
Erick mengantar Diana hingga depan loby kantornya, terlihat supirmya Diana sudah menunggunya dan membukakan pintu untuk Diana.
"Kalau hari ini pekerjaanku selesai cepat, aku akan mampir kerumahmu untuk berbicara dengan Daddymu."
Diana tersenyum, "Iya Mas, aku akan menunggu kabar darimu.
Diana masuk kedalam mobilnya dan Erick menutup pintu mobil Diana, Erick mengamati mobil Diana yang telah meninggalkan kantornya.
Erick bergegas menuju kembali keruangannya, ia mendudukan tubuhnya dikursi kebesarannya, menyandarkan punggungnya disandaran kursi.
"Ini Gila, bisa-bisanya aku mencium Diana dikantorku sendiri." gumam Erick.
"Diana.. Di.. ana.. Ahh wanita itu, sungguh aku ingin memakannya saat ini juga." Erick mengusap wajahnya kasar, pandangannya kembali fokus untuk menyelesaikan berkas yang menumpuk.
Sementara didalam mobil, Diana mengusap bibirnya sendiri, ia tak menyangka Erick akan menciumnya secepat ini.
Diana tiba dirumah, terlihat Fariz bersama Stevi sedang sibuk dengan laptopnya masing-masing, sepertinya sedang mengerjakan tugas kuliahnya masing-masing.
"Mama dari mana?" Tanya Fariz.
"Hmm.. abis ada perlu Riz, kamu dan Stevi sudah makan?"
"Udah Ma.. tadi makan disini, kata bibi itu semua Mama yang masak."
"Iya, enak?" Tanya Diana.
"Enak Ma.. nanti ajari Stevi ya Ma.." sahut Stevi.
"Tentu dong sayang, habis nikah kan kalian tinggal disini, nanti Mama ajarkan Stevi memasak ya." Diana duduk disebelah Stevi.
"Bukannya Mama yang akan nikah duluan dengan Om Erick?" Tanya Fariz menggoda Diana.
"Ahh.. itu.. hmm gimana ya.." ucap Diana Kikuk.
"Mama aja menikah duluan dengan Om Erick, aku sama Stevi bisa nanti setelah lulus kuliah Ma.."
"Itu tandanya, Mama akan meninggalkankamu dan kakek disini Riz."
"Jangan pikirkan itu Ma,, Mama pun berhak bahagia. Lagi pula nanti ada Stevi."
"Apa kamu setuju jika Mama menikah dengan Om Erick?"
"Sangat setuju Ma,, Kak Bry dan Ghea juga udah setuju kan, pasti akan senang jika nanti kita jadi satu keluarga."
***
Sore hari Erick sudah berada dirumah Diana, tidak lupa ia mampir ketoko bunga untuk membelikan sebuket bunga mawar merah untuk Diana.
"Ahh terimakasih Mas, ini cantik sekali." Ucap Diana.
"Apa Daddymu sudah pulang?" Tanya Erick.
"Sudah Mas, Daddy sedang beristirahat dikamarnya." Jawab Diana.
__ADS_1
"Dimana Fariz?"
"Dia sedang mengantar Stevi pulang."
Kini Diana memberanikan diri duduk disamping Erick, kepalanya bersandar pada bahu Erick, terlihat sisi manja dari Diana, dan hal itu membuat Erick senang.
"Mas.. Fariz sudah memberikan ijin untuk aku menikah denganmu." Ucap Diana.
"Benarkah? Bryan dan Ghea juga sudah memberikan ijin untukku menikahimu Di.."
"Kita sudah mendapat restu dari anak-anak kita, tinggal restu dari Daddymu Di.."
"Restu untuk apa?" Suara bariton kakek Tara membuat Diana dan Erick terkesiap, sontak Diana langsung menjaga jarak duduknya dengan Erick.
"Daddy.." lirih Diana.
Kakek Tara duduk disofa single. "Duduklah kembali Di." Ucap Kakek Tara.
"Maaf Pak Tara, jika kehadiran saya mengganggu waktu istirahat anda." Ucap Erick dengan santun.
"Tidak apa Pak Erick, jangan sungkan. Apa ada yang mau anda bicarakan dengan saya?" Tanya Kakek Tara secara langsung.
Erick menarik nafasnya. "Begini pak Tara, kedatangan saya kali ini bukan hanya untuk mengunjungi Diana seperti biasanya, kali ini kedatangan saya kesini ingin meminta restu dari Pak Tara selaku orang tua dari Diana. Saya ingin meminta Diana untuk jadi pendamping hidup saya, menjadi istri saya."
"Apa anda yakin dengan ucapan anda Pak Erick?" Kakek Tara menatap tajam kearah Erick.
"Bismillah, saya sangat yakin Pak, terlebih anak-anak saya juga sudah memberi ijin kepada saya, dan fariz sendiri juga sudah memberikan ijin pada Diana."
"Kamu tau soal Diana dimasa lalu?" Tanya Kakek Tara.
Kakek Tara menatap Diana. "Bagaiman dengan mu Di?"
"Dadd, jika Daddy mengijinkan, Diana mau menikah dengan Mas Erick."
Kakek Tara mengangguk, "Baiklah." Kakek Tara menghela nafas. "Pak Erick, saya mohon jagalah Diana dan bahagiakanlah Diana."
Erick mengangguk mantap. "InsyaAllah Pak Tara, saya akan berusaha menjaga dan membahagiakan Diana."
"Kapan kalian akan meresmikan hubungan kalian? Tanya Kakek Tara.
"Akhir pekan ini saya akan membawa anak-anak saya untuk melamar Diana."
"Melamar? bukankah saat ini kau sedang melamar Diana?" Tanya Kakek Tara.
"Iya Pak.. akan tetapi alangkah lebih baiknya jika anak-anak saya menyaksikannya, terlebih ini juga yang pertama untuk Diana, saya ingin membuatnya berkesan."
Kakek Tara tidak menyangka Erick akan memikirkan hal sejauh ini, termasuk hal yang pertama bagi Diana.
"Untuk pernikahannya?" Tanya Kakek Tara mendalam.
"Saya akan mengikuti apa mau Diana, jika Diana ingin sebuah acara yang megah, saya akan membuatkannya, acara bisa saya gelar di ball room hotel milik saya Pak."
Kakek Tara mengangguk, "Bagaimana denganmu Di?"
__ADS_1
"Diana rasa, acara sederhana aja Dad, Umur Diana dan Mas Erick tidak lagi muda, lebih baik Diana menikah dirumah aja, disaksikan keluarga dan kerabat dekat."
"Kamu yakin Di?" tanya Erick mendalam.
"Kita tidak muda lagi Mas, bahkan kau sudah mempunyai cucu, yang penting sakral dan sah dimata agama dan hukum aja."
Erick mengangguk, ia mengira Diana akan meminta resepsi mewah mengingat ini yang pertama untuknya, namun Erick salah, Diana hanya ingin sebuah acara sederhana.
"Baiklah, kalian yang akan menikah, dan kalian atur saja baiknya bagaimana. Daddy hanya akan mengikuti. Silahkan Pak Erick dilanjutkan obrolannya, saya masih ada pekerjaan yang harus saya selesaikan." ucap Kakek Tara dan berlalu menuju ruang kerjanya.
***
"Bee.." Tristan terus saja menciumi ceruk leher Jessi.
"Stop Bang, ini dimobil." Jessi merasa risih dengan kelakuan Tristan, ini bukan satu atau dua kali, terkadang Tristan yang memang lelaki normal kurang mampu mengendalikan n*fsu nya.
"Kenapa lama sekali kita menikah Bee, aku gak kuat kalo lagi ingin." lirih Tristan.
"Sabar Bang, bentar lagi juga kita lulus." Bujuk Jessi.
Tristan sedikit menurunkan lingkar kerah baju Jessi, menyesapnya sehingga meninggalkan satu jejak merah disana yang tidak terlihat oleh orang lain.
Tristan menarik diri kemudian menyandarkan kepalanya disandaran jok mobilnya. "Berat Bee.. kalo gak inget omongan Fariz sepertinya aku udah nekat bawa kamu ke hotel."
Sebagai sahabat, Fariz sering mengingatkan Tristan untuk menahan dirinya dari hal-hal yang merugikan masa depan, Fariz sering memberinya nasihat untuk menjaga Jessi hingga waktunya tiba. Meski Fariz dan Tristan berbeda agama, mereka saling mengingatkan satu sama lain.
Tristan slalu teringat akan cerita Fariz, penderitaan ibunya yang dirusak oleh pria tidak bertanggung jawab juga pelecehan yang dialami Stevi oleh ayah tirinya sendiri. Hal itu yang membuat Fariz tidak menyukai pergaulan bebas. Bahkan selama berpacaran dengan Stevi pun, Fariz tidak pernah berbuat macam-macam, dia hanya sebatas menggandeng tangan Stevi dan tidak lebih dari itu. Fariz benar-benar menjaga kehormatan Stevi sebagai kekasihnya.
Disisi lain, pasangan halal kini telah tiba dipuncaknya.
"Hubb..By... a..ku..."
"Sebentar lagi aku sampai sayang.."
Fadhil semakin mempercepat gerakannya.
"Eummm.." Suara erangan untuk kedua kalinya dimalam ini dilakukan oleh Fadhil.
Mereka bebas melakukan apa saja dan kapanpun tanpa batasan, itulah nikmatnya halal.
"Terimakasih sayang, kamu luar biasa." Fadhil mengecupi seluruh wajah Ghea.
Ghea gadis yang berusia delapan belas tahun saat Fadhil nikahi kini sudah bisa mengimbangi Fadhil, tak jarang Ghea meminta duluan bahkan memimpin permainan. Usia Ghea kini menginjak dua puluh satu tahun, semakin matang usianya semakin membuat Fadhil tergila-gila padanya.
.
.
.
Novel ini akan Author tamatkan dibulan November ini ya. Memang Cerita Takdir Cinta ini akan segera tamat alias sudah habis ceritanya.
Sebenarnya Author akan menerbitkan Novel baru dengan judul yang masih dicari kecocokannya dengan alur ceritanya. Ceritanya sudah tersusun rapih, namun Author sedang fokus untuk lahiran dibulan Desember nanti.
__ADS_1
Mohon doanya ya Readers agar Author diberikan kelancaran dalam operasi SC nanti dibulan Desember.
Maaf jika masih kurang Up nya, karna Author masih bolak balik rumah sakit untuk check Up, terlebih hari ini Author untuk kedua kalinya diinfus karna masih mengalami Anemia.