
Erick membawa Diana menuju rumah sakit, ini pertama kali ia pergi keluar setelah kesadarannya pulih kembali, terlebih ia keluar dengan orang lain.
Didalam mobil Diana dan Erick sama-sama terdiam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
Sedari dulu Erick dimata Diana adalah sosok pria yang penuh dengan kehangatan, ia mengingat jelas, jatuh cinta pertama kali pada sosok Erick yang berusia matang, saat itu Diana mencoba menepis perasaanya saat tau bahwa Erick sudah memiliki keluarga dan satu anak, namun layaknya orang jatuh cinta membuat Diana seakan tidak perduli, baginya dekat saja dengan Erick sudah lebih dari cukup, padahal Erick tidak pernah menanggapi Diana hingga saat itu Diana mengungkapkan perasaan kagumnya terhadap Erick, dan tidak lama setelah itu ada seorang wanita yang melabrak Diana dan mempermalukan Diana dilingkungan kampusnya, hal itu terdengar oleh Kakek Tara sehingga membuat Kakek Tara mencari tau soal Erick yang ternyata memilik satu anak dan satu istri simpanan. Kakek Tara langsung bertindak tegas kepada Diana untuk mundur secara perlahan dengan memberikan bukti pada Diana soal Erick. Sejak saat itu Diana tidak pernah lagi menunjukan dirinya lagi didepan Erick, mencoba fokus untuk kuliah, namun sayang, hal buruk menimpanya hingga membuatnya terpuruk dan gangguan pada jiwanya.
Sementara Erick, dia kini bingung, alasan apa yang akan ia berikan pada Ghea jika Ghea melihatnya membawa Diana, entah mengapa Erick merasakan Ghea akan menolaknya, padahal Ghea juga sering menyuruhnya untuk kembali mencari pendamping hidup.
"Di.. apa kau sudah yakin?" Tanya Erick saat selesai memarkirkan mobilnya diparkiran rumah sakit.
Diana mengangguk, "Iya Mas, aku ingin membawa anakku pulang." Lirih Diana.
Erick tersenyum lalu mereka turun dari dalam mobil untuk masuk kedalam rumah sakit.
"Ayah.." Panggil Ghea sesaat sebelum Erick dan Diana memasuki lift.
Erick menoleh kesumber suara.
"Ghea.." Sapa Ayah kikuk.
Dirinya merasa seperti tertangkap basah sedang berselingkuh.
"Kirain Ghea Ayah pulang." Ucap Ghea yang sedang bersama Fadhil.
"Ah iya Ghe." Erick masih terlihat kikuk, "Lho Zayn mana?" Tanya Erick mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Oh Zayn tadi mau Ghea bawa, tapi dilarang sama Mama Monica, katanya dirumah sakit banyak virus, ga cocok bawa Zayn, jadi Zayn Ghea tinggal dirumah Mama Monica." Jawab ghea menjelaskan.
Erick mengangguk, sementara Diana tengah berfikir, siapa itu Mama Monica? apa wanita yang tengah dekat dengan Erick dan anaknya sehingga anaknya pun memanggil dengan sebutan Mama.
Mereka memasuki lift sesaat setelah lift terbuka.
"Ayah koq bisa bareng sama tante Diana?" Tanya Ghea.
"Hmm itu..." Erick benar-benar bingung harus menjawab bagaimana.
Fadhil yang melihat kebingungan Erick langsung peka. "Tante Diana kan mau nengok Fariz Yank."
Ghea yang mendengar ucapan Fadhil seketika mengingat penolakan Diana terhadap Fariz. "Tante, apa tante kesini untuk melihat Fariz? apa tante sudah bisa menerima Fariz?" Tanya Ghea.
Ting...
Suara pintu lift terbuka.
mereka berempat keluar dari lift.
"Di.. ini Ghea putri bungsuku, dia juga sahabat Fariz sedari SMA hingga kini, dan ini suaminya Ghea."
Diana mengangguk lalu mengulurkan tangan pada Ghea dan Fadhil seraya mengajaknya untuk berjabat tangan.
"Tante kesini untuk menemui anak tante." Jawab Diana.
"Tante, Ghea harap tante bisa menerima Fariz."
Diana hanya menjawab dengan tersenyum.
Mereka menelusuri lorong rumah sakit, terlihat Kakek Tara sedang duduk bersama Tristan dan Jessi didepan kamar perawatan Fariz.
Kakek tara sedikit terkejut saat melihat kehadiran Diana yang sedang berjalan bersama Erick kearahnya.
"Diana.." Lirih Kakek Tara.
"Dadd.." Sapa Diana.
"Kamu mau apa kesini?" Tanya Kakek Tara, pasalnya kakek Tara takut Diana menyakiti Fariz kembali namun ia juga takut menyinggung akan Diana.
__ADS_1
"Diana ingin melihat anak Diana Dadd." Lirih Diana.
Kakek Tara memejamkan mata. "Alhamdulillah ya Allah, akhirnya kau membukakan hati Diana untuk Fariz." Gumam Kakek Tara didalam hati.
"Masuklah Di.." Ucap Kakek Tara.
Kemudian Kakek Tara menatap Erick. "Pak Erick, tolong temani Diana kedalam."
Erick mengangguk, sementara didalam kamar perawatan, Fariz tengah ditemani oleh Stevi.
Ceklekk..
pintu kamar perawatan terbuka, Fariz melihat dua orang melangkah kearahnya.
"Om Erick.." Kemudian Fariz terdiam saat matanya beradu pandang dengan sosok yang ia cintai, sosok yang begitu ia dambakan kehangatan akan kasih sayangnya. "Ma.. ma.." Lirih Fariz.
Diana langsung berhambur dan memeluk Fariz, "Maafkan Mama Nak, maafkan Mama.. Maafkan Mama.."
Fariz membalas pelukan sang ibu. "Mama.."
Stevi dan Erick yang melihat kejadian mengharukan itu pun ikut menitikan air mata.
Diana mengendurkan pelukannya, menatap lekat-lekat wajah Fariz, kemudian ia tersenyum, "Kamu anak Mama." Ucapnya sambil mengusap kepala Fariz.
"Iya Ma.. Fariz anak Mama, Fariz janji akan menjaga dan melindungi Mama, Fariz janji akan membahagiakan Mama."
"Iya Nak.." Diana mencium kening Fariz.
Erick hendak meninggalkan ruang perawatan Fariz,
"Om.." Panggil Fariz.
"Iya.." Jawab Erick sambil menatapa Fariz.
"Terimakasih.." Ucapnya tulus.
Sementara didalam kamar perawatan,
"Ma.. ini Stevi, tunangan Fariz." Fariz mencoba memperkenalkan Stevi dengan sang Ibu.
Stevi mencium tangan Diana, "Stevi tante.."
Diana tersenyum, "Panggil aku Mama." ucapnya tulus.
Stevi tersenyum.
"Kalian sudah bertunangan?" tanya Diana.
"Sudah Ma.. tahun lalu, tadinya aku akan menikah setelah Mama sembuh, tapi Stevi bilang lebih baik menunggu lulus kuliah."
Diana tersenyum, "Mama sudah sadar, dan Mama ingin kalian segera menikah, bawalah Stevi tinggal bersama kita Riz."
Fariz menatapa Stevi, "Stev, gimana?" Tanya Fariz.
"Hmm.. terserah kamu aja Riz aku ikut aja, lagi pula kuliah kita sudah mau selesai." Jawab Stevi.
"Libur semeseter ini aja ya Ma, biar gak ganggu kuliah." Ucap Fariz.
Diana mengangguk, "Iya Riz, menikahlah dengan Stevi, mama bahagia."
"Apa mama akan menikah juga dengan Om Erick? sepertinya Om Erick mencintai Mama, setahun Om Erick setia menemani Mama."
Pertanyaan Fariz membuat wajah Diana merona. "Tidak mungkin Riz, kami hanya sebatas teman."
Fariz akan membahas hal ini perlahan, ia sangat yakin bahwa Erick mencintai mamanya.
__ADS_1
Ghea dan Fadhil masuk kedalam ruang perawatan Fariz.
"Jagoan sakit." Ledek Ghea.
"Jagoan juga manusia Ghe." Jawab Fariz.
"Lo gak lihat paniknya Titan tadi kayak gimana, soulmate banget sih sama Titan, gue kalo jadi Stevi atau Jessi cemburu deh." Ghea tertawa.
Tristan menyenggol bahu Ghea, "Ishh apa sih lo, gue masih normal."
"Lo bener Ghe, gue juga kadang suka aneh aja kalo lihat Tristan sama Fariz, lengket banget." Sahut Jessi.
"Apa sih Bee, kamu masih ragu sama aku? masih perlu bukti?"
"Issh apa sih Bang,, jangan kemana-mana deh kalo ngomong." Jessi mencubit perut Tristan.
"Sakitt Bee.. tega kamu." Tristan menarik hidung Jessi.
"Kamu gak mikir aku macem-macem kan Stev?" tanya Fariz.
"Aku gak mikir sampai kesana, tapi sekarang jadi mikir." jawab Stevi polos.
Fariz menepuk jidatnya. "Gegara Ghea nih."
Sontak membuat yang berada dalam ruangan itu tertawa.
***
"Stevi pulang aja, biar Mama yang menjaga Fariz disini." Ucap Diana saat ruangan sudah mulai sepi.
"Mama aja yang pulang sama Kakek, Mama juga harus banyak istirahat, biar Stevi disini jaga Fariz."
"Nanti bagaimana jika orangtuamu mencari?" Tanya Diana yang tidak tau soal latar belakang Stevi.
"Hmm.. Begini Ma.. Orang tua Stevi sudah meninggal, dia tinggal bersama Jessi diapartemen milik Jessi, dan Stevi tidak memiliki keluarga." Jawab Fariz menjelaskan.
"Ya ampun sayang.. Maafkan Mama ya Nak.. Mama tidak tau." Ucap Diana tulus pada Stevi.
"Kalau begitu Riz, kamu harus segera menikahi Stevi dan membawanya kerumah."
"Iya Ma.. terimakasih untuk dukungan Mama."
Diana pulang diantar oleh Erick yang sedari tadi setia menemani dan menunggu Diana.
"Maaf ya Stev, karna aku kamu jadi repot." Ucap Fariz sambil menggenggam tangan Stevi.
"Jangan ngomong gitu Riz, slama ini kamu slalu baik sama aku, udah sewajarnya aku begini sama kamu, terlebih karna aku juga mencintaimu Riz."
Fariz melengkungkan senyumnya, "Benarkah Stev?"
Stevi mengangguk, "Aku ingin menjadi teman susah senang kamu Riz, menua bersama kamu."
Fariz tersenyum, ia merasa hari ini sangat menggembirakan hatinya, Mamanya yang kini mau menerima dan mengakuinya, juga ungkapan Stevi yang membuatnya semangat.
"Aku janji Stev, akan menjaga dan membahagiakan mu dan Mama juga Kakek."
"Aku percaya kamu Riz, kamu lelaki yang penuh tanggung jawab."
.
.
.
.
__ADS_1
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....