TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
KEHAMILAN JESSI


__ADS_3

Selesai makan malam bersama, Mereka kembali ke kamarnya masing-masing, tetapi tidak dengan Jessi, dia memilih berjalan-jalan sendiri menikmati suasana pantai malam itu sambil berfikir tentang masa depan dirinya dan anak yang kini ada dirahimnya.


Terlalu cepat jika Jessica merasakan cinta untuk Tristan, tidak dipungkiri Bahwa Jessica terpesona dengan sikap manis Tristan akhir-akhir ini.


"Jess.." Panggil seseorang yang ternyata Fariz.


Jessica menoleh kearah sumber suara. "Lo disini juga Riz?"


Fariz mengangguk sambil menghampiri Jessica kemudian mereka jalan bersama.


"Lagi badmood gue." Lirih Fariz.


"Kenapa? masih aja ditolak sama Stevi?" Tanya Jessi.


"Ya mungkin Stevi masih kurang yakin sama gue. Gue emang kelihatan gak serius ya Jess orangnya?" Tanya Fariz seolah meminta pendapat.


"Lo itu, anaknya santai, gak pernah kelihatan mikir berat gitu." Jessi tertawa. "Tapi gue lihat lo ke Stevi serius banget, ada ketulusan dari diri lo buat Stevi."


Fariz menghela nafas. "Tapi sayang, Stevi gak lihat itu semua, dia masih ragu sama gue, padahal gue belum pernah seserius ini sama cewek."


Jessi tersenyum, "Jodoh gak kemana Riz, yang penting pembuktian aja dulu."


Fariz mengangguk. "Lo sama Tristan Gimana Jess?"


Jessica menggerdikan bahunya, "Entahlah, gue jalani aja kayak air mengalir Riz."


"Lo belum yakin sama Tristan ya Jess?"


Jessi mengangguk, "Masih aneh aja gue Riz."


"Lo tau Jess? gue malah lebih aneh lagi. Sebagai sahabat Tristan dan juga Ghea, gue tau banget mereka seperti apa dimasa lalu, kebersamaan mereka, keuwuan mereka sampe bikin gue baper-baper deh, sampai akhirnya mereka memutuskan berpisah baik-baik karna perbedaan mereka, lalu tau Ghea udah nikah, tau hancurnya Tristan seperti apa, sampai sekarang mereka tetap menjalin persahabatan bahkan menjadi saudara. Dan sekarang gue masih aneh aja, kalo lihat Ghea sama Pak Fadhil, dan lihat Tristan sedikit bucin sama lo, bener-bener aneh."


"Tristan dulu ke Ghea seperti apa Riz?" Tanya Jessica seolah ingin tau perlakuan Tristan ke Ghea, apa semanis seperti saat ini Tristan memperlakukan Jessi.


Fariz menghela nafas, "Tristan ke Ghea dulu cenderung lebih seperti yang ingin melindungi orang yang paling ia sayang."


"Tristan saksi dimana Ghea slalu tidak mendapat perlakuan adil dari orang tuanya, saksi dari segala kesedihan Ghea, Ghea lebih sering menghabiskan waktu dirumah Tristan daripada dirumahnya."


Jessica mengangguk, sedikit banyak dia sudah tau cerita tentang Ghea dimasa lalu termasuk pernikahannya dengan Fadhil.


"Jujur ya Jess, gue lihat perlakuan Tristan ke Ghea dulu sama sekarang ke lo tuh beda. Kalo dulu Tristan ke Ghea cenderung lebih ingin melindungi dan menjaga layaknya seorang kakak ke adiknya tapi ke lo dia tuh beda Jess, dia memperlakukan lo tuh istimewa, benar-benar seperti orang yang dia cintai."


"Benarkah?"


"Gue gak pernah lihat Tristan seserius itu Jess, gue yakin Tristan udah bener-bener move on dan dia serius sama lo."


"Semoga ya Riz, semoga Tuhan bisa memantapkan hati gue."


"Perasaan lo ke Tristan gimana sekarang Jess?"


"Gue suka sama dia, gue nyaman didekat dia, gue suka perlakuan manis dia ke gue, tapi gue masih harus terus dalami hati gue sendiri."


"Gue ngerti Jess, ah setidaknya Tristan bukan sad boy lagi." Fariz tertawa dan Jessi pun ikut tertawa.


"Balik ke hotel yuk Riz." Ajak Jessi.


"Ayo."


Mereka berjalan menuju hotel sambil bercerita, didepan hotel, Tristan sudah menunggunya.


"Dari mana? gak ngajak-ngajak." Ketus Tristan pada Fariz dan Jessi.


"Gak sengaja ketemu, gue lagi jalan sendiri eh lihat Jessi yang lagi jalan sendiri juga." Jawab Fariz santai.


"Angin malam bahaya Bee, kamu gak pake jacket juga."


"Ya elah Bang, gue bukan cewek menye-menye, udah biasa juga kali." Jawab Jessi santai.

__ADS_1


Dikamar lain, Ghea baru saja memejamkan matanya, dia kembali terbangun saat ada tangan kekar memijat lembut kakinya.


"By.. kamu ngapain?" Tanya Ghea.


"Mijitin kamu lah sayang, enak kan?" Tanya Fadhil lembut.


"Makasih By.. kamu slalu siaga buat aku, makin cinta deh aku tuh By."


"Udah kewajiban aku sayang, kamu sekarang sedang bersusah payah mengandung anak aku, udah seharusnya aku kasih kamu perhatian lebih dan lebih memanjakan kamu lagi."


Ghea tersenyum, dirinya merasa bersyukur dan bahagia mendapatkan perlakuan luar biasa dari Fadhil.


***


Pagi hari Jessi merasakan mual yang sangat menyiksa, bahkan ia sendiri muntah-muntah padahal perutnya belum sama sekali terisikan makanan apapun.


"Jess, lo gapapa?" Tanya Stevi sambil memijit tengkuk leher Jessi.


"Gapapa Stev, kayanya masuk angin karna semalam gue jalan-jalan ditepi pantai gak pake jacket. Lo ada minyak kayu putih gak?"


"Gak ada Jess, coba gue tanya Ghea ya, barangkali dia ada."


Stevi meninggalkan Jessi kemudian menuju kamar Ghea. Stevi menceritakan soal Jessi yang sedang muntah-muntah dan wajahnya pucat.


"Stev, biar Jessi gue yang urus, lo makan aja duluan kebawah pasti Fariz dan Tristan udah nungguin."


Stevi mengangguk, dan Ghea menuju kamar Jessi.


Terlihat Jessi sedang duduk sambil memijit pelipisnya.


"Jess.." Panggil Ghea..


"Ghe, sorry gue repotin lo."


"Gapapa Jess, sini gue bantu balur minyak kayu putih ke punggung lo."


"Ini minum Jess, ini obat anti mual untuk ibu hamil, udah gak gue minum lagi karna gue udah gak mual, untungnya gue bawa."


"Ghee, makasih banget ya." Lirih Jessi


"Sabar ya Jess, awal kehamilan memang seperti ini, harusnya Tristan tau ini Jess."


Jessi menggelengkan kepalanya. "Nanti Ghe, gue belum siap."


"Itu hak lo." Ghea tersenyum.


Tristan menyusul kekamar Jessi, tadi Stevi menceritakan soal Jessi yang sedang sakit dan ditemani oleh Ghea, Tristan langsung meninggalkan sarapannya dan bergegas kekamar Jessi.


"Bee.." Tristan masuk kekamar Jessi.


"Jessi baru aja tidur Tan." Ucap Ghea.


"Jessi gimana Ghe? pasti dia masuk angin karna semalam dia jalan-jalan ditepi pantai gak pake jacket."


"Udah mendingan Tan, lo jangan ngomelin Jessi, kasih dia perhatian ya Tan. Jessi sekarang butuh perhatian ekstra." Ghea berbicara seolah memberikan kode.


"Emang Jessi kenapa Ghe?"


"Ya namanya orang sakit Tan, butuh perhatian ekstra. Udah ah gue mau turun dulu, lo jagain Jessi ya, nanti gue suruh orang kesini antar makanan untuk Jessi." Kesal Ghea karna Tristan tidak peka terhadap kodenya.


"Okey Ghe, thanks ya."


"Santai Tan, gue turun dulu ya, inget jaga Jessi, jangan lo apa-apain anak orang Tan."


"Iya bu bos, bawel amat sih. Makin gemes jadinya." Ledek Tristan.


Tristan memandang wajah pucat Jessi, sesekali dia mengusap keringat yang keluar dari wajah Jessi.

__ADS_1


Setelah satu jam, Jessi akhirnya terbangun, dia melihat Tristan yang sedang asik memainkan ponselnya.


"Bang, koq kamu disini?" Tanya Jessi.


Tristan menoleh kearah Jessi kemudian menaruh ponselnya diatas nakas.


"Kamu dah enakan Bee? sakit koq gak ngasih tau aku? hem?" Tanyanya lembut.


"Cuma masuk angin aja Bang."


Pletakkk..


Tristan menyentil kening Jessi.


"Awww." pekik Jessi.


"Kenapa sih Bang?" Tanya Jessi sambil mengusap keningnya.


"Ini karna kamu semalam keluar dan gak pake jacket, jadi masuk angin kan?"


"Andai kamu tau Bang, kalo aku sedang mual karna mengandung anakmu." Batin Jessi.


"Kenapa diam? hem?" Tanya Tristan kembali.


Jessi menggelengkan kepalanya, "Gapapa Bang, ini juga udah enakan."


"Makan ya, aku suapin, tadi Stevi anter bubur kesini." Tristan mengambil mangkuk diatas meja rias yang tadi Stevi antarkan.


"Bang, aku gak mau bubur, aku mau nasi kuning."


Tristan mengernyitkan dahinya, "Hah, nasi kuning? dimana nyarinya Bee."


"Tapi aku ingin sekali makan nasi kuning." Lirih Jessi kemudian menggigit bibir bawahnya.


Tristan mengusap bibir bawah Jessi dan mengecupnya sekilas. "Jangan suka digigit bibirnya, biar nanti aku aja yang gigit."


Bughhh..


"Ishh Abang apaan sih." Jessi meninju dada Tristan dan membuat Tristan tertawa.


"Makan dulu buburnya ya, biar perutnya keisi. Nanti kita keluar cari nasi kuning, atau minta chef restoran buatin nasi kuning."


"Aku maunya nasi kuning yang mangkal digerobakan Bang."


"Bee, disini gak mungkin ada, besok kita pulang kita cari ya. Sekarang please makan dulu."


Tristan menyuapi Jessi sedikit demi sedikit, hingga isi mangkok itu habis setengahnya.


"Istri Abang pinter banget." Tristan kembali mengecup sekilas bibir Jessi.


"Masih calon Bang, belum Istri." Ucap Jessi.


"Tinggal 15% lagi Bee buat sah in kamu jadi istri aku, tinggal nunggu kamu siap aja untuk aku ajak mengikat janji digereja."


Jessi tersenyum. "Aku masih nyaman begini Bang."


"Iya Bee, aku akan slalu nunggu kamu, begini juga gapapa asal kamu jangan ninggalin aku."


.


.


.


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....

__ADS_1


__ADS_2