
Dua bulan kemudian Ghea melahirkan bayi laki-laki kembali yang diberi nama Davanka Fadillah Latif dan dipanggil Davan.
Meski anak kedua Ghea berjenis kel*m*n laki-laki lagi, Ghea dan Fadhil tetap bersyukur karna Davan lahir secara sehat dan sempurna, terlebih Ghea masih melahirkan secara normal dengan lancar.
"Masih tetap mirip Fadhil ini Ghe, kenapa gak ada mirip kamunya." Ucap Bryan yang menatap Baby Davan yang tertidur pulas didalam box bayi.
"Ya kan Mas Fadhil suaminya Ghea Kak." Jawab Ghea asal.
"Itu tandanya kamu yang cinta mati-matian sama Fadhil, buktinya bisa plek mirip banget Fadhil."
"Ya jelaslah, namanya juga sama suami, harus cinta mati-matian."
Fadhil tersenyum mendengar jawaban Ghea, gadis remaja yang Fadhil nikahi saat itu baru berumur delapan belas tahun. Ia tak menyangka bahwa pernikahannya yang ia siram dan pupuk dengan kasih sayang, kepercayaan juga kejujuran tanpa posesif membawa kebahagiaan seperti ini.
"Ghe.." Panggil Mama Miranti, mertuanya yang baru saja datang bersama Alya.
"Mama.."
"Selamat ya Sayang.." Miranti mencium kening Ghea.
"Ghee.. Selamat ya." Kali ini Alya, Kakak ipar Ghea juga ikut memberinya selamat.
"Terimakasih Ma, terimakasih Mba Alya.." Jawab Ghea.
Miranti segera menggendong bayi mungil bernama Davan itu. "Tampan sekali, seperti Zayn waktu baru lahir."
"Laki-laki lagi Ma.." Ucap Ghea tersenyum.
"Satu lagi Ghe, mungkin yang ketiga nanti perempuan, atau bisa jadi kembar perempuan seperti anak Mama, setelah melahirkan Fathan, lalu Fadhil lalu sikembar Alisha dan Annisa."
"Iya Ma.. Ghea memang masih mau nambah anak, tapi nunggu Zayn lima tahun dan Davan dua tahun."
"Iya jangan diburu-buru. Nikmati dulu masa memberi Asi untuk Davan seperti Zayn dulu. Lagian umur mu masih sangat muda, belum dua puluh lima tahun." Ucap Miranti bijaksana.
"Tapi Fadhil yang udah ketuaan Ma.." Sahut Fadhil.
Miranti, Alya dan Ghea tertawa. "Untung masih ada yang mau Fad, mana cantik, sholehah, dan masih muda." Ucap Miranti.
"Isshh Mama, ledekin Fadhil aja."
"Tua tua juga aku tuh cinta Ma sama anak Mama ini." Sahut Ghea.
"Haisshh Gheaa, kamu bucin juga ternyata." Miranti dan Alya tertawa.
Miranti bahagia melihat Ghea dan Fadhil yang saling mencintai. Meski pernikahan mereka berawal dari keterpaksaan, namun akhirnya mereka bisa melewati masa-masa sulit melawan hatinya dan kini bisa saling mencintai. Miranti tersenyum, keputusan tidak pernah salah, meminta pengantin pengganti untuk Fadhil saat itu.
***
"Bee.. kenapa Checi menyusunya kuat sekali?" Tanya Tristan yang terus memperhatikan anak nya terus saja menyusu pada Jessi.
"Namanya juga bayi Bang, belum makan jadi bisanya nyusu dan tidur." Jawab Jessi asal.
"Tapi nanti Abang gak kebagian Bee.. Asetmu bisa-bisa menyusut."
Pletakk..
"Awwww" Tristan mengusap dahinya yang disentil oleh Jessi.
"Sama anak gak mau ngalah, katanya mau anak." Ketus Jessi.
"Iya Bee,, tapi kan Abang juga gak mau kalo sampai gak kebagian."
__ADS_1
Jessi merasa kesal. "Abang udah besar, nyusunya digelas."
"Gak enak Bee, gak kenyal." Jawabnya melas.
"Ya udah, langsung nyusu sama induknya sapi aja, sama-sama kenyal. ini 100% punya Checi."
"Tega kamu Bee." Ucap Tristan.
Jessi tersenyum, meski kesal dia merasa sangat lucu terhadap suaminya itu.
Setelah Checi kenyang menyusu, Jessi meletakan anaknya di box bayi.
"Bee.. udah lewat empat puluh hari ya? Udah bisa Bee?" Tanya Tristan ragu-ragu.
Kini usia Chelsea hampir memasuki dua bulan. Jessi masih belum berani memulai hubungan dengan Tristan karna masih takut akan mengganggu jahitan diperutnya.
"Iya Bang, tapi sudah dua hari ini aku datang bulan."
Tristan menunduk lesu. "Nunggu seminggu lagi dong Bee.."
Jessi mengangguk sambil tersenyum.
"Besok antar aku ke dokter kandungan ya Bang. Aku mau pasang KB, mumpung lagi dapet."
"Takut banget Checi punya adik, Bee."
"Aku gak takut Checi punya Adik Bang, masalahnya aku kasian sama kamu, kalo aku abis lahiran, kamu gak bisa tahan." Ledek Jessi.
"Yak maklum lah Bee, biasa tiap hari terus mendadak harus libur hampir dua bulan. Kasian lah juniorku." Tristan mengarahkan tangan Jessi untuk menyentuh pusakanya.
"Ya ampun.. Kasian banget sampe membatu begini." Jessi sedikit tertawa.
"Haisshh.. kamu nih Bee tega banget."
"Hmm.. Abang mau banget ya?" Tanya Jessi.
"Iyalah Bee.. Abang bisa pusing kalo gak disalurin, mana kerjaan dari kasus-kasung yang Abang tangani lagi banyak, makin mumet."
Jessi tersenyum.
"Abang tiduran gih, tapi tutup mata." Ucap Jessi.
"Emang mau ngapain Bee?" Tanya Tristan dengan mata berbinar.
"Udah sana.. tutup mata Abang pake sleep mask."
Tristan dipaksa naik keatas tempat tidur, Jessi membuka pakaian Tristan sehingga Tristan hanya menyisakan boxer nya saja, kemudian Tristan duduk bersandar di head board tempat tidur dengan mata masih tertutup.
Jessi mengambil lingerie berwarna hitam yang ia miliki dan memakainya.
Perlahan Jessi naik keatas tempat tidur dan duduk diatas pangkuan Tristan dan melingkarkan tangannya dileher Tristan.
Jessi membuka Sleep mask yang dipakai Tristan.
Sekejap Tristan melihat Jessi yang sudah berpenampilan sexy didepan matanya.
"Bee.. kan kamu lagi datang bulan, gimana caranya?" Tanya Tristan dengan heran.
"Abang diem aja, yang penting Abang puas." Jawab jessi.
Jessi mencium bibir Tristan dengan buasnya. Tristan tidak menyia-nyikan kesempatannya, ia pun membalas dengan tak kalah buasnya.
__ADS_1
Jessi menggesek-gesekan bagian intinya kepusaka milik Tristan.
"Ahh Bee.." Des*h Tristan, kedua tangan Tristan meremas b*k*ng Jessi.
"Aku buka ya Bang." Ucap Jessi menggoda.
Tristan hanya memgangguk pasrah, menantikan kejutan apa yang akan istrinya lakukan itu.
Kini Tristan benar-benar tanpa tertutup sehelai benang pun, Jessi menyentuh bagian pusaka Tristan, memainkannya sehingga Tristan sedikit mendes*h menahan nikmatnya sentuhan Jessi, Jessi mulai memainkannya didalam mulutnya, melakuan apa yang Stevi ajarkan, setelah itu, Jessi membungkuk, memainkan alat pusaka Tristan dengan menjepitnya dikedua dadanya.
"Bee.. Akhhh kamu pintar sekali." racau Tristan dengan terengah engah.
Setelah lebih dari tiga puluh menit, akhirnya Tristan tidak bisa lagi menahannya dan tiba di pelepasannya lalu segera membersihkan diri.
"Kamu luar biasa Bee.. Belajar dari mana?" Tanya Tristan saat memeluk Jessi diatas ranjang.
"Ada dehhh.." Jawab Jessi.
"Hmm.. Nakal ya gak mau ngasih tau."
Jessi tertawa, "Gak usah tau Bang."
"Pasti dari Stevi." Tebak Tristan.
"Itu tau.."
"Fariz pernah cerita, katanya Stevi waktu nifas tapi Fariz masih bisa nyalurin hasratnya pake metode lain."
"Ishh kamu ya, cowok-cowok sukanya bahas begituan."
"Kamu juga sama, buktinya ilmunya Stevi bisa nyampe ke kamu."
"Tapi kan bermanfaat Bang, kamu bisa aku puasin."
.
.
T A M A T
.
.
Tamat ya.. intinya mereka itu udah sama-sama bahagia dengan pasangannya masing-masing.
Ghea bersama Fadhil,
Tristan bersama Jessi,
Fariz bersama Stevi,
Dan Ayah Erick bersama Mama Diana.
*Sebenarnya Author mau bikin lanjutan cerita tentang 'Takdir Cinta Season 2' Ceritanya masih lanjutan dari Takdir Cinta 1, masih soal cinta beda agama Antara Chelsea denga**n Zayn*.
Next Season 2, Takdir Cinta Chelsea&Zayn.
Maaf yang kecewa jika Tristan dan Ghea tidak berjodoh, karna bikin cerita soal beda agama itu sensitif dan Author lebih memilih netral dalam cerita ini. Beberapa keputusan yang membuat mereka tidak berjodoh juga Author ambil dari beberapa cerita dari pengalaman langsung beberapa teman yang mengalami cinta beda agama secara nyata.
Terimakasih untuk readers setia Takdir Cinta, jangan di UnFavorit ya karna nanti akan ada pengumuman untuk kapan kelanjutannya, untuk sementara Author ijin rehat dulu mau fokus menjelang lahiran.
__ADS_1
Author masih setia lho menanti Like, Koment berupa masukan dan hal positif, juga hadiah-hadiah dari Readers. Dan Author juga berharap banget dari readers yang baru mampir untuk memberikan Vote untuk Novel ringan ini.