TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
PUBER KEDUA


__ADS_3

Acara pertunangan Fariz dan Stevi dimulai, Suster membawa Diana kehalaman belakang yang tidak terjangkau oleh tamu.


Erick diam-diam mengedarkan pandangannya mencari sosok Diana yang tak terlihat berada didalam acara dan hal itu terlihat oleh Kakek Tara.


Semua orang bertepuk tangan kala Fariz dan Stevi selesai menyematkan cincin dijari tunangannya masing-masing. Tampak rona kebahagiaan terpancar dari Fariz dan juga Stevi. Stevi terlihat sangat cantik dengan make-up naturalnya, dan Fariz terlihat gagah dengan balutan jas ditubuhnya.


"Selamat Stev, akhirnya semakin dekat menuju halal." Ucap Ghea tulus dari hatinya sambil memeluk sahabat tersayangnya itu.


"Makasih Ghe, makasih untuk segala dukungan lo dan waktu lo." Jawab Stevi dengan mata berkaca-kaca.


"Selamat Stev, gue ikut seneng, smoga slalu bahagia ya." Ucapan dari Jessi.


"Thanks Jess, doa yang sama untuk lo, smoga kita semua bahagia dengan pasangan kita masing-masing." Jawab Stevi.


"Selamat Bro.." Tristan meninju pelan bahu Fariz.


"Thankyou Bro." Jawab Fariz sambil memeluk Tristan.


"Selamat Riz.. Ucap Ghea dengan tersenyum."


"Thanks Ghe." Jawab Fariz lalu membisikan sesuatu pada Ghea, "Kalo gak ada Pak Fadhil, gue mau peluk lo Ghe, pelukan persahabatan."


Ghea melirik kearah suaminya, lalu menjawab Fariz. "Jangan macam-macam, nanti gue dihukum, masih nifas nih gue." Bisik Ghea yang membuat Fariz tertawa.


"Ngomongin gue ya, enak banget ketawanya?" Sahut Tristan.


"Dihh pede." Ucap Ghea dan Fariz bersamaan lalu mereka tertawa bertiga.


Mereka membaur bersama tamu-tamu yang lain, Kakek Tara dengan bangga memperkenalkan Stevi sebagai tunangan Fariz, nampak banyak yang patah hati, rekanan bisnis DW Group banyak sekali yang mengincar Fariz untuk dijadikan sebagai menantu, namun mereka harus menelan pil kekecewaan saat Fariz resmi bertunangan dengan Stevi.


Erick masih terlihat gelisah dan mencari keberadaan Diana, dia sangat penasaran akan hal apa yang terjadi pada Diana hingga bisa seperti itu.


"Pak Erick, saya tidak menyangka anda adalah Ayah dari Ghea sahabat cucu saya." Ucap Kakek Tara membuyarkan pandangan Erick.


"Oh iya Pak Tara, saya juga baru tau kalo Fariz ternyata cucu anda."


Sedari tadi saya perhatikan, anda seperti mencari seseorang, apa anda sedang mencari seseorang yang anda kenal?" Tanya Kakek Tara.


"Ahh Maaf Pak Tara." Erick terlihat gugup dan tak bisa menjawab pertanyaan Kakek Tara.


Perlahan para tamu meninggalkan kediaman Dewantara, hanya tinggal beberapa tamu penting dan teman Fariz dan Juga erick yang masih betah karna masih mencari sosok Diana.


"Yah ayo pulang." Ajak Bryan.


Erick menarik nafas kasarnya, "Kamu duluan aja, Ayah nanti sama Ghea dan Fadhil." Jawabnya menolak.


Bryan mendekatkan dirinya pada Erick, "Apa Ayah masih penasaran dengan wanita tadi?" Bisik Bryan dengan senyum menyeringai.


"Sejak kapan kau kepo dengan urusan Ayah?"

__ADS_1


Bryan tertawa pelan, "Kepo? huh ini karna Ayah sering ikut nimbrung sama teman-teman Ghea jadi membuat Ayah ikut berbahasa gaul."


"Sudahlah Bry, pulanglah sana, Anak dan istrimu menunggu." Kesal Erick.


"Ghea juga harus pulang, Zayn menunggu Mamanya." Erick terus saja menggoda Erick.


"Ghea sudah meninggalkan banyak stock Asi untuk Zayn."


"Ayah, apa kau sedang puber kedua? hem?" Tanya Bryan dengan menaikkan satu halisnya, terus saja menggoda Erick


"Bryan.. Pulang sana jika kau tidak ingin Ayah mengusirmu dari perusahaan."


Bryan tertawa, "Selera Ayah bagus juga, Wanita tadi cantik padahal wajahnya terlihat pucat, tapi punya pesona aura yang cantik."


"Pulang Bryan!!" Erick semakin kesal dengan putra sulungnya itu.


"Baiklah Ayah, aku akan pulang. Oh ya, aku setuju jika Ayah memberikan Nenek baru pada Damian dan Zayn. Kurasa Ghea pun akan menyetujuinya." Bryan tertawa lalu meninggalkan Erick.


"Huh anak itu.. Sungguh menyebalkan."


Hingga tamu sudah benar-benar meninggalkan kediaman Dewantara, dan Ghea pun berpamitan pulang. Hal itu membuat mau tak mau ikut pulang bersama Ghea dan Fadhil.


***


Hari-hari berlalu, Erick menyuruh seseorang untuk menyelidiki tentang Diana.


Sementara Tristan, kini semakin memikirkan hubungannya dengan Jessi. Ia berencana akan membicarakan soal pernikahan pada Monica.


"Kamu benar-benar tampan sayang. Perpaduan antara Fadhil dan Ghea." Monica terus saja mengecap pipi bulat Zayn.


Zayn sering berada dirumah Monica, Monica sangat senang karna mempunyai aktifitas baru yaitu mengasuh Zayn. Monica sudah menganggap Zayn sebagai cucunya sendiri. Bahkan Daniel juga sering membelikan berbagai mainan untuk Zayn.


Tristan sangat senang melihat hal itu, dia membayangkan, andai kemarin Jessi tidak mengalami insiden yang membuatnya keguguran, pasti kini mereka tengah bahagia menyambut kehadiran bayinya.


"Ma..." Panggil Tristan.


"Kenapa Tan, kalo mau makan dimeja makan udah mama siapin." Monica berbicara sambil fokus menatap Zayn dan mengajaknya bercanda.


"Haishh.. Tristan berasa jadi anak tiri Ma."


"Ishh kamu tuh, ngomong sembarangan. Ada apa sih Tan, sama bayi aja kamu iri."


"Tristan mau bicara serius sama Mama."


"Ada apa? tunggu sebentar, Zayn sebentar lagi tidur."


Monica menimang Zayn hingga tertidur dan meletakan Zayn di Box bayi yang sengaja Monica beli untuk Zayn agar tetap nyaman berada dirumahnya.


"Tristan mau nikah sama Jessi, Mama bantu Tristan bilang sama Papa dong."

__ADS_1


"Nikah?" Tanya Monica.


Monica menghela nafas. "Yakin Tan?"


"Mama gimana sih, bukannya Mama dan Papa yang mau Tristan berjodoh sama Jessi, sekarang giliran Tristan udah mencintai Jessi, Mama dan Papa kayak gak yakin."


"Bukan gak yakin Tan, tapi menikah itu kan seumur hidup, kamu udah siap apa? menikah itu bukan hanya soal mencintai aja Tan, tapi kehidupan setelah menikahnya juga harus dipikirkan."


"Tristan bisa menafkahi Jessi Ma."


"Oh ya? sementara kamu sendiri masih diberi uang jajan oleh Papa." Sindir Monica.


"Tristan.. Dengarkan Mama, Mama sangat menyukai bahkan sudah menyayangi Jessi, tapi Mama memikirkan bagaimana kamu menghidupi anak gadis orang. Tanggung jawab itu besar Tan, belum lagi jika nanti Jessi hamil dan melahirkan, biaya untuk melahirkan dan membesarkan anak juga tidak murah. Bisa saja Mama membantumu, tapi bagaimana dengan tanggapan keluarga Jessi? kamu mau dipandang sebelah mata oleh keluarga Jessi?"


"Ma.. Tristan punya uang, dan Tristan juga punya penghasilan sendiri."


Monica mengernyitkan dahinya. "Oh ya?"


"Ma.. waktu diAmrik, Tristan coba belajar main saham sama temen Tristan disana, dia udah sukses dan banyak mengajari Tristan soal saham, kapan waktunya kita beli, kapan waktunya kita jual, dan saham yang slalu Tristan beli juga saham-saham aman yang nilainya terus naik."


"Kenapa kamu tidak pernah cerita soal ini ke Papa dan Mama?"


"Papa dan Mama tidak pernah bertanya." Jawab Tristan santai.


Tristan mengeluarkan ponselnya lalu memperlihatkan isi rekening di mobile bankingnya. "Lihat ini kalo Mama tidak percaya."


Monica terkesiap saat melihat tabungan Tristan dengan angka tiga digit didepannya. "Banyak sekali Tan?"


"Makanya Tristan bilang mampu untuk biayain hidup Jessi, bahkan jika Jessi langsung hamil dan kami memiliki anak." Tristan terus saja meyakinkan Monica.


Tristan dan Krisna meskipun hidup bekecukupan namun Monica dan Daniel selaku orang tua tidak pernah terlalu memanjakan mereka dalam hal materi. Hal itu sengaja Daniel lakukan agar anak-anaknya menjadi pribadi anak yang penuh tanggung jawab dan mau berusaha keras.


"Baiklah, nanti Mama coba bicarakan dengan Papa. Tapi Tan, apa kamu benar sudah melupakan perasaanmu terhadap Ghea?"


Tristan menunduk, lalu dia berdiri dan menatap Zayn. "Susah Ma.. Gak mudah ngilangin perasaan selama bertahun-tahun dan berpaling dengan orang yang baru. Tapi jujur, Tristan juga mencinta Jessi, gak mau kehilangan Jessi juga Ma.. Dan Tristan juga bahagia koq Ma lihat Ghea udah bahagia dengan Pak Fadhil."


Monica menghela nafas. "Sudah mama duga, kamu belum melupakan Ghea sepenuhnya. Apa hati kamu masih merasa sakit jika melihat Ghea dengan Fadhil?"


"Tidak, tidak ada rasa sakit sedikitpun Ma.."


"Perasaanmu itu sangat aneh." Ucap Monica sambil menyandarkan punggungnya disofa.


.


.


.


.

__ADS_1


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2