TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
MEMBICARAKAN KETURUNAN


__ADS_3

Alarm ponsel diponsel Erick berdering, Erick meraihnya dan mematikannya, terlihat waktu masih menunjukan pukul empat dini hari.


Erick kembali menaruh ponselnya dinakas, kemudian dirinya beralih menatap sang istri yang belum genap dua puluh empat jam ia nikahi, tubuh Diana masih polos dan hanya berbalut selimut tebal.


Tangan Erick terulur untuk mengelus pipi istrinya, merapikan anak rambut ke belakang telinganya yang sedikit menutupi wajahnya.


"Kamu cantik Di.." Gumam Erick.


Samar-samar terdengar oleh Diana yang kemudian perlahan mengerjapkan matanya.


"Mas Erick..." Panggil Diana pelan.


Erick merapatkan kembali tubuhnya, mencium kening Diana, "Selamat pagi istriku."


Wajah Diana merona merah, ia menutup wajahnya dengan menarik selimut tebalnya.


Diana mengingat kembali kejadian panas semalam, tidak ia pungkiri, Diana sangat menikmati sentuhan Erick.


"Hei.." Erick menarik turun selimut yang menutupi wajah diana.


"Ini udah masuk subuh, mandi, kita sholat subuh berjamaah." Ucap Erick.


Diana mengangguk. "Tolong ambilkan handuk atau bath trub mas."


"Untuk apa?" tanya Erick menggoda.


"Tubuhku masih polos, aku malu."


Erick tertawa, "Semalaman aku sudah lihat seluruh tubuhmu Di, apa kau masih malu terhadap suamimu ini?"


Wajah Diana bersemu merah.


"Sudah jangan banyak mikir, nanti waktu subuhnya habis." Erick menyingkap selimut dan memperlihatkan tubuh mereka yang masih sama-sama polos, dengan gerakan cepat Erick menggendong Diana ala bridal menuju kamar mandi.


Erick mendudukan Diana dimeja marmer dekat wastafel, sementara ia menyiapkan air hangat didalam bath tub.


"Yuk mandi.." Ajak Erick..


Diana menggigit bibir bawahnya.


"Kenapa?" Tanya Erick.


"Kenapa senjatamu masih bangun Mas?" Tanya Diana mengarah kearah pusaka milik Erick.


Erick melihat kearah pusakanya. "Karna kalo pagi dia sedang turn on turn on nya. Apa kamu takut? aku tidak akan memakanmu lagi, aku tidak ingin membuatmu lelah." Ucap Erick.


Diana menggelengkan kepalanya. "Tapi aku masih mau merasakannya Mas.." Ucap Diana malu.


Erick tersenyum penuh kemenangan, "Kita akan melakukan dengan singkat disini."


Erick meraih tengkuk Diana, menciumnya dengan lembut, tidak menyangka didalam hatinya bahwa Diana akan memintanya duluan.


(Apa Mama Diana sudah ketagihan? Entahlah, Hanya Mama Diana yang tau.) 🤭


"Ahh Mas.." Des*h Diana disela-sela penyatuannya.


Erick masih saja terheran-heran, milik Diana masih sangat sempit sekali, padahal semalam dia menggempurnya berkali-kali.


"Sayang, aku selesesaikan lebih cepat ya, kita harus menunaikan kewajiban dulu." Ucap Erick setelah dirasa Diana mendapatkan pelepasannya.


"I.. iya Mas.. Ahh."

__ADS_1


Erick menuntaskan permainannya, ia kembali menciumi wajah Diana dan mengatakan bahwa ia sangat mencintai Diana.


Selesai membersihkan diri bersama, Erick menjadi imam didalam sholatnya. Terakhir dia menjadi Imam didalam sholatnya hanya dulu saat bersama Sofia.


Saat dengan Vika, Erick lebih memilih sholat sendiri didalam kamarnya. Dan kini Erick kembali menjadi imam untuk istri tercintanya kembali, Diana.


Diana mencium punggung tangan Erick drngan takzim, dan Erick mengecup kening Diana saat mereka selesai menunaikan ibadah subuh mereka.


"Mas.. " panggil Diana saat melipat mukenanya.


"Hem?" Tanya Erick yang juga membuka baju kokonya dan hanya mengenakan kaos oblong berwarna putih.


"Apa aku masih bisa hamil? bagaimana jika nanti aku hamil? periodeku masih berjalan dengan teratur." Lirih Diana.


Erick terkesiap mendengar penyataan dari Diana, sungguh ia tidak memikirkan hal ini.


"Apa kau ingin seorang anak diusiamu sekarang?" Tanya Erick.


Erick tidak ingin egois, meski ia mungkin akan merasa malu jika harus mempunyai anak diusianya yang tidak lagi muda, terlebih Erick sudah mempunyai dua orang cucu bahkan hampir tiga cucu, namun Erick juga memikirkan perasaan Diana.


"Aku gak tau Mas, aku malah ingin bertanya apa Mas menginginkan anak dariku?"


Erick membawa Diana duduk dibalkon hotel, melihat matahari yang sedikit demi sedikit menampakan wujudnya dengan sinar hangatnya. Diana berinisiatif membuatkan kopi untuk Erick dan membuat teh untuk dirinya sendiri.


"Kopi Mas." Ucap Diana sambil memberikan satu cangkir kopi.


"Trimakasih Di.."


"Di.. jika kita masih dipercaya untuk mempunyai keturunan maka aku akan menerimanya. Tapi jika aku bisa memilih, aku rasa diumur kita sekarang aku hanya menginginkan menua bersamamu saja, berkumpul bersama anak-anak dan menantu kita juga bermain dengan cucu-cucu kita." Erick berbicara dengan sangat hati-hati.


"Aku mengerti Mas, aku juga sempat berfikir begitu, malah aku berfikir jika mas Erick masih menginginkan seorang anak."


"Kita serahkan semua kepada yang maha kuasa ya Di.. Kita bisa berencana namun Allah yang menentukan, Allah tau yang terbaik untuk kita."


***


Tristan bersiap menjemput Jessi untuk berangkat ibadah minggu bersama.


"Tristan.." Panggil Daniel saat Tristan melewati meja makan.


"Iya Pa.." Tristan menghampiri Daniel dan duduk bersama.


"Bulan depan kita akan ke Semarang, kita akan berkunjung kerumah Jessi."


"Oh pas liburan semester ya Pa? tumben pilih liburan ke semarang?"


"Papa sama Papa Jody akan membicarakan soal pernikahanmu dan Jessi, dan menentukan waktu pernikahannya."


Uhukk.. uhukkk..


Tristan tersedak saat meminum teh nya.


"Papa serius?"


"Dua rius malahan. Kamu masih mau menikah muda dengan Jessi kan?" Tanya Daniel menggoda.


"Ya mau lah Pa.. mau banget malahan."


"Udah ngebet Tan?" sahut Monica.


"Emang Mama gak mau punya cucu?" Tanya Tristan santai.

__ADS_1


"Mau lah Tan, cucu perempuan ya.." Ucap Monica yang begitu mendambakan cucu perempuan.


"Jangan perempuan Tan, nanti sejarah terulang lagi."


"Hah, maksud Papa?"


"Anak Ghea laki-laki, kalau nanti anak kamu perempuan terus mereka dekat bagaimana? bisa terulang lagi deh cinta beda agama." Daniel tertawa mengingat kejadian masa lalu anak bungsunya itu.


Monica pun ikut tertawa, Monica adalah saksi betapa dulu Tristan sangat mencintai dan menjaga Ghea.


"Ishh Papa.." Tristan mendengus kesal karna sang Papa mengingatkannya akan hatinya dulu kepada Ghea.


"Bagaimana perasaanmu sekarang terhadap Ghea Tan? jujurlah pada Papa dan Mama."


Tristan dengan santai memakan sisa rotinya. "Sayang, Tristan sayang sama Ghea Pa. Sayang Tristan ke Ghea yang hanya sebatas ke adik atau saudara perempuan Tristan. Tidak ada rasa lagi ingin memiliki atau mengejar Ghea kembali. Tapi kalo Papa tanya perasaan Tristan ke Jessi, Tristan mencintai Jessi, Tristan ingin memiliki Jessi, menjaga dan melindunginya, menjadikan Jessi pasangan hingga teman menua bersama, seperti Papa dan mama." Jawabnya yakin.


Daniel dan Monica mengangguk paham.


Tristan mengeluarkan mobilnya dari garasi rumahnya, terlihat disebrang sana Fadhil sedang menggendong Zayn dan Ghea menyuapi Zayn makan. Mereka terlihat sangat bahagia dan kompak, seketika bibir Tristan menyunggingkan senyum,


"Gue seneng Ghe, lo bahagia bersama orang yang tepat." Gumamnya sambil tersenyum.


Tristan memberi bunyi klakson pada Fadhil dan Ghea, tanda menyapanya.


Fadhil dan Ghea melambaikan tangannya tanda menjawab sapaan Tristan.


"Tristan pergi Ibadah ya Ghe?" tanya Fadhil.


"Iya By, ini kan Minggu." Jawab Ghea.


Dulu Ghea sering melihat keluarga Tristan berangkat ibadah bersama dari balkon kamarnya, ada perasaan sakit karna dulu mereka saling mencintai namun terhalang benteng tinggi karna beda agama. Tapi kini perasaan itu tidak lagi ada, Ghea ikhlas melepas masa lalunya, melupakan cinta pertamanya dan kini membina rumah tangga menuju surgaNya bersama Fadhil dan Zayn.


"Papa, tuyun." ucap Zayn yang baru saja menghabiskan satu mangkuk buburnya dan meminta turun dari gendongan Fadhil


"Mau main bola?" tanya Fadhil.


"Iya Papa."


"Dami.." Zayn menunjuk kedalam rumah bermaksud mengajak Damian bermain bersama.


"Dami tidak ada disini, Dami pulang kerumahnya, Zayn main bola sama Papa aja ya." Bujuk Fadhil.


"Beyenang Pa.."


"Zayn mau berenang, baiklah, mari kita berenang." Fadhil menggendong Zayn menuju halaman belakang untuk menemaninya berenang."


Ghea tersenyum melihat pemandangan itu, ia tak menyangka akan menikah dengan pria yang dulu ia panggil Om, pria yang kemudian menjadi dosen dikampusnya dan memanggilnya dengan sebutan Bapak, Dosen yang cukup galak dan sempat mengusir Ghea dari kelas, pria yang sempat menjadi tunangan dari Yasmin wanita yang ia kira kakaknya sendiri.


"Ahh.. Takdir memang rahasia ilahi." Gumam Ghea tersenyum kemudian menyusul Fadhil dan Zayn ke halaman belakang.


.


.


.


Masih punya Jatah Vote? bolehlah kasih Author 🤭


Besok Author kasih yg Hot lagi dari Ayah Erick dan Mama Diana kalo Vote nya naik 😉


.

__ADS_1


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2