalu Tristan dan Ghea, karna saat dimasa lalu, Jessi belum mengenal Tristan.


"Aku takut masih ada cinta dihati kamu untuk Ghea." Lirih Jessi.


Tristan ******* bibir Jessi dengan lembut dan perlahan melepaskannya. "Tidak ada sisa cinta Bee, yang ada aku sepenuh hati mencintaimu Bee. Apa lagi kini ada dia." Tristan membuka ikatan kimono Jessi dan mengusap perutnya Jessi yang sudah membulat itu.


"Ada dia disini Bee, cintaku udah sepenuhnya untuk kalian."


Perlahan Tristan mulai mengendus leher jenjang Jessi, tangan yang tadinya mengusap perut bulat itu kini naik merem*s salah satu bukit Jessi.


"Bang.. Mandi dulu.." Ucap Jessi.


"Aku mau kamu dulu." Tristan menghisap salah satu bukit kembar Jessi dan tangannya kini turun menyentuh bagian sinsitif Jessi yang belum terpasang segitiga pengaman.


"Udah basah Bee, kamu mau juga kan?" Tanya Tristan dengan suara parau.


Jessi mengangguk sambil menggigit bibir bawahnya.


Hormon kehamilan ini memang membuat Jessi semakin gampang ter*ngs*ng.


Mereka malakukan aktifitas sore, permainan Tristan slalu membuat Jessi puas dan bahkan ketagihan.


.


.


.


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....

__ADS_1


__ADS_2