
Erick perlahan mengerjapkan matanya, ia meraba tempat yang biasa Diana tiduri disisinya namun ternyata sudah kosong.
Setelah sholat subuh, Erick memang terbiasa tidur lagi jika week end. Erick segera membasuh wajahnya dan segera turun mencari sosok istri yang membuatnya tergila-gila.
Erick tersenyum saat melihat Diana tengah berkutat didapur, menyiapkan sarapan untuk anggota keluarga yang kini semakin banyak.
Erick memberikan kode kepada asisten rumah tangga untuk meninggalkan dapur, perlahan Erick mendekat pada Diana dan memeluknya dari belakang sambil menggigit daun telinga Diana secara gemash.
"Mas..Ishhh jangan digigit."
"Kamu menghilang dan tidak menungguku bangun." Ucap Erick
"Tidurmu terlalu pulas Mas, aku tak tega membangunkanmu, dan aku juga harus menyiapkan sarapan untuk anak-anak."
"Itu tugas bibi, Sayang.. Tugas mu hanya melayaniku saja." Erick menelusuri leher jenjang Diana.
"Mas, jangan disini nanti dilihat Bibi atau anak-anak."
"Anak-anak masih dikamarnya, Bibi sudah aku suruh kebelakang."
"Mas aku masak dulu."
"Aku masih ingin, Sayang..." Bujuk Erick.
"Ya ampun Mas, Semalam sudah dua kali, tadi sebelum subuh juga udah satu kali, masih kurang?" Cibir Diana sambil mengaduk-ngaduk nasi goreng diwajan.
"Sekali lagi sayang, pagi ini belum, aku butuh mood booster." Tangan Erick mulai menggerayangi tubuh Diana.
Ekheeemmm..
Suara seseorang berdehem membuyarkan konsentrasi Erick.
Erick menoleh kearah sumber suara dan segera melepaskan pelukannya. Diana tersenyum sembari menahan malunya karna terpergok sedang dimesumi suaminya sendiri oleh anak sambungnya itu.
Dengan cueknya Bryan membuka lemari es dan mengambil air mineral.
"Masih pagi Yah.." ledek Bryan.
"Kau ini seperti hantu aja, tumben sekali bangun jam segini." Ketus Erick yang merasa kesal dengan anak sulungnya itu.
"Haus yah, dan lagi Bry mau fitness, Ayah mau ikut?"
"Kau duluan saja, Ayah masih ada urusan."
"Urusannya bawa kekamar Yah, gak enak nanti dilihat Dami atau Zayn." Bryan tertawa sembari meninggalkan Ayah Erick dan Mama Diana menuju ruangan Fitnes yang berada dirumah Erick.
"Kamu sih Mas." Diana mematikan kompornya.
"Jangan dengarkan anak itu, anak itu memang slalu saja meledek dan menggodaku."
"Ya karna Mas gak tau tempat." Ucap Diana.
Erick mengusap pelipisnya tanda mengakui kesalahnnya.
"Kakekk.." Pekik Damian yang berlari menghampiri Erick.
Erick menggendongnya. "Cucu Kakek sudah bangun? Sama siapa?"
"Sendili Kek, Papa bilang mau olah laga, Mama masih menyusui Alicia." Ucapnya menjelaskan, Sebulan lalu Maura memang melahirkan bayi perempuannya yang diberi nama Alicia.
"Ya sudah, Dami main sama Kakek."
"Dami mau kekamal Zayn, mau ajak Zayn belenang Kek."
"Tunggu saja Zayn disini."
Dami mengangguk, matanya tertuju pada nasi goreng yang sedang Diana siapkan untuk disajikan.
"Dami mau makan nasi goleng Nenek. Masakan Nenek enak." Damian mengacungkan dua jempol miliknya kearah Diana.
"Terimakasih cucu Nenek yang tampan." Diana mengecup pipi bulat Damian.
***
"Tristan, nanti ada klien, kasus perceraian." Ucap Daniel.
"Iya Pa.. Tristan baru nerima berkas kasusnya."
"Klien kita minta hak asuh dan harta gono gini. Ada bukti berupa perselingkuhan suaminya, ini bisa jadi bukti kuat untuk memenangkan sidang cerai nanti."
"Iya Pa.. semoga saja Tristan bisa memenangkan kasus ini."
Saat ini Tristan sudah menjadi pengacara, ia bergabung di firma hukum milik Daniel, berbagai kasus bisa Tristan menangkan, hal itu membuat orang banyak mempercayakan kasusnya pada Tristan.
__ADS_1
Tristan slalu menyempatkan diri ditengah kesibukannya untuk memberi kabar pada Jessica, Jessi merasa sangat beruntung karna begitu diperhatikan oleh Tristan.
"Pulang cepat Bang, Dede menunggumu."
Sebuah pesan singkat yang Jessi kirim pada Tristan.
Tristan tersenyum membacanya, diusianya yang masih sangat muda ia akan mempunyai anak dari wanita yang dicintainya dan juga karier yang sedang menanjak. Jessi juga slalu mendukung apa yang Tristan lakukan.
Siang ini Tristan ada janji dengan Fariz untuk makan siang.
"Wah presdir." Ledek Tristan.
"Masih bisa lo ledekin gue, gimana kasus lo?" Tanya Fariz.
"Ya lumayan, serius tapi dibawa santai. Rata-rata kasus gue ngurusin orang cerai Riz, hak asuh anak sampai harta gono gini."
"Wah banyak deket sama calon janda dong lo, hati-hati terpesona." Ledek Fariz.
"Kagak lah, gue udah ada Jessi, mana Jessi lagi hamil, mana bisa gue berpaling."
"Janda sekarang semakin terdepan Tan."
"Terdepan boleh, tapi nomer satu ya tetep Jessi." Jawab Tristan mantap.
"Keren, itu baru sobat gue." Ucap Fariz.
Tristan menghela nafas, "Kita tetanggaan, tapi jarang ketemu, lo terlalu sibuk Riz."
Fariz mengangguk. "Gue masih belajar mengelola perusahaan Kakek Tan. Hal itu bikin gue abis waktu."
"Untung Bokap dan Kakaknya Ghea mau bantu ya Riz."
Fariz mengangguk. "Gue bersyukur, Mama berada ditangan Ayah Erick yang begitu mencintainya."
"Stevi gimana?"
"Dia slalu dukung gue Tan."
"Lo gak cuek sama Stevi kan Riz?"
Fariz tertawa, "Gue cuek, tapi Stevi itu wow sekali, mungkin memang benar kata pepatah, jodoh itu melengkapi. Gue yang kaku bisa dapat jodoh Stevi yang mencairkan kekakuan gue."
Tristan menaikan satu halisnya tanda bertanya lebih dalam.
"Gak usah kepo Tan, masalah ranjang." Cibir Fariz sambil tertawa.
Fariz tertawa, "Gue kaku diawal doang, pas mulai, Stevi bisa ampun-ampunan."
***
Hari ini Diana akan membawakan bekal kekantor Erick. Erick memintanya untuk membawakannya makan siang langsung kekantornya.
Diana memasuki perusahaan Erick, semua menunduk hormat kepada istri sang pemilik perusahaan.
"Suamiku didalam?" Tanya Diana pada sekertaris Erick.
"Iya Bu, tapi bapak lagi ada tamu, Ibu masuk aja." Ucap sekertaris yang bernama Silvi.
"Aku tidak ingin mengganggu, aku menunggu disini aja sambil ngobrol denganmu, apa aku menganggu mu?" Tanya Diana.
"Oh tidak sama sekali Bu."
Setelah lima belas menit, Diana mulai jenuh menunggu. "Tamunya penting sekali ya? Koq lama?"
Silvi hanya tersenyum.
"Dari perusahaan mana?" Tanya Diana tak sabar.
"Emm.. itu sayang kurang tau Bu."
Diana menyipitkan matanya, "Masa kamu bisa gak tau sih Sil? emangnya ga ada di agenda kamu siapa yang hari ini bertemu dengan suamiku?"
Silvi bingung harus menjawab apa, ia takut salah bicara.
"Aku masuk saja deh Sil." Ucap Diana.
Ceklekk..
Pintu ruangan Erick terbuka,
Diana sedikit terkejut saat melihat Erick asik tertawa dengan seorang wanita yang usianya tak jauh dengan Erick.
"Sayaaang.." Panggil Erick kemudian menghampiri dan mengajak Diana untuk ikut duduk disofa bersama tamunya.
__ADS_1
"Aku menunggumu dari tadi, apa jalanan macet?" Tanya Erick lembut.
"Aku sudah dari tadi Mas, tapi ngobrol diluar sama Silvi, aku kira Mas sedang sibuk."
"Harusnya kamu langsung masuk sedari tadi, kesibukanku akan kuhentikan jika kamu ada bersamaku."
Diana tersenyum, namun matanya menyorot tak suka pada wanita yang bersama Erick.
Erick menangkap sikap Diana.
"Sayang, kenalkan dia Rania, dia teman lamaku, teman semasa kuliah di london."
Diana tersenyum dan mengulurkan tangannya untuk menjabat tangannya Rania dan disambut oleh Rania.
"Diana."
"Rania."
Mereka saling memperkenalkan diri.
"Apa Mas sedang membahas bisnis?" Tanya Diana.
"Akh tidak Sayang, Rania hanya mengunjungiku." Jawab Erick mencoba jujur pada Diana.
Mata Diana menatap Rania. "Apa suami anda tidak marah jika anda mengunjungi suami saya?" Tanya Diana dengan nada menekan.
"Ah maafkan saya, saya kira Erick Pria bebas, karna gosip yang tersebar digrup alumni kami, mengabarkan Erick seorang duda dan pebisnis sukses."
"Yang saya tanyakan, apa suami anda tidak keberatan jika istrinya mengunjungi pria lain?"
Diana terus menatap tajam pada Rania.
"Saya tidak bersuami, kami sudah lama bercerai."
"Pantas saja anda begitu bebas." Cibir Diana yang membuat Rania gelagapan.
Sementara Erick sudah mengeluarkan keringat dingin, takut Diana akan marah padanya.
"Saya rasa, jika tidak ada hal yang penting, anda bisa meninggalkan kantor suami saya, dan saya kira kedepannya tidak perlu mendatangi suami yang sudah beristri, setidaknya itu akan menjaga image anda sebagai seorang janda yang terhormat." Sindir Diana.
Rania semakin dibuat tak bisa berkata-kata. Dia tak menyangka Istri Erick masih begitu muda dan cantik, Diana juga sangat elegan dalam menghadapi masalah.
"Maafkan Saya." Ucap Rania.
Kemudian Rania pamit dan meninggalkan kantor Erick. Erick tak sedikitpun membuka suara, ia takut Diana akan marah padanya jika sampai Erick membela Rania. Namun hati Erick sangat senang melihat sikap Diana yang begitu tenang menghadapi masalah.
"Di.. " Panggil Erick.
"Kamu menyebalkan Mas." Kesal Diana.
"Sayang.. Jangan marah dong, aku tidak tau dia datang kesini."
"Kamu menyukainya Mas? kamu menikah saja dengannya? silahkan, tapi lepaskan aku dulu." Tegas Diana.
"Sayang itu tidak mungkin, aku yang dulu sudah berubah, cukup Sofia yang aku sakiti, aku tidak ingin menyakitimu dan membuat kesalahan kedua kalinya lagi."
Diana hanya diam mencoba meredam emosinya.
"Sayang, please jangan diamkan aku seperti ini." Bujuk Erick.
"Aku tidak suka kamu dekat dengan wanita jika bukan urusan bisnis."
"Iya aku janji, lain kali aku tidak akan berbicara dengan wanita lain yang kau tidak kenal dan bukan urusan bisnis."
"Jika kamu berselingkuh dariku, aku akan pergi dari hidupmu Mas dan tidak mau lagi berurusan denganmu."
Erick mengusap wajahnya kasar, Diana memang masih labil, usia terpaut lima belas tahun membuatnya harus banyak bersabar.
"Sepertinya aku harus banyak belajar dari Fadhil menantuku, bagaimana dia bisa slalu membuat Ghea merasa tenang dan senang." Gumam Erick dalam hati.
"Jangan sampai Diana merajuk dan aku tidak dapat jatah malam ini." Gumam Erick lagi.
.
.
.
Kasih Kopi dong untuk Ayah Erick, Biar gak terlalu tegang.
Mama Diana jangan marah lama-lama ya,Yuk bantu Mama Diana dengan kasih Bunga atau hati agar suasana hatinya mencair ðŸ¤
.
__ADS_1
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....