
Pesawat mendarat dengan sempurna, Zayn turun dari badan pesawat. Mereka sudah disambut oleh Ghea dan Fadhil.
"Mama..." Zayn memeluk Ghea dengan erat, pelukan rindu seorang anak pada ibunya.
"Papa..." Zayn bergantian memeluk Fadhil yang kini semakin menua.
"Kamu sendirian? Damian dan Nadira mana?" Tanya Ghea yang menanyakan keberadaan Nadira yang sering Zayn ceritakan.
"Nadira pulang minggu depan bersama Damian, Ma. Ada beberapa hal yang masih mereka urusi disana." Jawab Zayn.
Ghea hanya mengangguk.
Zayn memang menuruni kepintaran dari Ghea dan Fadhil, hingga Zayn bisa lulus terlebih dahulu.
"Kita langsung pulang, Pa?" Tanya Zayn.
"Iya, Mamamu membuat acara dirumah." Jawab Fadhil.
"Kak Zayn ini kuliah enam tahun sampai S2 tapi gak ingat pulang." Cibir Davan yang ikut menjemputnya juga dan kini mengemudikan mobilnya.
"Ya abisnya disana udah nyaman banget." Jawab Zayn.
"Nyaman karna ada Nadira, ya? Bagaimana hubunganmu dengan Nadira?" Tanya Ghea.
"Kami masih teman, Ma.. Zayn masih mau kejar karir dulu."
"Ck, jangan lama-lama, Zayn. Umur Papa sudah tua, Papa ingin menimang cucu." Sahut Fadhil.
Zayn tertawa, "Salah Papa yang dulu nikahnya ketuaan."
"Ya karna itu kamu jangn tua-tua nikahnya. Kalo sudah yakin dengan Nadira, segera lamar saja."
Zayn hanya tersenyum masam, satu tangannya ia gerakan untuk mengusap pelipisnya.
Mereka tiba dirumah dan disana sudah ramai dengan keluarga Fariz dan Tristan berserta anak istrinya.
Zayn menyalami mereka satu persatu, hingga dirinya merasa ada yang kurang.
"Kemana ABG labil itu, ya?" Gumam Zayn.
Hingga acara selesai pun, Zayn tidak mendapati Chelsea yang datang kerumahnya.
Ingin rasanya Zayn bertanya pada Davan ataupun pada Aldrich, namun dirinya merasa gengsi jika harus bertanya soal ABG labil menurut versinya itu.
Zayn menuruni anak tangga,
"Mau kemana Zayn?" Tanya Ghea.
"Zayn mau ke mini market depan, Ma. Mama mau titip sesuatu?"
"Boleh, titip kapas pembesih wajah, ya. Kebetulan habis dan Mama baru belanja bulanan besok."
Zayn mencium tangan Ghea dan melesat pergi, ia memilih berjalan kaki untuk menikmati angin malam.
"Chelsea?" Gumam Zayn saat melihat seorang gadis yang nemasuki mini market.
"Ah pasti hanya mirip saja, mana mungkin Chelsea berhijab." Gumamnya lagi sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Zayn masuk dan langsung mengambil beberapa cemilan dan pesanan sang Mama lalu segera membayar pesanannya. Mata Zayn masih memperhatikan pergerakan Chelsea, hingga Chelsea keluar dan duduk diteras mini market.
Zayn yang penasaranpun segera mendekati Chelsea.
"Sea.." Panggil Zayn dengan ragu.
Chelsea yang sedang melihat media social sambil menikmati eskrim nya tersebut langsung mendongakan wajahnya.
"Kak Zayn." Ucap Chelsea.
Chelsea memang mengetahui bahwa Zayn akan pulang dan Ghea mengundang untuk berkumpul dirumahnya. Namun Chelsea tidak bisa hadir lantaran disibukan dengan revisian skripsi dan juga bimbingan dengan dosennya.
"Jadi benar kamu Chelsea?" Zayn menarik kursi didepan Chelsea dan mendudukinya.
Chelsea hanya tersenyum kikuk.
"Sea, kamu???" Tanya Zayn ambigu.
"Kak Zayn ngapain disini?" Bukannya menjawab, Chelsea malah balik bertanya.
"Sejak kapan Sea?" Zayn pun balik bertanya.
__ADS_1
"Chelsea dan Zayn tertawa bersama setelah menyadari kekonyolan mereka yang saling melempar pertanyaan.
Setelah lebih dari enam tahun, mereka bertemu kembali ditempat terakhir mereka bertemu. Chelsea tidak menceritakan apapun pada Zayn dan Zayn dapat memahami itu.
"Kita pulang bersama." Ajak Zayn.
"Tidak usah Kak, aku jalan kaki aja."
"Aku juga jalan kaki, Sea. Aku tidak membawa motor." Ucap Zayn.
Mereka jalan beriringan sambil menenteng kantong berisikan belanjaan masing-masing.
Mereka saling diam bingung untuk bicara apa.
"Kamu ambil kuliah di fakultas apa?" Tanya Zayn.
"Fakuktas keguruan dan ilmu pendidikan jurusan pendidikan matematika." Jawab Chelsea.
"Mau jadi guru?"
Chelsea mengangguk.
"Jadi tidak satu fakultas dengan Davan dan Aldrich?"
Chelsea menggelengkan kepalanya, "Ada masanya kami tidak bersama terus, Kak. Tapi kami kadang masih suka ngumpul kok, itu juga kalo Davan dan Aldrich pada gak sibuk pacaran." Jawab Chelsea sambil tertawa.
Zayn tersenyum, "Termasuk kamu juga?"
Chelsea menjawab dengan santainya, "Maybe."
Mereka berpisah saat sudah tiba didepan rumah masing-masing. Chelsea segera masuk kedalam rumah dan segera menuju kamarnya, ia merebahkan dirinya diatas kasur dan menutup wajahnya dengan bantal.
"Aaaaaaa kenapa Kak Zayn semakin tampan."
Sementara Zayn, ia duduk dihalaman belakang, menikmati cemilan yang baru saja ia beli sambil bermain ponsel. Zayn cukup penasaran dengan apa yang terjadi pada Chelsea, ia membuka media social mencoba menjadi stalker nya.
"Zayn.." Panggil Ghea yang kini duduk di kursi sebelahnya.
"Eh Mama.." Zayn mematikan ponselnya.
"Ma.. Boleh Zayn bertanya?" Tanya Zayn yang sudah tidak bisa membendung lagi rasa penasarannya.
"Sea.. Apa yang terjadi dengan Sea?" Tanya Zayn.
"Kamu sudah bertemu dengan Sea?"
Zayn mengangguk, "Sea berhijab, apa yang terjadi dengannya Ma?"
Ghea tersenyum, pandangannya lurus kedepan. "Allah memberikan hidayah pada Chelsea lewat musibah yang ia alami."
"Musibah?" Tanya Zayn penasaran.
Ghea menangguk, perlahan ia mulai menceritakan apa yang terjadi pada Chelsea. "Temannya meminjamkannya sebuah hijab untuk melindungi kepala Chelsea dari gerimis sewaktu mereka hendak mencuci pakaian disungai saat Chelsea sedang KKN di desa. Mereka berdua ingin kembali ke desa karna sungai itu terlihat keruh, sewaktu mereka diatas jembatan, jembatan yang mereka naiki ambruk begitu saja, Chelsea dan temannya terbawa arus sungai, naas temannya tidak bisa diselamatkan dan Chelsea menghilang selama tiga hari dan ternyata diselamatkan oleh beberapa santri pondok didesa lain. Chelsea terselamatkan karna hijab yang ia pakai tersangkut disebuah ranting."
"Masya Allah." Ucap Zayn takjub.
"Apa tidak ada penolakan dari keluarga Papi Titan, Ma?" Tanya Zayn semakin penasaran.
"Awalnya Papi Titan menolak, ia berfikir Chelsea labil, tapi Oma Monica memberi pengertian pada Papi Titan bahwa setiap orang berhak dengan keyakinannya masing-masing karna sebagian keluarga Oma Monica dan Opa Daniel juga berbeda keyakinan, jadi mereka memahami hal seperti itu." Jawab Ghea menjelaskan.
Zayn mengangguk.
"Mulai tertarik dengan Chelsea?" Tanya Ghea menggoda Zayn.
"Ahh apa sih, Ma.. Zayn hanya ingin tau saja apa yang terjadi pada Chelsea."
"Mama kira." Ucap Ghea ambigu.
"Oh ya bagaimana hubunganmu dengan Nadira? Kalian sudah mempunyai komitmen?"
Zayn menggelengkan kepalanya, "Zayn tidak sedekat itu dengan Nadira, Ma. Malah Nadira lebih dekat dengan Damian." Jawab Zayn santai.
"Kamu tidak cemburu?"
Zayn menggelengkan kepanya, "Tidak sama sekali."
***
"Pi...Chelsea berangkat dulu ya." Chelsea mencium pipi Tristan seperti biasa kemudian beralih ke Pipi Jessica.
__ADS_1
"Mau Papi antar?" Tanya Tristan.
"Tidak usah Pi, kantor Papi dan tempat kuliah Chelsea kan berbeda arah." Chelsea tersenyum manis.
"Hufhhh Papi merasa kamu semakin mandiri dan tidak membutuhkan Papi lagi Ci.."
Chelsea tertawa lalu memeluk dari belakang Tristan yang sedang duduk. "Papi gak asik ah, masa Chelsea gak boleh mandiri. Gimana nanti kalau Chelsea nikah dan dibawa oleh suami Chelsea."
"Nikah sama siapa?" Tanya Tristan panik.
"Ya sama suami Chelsea nanti, Pi.." Sahut Jessica.
"Papi belum siap punya menantu, jangan dulu menikah." Ucap Tristan.
"Papi aja nikahin Mami setelah lulus kuliah, nikah muda itu asik kan Pi?" Goda Chelsea yang kini berdiri dan bersiap untuk jalan kekampus.
Tristan pun ikut berdiri dan bersiap jalan kekantor.
"Kamu naik apa?" Tanya Tristan saat mereka berada didepan rumah.
"Sea.." Panggil Zayn.
Chelsea, Tristan dan Jessi menoleh kesumber suara.
"Kak Zayn." Ucap Chelsea.
"Pagi Pi, Mi." Sapa Zayn.
"Pagi Zayn." Jawab Jessi dan Tristan hanya mengangguk.
"Sea mau kekampus ya? Bareng aja sama aku, kebetulan aku juga mau kesana." Ucap Zayn.
"Eh gak usah Kak, aku naik busway aja." Jawab chelsea.
"Kan kita searah, bareng aja." Kata Zayn.
"Pi, Mi, boleh Zayn ajak Chelsea untuk berangkat bareng?" Tanya Zayn pada Tristan dan Jessi.
Jessi menatap Tristan dan Tristan mengangguk, "Kalau berangkatnya sama kamu, berarti pulangnya juga nanti sama kamu." Ucap Tristan pada akhirnya.
"Papi!!" Pekik Chelsea.
Zayn tersenyum, "Zayn pastikan nanti Chelsea diantar pulang oleh Zayn juga Pi."
"Baiklah, silahkan." Ucap Tristan cuek.
"Kak.. Aku..." Chelsea mendadak grogi.
"Udah, Sea. Kita kan satu tujuan." Kata Zayn ramah.
Chelsea masuk kedalam mobil Zayn dan pergi bersama.
"Sepertinya kita akan berbesan dengan tetangga depan." Gumam Jessi yang terdengar oleh Tristan.
"Menurutmu seperti itu, Bee?" Tanya Tristan.
"Ya.. Dari Mantan jadi Besan." Jessi tertawa setelah melontarkan kalimat itu, ia beranjak masuk meninggalkan Tristan.
"Bee.. Awas kamu ya." Tristan menyusul Jessi kedalam rumah.
"Awssshhhh, Abang.. Turunin gak!!" Pekik Jessi yang tiba-tiba tubuhnya terangkat oleh Tristan.
"Siapa suruh godain Abang, sekarang Abang hukum." Ucap Tristan menyeringai.
"Isshh Abang, ini udah mau siang, kamu kan harus kekantor." Jessi terus tertawa.
"Abang mau cuti dadakan, Abang kerjanya dirumah aja, Udah lama kita gak bertarung siang, mumpung sepi dan anak-anak gak ada." Tristan membawa Jessi kedalam kamar.
"Ishh Abang mesum." Ucap Jessi.
"Seumur hidup mesum cuma sama kamu aja, Bee." Tristan memulai mencumbui Jessi dan memadu kasih dipagi menjelang siang itu.
.
.
Siapa yang tadi minta double Up, ayo absen lagi dikoment, koment nya harus double juga, like nya jangan dilewat biar othor bahagia dan besok khilaf lagi dah. 🤭
Bantu tandain Typonya ya..
__ADS_1
Jgn lupa hadiah nya juga biar Up lagi Novelnya 😁