
Seminggu berlalu, Kondisi Kakek Tara tetap tidak ada perubahan bahkan cenderung menurun.
"Kek.." Lirih Fariz.
Kesadaran Kakek Tara semakin menurun, membuat Fariz harus terus siaga didekatnya.
"Se... Karr." Gumam Kakek Tara seperti mengingau memanggil nama Sekar yang tak lain adalah istrinya yang sudah lama meninggal.
"Nenek sedang mengunjungi Kakek dimimpi ya Kek? Bilang Nenek jangan jemput Kakek dulu, Nenek hanya boleh mengunjungi tapi tidak boleh menjemput." Ucap Fariz dengan sendu.
"Riz..." Stevi mengusap punggung Fariz.
"Aku takut Stev..." Lirih Fariz.
"Riz, ikhlas Riz.. ikhlasin Kakek." Ucap Stevi lembut.
Fariz menggelengkan kepalanya, "Aku masih butuh Kakek Stev.."
Stevi memeluk Fariz yang sedang duduk disisi brankar Kakek Tara, Stevi mengerti apa yang dirasakan Fariz.
Ghea dan Fadhil masuk kedalam ruang perawatan kakek Tara, melihat kondisi Fariz yang tidak baik-baik saja.
Stevi menggelengkan kepalanya, tanda tidak tau harus berbuat apa.
Fadhil mendekat pada sisi brankar satunya lagi.
"Riz, ikhlasin, jangan buat Kakek mu berat, setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati, kita hanya tinggal menunggu giliran." Ucap Fadhil memberikan nasihat.
"Bimbinglah Kakek mu mengucap dua syahadat Riz, dia pasti bahagia jika kamu yang membimbingnya."
"Tapi Pak.." Ucap Fariz.
"Mumpung masih ada waktu Riz, bimbinglah Kakekmu. Jangan sampai nanti kamu menyesal."
Fariz menatap Stevi dan Stevi memganggukan kepalanya.
Fariz mencondongkan dirinya kedekat telinga Kakek Tara, tangannya masih setia menggenggam tangan Kakek Tara.
"Kek, ikuti Fariz ya.." Bisik Fariz.
Kakek Tara merespon dengan tangannya.
Fariz mulai membimbing dengan menyebutkan dua kalimat syahadat, Kakek Tara dengan keterbatasannya mengikuti ucapan Fariz hingga selesai.
Terlihat sudut mata Kakek Tara mengeluarkan air mata, "Terimakasih Kek, telah begitu tulus menyayangi Fariz selama ini."
Kakek Tara mengeratkan genggamannya kemudian melemas dan perlahan genggaman tangan itu mengendur.
"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un.." Ucap Fariz yang kemudian diikuti oleh Fadhil, Ghea dan Stevi.
Fariz memeluk tubuh Kakek Tara, sungguh ia Ikhlas melepas Kakek Tara.
Dihari Baik, dihari Jumat, Kakek Tara wafat dengan mengucap dua kalimat syahadat dan wajah yang tersenyum.
Fadhil dan Tristan membantu mengurus untuk kepulangan dan pemakaman Kakek Tara, sementara Stevi setia mendampingi Fariz, sedangkan Ghea dan jessi mendampingin Mama Diana.
Hari itu juga Kakek Tara dimakamkan, Fariz dan Stevi pulang kerumah Kakek Tara. Diana pun juga memilih pulang kerumah Kakek Tara dan tentunya Erick terus setia mendampingi Diana.
"Baju-baju lo sebagian udah gue bawa kesini Stev." Ucap Jessi.
"Lo ngusir gue." Ucap Stevi dengan tersenyum.
"Lo kan sekarang istrinya Fariz. Ya harus ikut suamilah." Jawab Jessi.
"Thanks Jess, udah mau berbagi tempat slama berapa tahun ini. Gue gak akan lupa sama kebaikan lo."
Jessi memeluk Stevi, "Lo bukan hanya sekedar sahabat Stev. Lo sama Ghea udah berasa seperti sodara buat gue Meski kita gak seiman."
Stevi mengangguk.
Fariz membawa Stevi untuk masuk kedalam kamarnya. "Ini sekarang kamar kita." Ucap Fariz masih dengan nada sedih.
"Riz, aku janji akan setia dampingi kamu terus, mau susah dan senang aku janji gak akan ninggalin kamu."
__ADS_1
Fariz mengangguk, "Makasih Stev, kamu semangat dan tujuanku sekarang."
***
Suasana Duka perlahan terlewati, namun Diana masih enggan meninggalkan rumah Kakek Tara.
"Mas aku berat ninggalin Fariz." Lirih Diana.
"Kita ajak Fariz tinggal dirumah, masih ada kamar yang luas untuk Fariz dan Stevi."
"Apa Fariz akan mau?"
"Coba tanyakan dulu."
Selesai makan siang bersama, Diana dan Erick mengajak Fariz dan juga Stevi untuk berbicara.
"Riz.. Ayah dan Mama ingin membicarakan sesuatu padamu." Ucap Erick hati-hati.
"Iya Yah, ada apa?"
"Ayah dan Mama, ingin mengajakmu dan juga istrimu untuk tinggal bersama kami. Kamu dan Stevi kan masih kuliah, meski sedang tahap bimbingan, tapi alangkah baiknya kalian tinggal bersama kami saja."
Fariz menunduk, mencerna setiap apa yang dikatakan oleh Ayah sambungnya itu.
"Bagaimana Riz?" Tanya Erick.
"Apa tidak merepotkan Ayah? apa lagi sekarang Fariz sudah menikah dan membawa istri."
Erick tersenyum, "Kamu juga anak Ayah Riz, Stevi menantu dikeluarga Ayah dan Mama, Ayah malah senang jika kalian ikut dengan kami. Rumah Ayah akan semakin Ramai, terlebih kalian dulunya adalah sahabat Ghea, pasti tidak akan ada kecanggungan saat nanti kalian pindah kerumah Ayah."
Fariz mengangguk. "Lalu bagaimana dengan rumah ini Ma?" Tanya Fariz.
"Sesekali kamu bisa tinggal disini, rumah ini tidak akan kemana-mana Riz. Asisten rumah tangga disini tidak ada yang diberhentikan, mereka bertanggung jawab untuk menjaga dan mengurus rumah ini."
"Terimakasih Ma.. Ayah.. Fariz dan stevi akan ikut tinggal bersama kalian."
Erick menghela nafas leganya, "Berkemaslah, Ayah sudah menyiapkan kamar untuk kalian, rumah itu juga rumahmu Riz."
"Iya Ayah, terimakasih atas perhatian Ayah, mungkin nanti sore Fariz akan kerumah Ayah."
***
Stevi membantu Fariz untuk berkemas.
"Bawa seperlunya aja Stev, sekali-kali nanti kita akan tinggal disini juga, dan sisakan pakaian kamu untuk ditaro disini juga." Ucap fariz.
Stevi hanya mengangguk patuh. Fariz merebahkan tubuhnya diatas kasur, menatap langit-langit dikamarnya.
Matanya kemudian tertuju pada Stevi, wanita yang sudah tiga minggu dia nikahi. Hingga saat ini, Fariz masih belum menunaikan kewajibannya dengan menafkahi batin Stevi, dan Stevi pun mengerti akan kondisi Fariz yang masih berduka, Stevi slalu setia mendampingi Fariz tanpa menuntut.
"Tidak apa kan kita tinggal bersama Ghea?" Tanya Fariz yang merubah posisinya jadi duduk dan bersandar pada dinding tempat tidur.
"Gapapa Riz dimanapun kamu tinggal, aku akan ikut." Jawab Stevi yang kini duduk menghadap Fariz disisi tempat tidur.
Fariz membelai pipi Stevi, "Aku bersyukur Stev, diposisi ku yang sekarang, kamu udah jadi istri aku."
Stevi mengangguk, "Kita jalan jam berapa?"
"Sudah selesai?" Tanya Fariz.
"Udah, tinggal perlengkapan kuliah kamu."
"Biar nanti aku yang bereskan, kamu istirahat aja dulu."
"Aku tidak lelah Riz." Stevi meraih ponselnya diatas nakas dan mulai membuka sosmed nya.
Fariz menarik ponsel Stevi dan melihat koleksi foto Stevi dimedsosnya.
"Gak boleh upload foto sendiri lagi, harus berdua sama aku."
"Dih posessif. Udah kayak Pak Fadhil aja." ledek Stevi.
Fariz menggelitik pinggang Stevi, "Apa Stev? coba bilang lagi?" Fariz terus saja menggelitik pinggang Stevi.
__ADS_1
"Ampun Riz, ampun.. stop pokoknya berenti gelitikin aku, geli.."
Stevi terdorong hingga tertidur dan membuat Fariz berada diatasnya. Mata mereka saling bertatapan, tangan Fariz terulur untuk merapihkan anak rambut Stevi yang menutupi sebagian wajahnya.
"Kamu istri aku Stev.." Ucap Fariz.
Stevi mengangguk, dia mengerti arti mata Fariz yang sudah dipenuhi kabut gairah.
Fariz mendekatkan wajahnya dan mulai mencium kening Stevi, turun kebagian hidung dan tiba diatas bibir ranum Stevi.
Fariz ******* bibir manis itu, Stevi membalasnya serta memberikan akses lebih untuk Fariz bebas menciumnya.
"Aku mau sekarang boleh Stev?" Suara parau Fariz.
Stevi mengangguk.
Fariz mulai mendekatkan wajahnya kembali, mereka saling bercium*n dengan lembut, saling memberi dan menerima, Tangan Fariz pun tanpa sengaja ikut bergerak, masuk kedalam pakaian Stevi dan menyentuh kulit mulus Stevi.
Tok..tokk.. tokkk..
Suara seseorang mengetuk pintu.
"Riz, ada orang.." lirih Stevi.
Sementara Fariz enggan perduli, hasratnya sudah naik dan butuh disalurkan.
Tokk.. tokk.. tok...
"Rizz.. Stopp.." Ucap Stevi yang menahan wajah Fariz yang tak henti mencumbuinya.
"Biar aja Stev.."
"Lihat dulu, takutnya ada hal penting."
Fariz beranjak dari atas tubuh Stevi dengan teepaksa, dengan rambut yang acak-acakan lalu membuka pintu.
"Ada apa Bi?" Kesal Fariz.
"Maaf Den Fariz, dibawah ada Den Tristan sama Non Jessi."
Fariz menghela nafas, "Bisa aja dia ganggu gue." Gumam Fariz dalam hatinya.
"Tolong Suruh tunggu bentar, buatkan minum, dan buatin saya kopi juga."
Fariz menutup pintu kamarnya. Stevi tersenyum melihat wajah bete Fariz lalu mendekat pada suaminya.
Stevi melingkarkan tangannya dileher Fariz dan mengecup bibirnya sekilas, membuat Fariz terkesiap.
"Jangan Marah, nanti masih bisa dilanjut." Ucap Stevi lembut.
Fariz tersenyum, Stevi slalu punya cara membuatnya nyaman dan keluar dari zona badmood nya.
"Aku cuci muka dulu, terus kita turun ya." Ucap Fariz.
Stevi mengangguk. "Iya.."
.
.
.
Abang Titan ganggu aja.. Gak boleh aja temennya belah duren. 😄😄😄
Enaknya Abang Titan dikemanain nih biar gak ganggu mulu 🤭🤭
Antara Fariz dan Stevi mana yang lebih agresif ya??
.
.
.
__ADS_1
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....