
Fadhil mengusap wajah Zayn yang tertidur lelap, sementara Ghea baru saja menyelesaikan tugas kuliahnya.
Fadhil tau betul Ghea sanggup mengejar ketinggalannya, terlihat dari beberapa nilai yang Ghea raih, tidak pernah ada nilai yang mengecewakannya.
"Sayang, sepertinya kamu akan bisa wisuda bareng teman-teman kamu nanti." Ucap Fadhil.
"Iya By, smoga aja.. Aku juga berharap ingin segera lulus, biar bisa nemenin Zayn dan gak ninggalin Zayn terus."
"Selesai kuliah kamu gak mau coba kerja?"
Ghea nampak berfikir, "Ayah minta aku bantuin Kak Bry mengelola perusahaan, tapi sepertinya aku gak tega kalau harus ninggalin Zayn. Menurut kamu gimana By?"
Fadhil tersenyum, sungguh ia pun hanya ingin Ghea hanya menjadi ibu rumah tangga yang bergantung pada dirinya, mungkin Fadhil juga menginginkan adik untuk Zayn, mengingat usianya yang terus bertambah matang.
"Papa dan Mas Fathan juga meminta kamu untuk bantu diperusahaan Papa, Papa ingin kamu mengambil alih jabatanku." Ucap Fadhil memberitahu istrinya itu.
"Oh ya? koq kamu gak bilang?" Tanya Ghea.
"Karna berat, aku ingin kamu terus sama Zayn."
Ghea mengangguk, "Iya By, sehabis lulus juga aku mau kasih adik buat Zayn, aku hanya ingin dirumah mengurus anak-anak dan kamu."
Fadhil tak menyangka, Ghea juga mempunyai pikiran yang sama dengannya. "Adik untuk Zayn?"
Aku ingin banyak anak By, seperti mba Alya, rame sekali." Ghea membayangkan sewaktu hari harinya masih tinggal dirumah Mertuanya itu.
"Tiga anak?" Tanya Fadhil.
"Empat By, biar pasangan." Jawab Ghea dengan bercanda.
"Yang dua kembar seperti Alisha dan Anisha?"
"Iya By, bisa gak ya By aku punya anak kembar?"
"InsyaAllah." Jawab Fadhil yang kemudian mulai memeluk Ghea lalu mulai mengendus leher jenjang Ghea.
"Aku lagi datang bulan By, baru aja sore tadi." Ucap Ghea memberitahu Fadhil yang hasratnya mulai naik.
"Puasa dong satu minggu?" Tanya Fadhil tak bersemangat.
"Maaf ya By.." Ghea mencium sekilas bibir suaminya itu.
***
Saat dikampus, Ghea menceritakan soal Fariz kepada Stevi.
Stevi merasa tak menyangka bahwa reaksi Mama Diana seperti itu. Ingin rasanya ia segera menemui Fariz, namun Fariz hari ini tidak masuk kuliah karna tidak membawa buku dan perlengkapan kuliahnya. Bahkan Fariz memakai pakaian milik Tristan.
"Ghe, lo sama Stevi naik Taxi online aja langsung kerumah gue ya. Gue sama Jessi kerumah Fariz untuk ambil baju ganti dan keperluan Fariz kuliah." Ucap Tristan.
__ADS_1
"Sekalian cari tau Tan, tanya sama Kakek Tara bagaimana cerita yang sebenarnya."
"Pasti Ghe.. Yaudah lo pesen dulu Taxi nya, kalo udah baru gue sama Jessi jalan."
Setelah Ghea dan Stevi berlalu menaiki Taxi yang sudah membawanya, kini Tristan dan Jessi menuju kerumah kakek Tara.
"Kasian Fariz ya Bang." Ucap Jessi.
"Iya Bee, semalaman Fariz gak tidur, dia terus memikirkan ibunya yang menolaknya."
Jessi mengangguk. "Padahal Fariz menunggu ibunya sadar untuk menikah sama Stevi, sekarang gimana ya Bang?"
"Fariz bilang, Fariz dan Stevi sepakat nunda pernikahan sampai lulus kuliah, katanya naggung sebentar lagi lulus kuliah."
"Benarkah?" Tanya Jessi.
"Iya Bee.. Mungkin nanti jarak pernikahannya dekat dengan pernikahan kita."
"Kita jadi menikah Bang?" Tanya Jessi iseng, pasalnya satu tahun ini Tristan tidak pernah lagi membahas pernikahan. Bahkan Tristan sudah tidak pernah lagi melakukan hal yang diluar kendali saat berdua bersama Jessi, walaupun terkadang mencuri-curi ciuman dari Jessi.
"Ya jadi lah Bee.. Aku mau kita menikah di Gereja tempat kita biasa ibadah Bee."
Jessi mengangguk, ia tersenyum mendengar penuturan dari Tristan.
"Setelah menikah kita tinggal dimana Bang?" Tanya Jessi.
"Aku gapapa koq Bang kalo kita tinggal dirumah Mama, sesekali kita bisa tinggal diapartemenku juga kan?"
"Iya, habis Stevi menikah sama Fariz."
Jessi mengangguk tanda mengerti.
"Hmm apa boleh aku tetap bekerja Bang?" Tanya Jessi ragu-ragu.
"Boleh, tapi klo kamu hamil, aku harap kamu resign dulu untuk sementara, aku gak mau hal dulu terulang lagi."
"Iya Bang, aku ngerti."
Tristan tersenyum, satu tangannya terulur untuk mengusap rambut Jessi, sementara tangan satunya tetap memegang kemudi. Kini Tristan berubah menjadi pria yang lebih dewasa, dia menyikapi sesuatu dengan logika, banyak belajar dari Fadhil bagaimana sikapnya terhadap Ghea, Tristanpun belajar untuk mencoba belajat memahami dan mengerti Jessi.
Tristan dan Jessi tiba dirumah Kakek Tara, kakek Tara membiarkan Tristan untuk mengambil keperluan kuliah Fariz dan baju-baju untuk gantinya. Diam-diam Diana memperhatikan Tristan dan Jessi.
"Tristan, Kakek titip Fariz dulu ya. Maaf merepotkan Tristan dan keluarga" Ucap Kakek Tara dengan nada sedih.
"Kakek tidak perlu khawatir, Fariz akan baik-baik aja dirumah Tristan, Mama juga senang ada Fariz dirumah, rumah jadi lebih ramai Kek."
"Tolong kuatkan Fariz." Lirih Kakek sambil memegang pundak kiri Tristan.
"Iya Kek, Kakek juga harus jaga kesehatan."
__ADS_1
Kakek Tara mengangguk, selintas Tristan melihat Diana yang diam-diam memperhatikan obrolan Tristan dengan Kakek Tara.
Setelah Tristan dan Jessi meninggalkan rumah Kakek Tara, Kakek Tara kembali masuk kedalam rumah.
"Apa mereka teman anak itu Dadd?" Tanya Diana yang melihat sang Ayah berjalan melewatinya.
"Anak itu punya nama Di, Daddy memberinya nama Alfarizi Dewantara yang berarti ksatria dari keluarga Dewantara, Daddy berharap Fariz menjadi seorang ksatria yang penuh tanggung jawab dan menjaga mu dimasa tuamu saat Daddy tidak berdaya nanti."
"Dadd.."
"Sudahlah Di, kau tidak menginginkan anak itu, jangan bicara yang menyakitkan lagi soal Fariz, dia tidak bersalah, dia sudah banyak menerima penderitaan, jika kau memang tidak menginginkannya tak mengapa, tapi Daddy akan terus memperhatikannya meski kini ia tidak bersama Daddy."
Diana terdiam, dia mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Kakek Tara.
"Daddy mau kemana?" Tanya Diana yang melihat Kakek Tara akan kembali keluar.
"Daddy harus keperusahaan, ada beberapa kerjaan yang tidak bisa diwakilkan. Kau istirahatlah dulu." Kakek Tara meninggalkan Diana yang masih mematung.
Kakek Tara pergi meninggalkan rumahnya, hatinya merasa bersalah terhadap Fariz, kakek Tara berada diposisi serbasalah, ia tak menyangka Diana menolak kehadiran Fariz membuat luka yang tidak berdarah dihati anak yang tidak berdosa.
Didalam hati Diana merasa bingung, haruskan ia meneria kehadiran anak yang tidak pernah ia harapkan, anak dari benih pria brengs*k yang tlah merenggut kehormatan sekaligus masa depannya.
Suara deru mobil memasuki pekarangan rumah Kakek Tara. Diana berfikir sang Ayah kembali pulang karna ada sesuatu yang tertinggal.
"Biar saya aja yang buka pintu Bi, mungkin ada yang tertinggal oleh Daddy." Ucap Diana saat melihat asisten rumah tangganya yang sedang berjalan hendak membukakan pintu rumah.
Diana berjalan kearah pintu dan membukanya.
"Apa ada yang ketinggalan Dad.." Ucap Diana saat pintu terbuka sempurna.
"Diana..."
Diana menatap seorang pria yang berada didepannya, kini pria itu tampak terlihat lebih matang dari terakhir saat ia melihatnya dulu bahkan sempat menyatakan pernyataannya. Barisan uban tlah berada disekitar rambut hitamnya, namun tidak membuat kharismatik seorang Erick berkurang, Erick tetap terlihat mempesona dimata Diana.
"Mas.. Erick?" Diana seperti bingung.
Erick tersenyum saat Diana masih mengingatnya bahkan menyebut namanya.
"Apa kabar Di? senang melihatmu kembali."
.
.
.
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....
__ADS_1