TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
MY HERO


__ADS_3

Pulang kuliah hari ini, Ghea langsung mendatangi ruangan Fadhil untuk pulang bersama, karna hari ini adalah jadwal cek kandungan Ghea.


Sementara Tristan dan Fariz, mereka akan pergi kesebuah mall untuk mencari cincin yang dicari Tristan untuk Jessi.


Jessi pergi bersama teman sekomunitasnya untuk memulai project baru mereka, make over rumah minimalis di perumahan dekat kampusnya.


Dan Stevi sendiri memutuskan untuk mencari pekerjaan paruh waktu, karna ia tidak mau terus bergantung pada teman-temannya. Tabungannya pun mulai menipis. Tentunya hal ini tidak ia katakan pada siapapun, ia tidak ingin teman-temannya mencemaskannya lagi.


***


"Wah jenis kelaminnya laki-laki." Ucap Dokter Melisa, dokter kandungan yang memeriksa kandungan Ghea.


"Alhamdulillah, bagaimana dengan bayinya dok?" Tanya Fadhil antusias sambil menatap layar monitor.


"Bagus, plasentanya juga bagus, bayinya aktif."


Dokter kembali ke kursi kebesarannya lalu Fadhil dan Ghea pun duduk berhadapan demgan dokter Melisa.


"Lanjutkan Vitaminnya, jangan terlalu lelah, dan tetap banyak minum air putih juga makan makanan bergizi ya." Nasihat dari dokter Melisa.


"Laki-laki By.." Ucap Ghea sambil mengusap perutnya saat mereka masuk kedalam mobil.


"Iya sayang, laki-laki atau perempuan sama aja, yang penting dia dan kamu sehat." Fadhil pun ikut mengusap perut Ghea sebelum akhirnya memasangkan seat belt pada istri kecilnya itu.


"Siapkan nama By.." Ghea sangat antusias dengan mata berbinar.


"Iya pelan-pelan nanti kita siapkan nama untuk calon anak kita ya Sayang." Fadhil mengecup kening Ghea kemudian mulai melajukan mobilnya.


Sementara di Mall, Tristan dan Fariz masuk kesebuah toko perhiasan. Tristan dengan teliti memilih cincin untuk Jessi.


"Cincin yang kayak gimana Tan?" Tanya Fariz.


"Simple tapi bermakna Riz, Jessi kan tomboy, gue rasa dia gak suka cincin yang ribet atau bermata, mungkin dia suka cincin yang polos. Menurut lo gimana?"


"Setuju, Jessi pasti suka sesuatu hal yang tidak mencolok." Jawab Fariz menyetujui.


Sementara Tristan memilih cincin untuk Jessi, mata Fariz pun tertuju pada sebuah cincin yang sederhana.


"Mba saya boleh lihat itu." Pinta Fariz pada SPG counternya.


"Buat Stevi?" Tanya Tristan.


Fariz menoleh kearah Tristan kemudian memandang cincin sederhana itu. "Iya, stelah lo lamar Jessi, gue juga mau lamar Stevi. Kakek udah nyuruh gue ajak Stevi tinggal dirumah."


"Bagus dong Riz, lampu hijau."


"Doain gue ya Tan. Gue yakin sama Stevi."


Mereka membayar sendiri-sendiri cincin untuk kekasihnya masing-masing kemudian keluar untuk berjalan-berjalan sebentar didalam Mall.


"Mau mampir apartemen Jessi Tan?" Tanya Fariz.

__ADS_1


"Engga Riz, Jessi lagi ada project baru, lokasinya dekat kampus sih. Lo mau ke apartemen nyamperin Stevi?"


"Enggalah, mana berani gue berdua-duaan di satu ruangan sama Stevi, bisa khilaf nanti, lebih baik menghindar." Faris tertawa.


"Nyindir gue lo?" Ledek Tristan lalu mereka tertawa bersama.


***


Stevi mendapatkan pekerjaan paruh waktu disebuah Cafe, berkat bantuan temannya yang sesama mahasiswa, dia bisa diterima dengan mudah.


"Jam kerja gue jam lima sore sampai jam sepuluh malam, lokasi juga dekat dengan apartemen Jessi, bisa gampang nih ngatur waktunya." Stevi tersenyum.


Malam hari Fariz mengirimkan sebuah pesan, dia berniat mengajak Stevi untuk pergi keacara pernikahan salah satu karyawan diperusahaan Kakek Tara untuk mewakili Kakek Tara yang berhalangan hadir.


"Stev, besok bisa nemenin aku ke acara pernikahan karyawan Kakek, Acaranya Malam."


Stevi tampak ragu membahas soal pekerjaannya pada Fariz, tapi ia belajar dari pengalaman Jessi bersama Tristan yang tidak terbuka satu sama lain, membuat hubungannya sempat berada diujung tanduk. Akhirnya Stevi memutuskan untuk menceritakannya pada Fariz.


^^^"Maaf Riz, besok gak bisa.. Mulai besok aku udah kerja paruh waktu dicafe. Maaf ya gak bilang dulu sama kamu sebelumnya."^^^


Fariz hanya membaca balasan pesan dari Stevi, dirinya mengehela nafas kasarnya, tanpa pikir panjang, Fariz mengambil motornya digarasi dan segera melajukannya menuju apartemen Jessi.


Stevi memandangi ponselnya, Fariz jelas sudah membaca pesannya namun ia tidak membalasnya, "Apa Fariz marah?" Tanya Stevi dalam hatinya.


Stevi mencoba mengerjakan tugas kuliah kembali, sementara Jessi sudah terlelap, ini hari pertama Jessi mendapatkan periodenya, membuat hari ini begitu lemas sehingga ia sudah tidur setelah makan malam. Bahkan dering ponsel dari Tristan tak ia hiraukan, membuat Tristan menghubungi Stevi dan akhirnya tau kondisi sang kekasihnya.


Drtt.. drttt..


Ponsel Stevi bergetar kembali, membuat Stevi segera melihatnya, tampak sebuah pesan masuk bertuliskan "My Hero❤" ya, itu sebuah pesan dari Fariz.


Stevi tersenyum, ia segera menyambar jacketnya dan bergegas turun ketaman untuk mengampiri Fariz.


"Riz.." Panggil Stevi.


Fariz menoleh kemudian tersenyum sekilas. Stevi duduk bersama Fariz dibangku taman.


"Malam-malam keluyuran Riz, cari apa?." Stevi mencoba berbasa basi.


"Cari hati aku." Jawabnya cengengesan.


"Koq gak bilang sama aku?" Tanya Fariz kemudian.


Stevi tau kemana arah pembicaraan Fariz, "Ini sekarang bilang."


"Kerja sampai jam berapa?" Tanya Fariz masih dengan nada lembut.


"Jam sepuluh malam Riz, jaraknya dekat dari sini, jadi bisa sekalian lewat."


Fariz mengangguk, "Kalo aku gak ijinin kamu kerja gimana?"


"Riz, aku gak bisa bergantung terus sama orang lain, aku malu setiap makan dibayarin Jessi ataupun Ghea, aku udah numpang gratis diapartemen Jessi tanpa ikut membayar tagihan listrik ataupun kebutuhan dapur, aku masih muda Riz, masih bisa bekerja Riz."

__ADS_1


Fariz mengusap puncak kepala Stevi, "Pacar Fariz memang hebat, bikin Fariz bangga."


"Jadi boleh kan aku kerja?" Tanya Stevi.


"Engga." Jawab Fariz.


"Mulai detik ini, segala kebutuhan kamu aku yang penuhi ya."


"Jangan Riz, apa tanggapan orang? aku gak mau disebut wanita matrealistis."


"Aku gak perduli apa tanggapan orang, yang aku perduliin kamu wanita yang harus aku jaga setelah Mama, jangan nolak ya Stev, kamu hanya harus fokus kuliah aja. Selesaikan kuliah tepat waktu."


"Riz..." Lirih Stevi.


"Stev, kamu sama Mama adalah prioritasku. Kalian dua wanita yang harus aku jaga."


Stevi tertunduk, Fariz meraih tangan Stevi dan menggenggamnya. "Sebisa mungkin aku menjaga kamu Stev, kamu pulang malam jam sepuluh apa tidak membuat aku khawatir? Selama belum menikah, aku tidak bisa menjagamu dua puluh empat jam, karna itu aku lebih memilih untuk menghindari dari hal-hal yang tidak diinginkan."


"Riz... aku.." Belum selesai Stevi meneruskan ucapannya, Fariz memotongnya.


"Ssstt.. Udah ya, nurut sama aku. Aku ingin yang terbaik untuk kamu. Bahkan Kakek ingin segera aku menikahimu." Fariz tertawa.


Stevi tersenyum, entah betul atau tidaknya ucapan Fariz yang jelas tlah membuat Stevi merasa senang.


***


"Jadi cafe ini Tan?" Tanya Fariz dan Ghea bersamaan.


Saat ini Tristan bersama Fariz dan Ghea sedang berada disebuah cafe yang rencananya akan Tristan booking untuk acara ulang tahun Jessi.


Sementara Stevi, ditugaskan untuk menemani Jessi diapartemennya agar tidak terlalu curiga.


"Menurut kalian gimana?" Tanya Tristan.


"Not bad." Ucap Fariz.


"Tapi menurut gue kenapa gak cari cafe yang out door aja Tan?" Sahut Ghea.


"Nah iya tuh, Jessi kan gak suka yang terlalu romantis Tan, entar dia malah merasa malu dan risih, lo juga yang kecewa." Ucap Fariz.


Tristan mengangguk, "Lo bener juga Ghe, Riz, apa cafe X aja ya, dia nyewain rooftop untuk acara juga."


"Nah itu baru keren." Jawab Ghea dan Fariz bersamaan.


Tristan tersenyum, dia membayangkan beberapa hari lagi melamar Jessi tepat dihari ulang tahunnya.


.


.


.

__ADS_1


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2