TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
MENYELAMATKAN GHEA


__ADS_3

"Stop!! ada apa ini?" Tanya Bryan pada kedua security.


"Kak Bry.."


Bryan sedang berada dihotel milik keluarganya itu, dia baru saja selesai meeting dengan klien yang akan bekerjasama untuk pembangunan resort selanjutnya.


"Ada apa ini?" Tanya Bryan mendekat pada Security yang menyeret Tristan.


"Kak Bry, Ghea dalam bahaya. Ghea dibawa Kak Yasmin secara paksa."


"Lepaskan dia, dia ini tamu saya." Titah Bryan pada Kedua security.


"Maafkan kami pak." Ucap kedua security.


Lalu Bryan mengibaskan tangannya menyuruh security kembali ketempatnya.


"Maksud kamu apa Tristan?" Tanya Bryan.


Tristan menceritakan kepada Bryan soal Yasmin yang akhir-akhir ini kerap mencari Ghea kekampus. Tristan juga menceritan soal Yasmin yang membawa paksa Ghea tadi dihalaman Kampus.


"Kamu yakin Ghea dibawa kesini?"


Tristan mengangguk, "Stevi teman Ghea yang tadi bersama Ghea bilang, kak Yasmin bawa Ghea kesini, tapi resepsionist gak mau kasih tau kamarnya dimana kak."


"Ayo ikut Kakak." Ajak Bryan.


Resepsionist mau tak mau memberi info dan kunci akses kamar yang ditempati oleh Yasmin pada Bryan.


Bryan, Tristan dan Jessi langsung menuju kamar yang dimaksud.


Blip..


Pintu kamar terbuka setelah menempelkan kartu akses masuk kekamar itu.


"Tolooong.. Jangann... Kak Yasminn tolong aku." Suara Ghea lirih dan penuh permohonan dalam ketakutan.


Tristan segera masuk dan begitu terkejut ketika melihat Ghea tengah dipaksa bercumbu oleh seorang pria.


Tristan menarik pundak pria itu yang ternyata Arnold.


Yasmin terkejut saat melihat Tristan dan Bryan, dia langsung lari keluar kamar dan dikejar oleh Bryan.


Plakk,


satu tamparan mendarat dipipi mulus Yasmin, Bryan dengan murka menampar dan menyeret Yasmin untuk memberinya pelajaran.


Bugh.. Bughh.. Bughh...


Tristan memukuli Arnold dengan brutal.


Sementara Jessi menolong Ghea yang sudah tampak kacau dan acak-acakan.


Jessi meraih kerudung Ghea yang terlepas dari kepalanya, dengan lembut Jessi memasangkannya kembali walau tidak sempurna.


"Kamu sekarang aman, tenang ya." Ucap Jessi pada Ghea.

__ADS_1


Terlihat pipi Ghea yang merah seperti bekas tamparan dengan sudut bibir sedikit robek dan berdarah, pergelangan tangan yang memerah seperti bekas cengkraman.


Setelah puas menghajar Arnold, dan terlihat Arnold sudah tidak berdaya, Tristan mendekati Ghea.


"Ghe..." Lirih Tristan.


"Titann.. Ghea takut...."


Tristan dengan penuh kasih sayang memeluk Ghea. "Ada Titan Ghe, semua akan baik-baik aja, tenang ya." Ucapnya lembut.


Tristan memapah Ghea keluar dari kamar hotel tersebut dan diikuti oleh Jessica.


Didepan Lobby hotel, Fariz baru saja sampai, Tristan langsung membawa masuk Ghea kedalam mobilnya.


Tristan menghadap Jessica, "Jess, lo bisa temenin Ghea, gue mau bawa mobil."


Jessica mengangguk,


Kemudian Tristan berbicara pada Fariz, "Riz lo bawa motor Jessi kerumah sakit, kita ketemu disana."


"Kenapa gak lo aja yang dampingin Ghea, gue bisa nyetirin lo lagi."


"Lo lupa Riz? Ghea udah bersuami, gak mungkin gue pelukin dia sepanjang perjalanan kerumah sakit, gue tau batasan Riz."


Fariz menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu. "Gue ngerti Tan. Gue lupa, sorry."


Jessica menyerahkan kunci motornya pada Fariz.


Tristan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang, sementara Jessica memeluk Ghea yang terlihat cukup shock.


Tristan pun memperhatikan sisi lain dari Jessica, cewek tomboy itu ternyata bisa bersikap lembut.


Tiba dirumah sakit, Bryan pun menyusul setelah mengurung Yasmin ditempat rahasia, Arnold pun dibereskan oleh anak buah Bryan. Saat ini Bryan ingin melihat kondisi adiknya, ia pun memberi kabar pada Erick sang Ayah, Erick yang tengah berada diluar kota untuk urusan bisnis pun langsung memutuskan pulang melihat Ghea, Ia sungguh merasa geram akan kelakuan Yasmin.


Ghea kini tengah diperiksa oleh dokter, Tristan dengan setia menunggunya, tatapan matanya tidak berhenti menatap pintu ruangan Instalasi gawat darurat itu. Diam-diam Jessi memperhatikan Tristan.


Fariz datang membawa beberapa botol air mineral, ia membagikannya pada Bryan, Jessi dan juga Tristan.


"Duduk Tan." Ajak Fariz.


"Gue disini aja Riz, nunggu Ghea." jawabnya lirih dan sedikit bergetar.


Fariz kemudian duduk disebelah Jessi.


"Riz, cewek itu pacarnya Tristan ya?" Tanya Jessi sedikit berbisik.


"Keluar yuk Jess, cari angin." Ajak Fariz sambil berdiri yang diikuti oleh Jessica.


Fariz mengajak Jessi duduk diluar rumah sakit.


"Mereka itu dulunya kasih tak sampai Jess."


"Maksud lo?" Tanya Jessica heran.


"Dari kecil mereka bersama, ada tiga belas apa lima belas tahun mereka bersama, sekolah sama-sama, dan saling mencintai juga. Tapi mereka terhalang benteng tinggi, mereka beda agama. Seperti yang lo lihat, Ghea seorang muslim dan Tristan non muslim. Mereka tidak berpacaran, tapi semua melihat mereka seperti orang berpacaran, Tristan sangat mencintai Ghea dan begitu pula sebaliknya."

__ADS_1


"Terus.." Tanya Jessi semakin penasaran.


"Lama kelamaan Tristan dan Ghea saling menyadari kekeliruannya, mereka berpisah baik-baik. Tristan memutuskan untuk kuliah di Amrik dan tinggal jauh dari Ghea karna rumah mereka bersebrangan. Ghea pun menerimanya karna ini adalah jalan terbaik untuk keduanya."


"Tapi Tristan mahasiswa di kampus kita juga kan Riz?" Tanya Jessi semakin penasaran.


"Tristan pindahan dari Amrik Jess.. Cerita tadi belum selesai." Fariz menghela nafas kemudian mulai bercerita kembali.


"Sewaktu Tristan di Amrik, Ghea kuliah disini, waktu itu kakaknya Ghea mau nikah, namanya Kak Yasmin, cewek tadi yang ditampar Kak Bryan, tapi Kak Yasmin kabur sama cowok lain. Nah pihak keluarga pengantin cowoknya gak mau nanggung malu, akhirnya minta pengantin pengganti, lalu Ghea dikorbankan oleh keluarganya untuk menggantikan Kak Yasmin. Dan lo tau siapa suami Ghea?" Tanya Fariz.


Jessi menggelengkan kepalanya.


"Lo tau dosen fakultas ekonomi dan bisnis yang namanya Pak Fadhil Salman?"


Jessi mengangguk,


"Dia suami Ghea." Ucap Fariz.


Jessica semakin terkejut. "Jadi dulunya pak Fadhil itu pacar kakaknya Ghea?"


Fariz mengangguk "Tepat."


"Lalu Tristan?"


"Waktu Ghea nikah, Tristan gak tau, gue juga gak tau, Ghea rahasiain semua ini sampai suatu waktu Tristan pulang dan mau mengejar Ghea, mau mengajak Ghea menikah diluar Negri, pernikahan yang bisa beda agama, tapi kenyataanya Ghea sudah menikah dan ternyata Ghea bahagia dengan suaminya. Pernikahan Ghea dan Pak Fadhil benar adanya, mereka benar-benar menjalani rumah tangganya."


Jessica hanya diam mencerna setiap cerita Fariz.


"Jadi bener ya, Tristan itu sad boy?"


Fariz mengangguk, "Dia tetap ingin melindungi Ghea menganggap Ghea sebagai sahabat atau saudaranya, karna keluarga Tristan pun sangat menyayangi Ghea.


"Sumpahh.. miris banget takdir cinta mereka Riz."


"Ghea itu lemah Jess, dia menderita trauma psikologis karna keluarganya dulu tidak pernah menganggapnya. Keluarga Tristan satu-satunya jadi tempat berlindung Ghea."


"Tapi Ghea beruntung menikah sama Pak Fadhil, yang gue tau dosen itu walaupun killer, dingin, tapi begitu baik Riz."


"Iya Jess.. Sory ya lo jadi tau semuanya. Gue harap setelah ini lo bisa berteman baik sama Gue, Tristan, Ghea, dan juga Stevi."


"Stevi yang suka bareng sama lo ya?" Tanya Jessica iseng.


Fariz tersenyum, "Calon pacar, walaupun gak tau kapan jadi pacar gue." Fariz tertawa.


"Kita masuk lagi yuk Riz, kita lihat Ghea." Ajak Jessi.


Fariz mengangguk kemudian berdiri dan melangkah bersama Ghea masuk kembali kedalam rumah sakit.


.


.


.


.

__ADS_1


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2