
Setelah tiga hari, Ghea kembali kerumah Erick, sahabatnya sudah menyiapkan penyambutan untuk Baby Zayn.
Erick slalu bersikap ramah terhadap sahabat-sahabat Ghea, membuat mereka tidak sungkan untuk menghias ruang tamu dengan balon dan pita berwarna biru untuk menyambut Baby Zayn.
"Ghea terharu akan penyambutan yang dibuat oleh Tristan, Jessi, Fariz dan juga Stevi.
"Gue mau gendong baby Zayn dong Ghe." ucap Jessi.
Miranti memberikan Zayn kepada Jessi. "Hati-hati ya Jess." Ucap Miranti.
"Iya Bu." Jawab Jessi.
"Tampan sekali, hidungnya mancung, rambutnya hitam." Ucap Jessi mengagumi ketampanan Zayn.
Monica menghampiri Jessi dan mengusap kepala Baby Zayn dengan lembut. "Segera menikah sama Tristan Jess, nanti punya yang seperti ini satu, tapi harus baby girl ya Jess."
"Dih Mama Monica udah request duluan nih." Sahut Fariz sambil menyikut perut Tristan yang berada disebelahnya.
"Ya nunggu apa lagi Riz, kan mereka udah tunangan, tinggal nikahnya. Biar cepet Jessi dibawa tinggal dirumah." Jawab Monica.
"Gak nunggu Fariz tunangan dulu Ma, masa Fariz ditinggal nikah Tristan Ma, tega banget Mama."
"Emang kapan kapan mau tunangan?" tanya Fadhil.
"InsyaAllah bulan depan pak, mudah-mudah Ghea udah lebih sehat dan bisa hadir diacara saya dengan Stevi nanti."
"Aamiin, semoga dilancarkan ya Riz. Ada niat baik segera dilaksanakan, jangan ditunda-tunda." Nasihat dari Fadhil.
"Iya pak, terimakasih."
"Ck, bapak ke saya gak pernah nanya-nanya." Sahut Tristan.
"Emang kamu mau ditanya apa?" Tanya Fadhil balik.
"Tanya kek kapan saya nikah."
"Gak saya tanya kamu juga, Ghea udah cerita duluan sama saya, masa iya saya tanya yang udah saya tau jawabannya." Jawab Fadhil.
Tristan hanya menyengir sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal itu.
Mereka makan siang bersama dirumah Ghea, Erick mempersiapkan segalanya dengan antusias. Bryan dan Maura pun datang dengan bayi lelakinya juga, Bayi yang hanya berbeda beberapa bulan dengan baby Zayn.
"Makan dulu sayang.. Aaa..." Ucap Fadhil yang menyuapi Ghea didepan teman-temannya.
"Yang udah halal mah bebas." Ledek Stevi.
"Kamu juga kan lagi otw menuju Halal Stev." Jawab Fadhil.
"Hehehe iya Pak, saya masih otw menuju Halal."
"Abis tunangan, nikahnya kapan Riz?" Tanya Ghea.
"Maunya sih secepatnya Ghe, Kakek udah nanyain mulu, katanya biar dirumah ramean dikit."
__ADS_1
"Nah tuh udah ada lampu ijo."
"Iya, tapi kayaknya Tristan duluan, biar gue leluasa nanti pas nikahin Stevi, gak digangguin sama si sad boy ini." jawab Fariz yang meledek Tristan.
"Si*l lo Riz, gue udah bukan lagi sad boy."
"Iya.. Titan bukan sad boy lagi, tapi bucin boy." Sahut Ghea tertawa.
"Ya ampun Ghe, tega banget lo ikutan bully gue." Tristan mrengut kesal.
"Pacar Jessi gak asik banget sih, baperan." Ledek Stevi.
***
Dua minggu kemudian acara aqiqahan Baby Zayn digelar dirumah Erick.
Jam tidur Ghea pun mulai berkurang, Zayn kadang terbangun dua jam sekali untuk menyusu. Ghea memberikan asi eksklusif pada Zayn.
Fadhil selalu setia menemani Ghea jika Zayn terbangun.
"Gak coba dipompa aja Ghe? biar klo Zayn ingin menyusu malam tinggal aku hangatkan dan kamu bisa tetap tidur." Ucap Fadhil yang tidak tega melihat Ghea dengan lingkar mata yang mulai menghitam.
"Gak usah By, malah ribet seperti itu. Aku lebih seneng Zayn langsung menyusu sama aku, lebih praktis."
Hati Fadhil terenyuh, ia semakin mencintai istri kecilnya itu yang rela kurang istirahat demi mengasihi buah hati mereka.
***
Hari ini hari pertunangan Fariz dan Stevi yang digelar dirumah Kakek Tara, Fariz mengundang seluruh keluarga Tristan, keluarga Ghea juga keluarga Jessi.
Diana sudah satu minggu ini kembali tinggal dirumah Kakek Tara, kondisinya yang semakin stabil dan membaik membuatnya bisa kembali pulang kerumah.
Fariz memyambut baik kepulangan Mamanya, Terkadang Stevipun ikut menemani Diana dan mengajak nya berbicara.
Bahkan Diana slalu merespon dengan senyuman jika mendengar cerita dari Stevi.
"Ghea datang bersama Fadhil, semetara Zayn tidak dibawa karna pertimbangan banyak hal, Zayn ditinggal bersama Baby sitter dan juga Bi Anih yang menjaganya dengan pantauan dari Maura yang tidak ikut hadir juga. Bryan datang bersama Erick untuk menghormati Kakek Tara karna mereka juga mitra bisnis dan mengenal Fariz sebagai sahabatnya Ghea.
"Diana.." Gumam Erick saat melihat wanita yang ia kenali duduk dikursi roda dengan tatapan kosong.
"Ayah kenal?" Tanya Bryan yang mengikuti kemana arah tatapan sang Ayah.
"Ayah kenal, dulu dia sempat ikut beberapa seminar usaha mandiri yang Ayah isi di berbagai kampus. Ayah cukup mengenalnya karna ia satu-satunya peserta yang terlihat antusias mengikuti seminar itu. Bahkan kami sering bertemu diluar untuk sekedar sharing. Sampai akhirnya Diana menyatakan rasa kagumnya pada Ayah, namun ia menghilang setelah Vika melabraknya."
Bryan berdecak. "Ck, Ayah dimasa muda itu banyak dikejar wanita ya, padahal sudah menikah dengan ibu."
"Hai Bry, Ayahmu ini sangat tampan semasa muda, hanya saja Ayah bodoh bisa tertarik pada Vika, padahal Ibumu jauh lebih cantik dan baik."
"Baguslah Ayah sadar, meski terlambat." Bryan melangkah masuk saat melihat Krisna dan Fadhil diambang pintu meninggalkan Erick yang masih menatap Diana.
Erick memperhatikan Diana. "Dia benar-benar Diana, wanita muda, mahasiswa yang menyatakan kagum pada pria beristri dua." Erick tersenyum mengingat masa lalu, mengingat Diana dengan kepolosannya, mengingatkan Erick pada Sofia, sifat mereka hampir sama.
Erick mendekati Diana yang sedang dijaga oleh suster pribadinya.
__ADS_1
"Di... Diana.." Sapa Erick.
"Maaf tuan, Ibu Diana tidak bisa berinteraksi dengan orang asing." Ucap Linda suster pribadi Diana.
"Apa Diana sakit sus?" Tanya Erick penasaran.
"Ibu Diana mengalami gangguan mental Tuan."
Erick terkesiap, pikirnya mana mungkin, sedangkan dulu Diana adalah gadis yang periang.
"Apa yang membuatnya begini Sus?"
"Maaf tuan, saya tidak tau."
"Ayah.." panggil Ghea dari belakangnya.
"Ghe.."
"Ayah lagi ngapain disini?" Ghea melirik kearah Diana. "Yah ini Mamanya Fariz, Mama Diana." Ucap Ghea.
"Mamanya Fariz?"
Ghea mengangguk.
"Kamu tau kenapa Diana bisa seperti ini?"
"Ayah kenal sama Mama Diana?" tanya Ghea balik.
Erick menceritakan sedikit banyak yang ia ingat soal Diana dimasa muda.
"Jadi Mama Diana pernah menyatakan rasa kagumnya pada Ayah?" Tanya Ghea tak percaya.
Erick duduk didepan kursi roda Diana, "Di.. Apa kamu masih memgingatku? Aku Erick." Erick menggenggam tangan Diana.
perlahan Diana mengalihkan padangannya menatap Erick dan mengamatinya.
"Di.. Apa kau ingat sesuatu?"
Dari jauh Dewantara atau Kakek Tara dan Fariz melihat pemandangan itu. "Mama kenal sama Om Erick Kek?"
"Mama mu pernah jatuh cinta pada orang yang salah Riz, jatuh cinta pada pria yang sudah beristri, Kakek menyelidikinya tentang pria itu dulu, ternyata dia mempunyai satu istri sah dan satu istri sirinya atau selingkuhannya. Bahkan Mamamu pernah dilabrak oleh istri sirinya itu. Kakek menegur mama mu Lalu mamamu menurut dan mundur perlahan, lelaki itu adalah Erick pratama, saat itu dia adalah pebisnis muda yang maju diusianya yang masih tergolong muda.
"Erick Pratama itu ayahnya Ghea Kek. Ibunya Ghea sudah meninggal sewaktu Ghea masih bayi, dan ibu tirinya Ghea sekarang mendekam dipenjara dan sudah diceraikan oleh Om Erick."
Kakek Tara mengangguk. "Takdir mempertemukan mereka kembali, entah Takdir akan membawa mereka kemana nantinya, harapan Kakek hanya satu, Diana sembuh dan hidup dengan normal kembali."
.
.
.
.
__ADS_1
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....