TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
MODUS AYAH ERICK


__ADS_3

Fariz semakin sering membawa Stevi kerumahnya, semenjak Diana dibawa pulang kerumah, Fariz dan Stevi setia mengurus dan menemani Diana dirumah. Tak jarang Tristan dan Jessi pun menghabiskan waktu dirumah Fariz, sesekali merekapun datang kerumah Ghea dan menemani Ghea agar tidak jenuh berada dirumah saat sedang cuti kuliah, mereka membuat jadwal untuk main bergilir agar keakraban mereka tetap terjaga.


"Nyokap gimana Riz?" Tanya Tristan saat melihat Stevi menyuapi Diana makan siangnya.


"Ya.. masih begitu." Jawab Fariz.


"Untungnya Stevi baik Riz."


Fariz tersenyum, matanya menatap Stevi yang sedang bersama Jessi menemani Diana dihalaman belakang. "Iya, gue kira gak akan ada cewek yang mau sama cowok gak jelas kayak gue."


"Semoga nyokap cepet sehat Riz, dia bisa inget lo sebelum pernikahan lo."


"Aamiin.. gue juga berharap begitu Tan."


"Lo tau Tan, nyokap gue pernah suka sama bokapnya Ghea, cuma saat itu bokapnya Ghea udah nikah dan juga lagi selingkuh sama selingkuhannya itu."


Tristan terkesiap. "Hah? yang bener Riz?"


Fariz mengangguk, "Waktu acara tunangan gue kemarin, gue lihat Bokapnya Ghea nyamperin nyokap gue, terus kakek cerita sama gue. Malah katanya nyokap gue dulu pernah dilabrak sama selingkuhan bokapnya Ghea."


"Tunggu-tunggu, selingkuhan bokapnya Ghea maksud lo Bunda Vika?"


Fariz mengangguk, "Saat itu mereka sudah menikah siri. Kakek nasehatin nyokap buat mundur, dan akhirnya nyokap mundur perlahan."


"Gilak ini sih, dunia sempit banget." Ucap Tristan.


"Gue kemarin sempat berharap, bokapnya Ghea mau bantu nyokap gue buat sembuh, setidaknya, mungkin jika bokapnya Ghea mau ngajak ngobrol nyokap gue, nyokap bisa sedikit ada reaksi gitu."


"Bisa jadi sih Riz, secara bokapnya Ghea dulu pernah ada dihati nyokap lo. Mungkin bisa ngaruh ya Riz."


Fariz menghela nafas, "Tapi gue gak enak sama Ghea."


"Ghea tau ini Riz?"


Fariz mengerdikan bahunya, "Gue gak tau pasti Tan."


***


"Permisi Pak, ini laporan tentang Ibu Diana Dewantara."


"Jadi namanya Diana itu Diana Dewantara?" Tanya Erick sambil membuka map coklatnya.


"Iya Pak, beliau anak satu-satunya Bapak Yoga Dewantara."


Erick membaca hasil laporan yang diberikan oleh asisten pribadinya. Dia terkejut saat mengetahui Diana korban pemerkosaan dan menjadi seperti saat ini, Erick juga baru mengetahui bahwa Diana anak pebisnis sukses Dewantara.


Sementara sang asisten tlah meninggalkan ruangan kerja Erick.


"Gadis itu polos sekali, Kasian." Gumam Erick.


Entah mengapa hati Erick menghangat, bahkan perasaan nya dulu terhadap Vika tidak seperti ini, perasaan ini hampir sama saat Erick jatuh hati pada Sofia Almarhum istrinya itu. Ingin rasanya Erick menemui Diana, namun ia tidak punya alasan untuk menemuinya. Terlebih Dewantara adalah orang yang tegas yang disegani oleh mitra maupun lawan bisnisnya.


***


"Ghe.. Apa teman-temanmu tidak main kesini?" Tanya Erick pada Ghea yang sedang menimang Zayn.


"Engga Yah, kemarin udah pada main disini, sekarang jadwalnya main dirumah Fariz, besok ngumpul dirumah Tristan, bergilir seterusnya kecuali sabtu minggu. Memang kenapa Yah?"


"Gapapa, terus kamu gak kerumah Fariz ikut kumpul?" Tanya Erick mendalam.

__ADS_1


"Gak tau nih Yah, jam segini mereka masih kuliah Yah, lihat nanti deh kalo Zayn gak rewel aku mau bawa kerumah Fariz."


"Ya udah nanti Ayah antar ya Ghe." Erick merasakan ada peluang untuk kembali kerumah Fariz.


"Lho Ayah gak kekantor?"


"Gak ada kerjaan penting, biar Bryan yang handel semua, biar anak itu ada kesibukan gak ngurusin urusan Ayah mulu."


"Ayah lagi kesal sama Kak Bry?"


Akhir-akhir ini Bryan semakin sering menggoda Ayahnya soal Diana, membuat Erick menjadi sedikit kesal walaupun tuduhan Bryan benar adanya jika Erick sedang memikirkan Diana. Erick bagaikan pencuri yang tertangkap basah saat sedang melamun dan Bryan memergokinya lalu meledeknya dengan sebutan puber kedua.


"Ya Bryan memang slalu bikin kesal Ayah, jam berapa kamu kerumah Fariz?" Tanya Erick.


"Paling jam satu siang Yah."


"Ya udah Ayah keruang kerja dulu, nanti kamu siap-siap aja, Ayah yang antar."


Ghea hanya mengangguk tanpa rasa curiga yang berlebihan, meski Ghea tau soal cerita tentang Diana, dia tidak ambil pusing selama Ayahnya itu masih bersikap normal, terlebih Diana adalah ibu dari sahabatnya.


***


Siang hari Ghea mendapatkan chat dari Stevi yang bilang akan menjemputnya kerumah, namun Ghea menolaknya dengan alasan bahwa Erick akan mengantarnya.


Fariz merasa sedikit senang begitu mendengar dari Stevi bahwa Ghea akan diantar Erick.


Setelah mendapatkan ijin dari Fadhil, Ghea bersiap untuk pergi kerumah Fariz, tentunya diantar oleh Erick. Setelah perjalanan sekitar dua puluh menit, akhirnya mereka tiba dirumah Fariz.


"Ayah ikut turun? nanti aku dijemput Mas Fadhil." Tanya Ghea polos saat melihat sang Ayah juga membuka seatbelt nya.


"Emm.. Ayah sedikit mengantuk Ghe, seengganya Ayah minum kopi dulu dirumah Fariz boleh ya." Erick mencoba modus memberikan alasan.


Erick tersenyum kikuk, "Iya Ghe."


Fariz yang melihat Ghea datang bersama Erick segera membawa Diana kehalaman belakang untuk ikut berkumpul bersama.


"Siang Om." sapa Fariz dan Tristan.


"Siang." Jawab erick tetapi matanya seperti mencari sesuatu.


"Riz, Ayah tadi mau langsung pulang, tapi katanya ngantuk, boleh gak gue minta kopi buat Ayah." Ucap Ghea.


"Boleh dong Ghe. Biar gue minta bibi untuk buatin kopi."


"Enaknya ngopi dihalaman belakang Om, kebetulan saya sama Tristan lagi main catur."


"Boleh." Jawab Erick.


(Ayah Erick benar-benar puber kedua, nongki sama anak muda dan penuh modus) 🤭


Tristan dan Fariz kembali bermain catur dan diikuti oleh Erick. Sementara Stevi sudah meraih Zayn dan kini bermain dengan Baby Zayn. Ghea asik mengobrol bersama Jessi diruang televisi.


"Kopinya Om diminum." Ucap Fariz dengan santun.


"Eh iya Riz, terimakasih." Jawabnya dengan mata yang melihat kearah sisi kolam renang, Diana sedang duduk dikursi roda dengan ditemani oleh suster.


"Riz, boleh Om bertanya?"


Fariz menghentikan permainannya sejenak, "Iya Om, ada apa?"

__ADS_1


"Apa Diana itu Ibu mu?"


Fariz mengangguk. "Iya Om, apa Om mengenal Mama?"


Erick pun mengangguk, "Om sempat mengenalnya dulu." Erick terdiam, kemudian berbicara lagi. "Bolehkah Om mendekati Ibumu? hmm maksud Om, Om ingin berbicara dengan Ibumu." Erick sedikit mengkoreksi ucapannya.


"Silahkan Om." Fariz mengantar Erick kedekat Diana.


"Sus, tinggalkan dulu Mama sebentar." Ucap Fariz pada suster Linda.


"Tapi tuan muda, Ibu Diana sedang saya suapi buah."


"Biar saya saja Sus." sahut Erick.


Suster Linda memberikan piring berisikan potongan buah kepada Erick.


"Om saya tinggal dulu ya, nanggung caturnya belum selesai." Ucap Fariz cengengesan.


"Iya Riz silahkan."


Fariz meninggalkan Erick yang kini hanya berdua dengan Diana.


"Di.. Apa kabarmu? masih ingatkah kau dengan ku?" Erick mencoba menggenggam tangan Diana namun tidak ada respon.


"Di.. Aku sudah tau apa yang terjadi padamu, aku ikut prihatin Di.. tapi aku berharap masih bisa melihat Diana yang periang kembali, Diana yang penuh rasa percaya diri namun malu-malu."


"Di.. ayolah, kau harus sembuh Di.. Aku tidak bisa melihatmu seperti ini. Aku ingin mendengar pernyataanmu kembali bahwa kau mengagumiku lagi Di..."


"Kau masih ingat? saat kau kuliah dan kau slalu ada setiap aku mengisi acara seminar diberbagai kampus, kau paling mencolok Di, senyum kepolosan mu itu, hanya saja aku tidak bisa memilihmu karna aku bukan orang yang baik untukmu."


"Aku merasa tidak pantas, gadis polos berusia sembilan belas tahun, menyukai seorang pria berusia tiga puluh lima tahun dan sudah memiliki istri bahkan dua istri. Bahkan aku tidak bisa berbuat apa-apa saat istri siriku melabrakmu. Maafkan aku Di.. Maaf."


Diana meremas tangan Erick, matanyapun mengeluarkan air mata.


"Di, kau mendengarku kan?" Tanya Erick antusias.


Erick menaruh piring berisikan buah diatas meja dan tangannya segera terulur untuk menghapus buliran air mata yang keluar dari sisi mata Diana.


"Om.." Fariz memanggil Erick pelan.


Erick menoleh kesumber suara, "Maaf Riz.."


"Om, Mama merespon apa kata Om, bisakah Om berteman dengan Mama dan sering mengajaknya berbicara?" Tanya Fariz.


"Apa boleh Riz? bagaimana dengan Kakekmu?"


"Boleh Om, soal Kakek nanti Fariz yang atur."


Erick mengangguk. "Ibumu pasti sembuh."


.


.


.


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....

__ADS_1


__ADS_2