
Seminggu berlalu, kehidupan Diana dengan Erick berjalan dengan sangat baik, Erick begitu memanjakan Diana dan Diana begitu apik melayani segala kebutuhan Erick.
Sementara dikediaman Kakek Tara, ia tengah melamun seorang diri, hari ini Kakek Tara tidak berangkat kekantor karna dirinya ingin beristirahat.
Kakek Tara merasakan sakit dibagian dadanya, akhir-akhir ini kesehatannya menurun, namun Kakek Tara enggan menceritakannya kepada Diana maupun Fariz.
"Semoga aku bisa bertahan sedikit lagi, hingga Fariz menikah dengan Stevi, wanita yang ia cintai." Gumam Kakek Tara.
Kakek Tara mencoba beranjak kelantai dua dimana ruang kerja sekaligus perpustakaan pribadinya berada, ia ingin sekali menghabiskan waktu sambil menunggu waktu makan siang dengan membaca buku-buku koleksinya.
"Ahhh.." Kakek Tara memegang dadanya saat baru saja menaiki beberapa anak tangga.
Pandangannya berubah gelap,
Brukkk..
Dan seketika membuat Kakek Tara jatuh dari anak tangga.
Dikampus.
Fariz tengah bersama Tristan, mereka menunggu Stevi dan Ghea juga Jessi yang masih belum keluar kelas.
"Jadi bulan ini keluarga lo mau datang kerumah Jessi diSemarang?" Tanya Fariz.
Tristan mengangguk, "Bokap udah kasih lampu ijo."
"Kawin muda dong." Ledek Fariz.
"Kawin udah, nikahnya belom Riz." Bisik Tristan pelan.
Fariz tertawa, "Lo memang gila Tan."
"Tapi mungkin kalo ga ada malam itu, gue masih belum move on Riz mungkin emang jalannya harus seperti itu." Jawab Tristan santai.
"Untung lo mau tanggung jawab, kalo lo sampai kabur dan gak mau tanggung jawab, udah jelas gue gak mau lagi bersahabat sama lo. Gue gak mau punya sahabat pengecut."
"Iya, gue tau gue salah Riz. Tapi jujur gue terus memperbaiki diri gue. Walaupun kadang-kadang bablas dikit, tapi gue masih bisa tahan koq." Tristan nyengir seolah tanpa dosa.
Drrtt.. Drrttt..
Ponsel Fariz bergetar menandakan panggilan masuk.
"Rumah."
"Tumben orang rumah nelpon." Gumam Fariz kemudian mengangkat telponnya.
Fariz terlihat panik setelah mengangkat telponnya.
"Ada apa Riz?" Tanya Tristan.
"Gue harus kerumah sakit, Kakek jatuh dari tangga."
"Hah serius lo? ya udah ayo gue temenin."
Fariz menggelengkan kepalanya. "Lo disini aja Tan, tungguin yang lain keluar kelas dan tolong nanti lo anter Stevi kerumah sakit. Mereka masih keluar dua puluh menit lagi."
"Oke, jangan lupa kasih tau rumah sakit dan diruang apa kakek dirawat." jawab Tristan.
Fariz dan Tristan berpelukan ala sahabat. Kemudian Fariz bergegas menuju kerumah sakit.
Sepuluh menit berlalu, Tristan masih setia menunggu Jessi, Ghea dan Stevi keluar kelas.
"Bang koq sendiri? Fariz mana?" tanya Jessi yang kini duduk disebelah Tristan.
"Fariz kerumah sakit, tadi dia dapat kabar dari orang rumah, Kakek Tara jatuh dari tangga." Jawab Tristan.
"Ya Tuhan, semoga Kakek gak ngalamin hal serius. Koq kamu masih disini Bang, Gak nemenin Fariz?"
"Aku disuruh nunggu Stevi dan anter Stevi kerumah sakit Bee."
"Padahal kamu temenin aja Fariz, Stevi biar aku sama Ghea yang bawa."
"Ahh sudahlah Bee, tadi Fariz panik dan gak kepikiran kesitu."
Jessi mengangguk.
"Bee, bulan ini keluargaku jadi ke Semarang, kamu udah siapkan kalo kita nentuin tanggal pernikahan kita?" Tanya Tristan.
"Siap Bang, sangat siap."
Tristan menarik sudut bibirnya untuk tersenyum, "Siap nya semangat banget?" Goda Tristan.
"Iya biar gak dosa terus, biar kamu gak kebablasan, biar kamu leluasa ngapain aku aja." Jessi tertawa.
"Kamu ini tau aja." Tristan menarik hidung mancung Jessi.
"Ya tau lah Bang, masa mau nikah gak bisa ngenalin sikap dan sifat calon suaminya."
Tristan tersenyum, "Aku mencintaimu Bee.." Gumamnya yang terdengar oleh Jessi.
"Berduaan aja woy." Ledek Ghea saat menghampiri Tristan dan Jessi.
"Iyalah berdua, namanyanya juga pasangan." Jawab Tristan cuek.
"Abang gue mana?" Tanya Ghea bermaksud menanyakan kebaradaan Fariz.
__ADS_1
"Gue telpon gak diangkat." Sahut Stevi.
Tristan menarik nafasnya, "Kita kerumah sakit, Fariz tadi buru-buru kerumah sakit karna dapat kabar kalo kakek jatuh dari tangga."
"Serius Tan?" tanya Stevi.
Tristan mengangguk. "Gue nungguin Lo Stev, disuruh Fariz bawa lo keruamah sakit."
"Lo gimana Ghe?" tanya Jessi.
"Gue ikut, nanti gue bilang sama Mas Fadhil ijin ikut kalian dan nelpon Mama Monica untuk nitip Zayn sebentar."
"Ghe, Mama Diana gimana?" Tanya Tristan.
"Oh iya, biar gue telpon Ayah, biar Ayah yang kasih tau Mama Diana dan anter Mama Diana kerumah sakit."
***
"Zayn udah tidur Di..?" Tanya Erick saat melihat Diana masuk kedalam kamarnya.
Saat ini Erick masih belum bekerja, ia lebih memilih mengerjakan pekerjaanya dirumah dan menghabiskan waktu bersama Diana.
"Udah Mas, Zayn lucu sekali, kadang aku berfikir mungkin dulu juga Fariz selucu Zayn, sayang sekali aku melewatkan hal itu."
Erick menaruh laptop yang ada dipangkuannya dan menarik Diana untuk duduk dipangkuannya.
"Aku tau kamu wanita yang baik Di.. Jangan pernah merasa bersalah, semua sudah berlalu." Ucap Erick sambil mengusap belakang kepala Diana.
"Iya Mas.. kamu benar."
"Kamu juga jangan terlalu capek, Zayn sudah ada suster pribadi yang jagain."
"Gapapa Mas, aku senang koq, bermain sama Zayn bikin aku bahagia."
"Benarkah? kalo begitu sekarang gantian kamu bermain sama aku, aku juga bisa bikin kamu bahagia bahkan terbang kelangit ketujuh." Goda Erick.
"Ishh Gombal, gak mau kalah sama cucu sendiri. Lagian ini masih siang Mas, tengah hari."
"Pusakaku gak bisa lihat waktu, mau siang atau malam dia akan On jika sedang bersama kamu. "
"Semalam udah Mas, tadi pagi juga udah."
"Siang ini belum." Tangan Erick mulai bergerilya masuk dan mengusap punggung Diana.
Diana tertawa, "Seperti minum obat ya Mas, pagi iya, siang iya, malam iya." Ledeknya.
"Nah itu tau."
Mereka tertawa bersama, Tangan Diana mulai melingkar dileher Erick dan mencium Erick terlebih dahulu.
"Dia tau Di, akan diajak pulang kerumahnya." Erick kembali memagut bibir ranum Diana.
Drtt.. Drttt..
Drtt.. Drtttt...
"Mas Ponselmu." Ucap Diana saat Erick hampir hilang kendali.
"Ah ****.. aku lupa mematikan ponselku."
Erick meraih ponsel yang berada diatas mejanya.
"Ghea.. Tumben Ghea telpon."
Erick mengangkat ponselnya.
^^^"*I*ya Ghe."^^^
"Ayah, Ghea sekarang diperjalanan menuju rumah sakit, Kakek Tara masuk rumah sakit karna jatuh dari tangga, Ayah bisa kasih tau Mama Diana?"
^^^"Iya Ghe, jangan khawatir, nanti Ayah yang sampaikan dan segera menyusul kesana."^^^
"Yah, apa Zayn Rewel?"
^^^"Zayn baik-baik saja, dia baru saja tertidur."^^^
"Baiklah Yah, Ghea akan usahakan pulang secepatnya."
Erick menutup ponselnya.
"Ada hal penting Mas?" Tanya Diana saat Erick mengusap wajahnya.
"Di.. Bersiaplah, kita kerumah sakit, Daddy masuk rumah sakit, katanya jatuh dari tangga, anak-anak sedang perjalanan kesana langsung dari kampus."
"Ya ampun Daddy.." lirih Diana.
"Ayo Di, biar aku antar."
Erick membawa Diana menuju kerumah sakit,
sementara Tristan, Jessi, Ghea dan Stevi baru saja tiba dirumah sakit dan langsung menghampiri Fariz yang sedang duduk didepan ICU dan menopang kepalanya.
"Riz.." Panggil Stevi.
Fariz mendongakan kepalanya, dilihatnya wanita yang slalu menenangkan hatinya, Fariz tersenyum kemudian berdiri.
__ADS_1
Stevi memeluk Fariz, "Semua akan baik-baik aja, aku slalu disini bersamamu."
Seketika membuat tubuh Fariz bergetar, ia menyembunyikan wajahnya diceruk leher Stevi, Fariz menangis menandakan dia begitu khawatir dengan kakeknya.
Lelaki yang begitu tangguh itupun menumpahkan isi hatinya didalam pelukan Stevi, ia mendadak menjadi seorang pria yang lemah.
"Riz.." Panggil Ghea.
Fariz melepaskan diri dari pelukan Stevi yang menenangkan itu.
"Kakek gimana?" Tanya Tristan.
Fariz menggelengkan kepalanya.
"Lo kuat, kakek butuh doa dari kita semua Riz." Ucap Ghea.
"Thanks Ghe."
Erick dan Diana tiba dirumah sakit, mereka pun menghampiri Fariz.
"Ma.." Fariz memeluk Diana.
"Kakek kenapa Riz?"
"Dokter menduga Kakek mendapat serangan jantung, mungkin posisinya pas lagi ditangga, dan Kakek jatuh ditangga."
"Ya ampun Daddy..." Lirih Diana yang disertai tangisan.
Erick memeluk Diana, "Sudah Di, tenangkan dirimu, Daddy akan baik-baik saja."
Kondisi Kakek Tara mulai stabil, ia dipindahkan keruangan perawatan. Sebagai menantu, Erick mengurus semua administrasi Kakek Tara.
"Stev, pulanglah bareng Tristan dan Jessi." Ucap Fariz.
"Aku akan menemanimu disini."
Fariz menggelengkan kepalanya, "Jangan, nanti kamu sakit. Pulanglah dulu, besok kesini lagi." Fariz membelai lembut pipi Stevi.
"Tapi kamu jangan lupa makan ya." Pesan Stevi.
"Iya." Jawab Fariz dengan tersenyum.
Erick membawa Diana pulang, sementara Ghea sedari tadi sudah dijemput oleh Fadhil.
Fariz menunggu Kakek Tara sambil mengerjakan tugas kuliahnya.
"Riz..." Panggil Kakek Tara dengan nada lemah.
Fariz meletakan laptopnya dan segera menghampiri Kakek Tara.
"Ada apa Kek? Apa kakek mau minum?" Tanya Fariz.
Kakek Tara mengangguk, kemudian Fariz membnatunya untuk minum.
"Riz.. dimana Stevi?" Tanya Kakek Tara setalah selesai minum.
"Stevi tadi Fariz suruh pulang Kek, besok kesini lagi."
"Riz, menikahlah dengan Stevi besok."
Fariz terkesiap, "Kek.."
"Kakek takut gak bisa menyaksikan pernikahanmu, Kakek sangat menyayangimu Riz, Kakek ingin pergi dengan tenang. Karna itu Kakek mohon, menikahlah dengan Stevi besok, hubungi asisten Kakek untuk mengurus semuanya."
Fariz mengangguk, meski ia tengah bingung. Fariz terpaksa mengangguk tidak ingin membuat sang Kakek terlalu banyak berfikir.
Setelah Kakek Tara tertidur, Fariz menghubungi Tristan dan mencoba menceritakan apa yang menjadi keinginan sang Kakek. Tristan mengerti kemudian segera bergegas kerumah Ghea, menceritakannya kepada Ghea dan Mama Diana.
"Mas bagaimana ini?" Tanya Diana didepan Tristan, Ghea dan Fadhil.
Erick pun tampak diam karna bingung.
Ekhemm..
Suara Fadhil berdehem.
"Maaf Ma, Ayah.. kalo Fadhil sarankan, lebih baik memang harusnya diikuti saja apa kata Kakek Tara, diagama kita menyegerakan pernikahan juga itu wajib bagi mereka yang sudah siap."
"Betul juga kamu Dhil." Ucap Erick.
"Baiklah Tan, biar nanti Mama yang telpon Fariz."
"Ghe, Mama minta tolong ya untuk kasih tau Stevi agar bersiap."
Ghea mengangguk. "Biar Ghea ke apartemen Jessi diantar Mas Fadhil." Ucap Ghea.
"Gue ikut Ghe, abis dari Jessi gue kerumah sakit."
.
.
.
.
__ADS_1
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....