TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
HILANG PERCAYA DIRI


__ADS_3

"Apa kabar Di? senang melihatmu kembali."


"Mas Erick?" Tanya nya lagi meyakinkan.


"Kau masih mengingatku? hem?" Nada bicara Erick sangat lembut, membuat Diana mengingat perasaannya kembali.


"Te.. tentu aku masih mengingat Mas Erick."


"Benarkah? meski aku sudah terlihat tua dengan banyak uban dirambutku, kau masih mengingatku?" Erick terus saja menggoda Diana.


"Mas Erick masih terlihat tampan." Ucap Diana malu-malu.


"Benarkah? kau juga masih terlihat sangat cantik." Erick tertawa, "Tentu saja umurmu jauh dibawahku."


Diana tersipu malu, wajahnya merona merah, mungkin hatinya kini tengah berbunga-bunga layaknya remaja yang sedang jatuh cinta.


"Apa kita akan terus bicara seperti ini? kau tidak membiarkan aku duduk?" Erick menaikkan satu halisnya, membuat Diana makin menyukai pesona Erick.


"Ahh iya.. Maafkan aku Mas. Mari masuk dan duduklah didalam Mas. Mau minum apa?"


Erick tersenyum, "Tidak perlu repot-repot Di, aku hanya mampir ingin melihatmu saja."


"Mas Erick tau dari mana aku disini." Tanya Diana dengan penasaran.


"Anakku bersahabat baik dengan anakmu Di, anakmu yang memberitahuku, dia menginap dirumah tetanggaku yang juga sahabt anakku juga."


Diana menunduk, terlihat wajah sedihnya.


"Di.. Selama satu tahun ini aku terus menjengukmu. Aku melihat anakmu yang slalu semangat dan tidak pernah lelah mengurusmu, aku sangat salut terhadap anakmu itu."


"A.. aku tidak menginginkannya Mas."


"Bukan kau yang menginginkannya Di, tapi Allah yang memberikan anak itu untukmu, untuk menjaga dan merawatmu, Anakmu mewarisi sikap baik darimu, dia sangat bijaksana dalam menghadapi sesuatu. Bahkan aku rasa dia dewasa sebelum waktunya. Di, dia tidak sama dengan pria brengs*k itu, Fariz adalah anakmu."


"Mas apa mas kesini hanya untuk membahas anak itu?"


"Dia anakmu Di.. Fariz anakmu."


Erick memang sengaja datang untuk menemui Diana dan melihat langsung keadaanya, selain itu ia sangat prihatin terhadap Fariz setelah mendengar cerita dari Ghea soal Diana yang menolak Fariz.


"Mungkin kau belum bisa menerimanya saat ini Di, mungkin kau masih membutuhkan waktu. Namun bagi Fariz, dia sudah lama menunggu waktu ini, waktu dimana kau sadar dan memeluknya dengan kasih sayang."

__ADS_1


"Aku masih bingung Mas." Lirih Diana.


"Berfikirlah dengan hatimu Di, yang aku tau kau mempunyai hati yang lembut, aku tau itu Di.."


Erick menghela nafas,


"Maaf Di, aku harus pulang dulu, lain kali aku akan kesini lagi menjengukmu, aku harap kau memikirkan kata-kataku. Jangan sampai menyesal Di, aku pernah ada diposisimu, menyia-nyiakan anak perempuanku dan menganggapnya hanya anak yang tidak aku harapkan. Karna kelahirannya, aku kehilangan istri tercintaku. Tapi waktu menyadarkanku, kini aku bahagia bersama anak dan cucuku Di, menikmati masa tuaku. Berdamailah dengan hatimu Di."


"Istri Mas Erick sudah meninggal?" Tanya Diana tak percaya.


Erick mengangguk, "Sudah cukup lama Di, sudah dua puluh tahun yang lalu, dan istri keduaku dipenjara karna kesalaham yang fatal. Aku sudah menceraikannya. Kini aku bahagia bersama kedua anakku dan kedua cucuku."


"Cucu?" Tanya Diana tak percaya.


Erick tertawa, "Iya, Cucu.. apa kau tak percaya? aku sudah cukup berumur Di, bahkan anak pertamaku saja mungkin umurnya hanya beda lima tahun denganmu."


Diana mengangguk sambil tersenyum. Dia menyadari dulu ia jatuh cinta pada pria matang yang sudah beristri dua. Erick tetap sangat mempesona dulu maupun kini.


"Baiklah Di, aku pamit dulu."


"Iya Mas, terimakasih untuk kunjungannya."


Erick tersenyum dan meninggalkan Diana dan segera berlalu untuk pulang.


***


Erick disambut oleh kedua cucunya yaitu Damian dan Zayn, kebetulan malam ini Bryan sedang ingin menginap dirumah Erick. Ya akhir-akhir ini Bryan senang kembali kerumah Erick, Damian mempunyai teman bermain yang seumur, terlebih itu adalah Zayn sepupunya sendiri.


"Waahh cucu Kakek lagi main bola." Sapa Erick saat keluar dari mobil.


Damian dan Zayn yang sedang bermain ditemani oleh kedua suster tersebut langsung berhambur pada sang Kakek yang sering membelikannya banyak mainan itu. Tangan Erick spontan menggendong kedua cucunya itu.


Tidak pernah menyangka dalam hidup Erick bisa sebahagia ini, berkumpul bersama anak dan cucunya, meski terkadang hatinya merasa kesepian dan butuh pendamping hidup, namum Erick enggan lagi menyakiti hati kedua anaknya terlebih Ghea yang sedari kecil tidak pernah merasakan kasih sayangnya.


"Kalian menunggu Kakek?" Tanya Erick pada Damian dan Zayn yang tak henti menciuminya.


"Ayah sudah pulang?" Sapa Ghea.


"Iya Ghe.."


"Mau Ghea buatkan kopi Yah?"

__ADS_1


"Tidak usah Ghe, tapi klo boleh Ayah minta jeruk hangat aja."


"Baik Yah, sebentar Ghea buatkan dulu."


"Sini Yah biar Damian dan Zayn sama Maura." sahut Maura yang hendak mengambil dua batita yang baru berusia satu tahun dan sangat menggemaskan itu.


"Sama Mama Maura dulu ya, Kakek mau mandi dulu." Ucap Erick dengan penuh kelembutan.


Erick bergegas menuju kamarnya, kamar yang sepi yang slalu ia tempati seorang diri semenjak kepergian istri pertamanya itu, meski Vika pernah tinggal dirumah itu namun keduanya tidak pernah satu kamar.


Erick mengedarkan pandangannya kepenjuru kamar, kamar ini terasa dingin untuk dirinya yang kini mulai menua, ia membutihkan seorang teman untuk menua bersama.


"Sofia,, bolehkah aku jatuh cinta lagi?" Gumam Erick.


Erick menyiapkan pakaian gantinya sendiri juga menyiapkan air hangat untuk dirinya sendiri.


"Sofia, maafkan aku jika aku mencintai wanita lain, kali ini aku benar-benar mencintainya, bukan n*fsu sesaat seperti dulu, aku yakin dia adalah wanita yang baik seperti mu."


Erick memejamkan matanya sambil berendam didalam bath tub.


***


Fariz mengerjakan tugas kuliahnya bersama Tristan. Sudah dua minggu Fariz masih tinggal dirumah Tristan, awalnya hanya tiga hari ia akan tinggal dirumah Tristan dan menginap dihotel atau memcari apartemen, namun Monica melarangnya, Monica takut jika Fariz tidak dalam pantauannya.


Selama dua minggu ini pula Kakek terus membujuknya untuk pulang, namun Fariz tetap bersikeras untuk tidak kembali kerumah, ia tetap berfikir bahwa dirinya tidak diinginkan oleh siapapun. Lebih baik Fariz seperti ini, hidup diluar dan mulai untuk mandiri meski ia masih bergantung dengan uang yang diberikan oleh Kakek Tara dan hidup masih menumpang dikeluarga Tristan.


Fariz memutuskan untuk fokus kuliah dan menata masa depannya dengan Stevi nanti, ia bertekad untuk segera menyelesaikan kuliahnya dan mencari pekerjaan.


"Riz, lo gak kasian sama Kakek?" Tanya Tristan memecah keheningan.


"Mau gimana lagi Tan, Nyokap gak mau gue."


Tristan hanya bisa diam,dia sendiri juga bingung dengan apa yang dialami oleh Fariz, lahir dari seorang ibu yang sakit mental akibat pemerk*saan, tidak diinginkan oleh keluarga ayahnya, mengalami pembullyan saat di sekolah menengah pertama, dan kini saat ibunya sadar dan sembuh tidak menginginkan kembali dirinya.


Fariz pria yang kuat, pemikirannya lebih dewasa dibanding Tristan dan ghea, dia slalu berfikir positif dengan segala logikanya, tapi kini Fariz seperti hilang percaya diri, beruntung Fariz, Stevi terus mendampinginya, memberinya suport, mengajaknya berbicara tentang masa depan mereka bersama hingga membuat Fariz sedikit lupa akan masalahnya.


.


.


.

__ADS_1


.


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2