TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
TINGGAL DIRUMAH ERICK


__ADS_3

Masih area 21++


Bocil masih harus skipp ya 🤭


***


Sinar mentari perlahan meninggi, Diana yang semalaman kurang tidur pun akhirnya tadi memejamkan matanya kembali tertidur setelah berbicara santai dengan Erick. Hal yang sama pun dilakukan Erick, dia kembali tertidur dengan memeluk istri barunya itu.


"Ahh sudah siang.." ucap Diana saat melihat jam diponselnya menunjukan pukul sebelas siang.


Perutnya sudah sangat lapar, karna semalam ia tidak sempat makan, dan tadi pagi hanya memakan roti saja.


Diana melihat Erick yang masih terpejam dengan wajah tenangnya. Dia tersenyum, tidak terpikirkan olehnya pria yang dua puluh tahun lalu ia sukai kini menjadi suaminya.


"Diana mencoba beranjak dari atas tempat tidur, pergerakannya membuat Erick tersadar dan menarik tangan Diana hingga terduduk kembali disisi Erick.


"Mau kemana?" Tanya Erick dengan suara berat khas bangun tidur.


"Kekamar mandi Mas, terus pesan makanan, aku lapar." Ucap Diana.


"Baiklah, kita makan kebawah aja ya sekalian Check out ya? kamu masih mau disini atau mau pulang kerumahku?"


"Kerumahmu aja Mas, aku ingin mendekatkan diri dengan anak-anak dan menantumu, juga dengan cucu-cucumu."


Erick duduk dan memeluk Diana. "Trimakasih Di... aku terharu dengan ucapanmu." Ucap Erick.


Tepat jam satu siang, Erick dan Diana meninggalkan hotel, sebelum meninggalkan hotel megah miliknya, Erick memperkenalkan Diana sebagai istri Erick pada petinggi yang bertanggung jawab mengelola hotel miliknya itu.


"Mas publikasi?" Tanya Diana saat sudah berada didalam mobil.


"Harus dong, biar ga ada yang deketin aku."


"Emang banyak ya Mas yang deketin Mas?" Tanya Diana polos.


"Engga juga sih Di, Siapa sih yang mau sama Duda udah mau punya cucu tiga?" Erick tertawa sambil mulai mengemudikan mobilnya.


"Aku koq Mau ya Mas?" Tanya Diana iseng.


"Karna kamu aku kasih pelet Di.." Tangan Erick terulur untuk mengusap kepala Diana.


"Ishh Mas.. bercanda aja bisanya." Diana tersenyum malu malu.


***


"Lah tumben minggu-minggu kalian ksini?" Tanya Ghea pada Fariz dan Stevi yang kini sudah duduk manis di ruang televisi.


"Mau nengok nyokap gue." Jawab Fariz santai.


"Dih, kayak Mama diapain aja sih Riz, sekarang tuh dirumah ini malah Mama Diana jadi ratunya, jadi lo gak usah khawatir."


Fariz tertawa, "Iya gue tau, cuma gue kangen aja."


"Mama gak ada disini, kayanya sih Ayah ngajak Mama honeymoon dulu di hotel atau salah satu resortnya, dan belum ngabarin kapan mau pulang."


"Oh ya? koq gue gak tau sih."


"Ya ngapain juga harus ngasih tau lo, orang mau bulan madu juga. Lo mau recokin?" ledek Ghea.


"Ehh lagi bulan madu ya? kalo nanti kalian punya adik lagi gimana? Mama Diana kan masih muda Ghe." Sahut Stevi.


Ghea dan Fariz saling bertatapan.


"Whatt?? gue punya adik?" tanya Fariz.


"Itu berarti Zayn punya Uncle atau Auntie yang masih bayi?" Ghea juga balik bertanya.


Stevi mengangguk.


Fariz menggaruk keningnya yang tidak gatal sementara Ghea memikirkan jika dirinya mempunyai adik yang usianya dibawah anaknya. Tidak lama kemudian mereka tertawa bersama.


"Assalamualaikum.. Rame sekali." Erick menggandeng tangan Diana memasuki rumahnya.


"Waalaikumsalam.." Jawab mereka semua.


"Fariz disini?" Tanya Diana.


"Iya Ma.. kangen Mama katanya." ledek Ghea.


Diana tersenyum, benar kata Erick, setelah Diana menginjakan kaki dirumahnya, Pasti Ghea akan memanggilnya Mama.


Ghea, Fariz dan Stevi bergantian mencium punggung tangan Erick dan Diana yang kini menjadi orang tua mereka bersama.


"Fadhil dan Zayn mana Ghe?" Tanya Erick.


"Mas Fadhil nemenin Zayn tidur siang Yah." Jawab Ghea.


"Kakakmu Bryan?" Tanya Erick lagi.

__ADS_1


"Kemarin sehabis pulang dari rumah Kakek Tara, Kak Bry pulang kerumahnya dulu, katanya besok senin berangkat ke Bali ada urusan bisnis, dan Kak Maura juga Damian mau dibawa sekalian jalan-jalan disana."


"Oh iya, Ayah lupa kalo Bryan mewakili Ayah lihat pembangunan resort yang hampir rampung pembangunannya di Bali."


"Ayah sama Mama kalo mau Istirahat dikamar aja, Ghea udah bersihkan kamar yang biasa Ayah pakai."


"Makasih Ghe.." ucap Diana.


"Sama-sama Ma.. Jangan sungkan ya Ma, kan Ghea juga anak Mama dan rumah ini juga rumah Mama." Jawab Ghea tersenyum.


Fariz mentoyor kepala Ghea, "Sama Nyokap gue aja manis lo, ama gue aja boro-boro. Gue abang lo nih sekarang."


"Ya elah Riz, Abang beda empat bulan doang." Cibir Ghea.


"Eh berarti sekarang pak Fadhil adik ipar gue ya?" Ucap Fariz dengan senyum ala devilnya.


"Mau ngapain lo?" Tanya Ghea penuh selidik.


"Bini nya marah." Fariz tertawa.


"Awas lo ya macem-macem sama Mas Fadhil."


"Kaga macem-macem Ghe, cuma mau aja kali-kali dibuatkan kopi sama Papanya Zayn."


"Enak aja lo, gue layanin suami gue malah suami gue mau lo babuin. Cepet nikah sama Stevi biar ada yang buatin lo kopi." Kesal Ghea.


"Ciyee Mamanya Zayn galak banget sih.."


"Fariz..." Panggil Diana seakan memperingati anaknya untuk tidak terus meledek Ghea.


"Bercanda Ma.." Jawab Fariz sambil nyengir.


"Anak-anak Di.. biasa lah seperti itu." Sahut Erick.


Mereka tertawa bersama, Diana merasa bahagia karna ia diterima dengan baik dirumah suaminya.


"Tristan gak ikut kumpul Ghe?" Tanya Erick.


"Kalo minggu biasanya Tristan nemenin Jessi kerja sebentar Yah, biasanya lihat proyeknya gitu."


Erick mengangguk. "Ya sudah, Ayah sama Mama mau istirahat dulu. Dan kamu Riz, jangan sungkan ya disini, ini rumahmu juga. Nanti Ayah suruh Bibi nyiapin kamar untuk kamu kalau mau menginap disini.",


"Hehe iya Yah, tapi sepertinya Fariz nanti pulang, kasian Kakek dirumah sendiri."


***


Erick memeluk Diana dari belakang. "Ini kamar kita Sayang." Bisiknya ditelinga Diana.


"Kamarnya luas sekali Mas."


"Kamu suka?" Tanya Erick.


Diana mengangguk. "Aku suka."


"Biar pakaianmu nanti dirapihkan oleh Bibi. Kamu jangan terlalu lelah, aku tidak akan membebanimu dengan pekerjaan rumah tangga, kamu hanya cukup melayaniku dan menjadi teman hidupku."


"Iya Mas." Diana membalikan tubuhnya menghadap Erick, melingkarkan tangannya dipinggang Erick.


"Sayang, Mandi yuk." Ajak Erick.


"Bukankah kita mau istirahat Mas?" Tanya Diana.


"Itu hanya alasan agar anak-anak tidak mengganggu kita."


Diana tersipu malu, sungguh perlakuan Erick membuatnya merasa dicintai dan diinginkan.


Mereka mandi bersama dibawah guyuran air shower, tubuh mereka saling berpelukan, Erick mengambil sabun cair dan membalurkannya ketubuh istrinya, memijat-mijat seolah tidak ada puasnya.


"Mau lagi?" Tanya Diana.


"Bolehkah?"


"Aku milikmu Mas."


Erick mencium lembut bibir Diana, "Kita main sebentar ya."


Diana Mengangguk.


Erick mematikan keran shower dan membawa Diana ke meja wastafel, mendudukan istrinya disana lalu tangan Erick meraih tengkuk Diana dan menciuminya dengan lembut, namun kali ini Erick sedikit buas dan membuat diana menyukainya. Tangan satunya dengan lihai bergerilya menelusuri dua buah gunung Diana saling bergantian.


Tangan Diana pun kini terulur memegang alat pusaka Erick, memainkan dengan memaju mundurkannya, membuat Erick semakin bersemangat.


Erick melepas pagutannya, kini ia berlutut didepan Diana, wajahnya ia tenggelamkan diarea sensitif Diana, dengan lihai memainkan lidahnya disana.


"Mass.. Akh...." Des*h Diana sambil menggusar rambut Erick.


Setelah puas bermain disana Erick kembali berdiri dan memposisikan dirinya sejajar dengan diana.

__ADS_1


"Kamu Sexy sekali sayang." Erick merapihkan anak rambut Diana yang masih basah dan menutupi sebagian wajahnya.


"Hem.." Jawab Diana singkat, tubuhnya masih menikmati sisa-sisa sentuhan Erick meski Erick belum memulainya.


Erick menyeringai, sungguh gair*h nya slalu bangkit saat bersama istrinya itu.


"Mau aku mulai sekarang?" Tanya Erick sambil menggigit kecil salah satu puncak gunung Diana.


"Awsshh, jangan digigit Mas.."


"Maaf Sayang, aku terlalu gemas.." Lirih Erick yang kemudian berganti untuk menghisap puncak gunung Diana dengan rakus.


Tangan Diana memeluk erat kepala Erick, membuat Erick semakin bersemangat.


"Aku mulai ya Sayang."


Perlahan Erick terus menghujam Diana, membuat tubuh Diana bergetar dan mendes*h cantik.


"Kamu sexy sekali sayang." Racau Erick.


"Mas... akh..."


Erick berhenti perlahan, membuat Diana membuka matanya. "Kenapa berhenti Mas?" Tanya Diana.


"Aku ingin kamu yang memimpin." Bisik Erick.


"Tapi aku takut tidak bisa memuaskan aku." Lirih Diana.


Erick tersenyum, "Menciummu saja aku sudah puas Di.."


Diana mengangguk, kini mereka pindah kedalam bathtub, Diana memposisikan dirinya duduk diatas pangkuan Erick, dan perlahan Erick membantu Diana mengarahkan agar bagian intinya sempurna memasuki pusakanya.


"Akh..." Des*h Erick.


"Mas.." Lirih Diana.


"Baru dimasukin aja udah berasa Sayang, apalagi jika dimainkan." Erick menelusuri leher jenjang Diana.


"Bagaimana ini Mas?" Tanya Diana polos.


Erick membantu Diana untuk memimpin permainan, hanya satu kali mengajarinya, Diana sudah mulai terbiasa, dia menari-nari diatas tubuh Erick membuat sensasi berbeda pada Erick.


Erick dan Diana terus menyatukan dirinya, mereka benar-benar berbuka setelah lama berpuasa, Diana dan Erick begitu menikmati sentuhan yang diberikan oleh masing-masing. Diusia Erick yang sudah kepala lima malah membuat erick semakin bergairah.


"Emmnggh" Erick tidak tahan lagi memberhentikan permainan Diana, tentunya setelah membuat Diana beberapa kali melakukan pelepasan.


Nafas Diana terengah-engah. "Lelah?" Tanya Erick.


"Sedikit." jawab Diana.


"Kamu mengalahkanku Di.."Suara parau Erick yang membuat wajah diana merona merah.


"Kita mandi lagi ya." ajak Erick yang kemudian diangguki oleh Diana.


***


Erick membantu Diana mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer, sesekali mencium pundak Diana yang sedikit terbuka.


"Jangan pancing aku Mas." Ucap Diana.


"Kalo nanti malam aku minta lagi, boleh?"


"Tentu saja boleh Mas."


"Kamu menyukainya? hem?"


Diana mengangguk. "Iya Mas."


"Bagaimana kalau kita bulan madu?" Tanya Erick.


"Tidak perlu Mas, setiap hari dirumah juga kita bisa slalu bulan madu."


"Ahh kau benar sekali Sayang. Jadi boleh ya kalo minta tiap hari?"


"Boleh, asal kamu kuat."


Erick tertawa, "Apa masih meragukanku?" Tangan Erick meremas salah satu gunung kembar Diana.


"Tidak Mas, aku tidak ragu, kamu masih perkasa sekali."


.


.


.


.

__ADS_1


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2