
Tristan memberhentikan mobilnya disebuah minimarket.
"Kenapa berenti Tan?" Tanya Fariz.
"Beli cemilan dulu sama minuman ringan, biar ngerjain tugas dan bergadangnya lebih semangat." Jawab Tristan sambil melepas seatbeltnya.
Selesai membeli cemilan dan minuman, mereka duduk diteras mini market sambil menyesap ice coffee yang tadi dibeli sekalian di mini market.
"Riz, coba lo telpon Ghea. Dia udah dirumahnya atau belum?"
"Lah kenapa gue?"
"Ya lo lah, kalo gue kan ga enak Riz, masa gue telpon bini orang, apa tanggepan Ghea."
Fariz tertawa, "Tristan, Tristan.. posisi lo sama kayak gue, kita sama-sama cowok, masa gue yang harus telpon bini orang." Jawab Fariz santai.
"Bukan gitu Riz, kalo lo sama Ghea kan dari dulu pure temenan, sedangkan gue sama Ghea dulu saling ada rasa, gak enak aja kalo gue masih care sama dia."
"Kenyataannya emang begitu kan Tan? lo masih care sama Ghea." Fariz menghela nafas kemudian melanjutkan omongannya, "Gini ya Tan, menurut gue lo telpon Ghea juga gapapa, mengingat lo tetap berhubungan baik sama Ghea sebagai sahabat kan."
Tristan memijat pangkal hidungnya. "Menurut lo gitu ya Riz?"
Fariz mengangguk, "Coba lo telpon, semakin lo bersikap biasa aja semakin lo bisa mengendalikan perasaan lo Tan."
Tristan mengambil ponselnya, mencari nama Ghea di ponselnya kemudian menelponnya.
"Halo Tan.."
^^^"Ghe, dimana? kata Stevi langsung pulang? tadinya gue sama Fariz mau ngajakin lo sama Stevi nongkrong di cafe."^^^
"Iya Tan, gue langgsung pulang soalnya Mas Fadhil lagi keluar kota, jadi slama dia diluar kota, gue langsung pulang aja."
^^^"Hmm, bagus kalo gitu, tapi ini udah dirumah kan?"^^^
"Udah Tan, tadi gue naik taxi online."
^^^"Oke deh kalo gitu, ya udah ya Ghe, met istirahat."^^^
"Iya Titan.. met istirahat juga."
Tristan memutus panggilannya, tanpa disadari wajahnya tersenyum sambil menatap layar ponselnya.
"Lega?" Tanya Fariz iseng.
"Seengganya Ghea berada ditempat yang aman Riz, gue masih yakin Kak Yasmin datang dan cari Ghea karna ada sesuatu. Gue berfikir apa yang sedang direncanakan Kak Yasmin?"
"Feeling lo masih kuat aja Tan."
"Lo gak akan ngerti Riz, gue saksi ketidak bahagiaan Ghea sedari kecil, gue cuma ingin melindungi Ghea dari orang-orang yang buat dia gak nyaman."
__ADS_1
"Tapi sampai kapan Tan? lo juga harus move on dong."
"Ya sampai gue move on Riz, tapi lo tenang aja, gue gak ada maksud masuk ke hubungan Ghea sama Pak Fadhil, gue gak akan melewati batas Riz."
"Cakeppp... itu baru sahabat gue."
"Hai Riz." Suara seorang wanita menyapa Fariz dan duduk begitu saja bersama Fariz dan Tristan.
"Jessi." Panggil Fariz dengan terkejut.
"Tumben nongkrong disini Riz?" Tanya Jessi asal.
"Nemenin cowok galau nih." Ledek Fariz ke Tristan.
Mata Tristan mendelik, menatap sinis Fariz tanpa berkata.
"Ohh cowok galau, sad boy dong." Ledek Jessi juga.
Tristan berdiri dari duduknya, "Balik Riz." Ucapnya cuek.
Fariz menarik lengan Tristan, "duduklah dulu, gak enak nih masa cewek baru datang kita tinggal."
Mau tidak mau Tristan duduk kembali.
"By the way thanks ya, dua puluh nasi bungkus yang lo kasih buat temen-temen gue dilampu merah kemarin." Ucap Jessi mencoba berbasa basi pada Tristan.
"Santai aja, gue kan cuma gak mau punya hutang." Jawab Tristan cuek.
Jessica menggelengkan kepalanya, "Gak kenal, cuma kemarin gue bantu dia ganti ban mobil."
"Kalo gitu sekarang kenalan lah, ini Tristan sahabat gue dari SMA." Kemudian Fariz menatap Tristan, "Tan ini Jessica, temen gue."
Jessica mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan Tristan, sementara Tristan hanya menatap uluran tangan itu tanpa membalasnya.
"Hem." Jawab Tristan cuek.
Jessica menarik kembali tangannya, menatap sinis Tristan yang mengalihkan wajahnya entah melihat apa.
"Nih cowok apa es balok ya? dingin banget. Gumamnya dalam hati.
***
Dirumah kekuarga Latif, Ghea duduk bersama Annisa dan Alisha adik kembarnya Fadhil.
Mereka mengobrol dengan akrab, Ghea mendengarkan curhat kedua adik ipar kembarnya itu.
"Jadi kalian gak pernah pacaran?" Tanya Ghea pada kedua adik ipar kembarnya itu yang kini duduk dikelas tiga SMA.
"Ya karna Papa melarang kami Mba. Kata Papa di islam itu gak ada pacaran, ada saatnya nanti kita taaruf." Jawab Alisha.
__ADS_1
"Tapi koq dulu Mas Fadhil pacaran sama Kak Yasmin, sampai sepuluh tahun lagi." Ucap Ghea dengan heran.
"Ya itu karna Papa dan Mama kecolongan, pokonya dulu tuh Mas Fadhil pas masih pacaran sama Mba Yasmin kaya bukan Mas Fadhil. Mas Fadhil malah jadi jauh dari agama, jarang ikut sholat berjamaah, hidupnya cuma ngekorin Mba Yasmin terus, bucin banget." Jawab Annisa.
"Eh tapi jangan salah, sekarang Mas Fadhil juga tetap bucin, tapi sama Mba Ghea. Dan Alhamdulillah Mas Fadhil malah bimbing Mba Ghea dan Mas Fadhil balik lagi kayak dulu." Sahut Alisha.
"Iya bener kamu Al, yang penting uang jajan kita balik lagi kayak dulu ya, kalo waktu pacaran sama Mba Yasmin, boro-boro kasih kita uang jajan, yang ada Mas Fadhil kerja didua tempat buat nyukupin gaya hidupnya mba Yasmin." Kesal Annisa.
"Oh ya?" Tanya Ghea.
"Iya.." Annisa menganggukan kepalanya.
"Kalian jamgan ghibahin Mas Fadhil." Suara Miranti yang menghampiri anak kembar dan menantunya sambil membawa cemilan dan minuman di nampan.
"Gak Ghibah Ma.. cuma cerita." Jawab Annisa sambil nyengir menampilkan deretan gigi yang dipasang behel.
"Yang penting sekarang, Mas Fadhil udah berubah jadi lebih baik lagi, punya istri yang shalihah, nerima apa adanya.. Slalu ada hikmah dibalik setiap kejadian." Ucap Miranti dengan bijak.
Miranti menatap wajah Ghea, "Apa kamu bahagia menikah dengan Fadhil Ghe?"
Ghea tersenyum, "Kenapa Mama bertanya seperti itu. Tentu aku bahagia Ma.. kebahagiaan yang gak pernah berani aku bayangkan sebelumnya."
Miranti pun tersenyum, "Iya Ghe, tadinya Mama khawatir kamu tidak bahagia, karna Mama yang memaksa minta kamu untuk kamu menggantikan Yasmin menjadi pengantinnya Fadhil. Mama merasa bersalah sekali."
Ghea menggenggam tangan mama mertuanya itu. " Mama jangan berfikir begitu, aku bahagia sekali Ma jadi istrinya Mas Fadhil, jadi anak menantunya Mama dan Papa, punya Kakak sebaik Mas Fathan dan Mba Alya, punya adik-adik seperti Alisha dan Annisa juga punya tiga keponakan yang lucu-lucu. Jujur aku merasa menemukan hidupku yang baru Ma, merasa terlahir kembali dikeluarga ini."
"Syukurlah Ghe, entah kenapa, sewaktu pertama kali mama melihatmu di Mall, Mama begitu ingin membawamu pulang saat itu juga."
***
"Si*al.. Susah juga nemuin Ghea, udah kaya mau ketemu orang penting." Umpat Yasmin.
Yasmin terus mencari cara untuk menemui Ghea, selain dia ingin membawanya kehadapan Arnold, Yasmin juga berencana ingin merebut Fadhil kembali.
"Gue yakin Fadhil masih cinta sama gue, gak mungkin dia bisa lupain gue yang udah sepuluh tahun pacaran sama dia." Yasmin berkata dengan percaya dirinya.
"Kalo Ghea mau baik-baik melepas Fadhil, gue gak akan susah payah bawa dia kehadapan Arnold, tapi apa Ghea mau lepasin Fadhil ya? tapi kan ada Tristan, kenapa Ghea masih bertahan sama Fadhil? Bukankah Ghea mencintai Tristan?" Yasmin terus bermonolog.
.
.
Apa yang direncanakan Yasmin?
Isi Komentar yuk..
.
.
__ADS_1
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....