
"Jadi kamu ingin menikahi Jessi secepatnya? tidak menunggu untuk menyelesaikan kuliah?" Tanya Daniel serius kepada Tristan putra bungsunya.
"Iya Pa.. Tristan ingin menikahi Jessi."
"Apa Jessi sudah setuju?"
"Tristan sudah membicarakan ini dengan Jessi Pa, Jessi setuju."
"Tristan, Papa ingin tau apa pandangan mu tentang menikah?"
Tristan terdiam dan menunduk.
"Jawab Papa Tristan!!"
"Dua orang saling mencintai disatukan oleh tuhan dalam sebuah ikatan pernikahan." Jawab Tristan.
"Kau hanya memikirkan cinta? tidakkah kau berfikir kehidupan setelah pemberkatan nanti?"
Tristan merasa bingung dengan pertanyaan Daniel, Papa nya itu adalah seorang pengacara ternama, tentunya mempunyai pertanyaan-pertanyaan yang cukup menjebak.
"Pa.. lalu untuk apa Papa menjodohkan Tristan dengan Jessi?" Tristan mulai kesal dengan segala pertanyaan dari Daniel.
"Tristan, apa kau pernah berfikir, jika kau menikahi Jessi sekarang, bagaimana kehidupanmu setelah menikah? Okey Papa akui kau sudah bisa menghasilkan uang sendiri, tapi bagaimana dengan tanggung jawabmu? apa kau sudah siap? bagaimana jika setelah menikah, Jessi hamil dan kalian masih kuliah? apa kalian memikirkan hal itu? kalian siap meninggalkan kesenangan bermain-main untuk membina rumah tangga?"
Tristan terdiam. "Ghea aja bisa Pa jalani kuliah dan rumah tangganya."
Daniel mengusap wajahnya dengan kasar. "Apa kau menikah karna ingin menunjukan pada Ghea bahwa kau sudah benar-benar melupakannya?"
"Tidak Pa.. Tristan hanya memberi contoh. Bahwa Ghea aja bisa, Jessi juga pasti bisa Pa.."
"Suami Ghea jauh lebih tua, suaminya jauh lebih matang dari Ghea, saat Ghea labil, Fadhil bisa memposisikan diri tugasnya sebagai apa, bahkan Fadhil juga membuang keegoisannya dengan mempercayai Ghea untuk tetap menjalankan aktifitasnya sebagai istri dan juga mahasiswa, Fadhil tidak pernah menuntut Ghea harus menjalani perannya sebagai seorang istri. Apa kamu sanggup seperti itu? apa kamu sanggup jika harus mengalah dengan Jessi? kalian seumur, kalian masih labil, kalian juga mempunyai ego yang belum bisa kalian kendalikan."
"Tristan, apa yang dikatakan Papamu benar, bersabarlah hingga kuliah kalian selesai. Lebih baik kalian memanfaatkan waktu untuk saling mengenal lebih dalam lagi. Toh kalian sudah bertunangan kan? sabarlah Nak."
Tristan menghela nafas, berfikir keras mengapa banyak orang yang meragukannya.
"Tristan, bukan Papa tidak mempercayaimu, Papa ingin kamu bisa bertanggung jawab Terhadap janjimu didepan Tuhan nanti. Pernikahan yang hanya satu kali tanpa adanya perceraian."
Tristan menghela nafasnya, "Terserah Papa dan Mama, Tristan capek." Ucapnya kemudian berdiri dan melangkah kekamarnya.
Tristan berdiri dibalkon kamarnya, menatap kamar Ghea dari tempatnya berdiri.
"Lo udah jauh bahagia Ghe, gue masih tertinggal disini." Lirih Tristan.
"Kenapa kita harus beda Ghe? kenapa lo gak bisa nunggu gue, kenapa takdir begitu kejam. Sekarang disaat gue bisa move on, lagi-lagi gue gak bisa sebahagia lo. Kenapa gue gak bisa perjuangin cinta gue, cinta gue ke lo dulu maupun cinta gue ke Jessi saat ini." Tristan terus berbicara dengan tatapan mata menatap kekamar Ghea seolah dirinya sedang berbicara dengan Ghea.
__ADS_1
Dari balik tirai kamar, Fadhil melihat Tristan yang sepertinya sedang kacau.
"Tristan kenapa, Sayang?" Tanya Fadhil.
Ghea yang baru saja memberi asi pada Zayn segera meletakan Zayn di tempat tidurnya dan menghampiri Fadhil.
Ghea mengikuti arah mata Fadhil yang melihat Tristan.
"Pasti anak itu lagi ada masalah sama Jessi." Gumam Ghea.
"Kamu gak mau nyamperin Tristan?" Tanya Fadhil iseng.
"By, kamu kenapa? kayaknya semenjak pindah kesini sering cemburuan sama Tristan deh." Kesal Ghea karna akhir-akhir ini Fadhil seperti sering cemburu kepada Tristan.
"Ya engga, cuma koq kayaknya aku merasa Tristan masih ada rasa sama kamu."
Ghea memutar bola mata malas, "Terserah kamu By, aku lelah mengurus Zayn seharian, aku gak sanggup kalo harus debat sama kamu soal hal gak penting."
Ghea berbalik arah ingin segera merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur.
Fadhil tersenyum, ia segera menyusul Ghea keatas tempat tidur lalu mendekatkan dirinya pada Ghea. "Maaf Sayang, aku cuma takut kamu kembali lagi sama Tristan."
"By!! kamu sadar gak sih apa yang kamu ucapkan? kita sudah ada Zayn, gak mungkin lah aku melakukan hal gila. Gak ada pikiran dalam diri aku untuk mengganti kamu apa lagi dengan Tristan." kesal Ghea.
Fadhil memeluk Ghea semakin erat, "Maaf sayang, Maaf.."
"Iya Sayang, maaf ya.. Aku janji gak akan cemburu berlebihan lagi."
***
Erick tampak termenung diruang kerjanya, dia memikirkan bagaimana caranya membuat Diana bisa kembali sembuh.
Erick menggusar rambutnya kebelakang, ia tertunduk dengan menopang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Kalo cinta ngomong Yah." Ledek Bryan yang masuk begitu aja keruang kerja Erick yang tidak tertutup rapat.
"Huh kau ini tau apa. Lebih baik diam."
"Bry tau semua Yah, Diana Dewantara kan? apa dia itu Cinta ketiga Ayah?" Bryan masih terus saja menggoda Erick.
"Apa maksudmu cinta ketiga?" Erick menatap tajam Bryan.
"Cinta pertama kan Ibu, cinta kedua Bunda Vika, Cinta ketiga Diana Dewantara, oupps Mama Diana harusnya sih." Bryan tertawa.
"Berisik Bry, nanti didengar Ghea bisa mikir macam-macam."
__ADS_1
"Jadi benar Yah?" Tanya Bryan menyelidik.
"Tapi Diana bukan cinta ketiga. Mungkin dia cinta kedua Ayah setelah Ibumu. Hanya saja dulu Ayah salah jalan bisa terperangkap oleh Vika."
"Menurutku Ayah bukan salah jalan, melainkan ***** sesaat sehingga membuat Ayah terjebak sendiri."
Erick mengangguk, ini pertama kalinya ia curhat kepada anak sulungnya.
"Diana, dia mengalami gangguan mental." Lirih Erick.
"Masih bisa sembuh Yah. Orang gangguan mental jika diberi kasih sayang perlahan mentalnya akan membaik."
"Tapi dia anak dari Dewantara."
"So...?? Apa Ayah tidak percaya diri?"
"Dan anak Diana adalah sahabatnya Ghea."
"Ya bagus dong, dari sahabat jadi saudara. Tristan aja dari kekasih jadi saudara." Jawab Bryan asal.
"Huh kamu ini jawab terus." Kesal Erick.
"Yah, dekatilah Ibu Diana, mungkin hatinya akan tersentuh oleh Ayah. Mana tau akan cepat membuatnya pulih."
"Kenapa jadi kamu yang begitu semangat?"
"Karna Bry tau, pernikahan Ayah bersama Bunda Vika tidak baik, Semenjak Ibu meninggal dan Ayah membawa Bunda Vika kerumah ini, Ayah tidak pernah tidur bersama Bunda Vika kan? Ayah slalu memikirkan rasa bersalah Ayah pada Ibu sampai Ayah abaik padaku dan Ghea. Sekarang setelah Bry melihat Ayah memperhatikan Ibu Diana, Bry seperti melihat ada kehidupan dan semangat dihidup Ayah. Ayah sudah berubah memperbaiki semuanya, sekarang juga Ayah harus bahagia."
Erick menunduk. "Sekarang harapan Ayah hanya menginginkan Diana pulih kembali."
"Semangat Yah, Cinta butuh perjuangan."
Erick berdecak. "Jangan berbicara cinta pada Ayah, umur Ayah sudah tua."
"Semakin tua semakin jadi Yah." Ledek Bryan.
"Hush, tak bisakah kau berhenti meledek Ayahmu ini."
.
.
.
.
__ADS_1
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....