TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
POV GHEA


__ADS_3

Hai, namaku Ghevana Salsabila.


Orang biasa memanggilku Ghea.


Dulu yang aku tau, aku adalah anak ke tiga dari tiga bersaudara, Kakak laki-lakiku bernama Bryan dan Kakak perempuanku bernama Yasmin.


Biasanya, anak bungsu slalu menjadi anak kesayangan, yang paling dimanja dan yang paling dituruti keinginannya. Tapi tidak denganku, justru aku mengalami hal sebaliknya, dimana aku dibenci oleh Ayah, Bunda dan Kakakku, tetapi tidak dengan Kak Bryan, Kak Bry masih memperhatikanku meski itu hanya sedikit.


Aku tidak pernah tau, apa kesalahanku hingga aku diabaikan oleh keluargaku sendiri. Bahkan aku tidak pernah memakai pakaian baru ataupun mainan baru. Semua yang aku pakai adalah barang bekas dari kakakku, Yasmin.


Saat itu, aku masih berusia lima tahun, aku sedikit ingat saat aku bermain boneka bekas pberian Kak Yasmin, aku bermain didepan rumahku sendirian, aku melihat sebuah mobil berhenti percis disebrang rumahku.


Tanpa aku sadari, aku yang sedang memeluk boneka yang mungkin sudah sedikit lusuh memperhatikan mobil itu.


Seorang wanita cantik turun dengan menggendong seorang anak laki-laki yang seumur denganku, anak laki-itu sedang menangis, entah apa yang ditangisinya.


"Jangan menangis, rumah ini bagus, nanti Mama isi rumah ya dengan banyak mainan." Kata wanita itu seraya menenangkan anaknya.


Mata anak laki-laki itu tertuju padaku dan entah mengapa aku pun masih menatapnya.


"Tuhh lihat, ada teman yang sebaya denganmu, Tan."


Wanita itu menghampiriku yang tengah berdiri mematung, dia menurunkan anak laki-laki itu tepat didepanku, kemudian wanita itu berjongkok mensejajarkan tubuhnya denganku.


"Hai cantik, siapa namamu?" Tanyanya padaku.


"Ghea." Jawabku malu-malu.


"Aku Monica, panggil aku tante Monica


Dan ini Tristan anak tante."


Aku mengulurkan tanganku untuk berjabat tangan dengan anak laki-laki itu.


"Titan." Kata Tristan yang saat itu masih cadel dan membalas tanganku.


Dan sejak saat itu aku memanggilnya Titan.


Kehadiran Tristan dan keluarganya membuatku merasa seperti hidup baru, aku mempunyai teman yang seumur, aku juga sering bermain dirumah Tristan.


Saat itu, aku tengah menangis, keluargaku berlibur ke luar negri, mereka akan liburan ke singapura, entah mengapa mereka tidak mengajakku dan dengan teganya meninggalkanku dirumah hanya denga asisten rumah tanggaku.


Aku menangis, seorang asisten rumah tanggaku menggendong dan menenangkanku dihalaman rumah. Dari sebrang rumahku, Tante Monica melihatku dan segera menghampiriku bersama Tristan.


"Ghea kenapa menangis, Bi?" Tanya Tante Monica saat itu.


"Ini Bu, Non Ghea ingin ikut sama Ayah Bundanya."


"Lho memang kemana Ayah Bundanya?"


"Sedang berlibur ke luar negri."


Terlihat Tante Monica mengernyitkan dahinya. "Kakaknya Ghea kemana? Kenapa tidak menjaga adiknya."


"Itu Bu, ikut juga sama Ayah dan Bundanya." Jawab ART.


Membuat Tante Monica membolakan kedua matanya, "Lalu Ghea ditinggal? Orang tua macam apa itu meninggalkan anak yang masih balita dirumah." Kesalnya lalu mengambilku dari gendongan ART.


"Ghea akan menginap dirumah saya selama orang tuanya tidak ada, tolong siapkan baju gantinya dan antar kerumah saya."

__ADS_1


Tante Monica membawaku kerumahnya, aku sangat paham raut wajahnya yang merasa heran. Begitupun saat ART dirumahku membawakan aku beberapa baju.


"Baju-baju ini modelnya sudah ketinggalan jaman, tidak adakah baju lain?" Tanyanya pada ART ku saat itu yang hanya menggelengkan kepalanya.


Tante Monica memandikanku dan memakaikanku baju tidur yang menurutnya sudah tidak layak pakai.


"Besok kita beli baju untuk Ghea ya." kata Tante Monica lembut.


"Beli baju Tan?" Tanyaku saat itu.


Tante Monica mengangguk,


"Bunda gak pernah beliin aku baju, Biasanya aku pakai baju bekas Kak Yasmin." Kataku jujur dengan polosnya.


Sejak saat itu, Tante Monica sering memberikanku pakaian baru dan semua keperluanku. Ayah Bunda ku saat itu hanya menutup mata dan tidak mau tau.


Aku pun baru mempunyai boneka yang benar benar baru hanya dari Tristan, boneka sapi yang aku dan Tristan namai Bopi.


Tahun berganti, aku adalah anak yang pintar dan cerdas, aku slalu menjadi juara umum di kelasku maupun diskolah, aku juga slalu menjuarai olimpiade sains mewakili sekolahku, namun hal itu tidak membuat Ayah dan Bundaku bangga dan bersikap baik padaku, mereka tetap tidak menganggapku ada, aku hanya manusia transparant dihadapan mereka, bahkan saat Kak Yasmin memamerkan barang yang baru dibelinya, mereka tetap tidak merasa kasihan dan tidak merasa bersalah denganku.


Disaat itulah aku berlari kerumah Tristan, menumpahkan rasa sedihku disana, Tante Monica slalu membelaiku dengan sayang, dan Tristan slalu berada disampingku.


Lambat laun aku memasuki masa remaja, hubunganku dengan Tristan mengalir begitu saja, banyak orang menganggap kami berpacaran.


Bahkan di SMA, Tristan slalu mengklaim bahwa aku adalah milik Tristan, Tristan sering memanggilku dengan panggilan Ghe sayangnya Titan.


Dan hanya Tristan yang mengijinkan aku memanggilnya dengan panggilan Titan, Tristan akan marah jika ada yang mengikuti panggilanku kepadanya.


Bertahun tahun kami lewati bersama, hanya Tristan yang tau jeleknya aku seperti apa dan begitupun aku yang sangat tau jeleknya Tristan. Kami seakan tidak perduli dengan kekurangan kami masing-masing, Hingga kami menyadari satu hal, ada yang penting dari hanya sekedar tau kekurangan, yakni perbedaan diantara kami, iman dan keyakinan kami berbeda, membuat kami merasa ada benteng besar yang tidak pernah bisa kami runtuhkan.


Tristan menjalani keyakinannya dan begitupun dengan aku, kami seolah tidak ingin perduli dengan perbedaan kami meski itu nyata, kebersamaan kami hanya sekedar menunda perpisahan tanpa tujuan.


Disaat banyak pasangan menghabiskan minggu pagi berolah raga di car free day, namun aku hanya sendirian karna Tristan harus pergi beribadah. Sakit bukan?


Jarak terjauh itu bukan LDR, melainkan beda keyakinan.


Ahhh, akhirnya perpisahan itu tiba, Tristan memutuskan untuk menjauhkan dirinya dariku, memberiku kesempatan untuk didekati pria lain yang seiman denganku. Masing masing kami merelakan perpisahan itu, dan saling mendukung satu sama lain.


Aku ingat, saat aku melepas Tristan dibandara:


"Kalau Titan pulang, Ghea harus udah ada pacar ya." Pinta Tristan saat itu.


Aku menggelengkan kepalaku, "Ghea gak usah pacaran, nanti Titan pulang, Ghea udah nikah sama cowok lain aja. Biar Titan nyesel udah ninggalin Ghea."


"Jangan ngomong gitu dong Ghe, nanti ada malaikat lewat jadi doa lho." Ucap Tristan.


"Biar aja, siapa suruh Titan pergi dan gak jagain Ghea lagi."


Ternyata benar kata Tristan, malaikat lewat dan semua ucapanku saat itu jadi doa.


Aku dipaksa harus menggantikan pengantin yang kabur. Kak Yasmin kabur dan keluarga calonnya meminta pengganti dengan alasan tidak ingin menanggung malu.


Dengan entengnya tanpa memikirkan perasaanku, Bunda Vika menjadikanku pengganti Kak Yasmin.


Mungkin saat itu aku merasa hidupku hancur, jarakku semakin jauh dengan Tristan, namun siapa sangka jika pernikahan yang tidak aku inginkan justru menjadi jalan kebahagiaanku.


Mas Fadhil dan keluarganya begitu baik dan menerimaku, mas Fadhil membimbingku dan begitu bersabar menghadapiku yang belum siap menjalani rumah tangga. Kesabarannya perlahan membuatku luluh, kasih sayangnya yang begitu mengayomiku membuat aku merasa nyaman hingga aku menyerahkan diri seutuhnya pada Mas Fadhil, memberikan hak nya sebagai seorang suami dan aku menunaikan kewajiban sebagai seorang istri.


Hingga saat itu, aku mendengar kepulangan Tristan, Tristan yang memilih kembali karna tidak bisa melupakanku, Tristan berniat membawaku keluar negri untuk menikahiku disana.

__ADS_1


Tristan terkejut saat melihat penampilanku yang berubah, saat itu aku baru mulai mengenakan hijab. Aku melihat ada perasaan yang aneh dimatanya.


Saat Tristan maju satu langkah untuk memelukku, aku memundurkan satu langkahku untuk menghindarinya.


Perlahan aku memberitahu bahwa aku sudah menikah, awalnya Tristan tidak percaya, hingga aku memperlihatkan bukti yang ada.


Jujur, saat itu aku tidak tega. Namun saat itu pula aku sadar, perasaanku pada Tristan hilang dengan sendirinya, perasaanku sudah 100% milik suamiku.


Satu hal yang aku suka dari Mas Fadhil, ia bersikap dewasa dan begitu memahamiku, mengijinkan aku untuk tetap berhubungan dengan Tristan sebagai seorang sahabat, padahal Mas Fadhil tau kisahku dengan Tristan di masa lalu. Namun aku dapat membuktikan pada Mas Fadhil, bahwa dirinyalah pemilik hatiku saat itu.


Kehidupanku mulai berubah, saat Ayah mulai bersikap baik padaku, Ayah meminta maaf karna menelantarkan aku selama bertahun-tahun. Dan lambat laun semua terbongkar, Bunda Vika bukanlah Ibuku, dan Kak Yasmin bukanlah anak Ayahku.


Kehidupanku kembali normal meskipun terlambat, bahkan Mas Fadhil mau kuajak pindah kerumah Ayah hingga kini akulah yang menempati rumah Ayah, rumah yang Ayah beli untuk Ibu dan kini menjadi milikku.


Waktu berlalu, aku tidak menyangka saat aku tau, jika Chelsea anak perempuan dari Tristan dan Jessica menaruh hati pada putra sulungku.


Tristan meminta padaku untuk menjauhkan Zayn dari Chelsea karna tidak ingin mengulang sejara cinta beda keyakinan ini, terlebih hanya Chelsea yang mengejar cinta Zayn sementara Zayn tidak.


Aku berbicara pada Mas Fadhil, suamiku. Suamiku tetaplah orang yang bijak, hal itulah yang membuatku berulangkali jatuh cinta padanya.


Mas Fadhil memintaku untuk lebih menyerahkan semua urusan kepada maha pencipta, ia memilih untuk berpasrah karna tidak ada yang bisa melebihi kuasa-Nya, sang maha pemilik hati.


Enam tahun sudah terlewati, aku melihat keajaiban secara langsung, Chelsea putri sulungnya Tristan diberikan hidayah lewat sebuah musibah yang meloloskannya dari maut.


Chelsea bicara padaku langsung soal keinginannya untuk memeluk agama islam, betapa terharunya aku, sehingga doa kebaikan aku lantunkan dalam hati untuk Chelsea.


Zayn putra sulungku akhirnya menyelesaikan pendidikan S2 nya di Harvard, ia kembali ke tanah air dan berada ditengah-tengah keluarga kami.


Beberapa kali aku melihat Zayn pergi bersama.Chelsea, ada keinginan dalam hatiku mereka berjodoh, aku yang memang tidak memiliki anak perempuan begitu jatuh cinta pada Chelsea, dengan mata kecoklatan yang indah, bulu mata yang lentik alami, hidung mancung dengan dagu yang sedikit lancip, begitu sempurna perpaduan wajah Tristan dan Jessica terpahat diwajah Chelsea.


Hingga aku mendengar sendiri pernyataan anakku, Zayn yang mengutaralan hatinya ingin melamar Chelsea tanpa berpacaran. Zayn meminta restu padaku dan Fadhil, jelas kami merestui setelah menanyakan kementapan hatinya.


Dengan gentle nya, Zayn seorang diri mendatangi Tristan dan Jessica untuk melamar Chelsea dan meminta jawabannya.


Dan disinilah aku sekarang. Berada satu pelaminan bersama seorang pria yang pernah begitu berarti untukku.


Bukan sebagai sepasang pengantin, tapi kami berada disini sebagai pendamping putra ku yang menikahi putrinya. Ya, kami bersanding sebagai besan yang menikahkan kedua putra putri kami.


Dia tidak pernah menyakitiku, tapi kami tidak bisa bersama meski dulu kami saling mencintai, kami memang tidak berjodoh karna jarak kami terlalu jauh, beda iman dan keyakinan.


Ahh, indahnya takdir kami, aku berjodoh dengan pria yang berusia lebih matang dariku, yang slalu menjadi pelindungku dan begitu mengayomiku, membuatku slalu merasa aman dan nyaman disisinya.


Terimakasih Titan, kamu pernah berada dihatiku dan disisiku, meski kita tidak berjodoh, aku yakin bahwa ini adalah takdir cinta kita. Dimana aku menjalani takdirku menikah dengan Mas Fadhil, dan kamu menjalani takdirmu menikah dengan Jessica.


Tetaplah menjadi seorang suami yang baik untuk Jessica, menjadi Papi terhebat untuk Chelsea dan Yoda.


Ijinkan putraku untuk membahagiakan putrimu, tegurlah Putraku jika ia berbuat salah.


Mari kita menjadi orang tua yang hebat untuk Putra Putri kita.


Aku pun berjanji, akan menyayangi Chelsea layaknya kamu dan Jessi menyayangi Chelsea. Aku pastikan, Chelsea diterima dengan baik dikeluargaku. Terimakasih Titan, karna tlah mengijinkan putraku menikahi putri kesayanganmu.


.


.


Lanjut Pov Tristan ya..


Kalo Vote nya nambah, koment dan like nya naik, Pov Tristan lanjut hari ini juga 😁😁

__ADS_1


__ADS_2