
"Nadira? Kamu berpikir apa soal Nadira?" Tanya Zayn dengan bingung.
"Nadira pacar Kakak dari SMA, kalian bahkan kuliah ditempat yang sama, selama enam tahun kalian bersama." Jawab Chelsea yang membuat Zayn membulatkan matanya.
Zayn tertawa, ia tak habis pikir jika Chelsea menganggap ada sesuatu diantara hubungan Zayn dengan Nadira.
"Kenapa Kakak tertawa?" Tanya Chelsea.
Zayn menggelengkan kepalanya, "Jadi kamu menyerah karna berfikir Aku ada hubungan dengan Nadira?"
Chelsea mengangguk, "Bahkan Kakak udah ada rencana serius menikah dengan Kak Nadira kan?"
Zayn semakin tertawa, "Cerita dari mana lagi itu Sea?"
"Aku dengar sendiri, waktu ditoko buku, kakak bilang : Makanya jangan cemberut, nanti aku bawa ke KUA lho. Gitu kan." Jawab Chelsea menirukan ucapan Zayn pada Nadira.
Zayn menyenderkan punggungnya di sandaran kursi, ia ingin tertawa namun ia tahan, satu tangannya ia gunakan untuk mengusap pelipis matanya, sedangkan matanya menatap wajah Chelsea yang begitu cantik, ya Zayn baru menyadari jika ABG labil itu adalah wanita cantik.
Zayn memarkirkan mobilnya tepat dirumahnya, ia membukakan pintu untuk Chelsea. mengantar Chelsea hingga menyebrang ke depan rumahnya.
"Makasih Kak." Ucap Chelsea.
Zayn mengangguk.
Chelsea melangkah masuk saat penjaga rumah membukakan pintu gerbang.
"Sea.." Panggil Zayn
Chelsea menoleh, "Ya Kak."
Mereka hanya berjarak dua meter, "Aku tidak ada hubungan apapun dengan Nadira, berjuanglah untuk mendapatkan hatiku lagi, mungkin sedikit lagi aku bisa yakin untuk mencintaimu." Ucap Zayn.
Chelsea tersenyum, "Mencintai itu tanpa syarat Kak, aku tidak perlu membuktikan apapun untuk mendapatkan cinta Kakak, cukup aku dan penciptaku yang mengetahuinya. Aku sudah tidak ingin berjuang, bukan karna aku sudah tidak mencintai Kakak, tapi karna saat ini aku sudah berada di titik berserah pada sang pemilik hati." Jawab Chelsea kemudian masuk kedalam rumah.
Zayn membalikan tubuhnya dan kembali menyebrang, ia masuk kedalam rumahnya sambil memikirkan ucapan Chelsea.
"Misi gagal." Ucap Aldrich pada Davan yang diam diam memperhatikan Zayn dan Chelsea dari atas rooftop.
"Kak Zayn memang payah, loadingnya lama banget, udah kayak Hp yang kepenuhan memory." Balas Davan.
"Kak Zayn gak bisa memanfaatkan waktu. Kak Zayn memang payah, masa Chelsea yang disuruh berjuang, cowok macam apaan tuh." Kata Aldrich.
"Entah apa yang dilihat Chelsea dari Kak Zayn. Lalu kita harus bagaimana, Al?" Tanya Davan.
Aldrich menghela nafas, "Jangan sampai aku dijodohin sama Chelsea. Chelsea gak mencintaiku dan aku juga sedang memperjuangkan cewek lain, Dav."
"Ya.. ya.. yaa.. Tandanya kita harus lebih extra lagi deketin Kak Zayn dengan Chelsea." Jawab Davan.
Sementara dikamar, Chelsea tengah berfikir perkataan Zayn yang tidak mempunyai hubungan dengan Nadira, Chelsea memutar kembali ingatannya, jelas sekali jika ia mendengar Zayn akan membawa Nadira ke KUA, Chelsea berfikir kini Zayn sudah berubah menjadi pria yang mudah memainkan perasaan wanita.
Sedangkan Zayn, ia juga tengah memikirkan perkataan Chelsea, beribu tanya memenuhi pikirannya.
"Apa ABG labil itu menyerah?" Tanya Zayn dalam hati.
__ADS_1
Zayn menghela nafas, "Apa aku benar tertarik padanya?" Ucapnya bermonolog yang terdengar oleh Ghea.
"Istikharah lah Zayn, jangan menunggu hati orang berbalik." Ghea mengusap punggung Zayn.
"Mama..."
Ghea kini duduk disebelah Zayn. "Chelsea sudah banyak berubah, tidak mungkin ia mengejarmu lagi. Kamu seorang pria, harusnya kamu yang mengejar Chelsea. Tapi menurut Mama, jika kamu ragu, tanyalah pada sang pencipta hati, berdoalah minta yang terbaik."
"Chelsea berfikir Zayn memiliki hubungan dengan Nadira, padahal Nadira adalah kekasih Damian." Kata Zayn.
Ghea mengangguk, "Wajar jika Chelsea berfikir seperti itu, kamu dan Nadira menghabiskan waktu bersama selama enam tahun."
"Zayn udah bilang sama Chelsea bahwa Zayn tidak ada hubungan dengan Nadira." Kata Zayn kemudian.
"Apa kamu juga menjelaskannya?" Tanya Ghea.
Zayn menggelengkan kepalanya,
"Chelsea akan menganggapmu seorang playboy yang memainkan perasaan wanita, bisa saja pikiran Chelsea berfikir bahwa kamu tidak mau mengakui hubunganmu dengan Nadira." Jawab Ghea.
Zayn menghela nafas, "Wanita itu rumit sekali."
Ghea tersenyum, "Bukan wanita yang rumit, hanya saja kalian para pria yang kurang peka memahami kondisi hati wanita. Karna wanita berfikir dengan hati, bukan dengan logika, dan jangan menyuruh wanita berfikir dengan logikanya, karna jika wanita sudah menggunakan logikanya maka ia akan sadar bahwa banyak waktu yang terbuang percuma hanya karna sesuatu yang bernama cinta."
"Haruskah Zayn menjelaskannya pada Chelsea, Ma?" Tanya Zayn lagi.
"Harus, dan nyatakan perasaanmu segera jika kamu memang sudah yakin dengan Chelsea." Jawab Ghea.
"Jika Zayn sudah yakin, Zayn tidak mau menyatakan langsung pada Chelsea, Ma. Zayn sudah cukup umur untuk menikah, Zayn akan langsung meminta Chelsea pada Papi Titan dan Mami Jessi." Ucapnya yang membuat Ghea tersenyum.
***
Hari wisuda pun tiba, Chelsea memakai kebaya muslim berwarna Navy, Jessi melihat Chelsea yang tengah bersiap, Jessi membesarkan hatinya untuk merelakan Chelsea berbeda keyakinan dengannya.
"Chel.." Panggil Jessi.
Chelsea menoleh dan tersenyum, lalu Jessi mendekat kearah Chelsea sambil membantu Chelsea merapihkan make up nya.
"Anak Mami cantik sekali." Ucap Jessi dengan mata berkaca-kaca.
"Mamiii.. Kenapa Mami sedih?" Tanya Chelsea khawatir.
"Bolehkan Mami bertanya satu kali lagi?" Tanya Jessi yang diangguki oleh Chelsea.
"Kamu yakin dengan keyakinanmu ini?" Tanya Jessi.
Chelsea mengangguk, "Apa Chelsea menyakiti Mami dengan memilih keyakinan yang berbeda dengan keyakinan Mami?" Tanya Chelsea pelan.
Jessi tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Tidak, kamu sudah dewasa dan berhak memilih keyakinanmu sendiri."
Chelsea terdiam.
"Chel, Mami tau kamu menyukai Zayn. Jika Zayn bukan jodohmu dan tidak memilihmu sebagai pendamping? Apa kamu akan tetap berada dikeyakinanmu?" Tanya Jessi menyelidik.
__ADS_1
Chelsea menggenggam tangan Jessi. "Mi, percayalah sama Chelsea, Chelsea memeluk keyakinan Chelsea sekarang bukan karna Kak Zayn, tapi murni dari hati Chelsea, bahkan jika Kak Zayn menikah dengan orang lainpun tidak akan membuat Chelsea sakit hati maupun kecewa, Chelsea akan meyakini bahwa semua yang terjadi sudah ketentuan dari sang pencipta."
Jessi memeluk Chelsea dan mengusap punggungnya, sungguh ia merasa jika gadis kecilnya itu berubah menjadi wanita dewasa.
"Mi, meski keyakinan Chelsea dengan Papi dan Mami berbeda, Chelsea tetap anak Mami dan Papi, Chelsea tetap menyematkan nama kalian didalam doa Chelsea yang Chelsea yakini."
***
Zayn memperhatikan Chelsea dari jauh, Chelsea benar-benar cantik dan anggun dengan balutan kebaya muslim yang ia kenakan dihari wisudanya.
Make up soft natural membuat kesan sederhana namun elegan diwajah Chelsea.
Tubuh Chelsea yang mungil, membuat gadis itu terlihat kebih muda dari pada teman teman seusianya.
Chelsea, Davan dan Aldrich lulus dengan nilai terbaik. Davan meraih IPK sempurna, kecerdasan Ghea dan Fadhil memang menurun kepada anak-anaknya. Tentu saja Fadhil dan Ghea sangat bangga. Davan berencana akan meneruskan S2 nya di inggris, ia akan meneruskan kuliah bisnisnya agar setelah lulus nanti bisa menempati jabatan diperusahan milik Erick.
***
Sehabis makan malam bersama dan berkumpul diruang televisi, Zayn memberanikan diri berbicara pada Fadhil dan Ghea.
"Ma.. Pa.. Ada yang mau Zayn sampaikan." Ucap Zayn dengan serius.
Ghea tersenyum, ia sudah tau apa yang mau disampailan oleh putra sulungnya.
"Ya Zayn, bicaralah." Kata Fadhil, sementara Davan hanya menyimaknya saja, tetapi matanya fokus menonton televisi dengan cemilan ditangannya.
"Zayn ingin meminta restu Papa dan Mama, Zayn ingin melamar Chelsea anak Papi Tristan dan Mami Jessica." Ucap Zayn.
Uhuukk.. Uhukkk
Davan tersedak oleh cemilan yang ia makan, Ghea memberinya air mineral.
"Pelan-pelan Makannya, Dav." Kata Ghea.
Sementara Zayn hanya menghela nafas melihat adik semata wayangnya itu yang menurutnya menyebalkan.
"Kakak mau melamar Chelsea? Emang Chelsea nya udah mau?" Tanya Davan tak percaya.
"Davanka, Papa minta kamu diam dulu, jangan berbicara jika seseorang belum selesai berbicara, dan jangan masuk kedalam obrolan orang lain jika tidak dimintai pendapatnya." Kata Fadhil dengan sikap tegas yang tidak bisa dibantah.
"Maafkan Davan, Ma, Pa, Kak Zayn." Ucap Davan menyesal.
"Sudah, Davan. Jangan diulangi lagi ya." Kata Ghea dengan lembut yang diangguki oleh Davan.
Fadhil menatap Zayn kembali. "Kamu sudah yakin dengan pilihanmu?" Tanya Fadhil.
.
.
Yakin gak, yakin gak, yakin gak?
Yakin lah yakk..
__ADS_1
******Ada yang mau semangatin Babang Zayn******?
Senin kan ya, kasih Othor Vote dong, mungkin vote yg terakhir karna akan tamat beberapa bab lagi 🥺