TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
CALON ANAK


__ADS_3

Satu bulan sudah berlalu, Fariz masih bertahan dirumah Tristan, Monica tetap melarang Fariz untuk keluar dari rumah terkecuali jika untuk pulang kerumah Kakek Tara.


Daniel dan Monica tidak pernah keberatan selama Fariz menginap dirumah mereka, malah mereka sangat senang karna rumah mereka seperti ramai kembali, terlebih Fariz terlihat sangat sopan dan santun, meski tinggal dirumah Tristan, Fariz tetap menjalankan kewajiban lima waktunya.


"Riz bangun, lo gak sholat subuh." Tristan membangunkan Fariz karna alarm diponsel Fariz tak kunjung berhenti.


"Hemm.." Fariz tetap memejamkan matanya.


Tristan mencoba menggoyangkan tubuh Fariz namun terkesiap saat mendapati suhu tubuh Fariz yang demam.


"Riz lo demam." Tristan mengulurkan tangannya untuk memegang kening Fariz.


"Ya Tuhan, lo demam Riz." Tristan segera turun kebawah untuk mencari kompresan dan obat penurun panas.


"Cari apa Tan?" Tanya Monica yang sedang berada didapur.


"Kompresan Ma.. Fariz demam." Ucap Tristan.


"Demam?" Monica menatap Tristan.


"Minta Bibi kompresannya, kamu ambil obat dikotak obat, biar Mama lihat dulu Fariz." Monica segera beranjak menuju kamar Tristan.


"Ah si*al habis lagi obatnya." Umpat Tristan saat membuka kotak obat.


"Bi kompresan tolong bawa ke Mama ya, saya mau ke rumah Ghea dulu cari obat." Titah Tristan pada asisten rumah tangganya.


Tristan melesat menuju rumah Ghea yang berada disebrang rumahnya, tampak terlihat asisten rumah tangga yang sedang menyapu teras, pikir Tristan meski ini masih jam lima dini hari, pasti Ghea sudah bangun karna harus menunaikan kewajiban sholatnya.


"Bi tolong panggilkan Ghea dong." Ucap Tristan pada asisten rumah tangga dirumah Ghea.


Tidak lama kemudian Ghea turun dari kamarnya. "Pagi buta kesini ngapain Tan?" Tanya Ghea heran.


"Obat Ghe, dirumah lo ada obat penurun panas gak?"


Ghea mengernyitkan dahinya. "Untuk siapa?"


"Fariz demam."


"Hah? Fariz demam? Sebentar gue cari dulu."


Erick dan Fadhil pun memghampiri Ghea.


"Ada apa Ghe?" Tanya Erick.


"Tristan minta obat penurun panas, Fariz demam Yah."


Ghea mendapatkan obatnya dan memberikannya pada Tristan.


"Tan, nanti gue nyusul ya, gue ngurus dulu Zayn dan Mas Fadhil."


"Santai Ghe, ada gue sama Mama, lo urus dulu kewajiban lo." Ucap Tristan tulus.


"Thanks Tan."

__ADS_1


"Biar Ayah lihat Fariz." Sahut Erick yang kemudian mengikuti Tristan pulang.


"Kamu mau lihat Fariz dulu Yank?" Tanya Fadhil yang baru selesai meminum air mineral.


"Nanti By, aku urus kamu sama Zayn dulu."


"Gapapa kalo kamu mau lihat Fariz dulu, hari ini kan libur, biar Zayn aku yang urus."


"Iya makasih By, tapi kamu sama Zayn kan prioritas aku By, sebentar aku telpon Stevi dulu ya By, biar Stevi sama Jessi kerumah Tristan."


Fadhil mengangguk, ia sangat mengerti Ghea, tidak pernah membatasi ruang gerak Ghea, hal itu membuat Ghea menjadi sadar sendiri akan kewajibannya, setelah menikah, keluargalah prioritasnya, terlebih kini mereka sudah memiliki anak.


Slama hampir tiga tahun pernikahan mereka pun, tidak pernah Fadhil berbicara keras maupun membentak Ghea, membuat Ghea merasa disayangi dan dilindungi, Hanya ada sedikit kecemburuan Fadhil yang menjadi bumbu didalam rumah tangga mereka dan bisa mereka atasi.


***


"Types.. untuk lebih jelasnya lebih baik dibawa kerumah sakit untuk cek lab." Ucap dokter yang dipanggil oleh Erick untuk memeriksa Fariz.


"Riz, kamu kuat jalan sampai kemobil?" Tanya Erick.


Fariz mengangguk, "Kuat Om."


"Tristan kamu papah Fariz sampai kemobil." Titah Daniel.


Tristan memapah Fariz hingga kemobil, Erick memutuskan dia sendiri yang akan mengantar Fariz langsung kerumah sakit didampingi oleh Tristan. Erick juga berencana akan mengunjungi Diana dan membawanya untuk menjenguk Fariz.


Ghea langsung memberi kabar pada Stevi dan Jessi untuk segera menyusul kerumah sakit dan tidak usah kerumah Tristan.


Setelah Fariz melakukan cek lab dan hasilnya positif typus, Fariz segera menjalani perawatan, Erick menempatkannya dikamar VVIP agar memudahkan siapa saja yang ingin membesuknya.


Erick mengusap kepala Fariz, menandakan semua akan baik-baik saja.


Asisten pribadi Erick juga memberi tahukan pada Kakek Tara soal Fariz yang kini sedang dirawat dirumah sakit.


Kakek Tara megusap wajahnya, dia merasa bersalah terhadap Fariz. Disisi lain dia tidak ingin membuat Diana terguncang kembali, tapi disisi lain dia juga sangat menyayangi Fariz dan tidak ingin Fariz meninggalkan rumahnya.


Setelah makan siang bersama Diana, Kakek Tara bergegas ingin kerumah sakit.


"Daddy mau kemana? bukankah ini sabtu dan Daddy libur?" Tanya Diana yang masih memakan buah potongnya.


"Daddy harus kerumah sakit Di.."


"Apa Daddy akan check up, atau Daddy ingin menjenguk seseorang?"


"Daddy akan menjenguk Fariz, dia dirawat dirumah sakit karna typus. Pasti anak itu makannya tidak teratur." Terlihat raut wajah sedih diwajah Kakek Tara.


Diana merasa bersalah, sudah satu bulan ini ia melihat Kakek Tara banyak melamun dan tidak banyak bicara.


Satu jam setelah Kakek Tara meninggalkan rumah, Erick datang untuk menemui Diana.


"Maaf Bu, ada Pak Erick didepan ingin bertemu dengan Ibu." Ucap asisten rumah tangga.


Diana mengangguk, dan segera beranjak untuk menghampiri Erick.

__ADS_1


"Mas Erick.."


Erick menoleh kearah sumber suara. " Apa kabarmu Di?" Tanya Erick.


"Baik Mas.. Silahlan duduk." Ucap Erick.


Erick memberikan sebuah paperbag untuk Diana. "Untukmu Di."


Diana menerimanya dan bertanya, "Ini apa Mas?"


"Hanya oleh-oleh, bulan lalu aku sedang perjalanan bisnis ke Singapura, dan aku melihat gelang itu, aku langsung teringat padamu, jadi aku berikan gelang itu padamu. Maaf baru memberikannya sekarang, setiap kesini aku slalu lupa membawanya." Ucap Erick.


"Ini bagus sekali Mas.." Diana terpukau melihat gelang dengan taburan berlian sebagai hiasanyannya.


"Sini aku pakaikan." Erick meraih gelang dan tangan Diana lalu memakaikannya.


"Trimakasih Mas.."


Erick mengangguk.


"Hmm.. Maaf Di, aku tidak bisa lama disini, aku harus menjenguk calon anakku."


Diana mengernyitkan dahinya, "Calon anak Mas? apa Mas Erick akan menikah lagi?" Tanya Diana dengan sedikit kecewa.


"Entahlah Di, calon anak bukan berarti akan menikah kan? aku hanya kasian melihatnya yang tidak diinginkannya oleh siapapun. Jika aku tidak bisa menikahi ibunya, maka aku akan mengadopsinya sebagai anakku."


"Maksud Mas Erick?"


"Di.. aku mencintaimu.. aku jatuh cinta padamu, aku ingin menikahimu, tapi kamu kini begitu banyak berubah, aku rindu kamu yang penuh kelembutan sehingga membuatku tertarik padamu."


Erick menghela nafasnya. "Tapi entahlah Di, umurku yang memasuki masa senja ingin aku habiskan bersama anak-anakku, apa lagi aku begitu tersentuh oleh Fariz, jika kau tidak menginginkannya maka aku akan mengadopsinya sebagai anakku Di.."


"Mas.."


"Di.. Berdamailah dengan hatimu, Fariz hanya korban dari kesalahan dimasa lalu. Ia tidak pernah meminta dilahirkan, tetapi tanpa diminta ia merawatmu dengan tulus, hanya berharap keebuhanmu dan kasih sayangmu."


Perlahan tubuh Diana bergetar, ia menunduk sambil menutup wajahnya, Diana menangis menyesali perbuatannya.


Erick berpindah duduk disamping Diana, kemudian tanpa ragu ia memeluk Diana dan mengusap punggungnya.


"Terimalah Fariz sebagai anakmu Di, Fariz adalah darah dagingmu, dia terlahir dari rahimmu, setelah itu menikahlah denganku, aku akan mengobati segala luka pada dirimu, aku saja bisa menerima Fariz Di.. Mari berdamailah dengan masa lalu Di.."


Erick mengendurkan pelukannya kemudian menangkup wajah Diana dengan kedua tangannya. "Bersiaplah, kita kerumah sakit menjenguk anakmu."


Diana mengangguk. "Terimakasih Mas." Ucapnya sendu.


.


.


.


.

__ADS_1


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2