
Hari pernikahan Krisna tlah tiba, Ghea dan Fadhil tidak menghadiri acara pemberkatan digereja, tetapi mereka datang saat diacara resepsi.
Ghea dan Jessi memakai baju senada yang sudah disiapkan oleh Monica. Begitupun dengan Fadhil dan Tristan.
Gaun Ghea tetap terlihat mewah dan elegan meski dibuat menutup aurat dan setelan muslim.
Dan Jessi tampil lebih feminim saat memakai drees diatas lututnya, rambut yang ditata rapih dan sentuhan make up naturalnya.
"Kamu cantik banget Bee, jadi mau aku yang nikah sama kamu." Ucap Tristan.
"Apa sih Bang, jangan bikin aku jadi malu deh Bang. Aku tuh gak pede seperti ini."
"Tapi kamu cantik sekali Bee."
Mereka duduk satu meja, Fariz dan Stevi pun datang bersama menghadiri undangan resepsi.
"Jess, jadi kan mau bilang ke Tristan?" Bisik Ghea.
"Jadi Ghe, tapi ya gak sekarang. Dekat-dekat inilah." Jawabnya.
Ghea mengangguk sambil tersenyum.
Penyelidikan soal keberadaan ibunya Stevi sudah berjalan. Jessi bergerak cepat untuk membantu sahabatnya itu. Freddy sang kakak dengan siap membantu segalanya dan akan membantu proses hukum untuk menjerat Danu dengan mengumpulkan segala bukti.
Cerita soal Stevi akhirnya sampai juga ditelinga Fariz, saat ingin ke toilet, Fariz tidak segaja mendengar Freddy berbicara dengan rekannya membahas sedikit kemajuan kassus soal Stevi.
Dengan wajah seriusnya Fariz menghampiri dan menarik Ghea kearea luar hotel.
"Cerita sama gue ada apa dengan Stevi?" Tegas Fariz.
"Riz, gue gak ada hak buat ngomong."
"Ghe, lo sahabat gue. Cerita sama gue. Lo tau kan gue ngejar Stevi. Apa ini ada hubungannya kenapa dia tidak mau nerima gue slama ini?"
Jessi dan Tristan segera menyusul Fariz yang membawa Ghea. Fadhil pun ikut menyusulnya.
"Stop ada apa ini?" Tanya Fadhil.
Fariz mengusap wajahnya dengan kasar. "Please cerita Ghe, apa yang gue gak tau?" Lirih Fariz.
Jessi mendekat pada Fariz.
"Riz, gak tepat berbicara disini." Bujuk Jessi.
Lo bilang gak tepat Jess? sementara gue denger Abang lo bahas soal ini disini."
"Ini lagi bahas apa sih? Tanya Tristan yang memang tidak tau apa-apa."
Fariz menatap sinis Tristan. "Lo jangan pura-pura gak tau Tan."
"Riz, semua gak ada yang tau. Cuma gue dan Jessi aja yang tau."
Fariz terlihat semakin frustasi.
"Berhenti.." Seru Stevi yang akhirnya menyusul semua sahabatnya itu.
Stevi jalan mendekat kearah Fariz. "Bisa tinggalin gue berdua sama Fariz?" Pinta Stevi pada sahabatnya yang lain.
"Stev lo yakin mau cerita?" Tanya Ghea lembut.
"Mau gak mau Fariz harus tau juga Ghe, biar dia gak ngejar gue terus." Lirih Stevi seolah kuat padahal hatinya juga rapuh.
"Ghe, kita tinggalin Stevi dan Fariz." Ajak Tristan.
"Tapi Tan.."
"Lo harus percaya sama Fariz." Bujuk Tristan.
Ghea mengangguk.
Kini ditaman sekitar hotel tinggalah Stevi dan Fariz.
__ADS_1
"Apa yang mau lo tau Riz?" Tanya Stevi.
"Apa yang lo sembunyikan dari gue Stev."
"Lo mau tau alasan gue terus nolak lo Riz?"
"Apa?" Tanya Fariz.
Stevi menceritakan perlakuan Ayah tirinya pada Fariz, meskipun awalnya ia malu untuk membuka aibnya sendiri terlebih itu kepada lawan jenis yang sedang ia sukai.
Fariz dengan seksama mendengarkan cerita Stevi, ia menunduk dan meneteskan air matanya.
"Lo pasti jijik sama gue kan Riz. Gapapa koq Riz, gue tau gue kotor, gue hina, dan gue gak pantes buat lo." Stevi pun meneteskan air matanya.
"Selama itu lo menanggung beban Stev?"
"Gue bisa apa Riz? Nyokap gue butuh biaya pengobatan, dan gue juga butuh pendidikan."
"Berhenti Stev, keluar dari zona lo sekarang dan ikut sama gue."
"Gak segampang itu Riz, Nyokap gue taruhannya." Lirih Stevi.
Fariz menggusar rambutnya kebelakang. "Gue akan bebasin lo Stev. Gue janji."
"Jangan Riz, jangan masuk kedalam masalah gue. Daddy orang yang nekat. Gue gak mau terjadi apa-apa sama lo."
"Gue gak perduli Stev.." Fariz menangkup wajah Stevi. "Gue sayang sama lo, gue akan lindungin lo kalo perlu dengan nyawa gue sekalipun."
Fariz membawa Stevi kedalam pelukannya. Mendengar cerita Stevi yang mendapatkan pelecehan dari kecil oleh Ayah tirinya membuat Fariz teringat sang Ibu yang tlah diperk*sa sehingga melahirkan dirinya dan mengalami gangguan jiwa hingga sekarang.
***
Seminggu berlalu, Freddy menyuruh Jessi untuk mengajak Stevi datang kekantornya.
"Stevi, kamu harus tau yang sebenarnya." Ucap Freddy sambil menyerahkan Map coklat berisikan penyelidikan soal Shinta ibu dari Stevi.
Stevi melihat foto sebuah makam bertuliskan nama Shinta dan waktu meninggalnya.
"Danu memang licik, demi mendapatkanmu ia terus mengancammu dan menjebakmu hingga nanti kamu menjadi istrinya." Ucap Freddy lagi.
"Apa bisa kita seret ke pengadilan?" Tanya Fadhil.
"Buktinya kurang, tidak ada saksi yang melihat langsung, Jessi dan Ghea saat itu hanya mendengarkan tanpa melihat dan tidak ada rekaman yang bisa menunjukan bukti pengancaman." Jawab Freddy.
"Jalan satu-satunya Stevi harus menjauh dari tua bangka itu." Kesal Tristan.
"Lo bisa tinggal sama gue Stev, diapartemen gue tinggal sendiri, saat ini lo bisa tinggal sama gue." Ajak Jessi.
"Kuliah kamu juga jangan kamu khawatirkan Stev, saya akan mengajukan bea siswa untuk kamu." Sahut Fadhil.
"Jangan khawatirkan biaya Stev, Abang akan bantu biaya pendidikan kamu." sahut Freddy.
"Lo harus segera ambil keputusan Stev.."
"Gue bingung Ghe, Jess.."
"Gue udah gak punya siapa-siapa lagi."
"Lo masih punya kita." Ghea mengeratkan pelukannya pada Stevi.
"Bang apa nama perusahaan tua bangka itu?" Tanya Fariz.
"Dia mempunyai pabrik yang tidak terlalu besar, bergerak dibidang tekstil." Jawab Freddy.
"Aku akan menghancurkannya." Batin Fariz.
Untuk pertama kalinya Stevi menginap di Apartemen Jessi.
"Bee, abang gak bisa nginep lagi dong?" Tanya Tristan.
"Malah bagus Bang, jadi Abang gak ada kesempatan mesum-mesum lagi sama aku." jawab Jessi asal.
__ADS_1
"Ishh kamu tega ya sama Abang."
Jessi tertawa. "Bang nanti minggu pulang Ibadah, aku mau ngomong sama Abang."
"Hem, ngomong apa?"
"Nanti minggu aja ya Bang."
"Masih empat hari lagi Bee."
"Sabar sih Bang. aku jamin Abang gak nyesel."
"Iya.. Iya.."
Fariz bergegas pulang menemui sang Kakek setelah mengantar Stevi keapartemen Jessi.
"Kek.." Sapa Fariz.
"Hemm." Respon Kakek sambil memeriksa berkas perusahaanya.
"Boleh Fariz tanya sesuatu."
Kakek Tara menghentikan aktifitasnya kemudian menatap Fariz.
"Ada apa grandson?"
"Seberapa besar perusahaan Kakek?"
"Whatt?? apa Kakek tidak salah dengar?? apa kamu mulai tertarik untuk mengelola perusahaan Kakek dan tidak ingin lagi menjadi pengacara?" Tanya Kakek Tara bertubi-tubi.
Fariz menghela nafas. "Apa perusahaan Kakek bisa mengakuisisi sebuah pabrik kecil yang bergerak dibidang tekstil?"
"Hai, ada apa cucuku? Ceritakan pada Kakek."
"Bolehkah aku meminjam kekuasaan Kakek sebentar? aku ingin menghancurkan seseorang yang sudah menyakiti gadisku dan yang sudah membuat mentalnya terusik."
"Apa dia gadis yang sedang kau kejar?" Tanya Kakek Tara.
"Aku mencintainya Kek, aku ingin melindunginya dari si tua bangka itu." Lirih Fariz.
"Lakukan apa yang mau kamu lakukan, perusahaan Kakek adalah milikmu juga, Kakek hanya punya dirimu."
"Benarkah Kek? jika aku menikahinya diusiaku sekarang ini, apa Kakek akan merestuinya? dia korban pelecehan oleh ayah tirinya kek, dan bejatnya orang itu akan menikahi Steviku setelah steviku lulus kuliah. Aku tidak bisa membiarkannya Kek."
"Nama yang cantik, ajaklah Stevimu itu kesini. Kakek tidak mempermasalahkan statusnya, ibumu pun korban pemerk*saan, mereka hanyalah korban." Kakek Tara menghela nafasnya.
"Lalu apa Kakek akan meminta imbalan dariku?" Tanya Fariz.
Kakek Tara tersenyum licik, dan Fariz tau apa maksudnya.
"Sudahlah Kek, aku tau mau Kakek apa." Kesal Fariz.
"Kembali keperusahaan." ucap Kakek Tara dan Fariz bersamaan lalu mereka tertawa bersama.
"Kapan kau akan mengunjungi Ibumu?"
"Minggu ini Kek, aku akan mengajak Stevi untuk menemui Mama."
"Apa kau yakin Stevi akan menerimamu?"
Fariz terdiam, "Fariz pasrah Kek."
"Kakek yakin dia adalah gadis yang baik. Berusahalah."
.
.
.
.
__ADS_1
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....