TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
S2-TAKDIR CINTA (Chelsea&Zayn) 03


__ADS_3

Tring...


Ponsel Ghea berbunyi notifikasi pesan masuk, Ghea menyambar ponselnya dan mengernyitkan dahinya ketika seseorang yang sudah lama tidak mengiriminya pesan tetiba mengiriminya sebuah pesan.


Tristan,


"Ghe, bisa kita bertemu dan berbicara berdua?"


Ghea.


"Soal?"


Tristan,


"Anak-anak kita."


Ghea,


"Apa Davan membuat masalah dengan Checi?"


Tristan,


"Bukan, aku tunggu jam dua siang di cafe XX. Lebih baik kita bicara langsung."


Ghea menghela nafas, tangannya masih menggenggam ponselnya.


"Ada apa ini? Tidak biasanya Titan menghubungiku langsung." Batin Ghea.


Ghea menghubungi Fadhil dan meminta ijin padanya.


"Iya Sayang?" ~Fadhil~


"By, aku ijin mau keluar jam dua siang nanti." -Ghea-


"Pergi sama Stevi dan Jessi?" Tebak Fadhil.


Ghea ingin berbicara jujur namun ragu, "Tristan ngajak aku ketemu, katanya mau ada yang dibicarin soal anak-anak. Boleh By?" Akhirnya Ghea berkata jujur.


Fadhil slalu senang dengan kejujuran Ghea ia slalu mempercayai Ghea karna kejujurannya.


"Boleh, Pergilah, aku juga penasaran apa yang mau Tristan bicarakan ke kamu. Mau aku jemput sekalian?"


"Boleh By, nanti aku kabari jika sudah selesai."


Ghea menutup panggilannya setelah mengucapkan salam pada Fadhil.


***


Dan disinilah Ghea sekarang, duduk berhadapan dengan Tristan disebuah cafe XX. Setelah mereka memesan minumannya masing-masing, Ghea memulai percakapannya.


"Ada apa, Tan?" Tanya Ghea penasaran.


Tristan menghena nafas, "Aku dengar Zayn akan meneruskan kuliah di Harvard?"


Ghea menyipitkan matanya kemudian mengangguk, "Apa Zayn membuat masalah denganmu atau Checi?"


Tristan menatap mata Ghea, mata yang dulu membuat Tristan jatuh cinta.


"Tan..." Panggil Ghea dan membuyarkan lamunan Tristan.


Tristan menggeleng-gelengkan kepalanya lalu mengusap pangkal hidungnya.


"Ada apa, Tan?" Tanya Ghea serius.


"Anakku, Ghe.. Checi anakku menyukai Zayn anakmu." Ucap Tristan akhirnya.


Ghea membulatkan matanya, "Apa Tan? Checi menyukai Zayn?" Tanya Ghea memastikan.


Tristan mengangguk.


"Itu tidak mungkin Tan, Checi masih SMP." Jawab ghea.

__ADS_1


"Bahkan dulu aku menyukaimu sejak disekolah dasar, Ghe." Lirih Tristan. "Dan mungkin hingga kini." Sambungnya lagi.


"Tristan!!" Pekik Ghea mengingatkan.


"Iya Ghe, iya.. Kita fokus bahas Zayn dan Checi." Ucap Tristan mengalah.


"Kumohon jangan seperti ini Tan." Pinta Ghea.


Tristan mengangguk, "Maaf."


Lama mereka terdiam, hingga Ghea mulai membuka percakapan kembali.


"Dari mana kamu tau soal Checi? Apa Checi langsung bercerita padamu?"


Tristan menggelengkan kepalanya, "Aku mendengar curhatan Checi dengan Davan dan Aldrich."


Ghea menghela nafas. "Kenapa bisa?" Lirih Ghea.


Tristan mengangguk, "Ya, kenapa bisa terulang lagi, Ghe? Dan kenapa harus anakku yang merasakan cinta bertepuk sebelah tangan sama seperti aku, Papinya."


"Chelsea perempuan, Tan. Aku yakin suatu saat dia akan melupakannya." Ucap Ghea pada akhirnya.


Tristan tersenyum sinis, "Aku tidak yakin, Ghe. Checi adalah anakku, dan aku yakin Checi akan bertahan dengan hatinya."


"Lalu, kamu mau aku gimana?" Tanya Ghea frustasi.


"Bawa Zayn pergi jauh, kuliahkan Zayn di Harvard, jangan kembali selama pendidikannya belum selesai, atau bila perlu Zayn langsung melanjutkan S2 nya disana."


"Kamu tidak mendukung Checi?" Tanya Ghea mendalam.


"Apa yang harus didukung Ghe, jika keyakinan mereka berbeda. Tidak mungkin Zayn menyukai Checi yang tidak seiman dengannya."


Ucap Tristan berapi-api.


"Sama sepertimu, Zayn sama sepertimu." Lirih Tristan.


***


"Wajahmu terlihat lelah." Ucap Fadhil saat menaruh cangkir diatas meja, lalu menarik tangan Ghea agar Ghea mau duduk dipangkuannya.


Tangan Ghea melingkar dileher Fadhil. "Pikiranku sedang tidak baik-baik saja By." Jawab ghea.


"Ada apa?" Tanya Fadhil lembut sambil merapihkan anak rambut kebelakang telinga Ghea.


"Zayn, By."


Fadhil mengernyitkan dahinya. "Ada apa dengan putra kita?"


Ghea menatap sendu wajah Fadhil. "Zayn disukai oleh Chelsea anaknya Tristan."


Fadhil sedikit terkejut.


"Bagaimana ini By?" Tanya Ghea bingung.


"Sudah ditanyakan pada Zayn?" Tanya Fadhil balik.


Ghea menggelengkan kepalanya, "Aku baru bicara padamu."


"Apa ini yang Tristan bicarakan padamu?"


Ghea mengangguk.


"Lalu seperti apa tanggapan Tristan?" Tanya Fadhil mendalam.


"Tristan, dia ingin Zayn menjauh, kuliah diluar negri dan jangan kembali hingga pendidikannya selesai, atau jika perlu langsung melanjutkan S2 disana juga." Jawab Ghea yang sama seperti ucapan Tristan.


"Apa itu bisa menjamin? Bagaimana jika Zayn kembali dan Celsea masih menyukai Zayn?" Fadhil menghela nafas sejenak. "Jodoh itu misteri, aku sendiri mengalaminya, berpacaran sepuluh tahun dengan wanita lain dan kandas disaat hari pernikahan, justru aku menikah dengan wanita yang jauh umurnya dibawah aku tanpa hubungan sebelumnya."


"Jadi harus bagaimana?" Tanya Ghea.


"Kembalikan masalah kita pada Allah, Ghe. Hanya Allah yang maha membolak balikan hati manusia. Kita hanya butuh berserah karna memaksakan sesuatu itu tidak akan mungkin." Jawab Fadhil bijak.

__ADS_1


"Sebenarnya aku menyukai Chelsea, By. Aku sudah menganggapnya putriku sendiri."


Fadhil masih membelai rambut Ghea yang duduk dipangkuannya. "Perasaanmu sama seperti perasaan Mama Monica, begitu menyayangimu dan menginginkanmu sebagai menantunya. Namun Mama Monica berbesar hati karna kamu tidak bisa menjadi menantunya dan mengangkatmu sebagai anak."


Ghea mengangguk.


"Kita berserah diri saja, Ghe. Aku yakin pada ketentuan yang sudah Allah tetapkan."


***


Davan tengah membersihkan kamarnya, meski Fadhil dan Ghea menyediakan pembantu dirumahnya, namun Fadhil dan Ghea juga mengajari anaknya untuk mandiri dan lebih menjaga privasi dengan membersihkan kamarnya sendiri.


Ghea membuka pintu kamar Davan dan membukanya sedikit, sehingga hanya kepalanya saja yang terlihat. "Boleh Mama masuk?"


Davan menoleh, "Masuk aja Ma.."


Ghea masuk dan duduk di kursi meja belajar Davan. "Ada yang mau Mama bicarakan." Ucap Ghea.


Davan yang baru saja selesai melipat selimutnya langsung duduk menghadap Ghea. "Ada apa Ma?"


Ghea menghela nafas sesaat. "Boleh Mama bertanya? Dan Mama harap Davan jujur sama Mama."


Davan mengangguk. "Apa Ma?"


Ghea menatap mata Davan dengan serius, "Apa benah Chelsea menyukai Kak Zayn?"


Davan membulatkan kedua matanya, "Mama tau?" Tanyanya.


Ghea mengangguk.


Davan menelan salivanya,


"Mama ingin Davan bilang ke Mama, Apa saja yang Davan tau." Tatapan Ghea melembut seperti biasanya.


"Davan akan berdosa jika Davan memberitahu Mama."


"Kenapa?" Tanya Ghea.


"Karna Davan sudah berjanji pada Checi tidak akan memberitahu siapa-siapa." Jawabnya.


"Dan Davan akan ikut berdosa juga jika membiarkan Chelsea menyukai Kak Zayn lebih dalam." Ucap Ghea.


"Dimana letak dosanya, Ma?" Tanya Davan.


"Dengan Davan memberitahu Mama, Mama bisa berusaha membuat perasaan Checi berubah. Mereka tidak sama, keyakinan mereka berbeda, akan ada yang tersakiti jika mereka tidak bersama." Ghea memberi pengertian pada Davan.


Davan diam sejenak, Ghea masih menunggunya untuk berkata jujur.


"Davan dan Aldrich sudah berusaha membuat Checi melupakan Kak Zayn. Tapi Checi slalu mencari perhatian Kak Zayn, Checi bilang mereka bisa bersama karna diluar negri, pernikahan beda agama itu boleh."


Ghea terkejut dengan perkataan Davan. "Checi bilang seperti itu?"


Davan mengangguk. "Setiap Kak Zayn bersama Kak Nadira, Checi slalu bersedih Ma.."


Ghea menghela nafas dan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, satu tangannya mengusap pelipisnya.


.


.


.


Hai-Hai Readers setiaku TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan) Ketemu lagi sama Othor..


ExtraPart Bertahap ya Reader..


Setiap hari jam 12 siang.


Makasih yg masih setia nungguin..


Sengaja Othor tampilin dihari senin, barangkali ada Readers setia yang mau berbaik hati kasih Votenya, dikasih hadiah juga othor udah bahagia koq 😁

__ADS_1


Absen dikoment yuk siapa aja yg msh setia baca Novel ini, Kalo masih banyak yg nunggu Up nya besok Othor Up lagi.⬇️


__ADS_2