TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
INSIDEN


__ADS_3

"Jess.. Jadikan ke tempat proyek." Tanya Ari teman sekelas sekaligus satu komunitas dengannya.


"Jadi dong." Jawab Jessi sambil melingkarkan jarinya sebagai tanda oke.


Jessi mengirim sebuah pesan pada Tristan.


^^^"Bang, aku cek kerjaan dulu bentaran ya, lokasinya ketempat waktu kamu anter aku."^^^


"Iya Bee, hati-hati dijalan. Maaf aku gak bisa anter, masih ada kelas 1 makul lagi. Love U. Jangan macem-macem ya Bee."


^^^"Iya Abang sayang ku yang possesif, Love U too."^^^


Jessi menaruh ponselnya didalam tas dan segera naik kemotor Ari, Jessi sudah jarang membawa motor karna Tristan sering menjemputnya bersama Stevi. Jessi pun tak lupa mengirim pesan pada Stevi untuk pulang ke apartemen duluan dan tak menununggunya.


"Lampu itu kurang ketengah deh Raf." Ucap Jessi pada Raffi.


Rafi turun dan memperhatikannya. "Iya kurang ketengah ya, copot lagi dong?"


Saat Rafi hendak menaiki tangga untuk membenarkan lampu yang tengah ia pasang, Ponsel nya berbunyi sehingga Rafi lebih dulu menerima panggilannya.


"Udah sini gue yang terusin." Ucap Jessica.


"Hati-hati Jess." Sahut Dimas.


"Santai, bukan pertama kalinya juga gue naik-naik begini." Jawab Jessi santai.


Selesai membenarkan posisi lampu, Jessi hendak turun namun naas baginya, tubuhnya mendadak hilang keseimbangan sehingga membuat Jessi terjatuh.


"Jessi.." Seru Rafi dan Dimas.


Ari yang berjarak dekat dengan Jessi segera menghampiri Jessi.


"Sakitt.. Perut gue sakit." Lirih Jessi yang kini wajahnya memucat sambil memegang perutnya.


"Darah!!" Seru Dimas saat melihat celana blue jeans Jessi berubah warna.


"Angkat." Seru Ari.


Teman-teman Jessi mengangkat Jessi kemobil dan segera membawanya kerumah sakit terdekat.


"Raff lo tau Ghea anak bisnis gak? bisa tolong telponin dari hp gue?"


Rafi segera menelpon dan memberitahu kondisi Jessi.


Ghea dan Stevi segera menyusul kerumah sakit dengan menaiki taxi online.


Saat tiba dirumah sakit, Jessi sudah ada didalam IGD.


"Ya Allah selamatkan Jessi dan bayinya." Batin Ghea.


Ghea menyuruh ketiga teman Jessi pulang agar mereka tidak mengetahui kondisi kehamilan Jessi.


Tidak lama Tristan dan Fariz pun datang menyusul Ghea dan Stevi.


"Ghe gimana Jessi." Tanya Tristan panik.


"Masih ditanganin dokter Tan."


Ghea menceritakan kronologi tentang jatuh nya Jessi ditempat projectnya itu berdasarkan cerita teman-teman Jessi.


Suster keluar dan menghampiri Ghea.

__ADS_1


"Suaminya Ibu Jessica yang mana ya Mba? dokter mau bicara."


Deg..


perasaan Ghea menjadi tak enak.


"Tan, lo masuk ya kedalam. Gue temenin." Bujuk Ghea.


Tanpa pikir panjang Tristan masuk kedalam ruangan dokter ditemani oleh Ghea.


"Dengan suami Ibu Jessica?" Tanya dokter.


Tristan merasa bingung kemudian menatap Ghea dan Ghea mengangguk memberi kode iya.


"Iya dok, saya suaminya." Ucap Tristan.


Tristan dan Ghea duduk bersama menghadap dokter.


"Begini Pak, kondisi ibu Jessi cukup baik, pendarahannya sudah bisa kami atasi, namun janin yang dikandung Ibu Jessi tidak bisa kami selamatkan."


Deg..


"Janin?" Tanya Tristan bingung.


"Iya Pak.. Janin.. Istri Bapak sedang mengandung tujuh minggu. Apa bapak tidak tau?"


Tristan menggelengkan kepalanya.


"Maaf pak." Ucap dokter itu menyesal.


"Lakukan yang terbaik untuk istri saya dok." Lirih Tristan.


"Jadi Jessi hamil Ghe?" Tanya Tristan lemah.


"Maaf Tan, gue gak punya hak buat bilang sama lo, Jessi bilang mau bilang sendiri ke lo, dan gue menghargai keputusan Jessi."


"Kenapa Jessi rahasiain ini sama gue Ghe? dan sejak kapan lo tau ini?"


"Gue tau pas kita liburan bareng dipantai Tan."


"Lo tau Ghe? waktu kita liburan, gue udah punya feeling kalo Jessi hamil, tapi feeling gue sirna gitu aja pas Jessi bilang ke Stevi dia gak mau main air karna sedang datang bulan."


"Tan.. Maafin gue."


"Gapapa Ghe, ini bukan salah lo, ini salah gue yang emang gak peka."


"Lo jangan marah sama Jessi ya Tan." Pinta Ghea.


"Gue marah Ghe, gue marah sama diri gue sendiri. Gue marah karna gue seperti orang bego yang gak tau apa-apa dan gue marah karna gue gak bisa jaga anak gue sendiri." Tristan menunduk dan tubuhnya bergetar, menandakan dia sedang menangis.


Selesai tindakan, Jessi dipindahkan kekamar perawatan. Meski Tristan sangat kecewa dan marah, namun rasa tanggung jawabnya membuat ia tetap setia menunggu Jessi tersadar.


Ghea sudah pulang dijemput oleh Fadhil, sementara Stevi pulang keapartemen untuk membawakan baju ganti Jessi bersama Fariz.


"Bang.." Lirih Jessi yang mulai tersadar dari obat biusnya.


"Iya Bee.." Tristan mendekat kebrankar Jessi.


Jessi diam melihat wajah Tristan yang tidak biasa.


"Maaf.." Ucap Jessi pelan.

__ADS_1


"Sudahlah Bee.. Istirahatlah."


Jessi merasakan sesuatu mengalir dari bagian intinya, dia mengingat akan kehamilannya.


"Ada apa dengan kandungan gue? kenapa gue seperti memakai pembalut? dan kenapa Tristan bersikap dingin?" Batin Jessi.


Jessi meraih ponselnya dan mengirim chat pada Ghea.


^^^"Ghe, ada apa sama gue? kandungan gue baik-baik aja kan? Koq gue ngerasa aneh sama diri gue."^^^


"Jess, lo keguguran karna insiden jatuh dari tangga. Janin lo gak bisa dipertahanin. Maaf Jess.."


Jessi menangis, kemudian dia mengirim chat kembali pada Ghea.


^^^"Apa Tristan tau semuanya?"^^^


"Tristan tau semua karna dokter menganggap Tristan suami lo dan membutuhkan tanda tangan Tristan untuk tindakan lo Jess, Tristan sangat terpukul dan shock mengetahui lo hamil dan kini keguguran."


^^^"Ya Tuhan.. pantas aja Tristan bersikap dingin sama gue Ghe."^^^


"Jess, lo yang sabar ya, gue yakin Tristan sangat mencintai lo."


Jessi menaruh kembali ponselnya diatas nakas. dia melihat kearah Tristan yang sedang duduk bersandar pada sofa dan memejamkan matanya.


Jessi mencoba duduk dan turun dari ranjang, namun perutnya masih terasa sakit.


"Awssshhh.."


Sontak hal itu membuat Tristan langsung melihat kearah Jessi. Tristan berdiri dan mengampiri Jessi.


"Kamu mau kemana?" Tanya Tristan.


"Bang maafin aku." Lirih Jessi.


"Sudahlah Bee, jangan bahas ini sekarang." Tristan memposisikan Jessi untuk duduk bersandar diatas brankar dan Tristan duduk ditepi Brankar.


"Kamu marah?" Tanya Jessi.


"Marah buat apa? apa dengan marah bisa mengembalikan anak kita? apa dengan marah bisa membuatmu sadar jika aku benar-benar mencintaimu dan ingin bertanggung jawab kepadamu?"


"Bang..."


"Kenapa kamu sembunyikan ini dariku Bee? apa aku tidak pantas untuk menjadi seorang Papa bagi dia? atau kamu memang tidak mencintai aku karna kesalahanku yang sudah merenggut kesucianmu?"


Jessi menggelengkan kepalanya. "Aku ingin bilang padamu besok saat selesai ibadah Bang, tapi semua ini sudah terjadi duluan." Jessi menutup wajahnya dengan kedua tangannya lalu menangis.


Tristan memeluk Jessi tanpa sanggup berkata lagi. Tristan sudah terlanjur kecewa akan sikap Jessi yang menyembunyikan hal ini darinya.


.


.


Ada yang bisa nebak sikap Tristan selanjutnya ke Jessi seperti apa?


*D**an kira-kira hubungan Tristan dan Jessi kedepannya akan seperti apa*?


.


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....

__ADS_1


__ADS_2