
Hari berganti hari, Tristan tetap setia menemani Jessi dirumah sakit, sesuai permintaan Jessi dan kebaikan bersama mereka merahasiakan hal ini dari kedua keluarga mereka masing-masing.
Semua biaya perawatan Jessi pun Tristan yang menanggungnya, meski statusnya sebagai mahasiswa yang belum bekerja, tetapi Tristan mempunyai tabungan pribadi dan ia gunakan untuk membiayai semua perawatan Jessica.
Sikap Tristan kian berubah, kini ia tak sehangat seperti biasanya, Tristan bersikap dingin namun masih memperlihatkan tanggung jawabnya. Hal ini membuat Ghea merasa bersalah, Ghea berada diposisi serbasalah, disisi lain ia ingin memberitahu kehamilan Jessi kepada Tristan, namun Ghea merasa itu bukan hak nya. Dan disisi lain Ghea merasa ini adalah kewajiban Jessi yang harus memberitahu kehamilannya sendiri kepada Tristan.
Jessi merasakan perubahan Tristan yang kini bersikap dingin, ia merasakan dirinya pun bersalah karna merahasiakan hal ini dari Tristan, padahal Ghea sudah sering membujuknya untuk segera memberitahu Tristan.
Cekleekk..
Pintu kamar perawatan Jessi terbuka. Terlihat Ghea datang seorang diri.
"Sendiri Ghe?" Tanya Jessi.
"Sama Stevi dan Fariz, tapi mereka ngopi dulu di cafetaria rumah sakit. Lo gimana?" Tanya Ghea sambil duduk disisi berankar Jessi.
"Udah mendingan, dokter visit bilang besok juga boleh pulang."
Ghea tersenyum lembut dan mengangguk. "Syukurlah." Ucapnya.
Ghea menengok kearah Tristan yang sedari tadi hanya menatap layar laptop dipangkuannya, sepertinya tengah mengerjakan tugas kuliah karna Tristan slama dua hari tidak masuk kuliah.
Ghea tau perubahan Tristan, ia mengenal Tristan sudah dari kecil dan sangat tau mood sahabatnya itu saat dia tengah merasa kesal maupun tidak nyaman dengan keadaan.
"Tan.. lo gak makan dulu? mumpung gue disini bisa jagain Jessi, dibawah ada Fariz dan Stevi." Kata Ghea kepada Tristan.
"Iya Ghe, nanti, masih nanggung." Jawab Tristan santai dan masih menatap layar laptopnya tanpa menoleh sedikitpun kearah Ghea.
Ghea menghela nafas, kemudian memandang kearah Jessi yang tertunduk. Ghea menggenggam tangan Jessi seolah menyalurkan kekuatan dan semangat untuknya, sementara Jessi hanya tersenyum tipis menandakan bahwa dirinya baik-baik saja.
Sesekali Tristan melirik kearah Ghea dan Jessi, sebenarnya ia tidak tega mendiami Jessi seperti ini, namun rasa kecewanya membuat Tristan terpaksa berbuat seperti ini.
Setelah lima menit mereka masih saja saling diam, akhirnya Ghea mencoba berbicara pada Tristan.
Ghea turun dari sisi brankar Jessi dan berdiri ditengah-tengah jarak antara Jessi dan Tristan.
"Tan.." Panggil Ghea.
"Hem.." Jawab Tristan santai masih dengan menatap layar laptopnya.
"Tan taro dulu laptop lo."
Tristan mendongak melihat kearah Ghea, "Ada apa Ghe?"
"Lo kenapa Tan? lo gak bisa begini terus."
Tristan menaruh laptopnya diatas meja lalu berdiri. "Gue kenapa? menurut lo gue gimana Ghe?" Tanya Tristan dengan nada sedikit meninggi.
Ghea merasakan hatinya sedikit sedih, ini pertama kalinya Tristan berbicara dengan nada tinggi kepadanya.
__ADS_1
"Tan, okey lo boleh kecewa dengan insiden ini, tapi apa lo berfikir juga kalo Jessi juga terluka, dia juga kehilangan calon bayinya Tan. Jessi jauh lebih sedih Tan, harusnya lo bisa jadi penyemangat Jessi, Nguatin Jessi."
Tristan mengusap wajahnya dengan kasar. "Lo gak mikirin perasaan gue Ghe? gue ngerasa jadi orang bodoh yang dibohongin. Lo gak tau berapa besar harapan gue yang menginginkan Jessi hamil, itu anak gue Ghe, gue banyak berharap sama Jessi, tapi dia gak pernah percaya sama gue, dia gak yakin gue bisa hidupin dia dan anak kami nantinya. Lo tau rasanya diragukan kemudian dibohongin sama orang yang gue cintai, yang gue harapin? Sakit Ghe."
Tristan kembali duduk dan menopang kepalanya yang menunduk itu dengan kedua tangannya. Sementara Jessi sudah terisak dan menunduk juga.
"Lo cinta sama Jessi?" Tanya Ghea.
"Gue cinta sama Jessi, tapi Jessi meragukan gue, sekarang buat apa gue terusin kalo dia sendiri gak yakin sama gue. Cinta gak mungkin bertahan jika berjuang sendirian Ghe. Gue berjuang sendirian." Lirih Tristan.
Ghea menatap Jessi. "Jess gimana perasaan lo ke Tristan?"
"Gue mulai cinta sama Tristan Ghe, Lo tau betul gue mau bilang hal ini besok setelah pulang ibadah, tapi insiden ini diluar dugaan gue Ghe, gue juga gak mau kehilangan Janin ini." Suara Jessi tampak terbata-bata karna masih terisak.
"Bulshit.." Sahut Tristan.
"Kalo lo cinta sama gue, harusnya lo gak nunggu besok untuk cerita sama gue, mungkin kalo saat itu lo cerita sama gue, gue bisa larang lo pergi sama teman-teman lo buat ngerjain project lo dan hal ini tidak akan terjadi." Tristan berbicara dengan nada tinggi.
"Tan lo gak boleh ngomong gitu, emang semua udah takdirnya Tan. Anak itu hanya titipan."
Tristan kembali berdiri, "Takdir Ghe? lagi lagi takdir gue begitu menyedihkan Ghe. Gue harus lepasin lo buat nikah sama orang lain, tiap saat gue harus lihat lo sama orang lain yang harusnya posisi itu buat gue, gue mencoba tulus lepasin lo Ghe, gue coba buka hati buat Jessi meski diawali dengan cara yang salah, tapi gue coba dari mulai tanggung jawab hingga membuka perasaan gue dan benar-benar mencintai Jessi, tapi apa balasan buat gue Ghe? apa emang udah takdir gue kehilangan orang-orang yang gue cintai, mulai dari melepas lo, kehilangan calon anak gue dan kini Jessi?"
"Titan....!!" Pekik Ghea.
"Iya anak itu memang titipan, titipan yang harus dijaga Ghe, Jessi aja gak bisa jaga titipan dari tuhan, gimana dia bisa jaga hati dan perasaan gue Ghe? gue capek Ghe, ini terlalu melelahkan buat gue, gue nyerah." Suara Tristan mulai melemah.
"Gue gak mau apa-apa Ghe, gue gak mau banyak berharap lagi, terserah Jessi maunya gimana." Tristan melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar perawatan, ia keluar keluar menuju taman dirumah sakit untuk menghirup udara segar, kekecewaannya sudah ia lupakan, ia butuh sendiri untuk menenangkan pikirannya.
Fariz dan Stevi sebenarnya sudah sedari tadi berada didepan kamar perawatan Jessi. Namun tidak berani masuk ketika mendengar suara perdebatan antara Tristan, Ghea dan Jessi. Namun Fariz dan Stevi bisa mendengar smuanya. Merekapun akhirnya mengetahui bahwa Jessi tengah hamil dan keguguran.
"Stev, lo masuk bantu Ghea nenangin Jessi, gue nyusul Tristan ya." Ucap Fariz pada Stevi.
Stevi mengangguk kemudian masuk kedalam kamar perawatan Jessi, sementara Fariz segera menyusul Tristan.
Jessi menangis didalam pelukan Ghea.
"Gue salah Ghe, lo memang bener, harusnya gue kasih tau Tristan saat itu juga. Gue nyesel karna gak bisa jaga calon anak gue dan Tristan. Sekarang gue harus gimana Ghe?" Jessi masih terus menumpahkan tangisannya dipelukan Ghea.
Fariz menyusul Tristan ke taman rumah sakit, dari jauh Fariz melihat sahabatnya itu tengah putus asa dan frustasi.
Fariz mendekati Tristan sambil memberikan botol air mineral kepada Tristan.
"Tan.." Panggil Fariz sambil menyodorkan botol air mineral untuk Tristan.
Tristan mendongak dan menerima botol air mineral. "Thanks"
"Kenapa lo gak cerita sama gue?"
"Ini aib gue Riz, gue nidurin dan hamilin anak orang tanpa sengaja." Tristan tersenyum sinis.
__ADS_1
"Aib yang indah kan Tan?" ledek Fariz sambil menyikut perut Tristan yang duduk disebelahnya.
"Gue gila ya Riz?"
"Iya, lo gila, anak orang lo bobol gawangnya gitu aja. Gila banget sih itu, terlebih lo bukan pasangan kekasih."
Tristan tertawa. "Tapi setelah Jessi jadi kekasih gue, gue gak pernah lagi sentuh dia Riz. sumpah itu kejadian cuma satu kali."
"Dan langsung menghasilkan, tokcer juga lo. Belajar dari mana?" Ledek Fariz kembali.
"Tapi sekarang Tuhan lagi hukum gue karna perbuatan gue, Dia ambil lagi anak yang udah Dia titipkan dirahim Jessi." Tristan menunduk.
"Ini yang terbaik Tan. Tuhan lo maupun Tuhan siapapun tidak akan memberi kita cobaan melebihi kemampuan kita.
Tristan menunduk dan menangis, "Apa gue gak pantas untuk bahagia Riz? Tuhan pisahkan gue dengan Ghea, gue tau ini yang terbaik, tapi kenapa sekarang Tuhan ambil anak gue dari Jessi? apa ini pertanda juga bahwa Jessi juga akan Tuhan pisahkan dan gak berjodoh sama Gue?"
Fariz menepuk pundak Tristan, "Lo jangan ngomong gitu Tan. Mungkin setelah ini Jessi jadi sadar akan salahnya."
"Gue gak mau banyak berharap Riz, dari awal juga Jessi emang gak percaya dan gak yakin sama gue. Gue berjuang sendirian." Lirih Tristan.
"Tan lo gak boleh nyerah. Dulu lo nyerah sama Ghea karna keadaan dan perbedaan, sekarang lo udah dapat yang sama, lo harus berjuang."
Tristan menghela nafas. "Coba lo jadi gue Riz, ini gak mudah buat gue."
"Dan coba lo jadi gue juga Tan, gue yakin lo gak akan sanggup jadi gue."
Tristan menengok kearah Fariz yang duduk disebelahnya.
"Gue sanggup karna gue yakin gue bisa jalanin ini smua Tan. Dan gue yakin lo juga pasti sanggup lewatin ini juga Tan."
.
.
.
Fariz keren gak sih?
Kasih semangat yuk buat Abang Titan biar jadi semangat dan gak nyerah.
Author juga butuh kopi nih, butuh like, koment juga apalagi Vote. (Modus ya Author) 😆
.
.
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....
__ADS_1