
Hari ini Jessi keluar dari rumah sakit, hanya Tristan yang mengantarnya pulang ke apartemen karna Fariz, Ghea dan Stevi masih ada kelas dan akan menyusul ke apartemen jika nanti sudah selesai kuliah.
Tristan merapihkan barang-barang Jessi dan dirinya yang akan dibawa pulang, Hingga kini Tristan masih bersikap dingin kepada Jessi dan hanya berbicara seperlunya.
Bahkan saat didalam mobil, Tristan hanya fokus menyetir dan tidak mengajak Jessi berbicara.
Blip..
Pintu apartemen Jessi terbuka saat Tristan memasukan kode aksesnya.
"Istirahatlah Bee.." Ucap Tristan dingin.
"Kamu pulang atau nunggu yang lain Bang?" Tanya Jessi.
"Nunggu." Jawabnya singkat.
Jessi menghela nafas, kemudian dia masuk kedalam kamarnya. Sementara Tristan ia duduk disofa ruang tamu sambil mengirim chat pada Fariz memberinya kabar bahwa Jessi sudah berada di apartemennya.
Tristan menyandarkan tubuhnya disandaran sofa, menengadahkan kepalanya sambil memejamkan matanya, sungguh Tristan merasa lelah.
Tiga jam kemudian, Fariz, Ghea dan Stevi tiba diapartemen Jessi. Mereka langsung masuk karna Stevi tau kode akses masuk diapartemen Jessi.
"Masih belum baikan ya Ghe?" Tanya Fariz lirih kepada Ghea saat melihat Tristan yang tertidur disofa.
Ghea menggelengkan kepalanya. "Tristan terlalu keras kepala." Jawab Ghea.
"Terus kita harus gimana?" sahut Stevi.
Fariz dan Ghea kompak hanya menjawab dengan mengerdikan bahunya.
Ghea dan Stevi menuju kamar Jessi, sementara Fariz setelah menutup pintu, ia duduk didekat Tristan sambil meletakan makanan diatas meja.
Suara gerak gerik Fariz membuat Tristan sedikit terusik dan perlahan mengerjapkan matanya.
"Dah dateng?" Tanya Tristan dengan suara berat khas orang bangun tidur.
"Baru aja, makan nih Tan, gue bawain cheese burger dengan ekstra cheese kesukaan lo." Ucap Fariz.
"Thanks Riz." Tristan mengambil satu cola dan meminumnya lalu membuka bungkusan burger untuknya.
"Yang lain mana Riz?" Tanya Tristan.
"Masuk kekamar Jessi. Lo masih belum baikan sama Jessi?" Tanya Fariz.
"Ya masih begini aja. Entahlah mau gimana kedepannya." Jawabnya sambil mulai menggigit burgernya.
"Kasian Jessi Tan."
"Lo gak kasian sama gue?" Tanya Tristan sedikit tertawa.
***
Hari-hari berlalu, sikap Tristan masih tetap sama kepada Jessi. Bahkan Tristan sudah jarang menjemput Jessi keapartemennya, Tristan juga sudah jarang mengirim chat pada Jessi.
Baik Ghea maupun Fariz tidak bisa lagi membujuk Tristan, jika mereka menasehati Tristan itu hanya akan membuat Tristan pada akhirnya mengindar.
"Riz gue nginep dirumah lo ya." Ucap Fariz saat memasuki kelas.
__ADS_1
"Ada apa? tumben?"
"Lagi cari suasana baru aja, jenuh gue."
"Kurang vitamin lo, biasanya bucin banget sama Jessi sekarang sok cool." Ledek Fariz.
Tristan tertawa.
"Club yuk Tan." Ajak Fariz seolah ngetest kepribadian Tristan.
"Hah club? ngapain?" Tanya Tristan.
"Cari cewek gitu, minum kek dikit-dikit."
"Dih ogah.. gue gak mau cari pelampiasan. Gini-gini juga gue mau setia lah sama Jessi."
"Emang hubungan lo masih sama Jessi? gue kira lo udahan sama Jessi."
"Masih lah Riz, tapi ya begini aja." Lirih Tristan.
"Buat lo masih, tapi buat Jessi? bisa aja Jessi beranggapan lo udah gak mau sama dia dan ngebuang dia begitu aja." Fariz semakin memancing reaksi Tristan.
"Kenapa dia bisa beranggapan begitu?" Tanya Tristan yang mendadak seperti orang bodoh.
"Aduh Tristan.. Cewek mana yang gak beranggapan begitu kalo cowoknya sendiri mengacuhkan dia, ngobrol gak pernah, kirim chat gak pernah, pasti Jessi ngerasa gak dianggap sama lo lah Tan."
Tristan diam sesaat. Dia berfikir, memang sudah terlalu lama mendiami Jessica, sikapnya memang sudah sangat keterlaluan, namun egonya menahan diri untuk memulai berbaikan kembali. Padahal Tristan sangat merindukan Jessi, merindukan untuk memeluknya bahkan menciumnya.
***
"Ya beginilah." Jawab Fariz santai.
"Orang tua lo masih diluar negri? kapan balik?" Tanya Tristan mendalam.
Yang Tristan tau, Fariz memiliki Orang tua yang tinggal diluar negri dan menjalankan bisnisnya disana. Fariz anak tunggal dan hanya tinggal bersama sang Kakek. Itulah yang Tristan tau karna sedari SMA Fariz slalu menyembunyikan jati dirinya karna takut akan diBully seperti saat dirinya di SMP.
"Masih.. Gak tau sampe kapan, mereka akan pulang ya kalo waktunya pulang." Jawab Fariz berbohong.
Tristan yang memang cuek pun enggan bertanya lebih, dia percaya saja apa yang dikatakan oleh Fariz sahabatnya itu.
Tristan membuka media sosial diponselnya, ia iseng melihat insta story milik Jessica. Terlihat Jessi memasang sebuah foto bersama tiga temannya dengan caption "Selesai project kali ini."
Tristan tersenyum, Jessi memanglah wanita mandiri, tomboy, cuek dan Tristan jatuh cinta kepadanya.
"Senyum-senyum lo.. telpon lah kalo kangen." Ledek Fariz.
"Gue mau lamar Jessi Riz menurut lo gimana?"
"Gila sih."
"Koq gila Riz?"
"Lo aja masih diem-dieman sama Jessi. sok sok an mau lamar."
"Dua minggu lagi Jessi ulang tahun, gue mau lamar dia."
"Dan lo yakin diterima?"
__ADS_1
Tristan mengangguk. "Yakin."
"Udah beli cincin nya?" Tanya Fariz lagi.
"Belum lah.. Temenin yak." Pinta Tristan tanpa rasa bersalah.
"Ada duitnya? lo kan kemarin udah habis-habisan buat biaya rumah sakit Jessi, pake sok gak mau gue dan Ghea bantu sgala."
"Lo jangan remehin gue, gini-gini gue investasi saham, makanya gue ada duit terus lah."
"Saham?" Tanya Fariz tak yakin. "Sejak kapan?"
"Waktu kuliah di Amrik gue udah mulai main saham, diajarin temen gue, dan lumayan hasilnya."
"Pantes aja lo berani ngajak nikah Jessi."
"Sayangnya Jessi gak yakin sama gue Riz. Dia gak percaya sama gue."
"Ya lo mulai lagi lah dari nol, dan satu pesan gue setelah lo baikan sama Jessi nanti, jangan lagi lo lakuin hal berdosa itu lagi Tan, lo kan gak tau perasaan cewek itu gimana saat habis lo tidurin, untungnya lo mau tanggung jawab, kalo engga, gue udah habisin lo Tan. Gue gak suka cowok yang ngerusak masa depan cewek dan ninggalin dia gitu aja." Fariz teringat akan nasib ibunya yang kini menderita gangguan jiwa karna pemerk*saan, ditambah nasib Stevi yang mengalami pelecehan oleh ayah tirinya.
Tristan mengangguk, "Lagian mana bisa juga Riz, Stevi kan udah tinggal di Apartemen Jessi." Tristan tertawa.
Sementara di Apartemen Jessi, Jessi tengah duduk melamun menghadap jendela.
"Jess." panggil Stevi.
"Iya Stev."
"Lo mikirin Tristan ya? Sekarang Tristan lagi nginep dirumah Fariz."
"Oh ya?"
"Fariz yang bilang sama gue, katanya lagi nemenin sad boy." Stevi tertawa sementara Jessi hanya tersenyum.
"Lo gak mau nelpon Tristan duluan?" Tanya Stevi.
"Tristan masih marah sama gue Stev."
"Kalian sama-sama butuh waktu Jess. Tapi gue berharap kalian bersama lagi."
"Gue juga berharap begitu Stev, tapi kayaknya gue udah keterlaluan sampai buat Tristan semarah itu."
"Tunggu aja Jess, gue yakin Tristan pasti akan balik lagi ke lo seperti dulu lagi."
"Iya Stev, gue sekarang cuma bisa nunggu. Smoga hati Tristan gak berubah."
"Gengsi kalian besar, gak ada yang mau mulai duluan. Kalo rindu jangan gengsi Jess."
.
.
.
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....
__ADS_1