TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
SELESAIKAN DULU PERASAANMU!!


__ADS_3

Jessi tiba diapartemennya diantar oleh Freedy hingga lobby apartemennya.


Dengan menggaret kopernya, Jessi naik ke flatnya menggunakan lift.


Betapa terkejutnya Jessi saat melihat sosok pria yang slama ini ada dalam pikirannya sedang berdiri didepan pintu flatnya sambil menekan bel pintu.


"Tristan.. Mau ngapain dia? apa dia setiap hari kesini? apa dia gak tau kalo gue pulang kampung?" Gumam Jessi.


Hampir setiap hari Tristan mendatangi flatnya Jessi, setelah nomer ponselnya diblokir oleh Jessi, jalan satu-satunya menemui Jessi hanya dengan mendatangi flatnya.


Tristan hampir putus asa, setelah tiga puluh menit tidak kunjung ada yang membukakan pintu, akhirnya Tristan memutuskan untuk pulang kembali, namun Tristan juga terkejut saat melihat Jessi berjarak tiga meter berada dihadapannya dengan menggaret koper ditangannya.


"Jes..." Lirih Tristan.


Lama mereka saling bertatapan, akhirnya Jessi melangkah menuju pintu apartemennya dan memasukan kode aksesnya, diam-diam Tristan memperhatikan kode akses masuknya dan menghapalkannya diluar kepala.


"Jess, gue butuh bicara." Ucap Tristan saat pintu apartemen itu terbuka.


"Masuk." Jawab Jessi dengan datar.


Jessi menaruh kopernya didekat pintu masuk dan segera menuju dapur untuk mengambil minuman ringan.


Ia mengambil dua buah kaleng minuman soda, yang satunya ia berikan pada Tristan dan satunya ia buka lalu menyesapnya.


"Sejak kapan lo diluar?" Tanya Jessi.


"Dari minggu lalu gue kesini terus buat cari lo."


Jessi membulatkan matanya, "Whatt? dari minggu lalu dia bilang?"


"Lo dari mana?" Tanya Tristan.


"Bukan urusan lo."


Tristan menghela nafas, "Jess.. Jangan hindari gue lagi."


Deg..


Jantung Jessi berdegup lebih kencang.


"Apa dia bilang?? jangan hindari dia lagi?? apa maksudnya coba??" Batin Jessi.


"Gue kacau Jess setelah kejadian malam itu. Gue gak bermaksud ngerusak lo. Maafin gue Jess, gue bener-bener minta maaf." Ucapan Tristan Terdengar sangat tulus.


"Gue maafin lo, udah selesai kan? sekarang lo boleh pergi." Jawab Jessica masih dengan datar.


"Jess, kita cari solusinya, lo mau gue gimana pasti akan gue turutin, lo mau gue nikahin lo? ayo kita menikah, gue akan tanggung jawab, gue udah ngerusak masa depan lo."


Jessi yang tadinya enggan menatap mata Tristan, kini menatap tajam mata Tristan.


"Nikah? lo pikir gampang nikah? lo pikir tanpa cinta bisa ada pernikahan? lo gak lagi mabuk kan Tan?"

__ADS_1


"Jess, terus terang gue terus dihantui rasa bersalah, gue merenggut sesuatu hal yang berharga buat lo yang bukan hak gue."


"Tan lo mending balik aja deh, gue gak mau bahas kejadian malam itu."


"Jess, kalo lo hamil gimana? itu anak gue, malam itu gue tau gue gak pake pengaman."


Jessica hanya diam, dirinya pun merasa takut jika sampai hamil.


"Jess, menikah tanpa cinta juga dialami sama Ghea dan Pak Fadhil, tapi lihat pada akhirnya mereka saling mencintai kan Jess, kita bisa coba juga Jess." Bujuk Tristan.


"Tristan lo jangan ngomongin soal cinta kalo lo sendiri belum move on, lebih baik lo selesaikan dulu perasaan lo ke Ghea, setelah lo yakin, baru lo ngomong soal nikah sama gue."


Tristan hanya diam, dia juga tidak yakin masih ada perasaan atau tidak terhadap Ghea, tapi setelah kejadian malam itu, hanya Jessica yang ada dalam pikirannya, entah karna perasaan bersalah atau perasaan hatinya yang sudah berubah arah.


"Jess.. gue..."


"Stop Tan, lebih baik lo balik aja. Lagi pula gue udah dijodohin sama keluarga gue, selesai ujian semester ini gue akan dijodohin."


"Jess, apa lo yakin? lo gak mikirin kalo lo hamil bagaimana, dan lagi bagaimana kalo suami lo entar tau kondisi lo dimalam pertama?"


"Gue belum mikir sampai kesitu Tan, smoga aja gue gak hamil biar lo ga terbebani untuk tanggung jawab."


"Walaupun lo gak hamil, gue akan tetap tanggung jawab Jess, gue yang pertama sentuh lo, gue udah hancurin masa depan lo. Gue gak mau jadi pengecut."


"Tapi gue gak mau kalo semua gak didasari cinta Tan."


"Bahkan lo terima rayuan gue di malam itu, apa malam itu lo kasih gue smua karna cinta Jess? atau terpaksa?"


"Anggap aja itu kebodohan gue Tan." Lirih Jessica.


"Gue gak akan lepasin Lo Jess, gue pasti akan nikahin lo. Sekarang gue balik dulu, gue akan pikirin gimana caranya buat nikahin lo, lo coba pikirin tawaran gue Jess, gue gak akan ganggu lo selama ujian semester ini, smoga lo bisa kasih jawaban yang tepat buat gue."


"Jessica mengangguk, "Dan lo juga Tan, gue harap lo bisa meyelesaikan hati dan perasaan lo dimasa lalu, Meski nanti pernikahan kita tidak ada cinta, setidaknya tidak ada masa lalu diantara kita."


Tristan berdiri dari duduknya, ia mendekat pada Jessica, meraih kepala Jessica dan mencium kening Jessica. "Maafin gue, gue ingin kasih tanggung jawab dan kasih yang terbaik buat lo. Gue balik dulu, dan gue harap setelah ini lo buka blokiran ponsel lo ke gue, Jangan hindari gue, bersikaplah biasanya."


Tristan meninggalkan Jessica sendiri di apartemennya, sepulang Tristan Jessica masih diam mematung ditempat semula.


"Gue gak nyangka lo bisa segentle itu Bang." Gumam Jessi yang tanpa ia sadar memegang kening yang tadi dicium oleh Tristan.


***


Hari ini hari pertama ujian, selesai ujian, Fariz mengajak Tristan, Ghea, Stevi dan juga Jessi untuk berkumpul di cafe dekat kampus.


"Yang pinter sih kliaatan ya abis ujian mukanya tanpa beban banget." cibir Fariz kepada Ghea.


"Ishh apa sih Riz, makanya belajar, jangan main game mulu.


"Maklum jomblo Ghe, gak ada yang ngingetin belajar." Sahut Tristan.


"Sama dong kayak lo Tan?" celetuk Stevi.

__ADS_1


"Gue mah bentar lagi udah gak jomblo." Ucap Tristan dengan pedenya.


Seketika membuat yang lainnya terkejut, "Serius lo?" Tanya Fariz.


Ghea tersenyum, "Iya gue denger dari Mama Monica katanya abis ujian semester ini lo mau dijodohin."


Jessi terkesiap, dia menatap sinis Tristan. Baru kemarin Tristan secara gentle bilang mau tanggung jawab akan perbuatannya, tapi ia malah mendengar bahwa Tristan akan dijodohkan oleh keluarganya.


"Ishh apa sih Ghe, jangan gosipin gue deh." Tristan merasa salah tingkah terlebih itu didepan Jessi.


Tristan takut Jessica berfikir macam-macam, padahal maksud Tristan bahwa ia tidak akan jomblo lagi karna akan bersama dengan Jessica. Entah kapan Monica menceritakan soal perjodohan konyol Tristan kepada Ghea, kali ini Tristan benar-benar kecolongan.


"Serius ini hoax atau bener sih?" Tanya Stevi penasaran.


"Hoax stevv.." Jawab Tristan.


"Ngaku aja sih Tan, Ghea juga gak akan cemburu, ya kan Ghe?" Sahut Fariz.


"Siapa juga yang takut Ghea cemburu, Tunggu aja kejutan dari gue."


"Asal jangan pelarian aja Tan, kan gak lucu menjalin hubungan baru tapi karna pelarian." Kali ini Jessica yang berbicara seolah menyindir Tristan.


"Setuju.. sebelum lo menjalin hubungan sama cewek lain, hati lo harus udah bersih dulu Tan." Ucap Fariz.


"Iya nanti gue kasih detergent dulu deh hati gue, gue rendem dulu pake detergent biar bersih sebersih bersihnya." Jawab Tristan enteng.


"Ahh akhirnya gue bisa bebas dari hatinya Titan sayang." Ledek Ghea kepada Tristan.


Tristan berdecak, "Ck, gue yang mau pacaran sama orang lain, tapi kayaknya lo yang seneng Ghe."


"Eitss jangan salah, bukan cuma Ghea yang seneng, gue juga seneng Tan akhirnya lo move on juga. Selesai juga gue jagain lo buat gak jadi pebinor."


"Apa Riz? pebinor? maksud lo?" Tanya Stevi.


"Iya, slama ini gue jagain Tristan buat gak terlalu deket sama Ghea, ya kalaupun deket ya deket sewajarnya lah, takut aja Tristan nekat jadi pebinor, ahahaha."


Tristan mentoyor kepala Fariz, "Enak aja lo, gue tau batasan kali, Ghea udah bahagia sama lakinya masa iya gue rebut."


"Cakepp,, ini baru Titannya Ghea." Sahut Ghea sambil mengacungkan kedua jari jempolnya pada Tristan.


"Kan kita sekarang sodaraan ya Ghe."


Ghea mengangguk, "Iya." Jawabnya dengan senyum mengembangnya.


.


.


.


.

__ADS_1


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2