TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
BERLALUNYA WAKTU


__ADS_3

Kini Baby Zayn berusia satu tahun, Ghea pun sudah mulai masuk kembali kuliah dan mengejar ketinggalannya untuk bisa lulus bersama ke empat sahabatnya. Meski target Ghea lulus satu tahun lagi, hal itu bukanlah hal yang sulit mengingat Ghea memiliki otak yang cerdas dan pintar.


"Mama berangkat dulu ya Sayang, jangan nakal sama suster dan Oma Monica ya." Pamit Ghea pada Zayn sang buah hatinya itu yang kini berpostur berisi dan tampan percis seperti Fadhil.


Hari-hari Ghea lalui dengan segala kerepotannya, namun wanita beranak satu itu tidak pernah mengeluh meski dia tidak punya waktu untuk memikirkan dirinya sendiri.


Fadhil semakin hari semakin mencintai Ghea, menurut Fadhil, Ghea itu adalah istri yang sempurna, dia tetap menjalankan perannya sebagai istri, ibu, bahkan mahasiswa. Ditengah-tengah kesibukannya menjalankan peran sebagai istri dan ibu, tidak membuat Ghea lalai dalam tugas-tugas kuliahnya, Terkadang Ghea menyusui Zayn sambil mengerjakan tugas, bahkan jika Zayn sudah tertidur, Ghea tetap melanjutkan mengerjakan tugas kuliahnya. Ghea juga tidak lupa akan kewajibannya sebagai seorang istri, meski ia lelah akan aktifitasnya, ia tetap melayani kebutuhan biologis sang suami.


Apa kabar dengan Tristan dan jessi?


Kini keduanya tengah disibukan dengan kuliah juga tugasnya masing-masing. Ditambah Jessi yang kini semakin sibuk karna banyaknya tawaran untuk jasa make over ruangan yang sedang viral di media social Inst*gram dan Tikt*k.


Daniel melihat kesungguhan Tristan dalam satu tahun ini, kini Tristan terlihat bisa membagi waktu dan mengelola emosinya dengan baik, juga tidak pernah memaksakan sesuatu yang diinginkannya.


Daniel memberi syarat harus lulus satu tahun lagi dengan nilai memuaskan, ia berjanji pada Tristan, meski jika nanti Tristan belum bekerja, Daniel akan menikahkan dirinya dengan Jessi jika hasil kelulusannya memuaskan.


Fariz-Stevi.. Meski Kakek Tama menginginkan Stevi segera menikah dengan Fariz, namun Fariz menginginkan kesembuhan untuk Diana terlebih dahulu. Meski dianggap mustahil, namun Fariz mentargetkan hingga lulus kuliah, tetapi jika Diana tak kunjung sembuh, setelah lulus kuliah nanti Fariz akan tetap menikahi Stevi.


Lalu bagaimana dengan keadaan Diana?


Satu tahun ini Erick masih sering menemui Diana disela-sela kesibukannya, tak jarang Erick berani membawa Diana untuk sekedar jalan-jalan ditaman. Hal itu ia lakukan dibelakang Kakek Tara, namun Erick salah jika menganggap Kakek Tara tidak tau, karna Diana slalu ada dalam pengawasan Kakek Tara lewat orang kepercayaanya siapa lagi kalau bukan suster Linda.


Meski Kakek Tara tau, namun Kakek Tara tetap membiarkan sikap Erick yang mendekati anak satu-satunya itu, setelah tau bahwa kini Erick seorang duda dan tidak sedang menjalin hubungan dengan wanita manapun, Kakek Tara membiarkan Erick dekat dengan Diana, ia ingin mengetahui sejauh mana ketulusan Erick dan sejauh mana Erick bertahan.


Hari ini Erick akan mengunjungi Diana dirumahnya, ia membawakan sebuket bunga mawar merah untuk Diana.


"Hai Di.. aku kesini untuk berpamitan. Untuk sementara waktu, aku tidak bisa mengunjungi dan menemanimu karna aku ada urusan pekerjaan diluar negri. Aku harap kamu slalu baik-baik saja dan bahkan lebih baik lagi saat aku pulang nanti. Ingin rasanya melihat senyummu dan mendengar suaramu Di, ingin rasanya kamu menyambutku Di." Lirih Erick yang tangannya mulai membelai kepala Diana.


Segala perilaku Erick terhadap Diana diam-diam direkam oleh Suster Linda dan mengirimkannya pada Kakek Tara. Kakek Tara yang melihat nya pun merasa tersentuh dengan segala perlakuan Erick terhadap Diana, apa lagi saat melihat Erick dengan penuh kasih sayang mencium kening Diana dengan sangat tulus.


Erick berdiri setelah mencium kening Diana, "Aku pamit ya Di.." Erick tersenyum dan melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Diana.


Mata Diana tertuju pada punggung Erick yang semakin berlalu dan menghilang begitu saja dari pandangannya. "Er.. rick." Lirih Diana yang tidak terdengar oleh siapapun.


Seminggu berlalu, Diana tidak pernah bertemu dengan Erick lagi, Kakek Tara juga mencari tau kemana Erick dan benar Erick sedang berada di Singapura sedang ada urusan pekerjaan.


"Daddy..!!!" Teriak Diana tiba-tiba memecah suasana di Minggu siang.


Kakek Tara yang sedang makan siang bersama Fariz dan Stevi pun terkesiap ketika mendengar teriakan histeris Diana.


"Mamamu Riz."


Mereka langsung menghampiri Diana ditaman belakang.

__ADS_1


"Diana..." Panggil Kakek Tara.


Diana menoleh kearah sumber suara..


"Dad..."


Kakek Tara langsung berhambur memeluk Diana, "Diana kau sudah mengingat Daddy?"


"Dad.. maafkan Diana." Ucap Diana didalam pelukan kakek Tara.


Suster Linda bergegas menelpon dokter khusus Diana begitu mendapatkan kode dari Kakek Tara.


Sementara Fariz matanya sudah tidak mampu lagi menahan air matanya, betapa bahagianya ketika ia mendengar suara Diana.


Kakek Tara membawa Diana kekamar, ia memberikan kode pada Fariz untuk tidak dulu mengikutinya, karna Kini Diana terlihat masih bingung.


"Stev.. Mama sadar.." Lirih Fariz.


Stevi memberanikan diri memeluk Fariz seolah ingin menyalurkan kekuatan untuk Fariz.


"Terimakasih untuk slalu mendukungku Stev."


Sementara didalam kamar, Dokter memeriksa kondisi Diana ditemani oleh Kakek Tara.


"Ini keajaiban Pak, Ibu Diana saya nyatakan sembuh meski harus menjani beberapa test untuk menguji sejauh mana kenormalan pada saraf-sarafnya."


Setelah Dokter itu pergi, Diana pun tertidur. Kakek Tara meninggalkan Diana bersama Suster Linda yang setia menjaganya.


"Kek.." Panggil Fariz.


"Mamamu sembuh Riz, tapi harus menjalankan beberapa tes untuk menguji seberapa normal saraf-sarafnya berfungsi kembali."


"Fariz akan mengantar Stevi pulang dulu Kek."


Fariz dan Stevi berpamitan pada Kakek Tara setelah mencium punggung tangan Kakek Tara.


"Langsung antar aku ke apartemen aja Riz." Ucap Stevi.


"Masih sore Stev, kamu gak mau jalan-jalan dulu?" Tanya Fariz.


"Gak usah Riz, aku tau kamu ingin segera pulang dan mengetahui kondisi Mama lebih lanjut kan." Stevi tersenyum dengan penuh kelembutan.


Tangan kiri Fariz menggenggam tangan Stevi dan menciumnya, "Aku mencintaimu Stev."

__ADS_1


"Kamu juga harus bahagia Riz, Mama sekarang udah sadar."


"Itu tandanya pernikahan kita juga semakin dekat Stev."


"Nanggung Riz, lebih baik tahun depan aja setelah lulus kuliah."


"Kenapa?" Tanya Fariz.


"Gapapa, cuma kayaknya nanggung aja kuliah kita selesai satu tahun lagi."


Fariz nampak berfikir. "Kamu benar, baiklah kalau begitu Stev."


***


Di Singapura Erick tengah berjalan-jalan untuk membelikan oleh-oleh untuk kedua cucunya. Dia juga membelikan anak dan menantunya oleh-oleh. Erick membawa banyak tentengan, langkahnya terhenti saat ia melintasi toko perhiasan dan melihat sebuah gelang yang sangat indah, tentunya gelang itu adalah keluaran baru dan limited edition, Ingatan Erick langsung tertuju pada Diana, tanpa pikir panjang, ia membelikan gelang itu untuk diberikannya pada Diana. Erick juga membelikan beberapa perhiasan untuk Ghea dan Maura. Sikap Erick kini berubah, tujuannya hanya satu, ingin menebus segala kesalahannya dan membahagiakan Anak, menantu dan cucunya.


Di hotel, Erick tengah termenung, Erick menikmati masa tuanya, meski ia terkadang merasa kesepian, namun rasa itu ia tepis, perasaan ini lebih baik dari pada sebelumnya saat ia bersama Vika, seperti penuh tekanan. Tiba-tiba pikirannya tertuju kembali pada Diana, mengingat Diana seperti mengingat Sofia istri pertamanya yang sudah meninggal, begitu membahagiakan hingga membuatnya tanpa sadar tersenyum membayangkannya.


"Diana.. andai kau bisa mengingatku, apa kau tetap masih mengagumiku dan menyimpan hati untukku?" Gumam Erick pada dirinya sendiri.


.


.


.


Yuk yang masih punya jatah Vote, bantulah Author masuk ranking Vote biar tetap semangat.


.


.


Author juga setia menunggu Like, komentar, dan Favorit dari kalian.


.


.


Terimakasih untuk dukungannya.


.


.

__ADS_1


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2