
Erick tiba dirumah saat sudah larut, entah mengapa hatinya merasakan mendapat kebahagiaan seperti layaknya remaja yang sedang jatuh cinta.
"Ayah sudah pulang?" Tanya Ghea yang sedang berada didapur.
"Kamu belum tidur Ghe? ini sudah jam sebelas malam." Erick balik bertanya.
"Ghea lapar Yah, maklum sekarang Zayn makin kuat menyusunya, bikin Ghea jadi lapar terus."
Erick tertawa, "Tapi kamu hebat Ghe, meski kamu sibuk kuliah dan mengurus suamimu, kamu tetap memberikan asi eksklusif pada Zayn."
"Itukan kewajiban Ghea Yah." jawab ghea sambil memakan mie instan yang barus saja ia masak itu.
"Ayah dari mana? tadi dirrumah sakit koq bisa sama Mamanya Fariz?" Tanya Ghea penuh selidik.
"Hemm itu..." Erick menjadi kikuk.
"Ayah abis kencan Ghe.." Sahut Bryan yang juga keluar dari kamarnya karna merasa haus.
"Hah kencan? sama Mamanya Fariz? tante Diana." Ghea sedikit mengernyitkan dahinya.
"Bry..!!" Erick sedikit kesal karna Bryan terus saja menggodanya.
"Serius Yah?" Tanya Ghea..
"Udah sih Yah, gak usah malu gitu, jujur aja kalo Ayah ada hubungan sama Ibu Diana, Bry pikir Ghea juga gak akan keberatan."
Erick menggaruk keningnya yang tidak gatal itu.
"Ayah serius sama Tante Diana? dia Mamanya Fariz lho. Kalo Ayah mau sama Tante Diana otomatis Fariz juga jadi anak Ayah dan jadi saudara Ghea juga. Ayah udah siap nerima Fariz?" Tanya Ghea mendalam.
"Kamu ngijinin Ayah buat menikah lagi Ghe?" Tanya Erick balik.
Ghea mengangguk, "Ayah juga butuh pendamping yang bisa mengurus Ayah dan menemani masa tua Ayah."
Erick nampak berfikir. "Kalian tau masa lalu Diana dan latar belakang Fariz, apa kalian nantinya akan mau mengakui Diana sebagai ibu sambung kalian dan menganggap Fariz saudara kalian?" Kali ini Erick bertanya pada Ghea dan Bryan.
"No problem Yah, kita hidup untuk masa depan, bukan untuk masa lalu, Ayah aja punya masa lalu kan, menurut Bry itu tidak masalah, lagi pula Fariz itu sahabatnya Ghea sedari SMA." Jawab Bryan.
Ghea mengangguk, "Ghea setuju sama Kak Bry. Ghea juga gak masalah Yah."
Erick tersenyum, dia sedikit tidak menyangka akan dukungan dari anak-anaknya. Kini Erick hanya tinggal meyakinkan Diana.
Keesokan harinya, Erick menyuruh asisten pribadinya membelikan sebuah ponsel keluaran terbaru untuk Diana, Erick juga menyuruh sang asisten agar memberikannya langsung pada Diana karna dirinya kini tengah sibuk dengan segala pekerjaanya.
Hal itu diketahui oleh Kakek Tara, ia tak menyangka bahwa Erick akan sebegitu perhatiannya terhadap Diana.
Hubungan Erick dan Diana semakin intens, meski Erick sudah jarang menemui Diana, namun Erick sering menelponnnya dan memberikan perhatian kecil pada Diana.
***
Kondisi Fariz kini semakin membaik, dia sudah diijinkan pulang oleh dokter, lagi-lagi Tristan yang akan menjemputnya, tentunya Jessi ikut menemani dan mengantarnya pulang kerumah Kakek Tara.
Dirumah Kakek Tara, Diana sudah bersiap menyambutnya, bahkan ia menyiapkan makanan untuk Fariz dan teman-temannya. Ghea juga datang menyusul dan tentunya Erick yang mengantarnya, sambil membawa Baby Zayn karna Stevi dan Fariz cukup merindukan Zayn yang beberapa bulan lagi akan berumur dua tahun.
"Abis sembuh nikah nih." Ghea menggoda Stevi dan Fariz.
"Belum Ghe, kayaknya yang nikah duluan Nyokap gue sama Bokap lo dulu deh." Jawab fariz yang melihat kearah Erick dan Diana yang sedang berbicara ditaman belakang.
"Kalian jadi saudara tiri dong?" Tanya Tristan.
"Iya, Ghea adik gue, kan umur gue empat bulan lebih tua dari Ghea." Jawab Fariz.
"Asal jangan bully gue aja lo, jadi kakak penjajah." Sahut Ghea sambil tertawa.
__ADS_1
"Kapan pernah Ghe, yang ada gue jagain lo banget."
Ghea tersenyum. "Fariz dan Tristan memang saudara terbaik gue." Ucapnya.
"Zayn kapan mau dikasih adik Ghe?" Tanya Jessi.
"Nanti nunggu lo sama Titan nikah terus Fariz sama Stevi nikah, biar anak kita seumuran kayak kita."
"Wah bener tuh, jadi kalo kita kumpul, anak-anak kita juga bisa main bersama.
***
Diana menyibukan diri dengan segala aktifitasnya, kini dia senang belajar memasak dan membuat kue, Diana juga belajar merias diri, bahkan Kakek Tara mendatangkan guru khusus untuk kegiatan Diana dirumahnya, dari guru untuk belajar memasak, membuat kue dan merias diri. hari-harinya ia jalani dengan baik, membuat Kakek Tara merasa senang karna kondisi Diana yang sudah pulih.
Hari ini Diana baru saja selesai memasak masakan Jepang, dia teringat bahwa Erick menyukai masakan Jepang. Diana berencana akan mengunjungi Erick kekantornya dan membawakannya makan siang hasil masakannya sendiri.
Diana merias diri dengan make up natural, polesan diwajahnya tidak terlalu berlebihan, membuat Diana semakin cantik diusia kepala empat nya.
Diana diantar oleh supir menuju kantor Erick, sebelumnya dia tidak memberitahu Erick bahwa dirinya akan datang mengunjunginnya, ya Diana ingin membuat kejutan pada Erick.
Namun langkahnya terhenti ketika Diana tiba dikantor Erick, dia tidak tau dilantai berapa Erick berada. Diana berinisiatif menanyakannya pada resepsionis kantor Erick.
"Maaf mba, bisa saya tau dilantai berapa pak Erick berada?" Tanya Diana.
"Apa anda sudah membuat janji dengan Pak Erick?"
Diana menggelengkan kepalanya.
Resepsionist itu memandang rendah Diana, meski tampilan Diana sangatlah elegan namun tetap terlihat sederhana, tapi resepsionis itu memandang Diana hanya wanita penggoda bos nya itu.
"Maaf bu, tidak bisa sembarang orang untuk bertemu dengan pimpinan perusahaan."
Diana mengangguk, "Maaf sudah mengganggu waktunya." Diana meninggalkan senyum untuk resepsionis itu.
"Hai Bry.." Sapa Diana.
"Ibu kesini mau bertemu dengan Ayah?" Tanya Bryan.
"Iya, tapi Ayahmu tidak tau." Lirih Diana.
Bryan tersenyum, "Ceritanya membuat kejutan untuk Ayah? hem?" Bryan mencoba menggoda Diana.
Diana hanya tersenyum bingung mau menjawab apa.
"Ayo Bry antar Bu.." Ajak Bryan dengan sopan.
Sebelumnya Bryan memberitahu kepada resepsionist, jika nanti Diana datang harus diantarkan langsung keruangan erick dan tidak membuatnya menunggu di loby kantor.
Bryan membawa Diana menuju keruangan Erick.
"Ayah suka sekali lupa makan Bu, apa lagi kalo sedang sibuk." ucap Bryan didalam Lift yang melihat Diana membawa tentengan berupa lunch bag.
"Ah benarkah Bry?" Tanya Diana kikuk.
"Mungkin karna Ayah tidak ada pendamping hidup, tidak ada yang memperhatikan dan mengingatkannya makan."
Diana hanya tersenyum menanggapinya.
"Yah.. ada yang mencari.." ucap Bryan saat membuka pintu ruangan Erick.
"Hem, suruh masuk." jawab erick datar sambil terus menatap layar laptopnya.
"Bry tinggal ya Yah.." Bryan meninggalkan Diana yang kini berada diambang pintu.
__ADS_1
"Mas.." Panggil Diana.
Erick menoleh kearah sumber suara. "Diana.." Panggilnya sedikit terkejut kemudian berdiri dan menghampiri Diana.
Erick menutup pintunya rapat ketika Diana sudah melangkah masuk kedalam ruangannya.
"Maaf mas jika aku mengganggu, aku hanya ingin membawakanmu makan siang."
Erick tersenyum, dia mengingat dulu Sofia lah yang sering melakukan hal ini. Sedangkan saat dulu bersama Vika, tak pernah sekalipun Vika menginjakan kakinya kekantor karna Erick slalu melarangnya.
Erick membawa Diana duduk disofa. "Kamu masak apa Di?"
"Masakan jepang Mas." Diana dengan telaten membuka satu-satu kotak bekal yang ia bawa.
"Terimakasih Di.." Ucap Erick seraya menatap lembut pada Diana dan mulai menyantap makanannya.
Erick makan dengan sangat lahap, sesekali ia pun menyuapi Diana yang masih malu-malu itu.
"Enak Mas?" Tanya Diana.
"Enak sekali, lihatlah, aku menghabiskannya tanpa sisa."
"Kalo Mas mau, aku akan membawakan Mas makan siang setiap hari kekantor."
"Aku tidak mau Di." Jawab Erick.
"Mak.. Maksud Mas Erick?" Diana merasa dirinya ditolak.
Erick memegang pipi kiri Diana, "Aku tidak ingin hanya makan siang dikantorku Di, aku juga ingin sarapan dan makan malam dirumahku bersama kamu." Erick mendekatkan wajahnya kewajah Diana, mencium keningnya dengan lembut.
Diana sedikit terkesiap akan perkataan dan perbuatan Erick yang berani menciumnya walau hanya sebatas keningnya, Erick memang sosok yang hangat dan romantis, tak jarang mambuat wanita lain menjadi salah paham, namun setelah Sofia meninggal, sikapnya jadi sangat dingin dan cuek.
Erick menangkup wajah Diana dengan kedua tangannya setelah menciumnya. "Di.. menikahlah denganku."
Mata Diana berkaca-kaca. "Tapi masa laluku Mas.."
"Aku tidak perduli Di, aku hanya ingin kamu untuk menemaniku menghabiskan sisa umurku. Mau kan Di?"
Diana mengangguk, tetesan air mata keluar begitu saja dari matanya, air mata kebahagaiaan, cinta yang tertunda kini akan bersatu. "Aku mau Mas." Jawabnya lirih.
"Aku akan segera bicara pada Daddy mu, terimakasih karna kau tlah mempercayaiku Di.. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu Mas, sangat mencintaimu."
Erick kembali memberanikan diri mendekatkan wajahnya kewajah Diana, kali ini ia bukan lagi menciun kening Diana, melainkan mencium bibir Diana. Diana hanya diam, baginya ini adalah ciuman pertamanya, meski sang pemerk*sa dulu menciumnya paksa, namun Diana hanya membungkam bibirnya sendiri. berbeda dengan saat ini, ia memberikan akses pada Erick untuk menciumnya lebih dalam.
"Ahh begini rasanya dicium oleh orang yang kita cintai." Gumam Diana didalam hatinya.
.
.
.
*Terusin apa jangan nih ceritanya Ayah Erick dan Mama Diana? rada ekstream nulis cerita soal puber kedua yang sudah berada diusia matang. Kira-kira lebih hot dari anak-anaknya atau Biasa aja ya? Author mulai ngehal**u, pikirannya harus traveling dulu nih*. 🤣🤣🤣
Coba kasih Like, Vote dan masukan di koment biar travelingnya lancar, kasih bunga atau kopi gitu biar makin semangat..
.
.
.
__ADS_1
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....