
Ghea dan Jessi mengetuk pintu kamar kost Stevi.
Stevi membukakan pintunya dan terlihat mata sembab Stevi.
"Hai.. Kalian koq gak bilang-bilang mau kesini." Wajah sedih Stevi berubah jadi ceria seperti Stevi yang mereka kenal.
Kini Ghea dan Jessi tau, Stevi yang ceria adalah sikapnya untuk menyembunyikan kesedihannya.
"Kan kejutan. Bumil lagi mau ngelayap nih." Jawab Jessi.
"Haisshh Bumill,, kemarin udah liburan apa belum cukup?" Tanya Stevi.
"Ngumpul sama kalian itu gak ada cukupnya." Jawab Ghea santai.
Stevi terdiam, Ghea dan Jessi saling melirik dan Jessi mengangguk menandakan untuk segera menanyakan masalah Stevi.
"Stev.. lo ada masalah ya?" Tanya Ghea hati-hati.
"Engga Ghe, gue cuma kangen sama Ibu aja."
Jessi mengenggam tangan Stevi.
"Stev, sory banget ya.. Bukannya gue sama Ghea mau ikut campur sama urusan lo, tapi kita sebagai sahabat lo merasa perduli dan mau nyelamatin lo."
Stevi menatap mata Jessi.
Ghea pun ikut menggenggam tangan Stevi bersama Jessi.
"Siapa pria tadi Stev? apa dia sering melecehkan lo seperti tadi yang gue dan Jessi dengar?"
Stevi menarik tangannya kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangannya itu lalu menangis histeris.
Ghea dan Jessi segera merangkul Stevi. "Lo bisa percaya sama Kita Stev, kita bukan mau bully lo, kita mau selamatin lo. Apa yang terjadi Stev?" Tanya Jessi.
"Gue udah putus asa Jess, Ghe.."
Ghea mengusap punggung Stevi, mencoba menenangkan Stevi.
Setelah Stevi agak tenang, Stevi mulai bercerita.
*Cerita Stevi On*
Stevi kecil hanya tinggal bersama sang Ibu, Ayahnya sudah lama meninggal karna sakit.
Karna penampilannya yang masih menarik, Ibu Stevi yang bernama Shinta bekerja sebagai seorang sekertaris disebuah perusahaan kecil. Saat itu pemilik perusahaan yang sudah lama menduda tertarik pada Shinta, lalu menikahi Shinta saat Stevi kelas lima SD.
Awalnya tidak ada yang aneh dengan Danu, Daddy tiri Stevi. Danu yang tak kunjung memiliki anak sangat menyayangi Stevi layaknya anak sendiri.
Namun saat Stevi beranjak SMP tingkah laku Danu diluar batas, dia sering mendatangi kamar Stevi dan menciuminya, menggesek-gesekan pusakannya pada bagian inti Stevi, serta meraba bagian inti Stevi.
Sikapnya semakin tidak wajar saat Stevi beranjak SMA, dia sering meminta Stevi memainkan pusakanya dengan tangan dan mulutnya Stevi.
Stevi sudah mengadukan hal ini pada sang ibu, namun sang ibu tidak mempercayainya. Hingga suatu saat Shinta memergoki Danu yang tengah menggerayangi tubuh Stevi saat Stevi sedang tidur, hal itu membuat Darah tinggi Shinta naik dan akhirnya mengalami stroke.
Sikap Danu semakin menjadi karna Shinta tidak bisa lagi memuaskan hasratnya, hampir setiap malam Danu mendatangi Stevi, Stevi ingin kabur namun Danu mengancam akan membunuh ibunya. Sehingga mau tidak mau Stevi mengikuti kemauan bejat Daddy tirinya itu.
Hingga Danu ingin menikahi Stevi dan menceraikan Shinta. Danu akan melakuan hal itu saat Stevi sudah lulus kuliah.
Danu slalu melecehkan Stevi, meski ia tidak sampai menyetubuhi Stevi, tapi ia slalu memeriksa kesucian Stevi dengan jarinya. Memastikan bahwa kesucian Stevi akan hanya jadi miliknya. Danu juga slalu meminta pelepasan lewat tangan dan Mulut Stevi.
__ADS_1
*Cerita Stevi Off."
Ghea dan Jessi begitu sedih mendengar cerita Stevi, seberat itukah beban Stevi.
"Gue akan minta bantuan Bang Freddy. Dia kakak gue dan seorang pengacara yang tidak pernah kalah." Ucap Jessi.
"Jangan Jess, gue malu."
"Lo tenang aja Stev, rahasia lo aman bersama gue dan Ghea."
Ghea mengangguk memastikan semua akan tersimpan rapih.
"Tapi bagaimana dengan nyokap gue?" Tanya Stevi.
"Kita selidiki dulu dimana nyokap lo berada, baru setelah itu kita bertindak. Kita butuh bantuan Bang Freddy, Bang Freddy punya banyak teman-teman juga dikepolisian."
"Setuju." sahut Ghea.
"Lo jangan khawatir Stev, soal kuliah lo, gue bisa minta bokap gue buat bantu lo, dan lo bisa bisa tinggal diappartemen bareng gue."
"Gue juga Stev, bisa bantu lo buat ngajuin bea siswa kekampus, nanti gue bilang sama Mas Fadhil."
Stevi tidak bisa menahan air matanya, ia sangat lega sekali akan mendapat pertolongan dari Jessi dan juga Ghea.
"Stev, bukannya lo punya kakak yang suka lo bilang datang kesini?" Tanya Ghea.
Stevi menggelengkan kepalanya, "Bukan Kakak Ghe, tapi Daddy yang slalu kesini."
"Lain kali jangan umpetin apapun dari kita ya Stev."
Stevi mengangguk.
Ghea pulang dijemput oleh Fadhil, sementara Jessi pulang sendiri dengan mengendarai motornya ke Appartemen.
di Appartemen, Tristan sudah menunggunya.
"Lho koq kamu bisa masuk Bang?" Tanya Jessi heran.
"Iya, pernah ngintip kamu masukin Passcode. Kamu dari mana Bee?" Tanya Tristan.
"Aku pergi sama Ghea ke kost nya Stevi, gak kemana-mana koq Bang. Kamu udah lama disini Bang?" Jessi mendaratkan dirinya duduk disebelah Tristan.
"Ada satu jam. Aku telpon gak diangkat."
"Maaf Bang, mungkin tadi lagi dimotor."
Tristan yang melihat bibir Jessi tidak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya, Tristan medekatkan wajahnya kewajah Stevi lalu menciumnya, "Balas aku Bee." Lirih Tristan.
Jessi menerima kemudian membalas setiap ciuman dari Tristan, lama mereka berpagutan hingga akhirnya Jessi melepaskannya.
"Aku kehabisan nafas Bang."
Tristan tertawa, ia mengusap bibir Jessi yang basah akibat ulahnya. "Aku suka bibir kamu, manis Bee."
Jessi mengecup sekilas pipi Tristan membuat Tristan menyipitkan matanya tanda menanyakan sesuatu padanya.
"Jangan nakal Bang." Ucap Jessi sambil berdiri dari duduknya menuju dapur.
Jessi membuka lemari es dan mengambil dua minuman cola. Tristan menyusulnya dan memeluk Jessi dari belakang.
__ADS_1
"Aku nakal cuma sama kamu aja Bee, kita nikah yuk Bee, biar nakalnya gak aku tahan-tahan." Bisik Tristan.
"Iya Bang, tapi nanti gak sekarang, sekarang kuliah dulu yang bener."
"Tapi masih lama Bee, aku gak janji bisa nahan sampai kapan."
"Ya makanya jangan main kesini Bang. kalo kesini kamu mesum terus." Kesal Jessi.
"Tapi rindu Bee.." Tangan Tristan sudah mulai menjalar, masuk kedalam pakaian Jessi.
"Bang lepas, atau aku marah nih."
Tristan melepaskan pelukannya, dan Jessi menghadap Tristan, menaruh dua kaleng cola yang tadi ia ambil lalu menagkup wajah Tristan dengan kedua tangannya.
"Jodoh gak akan kemana Bang, aku juga sepertinya mulai mencintaimu, kita jalani dulu ini ya Bang, setidaknya sampai pernikahan Bang Krisna selesai." Jessi mengecup sekilas bibir Tristan.
"Benarkan kau mulai mencintaiku Bee?"
Jessi mengangguk. "Iya Bang."
Tristan memeluk Jessi dan Jessi membalas pelukan itu.
"Aku janji Bee, akan setia kepadamu, tidak akan menyakitimu. Terimakasih untuk kesempatan yang udah kamu kasih ke aku."
Sementara dirumah Fariz.
Pria itu sedang melamun memikirkan Gadis yang kini tengah dia cintai.
"Stev.. apa kurangnya aku?" Gumamnya sambil menatap langit-langit kamarnya.
Ceklekk..
Seorang pria berambut putih masuk kedalam kamar Fariz.
"Son, ada apa denganmu? apa liburanmu tidak menyenangkan?"
Fariz bangun dan duduk ditepi tempat tidur. "Kakek, kenapa sesulit ini menepiskan perasaan."
"Jatuh cinta rupanya ya?" Goda Kakek Tara.
"Fariz jatuh cinta Kek, tapi dia seolah menghindar, padahal Fariz tau kalo dia juga mencintai Fariz tapi seperti ada sesuatu yang menahannya Kek."
"Atau dia sudah mempunya kekasih?"
Fariz menggelengkan kepalanya. "Tidak ada pria lain yang dekat dengannya Kek."
Fariz tinggal bersama sang Kakek, Fariz mempunyai Ibu yang mengalami gangguan jiwa, Sementara Ayahnya, Fariz terlahir tanpa Ayah, dulu Ibunya adalah korban pemerkosaan oleh teman kuliahnya sndiri, namun saat mereka akan dinikahkan, Ayahnya Fariz melarikan diri dan mengalami kecelakaan lalu meninggal ditempat sebelum mereka melangsungkan pernikahan. Hal itu membuat Ibunya Fariz terguncang jiwanya hingga saat ini mengalami gangguan jiwa.
Hal itu membuat identitas Fariz menjadi tidak jelas, Fariz sering di Bully saat SMP karna statusnya dan juga memiliki ibu yang mengalami gangguan jiwa.
Saat SMA, Fariz menyembunyikan identitasnya, ia tidak ingin lagi mendapat bully an dari teman-temannya lagi. Tristan dan Ghea pun sama sekali tidak tau soal latar belakang Fariz.
.
.
.
.
__ADS_1
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....