TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
S2-TAKDIR CINTA (Chelsea&Zayn) 04


__ADS_3

"Jadi Mama Ghea tau, Dav?" Tanya Aldrich tak percaya.


"Tiba-tiba aja Mama tanya soal Checi yang menyukai Kak Zayn. Aku bisa apa, Al?"


Aldrich menghembuskan nafaskan kasar. "Aku mau tidak perduli, tapi gak bisa."


"Sama, aku juga gitu." Keluh Davan.


"Jadi?" Tanya Aldrich.


Davan mengerdikan bahunya. "Entahlah, aku berharap Checi lupa pada perasaanya. Aku harap di SMA nanti akan ada pria yang satu keyakinan dengan Checi dan menyukai Checi."


***


Chelsea tengah berada diteras rumah Ghea, ia menunggu Davan dan Aldrich yang akan pulang dari masjid karna menunaikan sholat jumat.


"Kenapa Pria-pria yang pulang dari sholat jumat itu mendadak jadi tampan?" Gumam Chelsea sambil memperhatikan beberapa orang yang lewat rumah Ghea sehabis dari masjid.


"Karna, diantara balasan yang Allah berikan bagi orang yang melakukan ketaatan, Allah jadikan dia semakin baik. Tidak hanya baik bathinnya, termasuk juga semakin baik fisiknya. Sehingga orang yang taat, akan ditambah kesempurnaan lahir batinnya." Jawab Ghea yang mendengar gumaman Chelsea dan seketika membuat Chelsea menoleh kearah Ghea.


Ghea duduk disamping Chelsea dan memegang bahunya seraya merangkulnya, "Kebaikan itu menyebabkan wajah semakin cerah, cahaya di hati, keluasan rizki, kekuatan fisik, dan kecintaan di hati para hamba." Jelas Ghea lagi.


Chelsea mengangguk tanda paham.


"Chelsea dari tadi disini? kenapa gak langsung masuk nemuin Mama? Dan kenapa jam segini sudah pulang?" Tanya Ghea lembut.


"Maaf, Ma.. Chelsea mau nunggu Davan dan Aldrich biar masuk sama-sama. Tadi disekolah, gurunya rapat, jadi boleh pulang duluan Ma." Jawab Chelsea.


Ghea tersenyum, "Ya sudah, nanti kalau Davan dan Aldrich sudah pulang, kamu ikut masuk sekalian makan siang ya."


Chelsea pun membalas senyuman Ghea, "Terimakasih, Ma."


***


Sesudah makan siang bersama, Davan dan Aldrich membawa Chelsea untuk duduk dihalaman belakang.


"Jadi minggu ini Kak Zayn akan berangkat menemani Papa Fadhil untuk seminar di Harvard?" Tanya Chelsea.


Davan mengangguk, "Mereka pergi sekitar dua minggu."


Chelsea hanya mendessahh pasrah.


"Ci.. Lebih baik kamu lupakan Kak Zayn." Ucap Aldrich.


"Kalo aku bisa, aku sudah melupakan Kak Zayn, Al."


"Mungkin perasaanmu hanya sebatas rasa kagum, Ci." Sahut Davan.


Chelsea mengerdikan bahunya, "Entahlah Dav. Mungkin dengan jauhnya Kak Zayn, bisa membuatku melupakan Kak Zayn."


Davan dan Aldrich menatap heran pada Chelse, pasalnya ini pertama kali mereka mendengar Chelsea yang sepertinya akan menyerah.


"Kalian disini?" Suara Zayn membuat Chelsea langsung menoleh kearahnya seketika.


"Hai Sea.." Sapa Zayn.


Chelsea hanya tersenyum tipis, lalu ia berdiri "Aku pulang dulu ya Dav, Al." Ucap Chelsea.


"Lho, mau kemana Sea? Kakak baru sampai koq kamu pulang."


"Emang udah dari tadi mau pulang koq Kak." Jawab Chelsea mencoba bersikap sebiasa mungkin.


"Yuk Kakak antar kedepan." Ucap Zayn dan Chelsea tidak bisa menolaknya.


"Sea.." Panggil Zayn saat Chelsea berjalan mendekati gerbang rumah.


"Iya Kak." Chelsea kini berbalik badan menghadap Zayn.

__ADS_1


Zayn tersenyum, "Mau dibawain oleh oleh apa?"


Chelsea membalas senyum Zayn, "Tidak perlu, Kak, terimakasih." Chelsea membalikan tubuhnya kembali namun Zayn menahannya.


"Apa?" Tanya Chelsea pelan.


"Kakak ada salah sama kamu? Udah satu minggu ini kamu seperti menghindar dari Kakak."


"Engga Kak, itu hanya perasaan Kakak, lagi pula, kita memang tidak terlalu dekat kan?"


Zayn mengangguk, "Hati-hati nyebrangnya."


Keesokan harinya, Zayn bersama Damian duduk dan menonton televisi bersama, hingga suara Chelsea yang terdengar ceria memasuki rumah Ghea.


"Davannn, Davv, Davaaannn." Panggil Chelsea, "Ups.. Sory Kak Zayn, Kak Dami, Aku kira tidak ada kalian."


Damian tertawa, "Kamu ini lucu Chel." Ucapnya yang membuat Zayn juga ikut tersenyum.


Chelsea hanya tersenyum kikuk.


"Davan dan Aldrich sedang ke mini market depan, duduk sini Sea." Ajak Zayn.


Chelsea duduk dengan ragu, mata Zayn tertuju pada tas kotak yang sedari tadi Chelsea tenteng.


"Kamu bawa Laptop, mau belajar? ini kan sabtu Chel."


Chelsea menggelengkan kepalanya, "Bukan belajar Kak, aku mau minta Davan lihat laptop aku, soalnya sering lemot dan kadang ngehank."


"Coba sini Kakak lihat." Sahut Dami.


Damian menyalakan laptop Chelsea namun memang agak lama. "Lemot nih Zayn." Ucap Dami seraya memperlihatkan layar laptop Chelsea.


Zayn menekan keyboard dilaptop itu, "Ada virusnya." Mata Zayn masih fokus menatap layar laptop, "Taruh sini aja laptopnya, biar malam ini kakak benerin dulu, besok pagi bisa kamu ambil Sea."


"Bukannya besok Kakak mau ke Amrik?" Tanya Chelsea.


Malam harinya, Zayn tidak bisa tidur, ia memilih melihat laptop milik Chelsea, setelah membantu membersihkan virus dan menginstal anti virus dilaptop milik Chelsea, Zayn dengan penasaran membuka isi laptop itu.


"Penasaran, anak lima belas tahun isi laptopnya apa aja." Gumam Zayn.


Zayn melihat koleksi film Chelsea yang ternyata kumpulan film dari negri korea. Lalu Zayn membuka folder fotonya, banyak foto Chelsea bersama keluarga juga teman-temannya, namun lebih banyak foto Chelsea bersama Davan dan Aldrich, tidak sedikit juga foto foto selfie milik Chelsea.


Zayn terus menscroll kebawah, ia terpana saat melihat selembar kain menutupi kepala Chelsea menyerupai hijab,, "Chelsea berhijab? Semoga Chelsea mendapatkan hidayah." Doa dalam gumaman Zayn yang bertepatan dengan turunnya hujan dimalam itu.


Zayn melihat folder bertuliskan My secret love, Ia ragu membukanya, namun rasa penasaran mengalahkan keraguannya.


Betapa terkejutnya Zayn saat membuka folder tersebut dan berisikan beberapa foto milik Zayn yang sudah Chelsea crop, Zayn memang tidak suka berfoto sendiri, ia lebih suka berfoto bersama teman-temannya.


Zayn juga melihat foto dirinya yang diambil secara candid.


"Bukankah perbedaan itu ada untuk disatukan?" Tulisan Chelsea.


"Chelsea menyukaiku?" Tanya Zayn dalam hatinya.


***


Selepas subuh, Zayn masuk kedalam kamar Davan, Davan dan Aldrich baru saja menyelesaikan sholat subuhnya.


"Titip laptop Chelsea." Ucap Zayn sambil menyerahkan laptop milik Chelsea.


"Nanti juga Chelsea kesini Kak."


"Kakak berangkat pagi, mau kerumah Oma dulu."


Davan hanya menganggukan kepalanya dan menerima laptop milik Chelsea lalu menaruhnya diatas meja.


Zayn duduk dimeja bar dapur sambil meminum coklat hangatnya. Tepukan dibahunya menyadarkannya dari lamunan.

__ADS_1


"Kenapa, Zayn?" Tanya Fadhil yang masih memakai baju koko lengkap dengan peci nya.


"Eh Papa."


"Bengung mikirin apa?" Tanya Fadhil lagi.


"Zayn gak lagi bungung kok Pa.." Jawab Zayn.


"Ayolah Son, Papa mengenalmu. Ada apa?"


Zayn menghela nafas, "Pa.. pernahkah Papa disukai wanita lebih dulu?" Tanya Zayn.


"Sering." Sahut Ghea yang kini duduk dihadapan Zayn.


"Sayang, kamu apaan sih." Fadhil merasa keberatan dengan jawaban Ghea.


Ghea tertawa, "Ya ampun By, aku kan belum selesai bicara." Lalu Ghea menatap wajah Zayn, "Sebagai dosen, Papa sering disukai oleh mahasiswanya, namun Papa bersifat prefesional."


Fadhil akhirnya tersenyum mendengar jawaban Ghea. Lalu melirik Zayn yang duduk disebelahnya. "Ada apa Zayn? apa kamu sedang didekati oleh wanita?"


Zayn tampak ragu untuk berbicara, namun Zayn adalah anak yang terbuka terhadap orang tuanya, Fadhil dan Ghea slalu mengajarkan kejujuran dan keterbukaan sesama keluarganya.


Zayn menghela nafas, "Chelsea anaknya Papa Titan menyukai Zayn, Pa, Ma." Ucap Zayn jujur.


Ghea dan Fadhil selaing berpandangan lalu Ghea menatap Zayn. "Kamu tau dari mana?"


"Zayn melihat foto-foto Zayn di laptop Chelsea dan folder itu bertuliskan My secret love." Jawab Zayn.


"Lalu bagaimana tanggapanmu?" Tanya Fadhil.


"Ini salah Pa, tapi perasaan seseorang tidak bisa disalahkan." Jawab Zayn.


Ghea hanya menyimak percakapan Zayn dengan Fadhil.


"Ya kamu benar, tidak ada perasaan yang salah Tapi ini memang salah karna kalian berbeda keyakinan."


Zayn mengangguk,


"Boleh Mama tau, seperti apa wanita yang kamu suka?" Tanya Ghea.


Zayn tertawa, "Zayn belum mikir kesana, Ma. Zayn ingin fokus kejar pendidikan Zayn dulu, soal kriteria maupun jodoh, Allah tau yang terbaik untuk Zayn."


Ghea menggenggam tangan Zayn, "Mama percaya sama Zayn."


Pagi hari, Zayn dan Fadhil berangkat kerumah Miranti terlebih dahulu, Ghea dan Davan tidak ikut mengantar karna Ghea.merasa kurang enak badan.


Davan menyerahkan laptop Chelsea dan Chelsea merasa heran karna dirumah Davan menjadi sepi.


"Kak Zayn sama Papa udah jalan dari pagi, kerumah Oma dulu." Ucap Davan yang mengerti apa isi kepala Chelsea.


Chelsea hanya mengangguk ia memutuskan pulang karna harus berangkat ibadah bersama keluarganya.


Pulang dari ibadah, Chelsea membuka laptopnya, ia ingin memeriksa laptop yang sudah Zayn betulkan.


Chelsea mengusap tombol tombol keyboard seolah menyapu jejak jari milik Zayn.


"Ternyata laptopku udah gak lemot lagi." Gumam Chelsea. Lalu Chelsea membuka folder My secret love, ingin melihat foto Zayn untuk mengobati kerinduannya, namun ia terkejut saat melihat tidak ada satupun foto Zayn yang tersisa di folder itu.


"Kemana foto Kak Zayn." Chelsea sangat panik, ia membuka folder lain dan foto-foto itu masih ada, hanya foto Zayn yang tidak ada.


"Apa Kak Zayn tau lalu menghapusnya?" Chelsea menghela nafas. "Oh Tuhan, pasti Kak Zayn tau dan marah padaku." Chelsea langsung merebahkan dirinya ditempat tidur dan menutup wajahnya dengan bantal, menangis dalam diam, mengeluarkan sesak dihatinya.


.


.


Masih ada yang menanti kelanjutan nya gak ya? Sumpah deh, Othor kangen sapaan kalian..

__ADS_1


😘😘😘


__ADS_2