
"Dekat tapi tidak dapat kuraih, itulah dirimu."
~Tristan~
...~~~~...
"Bagaimana kuliahmu Tan?" Tanya Daniel sang Papa yang kini sedang makan malam bersama.
"Baik Pa.." Jawab Tristan singkat.
"Hubunganmu dan Ghea? kamu tidak membuat Ghea dalam kesulitan kan Tan? Papa tidak mau kamu masuk terlalu jauh dikehidupan Ghea dan suaminya."
"Papa tenang aja, Tristan tidak senekat itu Pa.. Meskipun perasaan Tristan masih sama tapi Tristan masih bisa mengendalikan perasaan Tristan."
Daniel mengangguk, "Papa juga ingin Ghea jadi menantu Papa, tapi kamu tau sendiri keyakinan kita dengan keyakinan Ghea berbeda, meskipun begitu, Papa tetap menganggap Ghea bagian dari keluarga kita Tan, sayangilah Ghea hanya sebagai saudaramu."
"Iya Pa.. Papa tenang aja. Tristan gak mungkin ngelakuin hal yang membuat Papa dan Mama kecewa lagi." Lirihnya.
"Pasti nanti akan ada jodoh buat lo Tan, santai aja, umur lo baru sembilan belas tahun." Sahut Krisna.
"Iya Bang, gue santai koq. Yang harusnya gak santai itu Lo, umur Lo udah dua puluh lima tahun masih jomblo aja." Ledek Tristan.
"Santai Tan, gue masih seneng ngejar karier gue, kalo udah ada waktunya juga gue punya pacar nanti."
"Hah, kalian ini.. Harusnya Mama dulu punya anak lebih dari dua, mana tau kalo Tristan punya adik, adiknya itu perempuan." Kali ini Monica yang berbicara.
"Sabar Ma.. Tunggu cucu aja dari bang Krisna." Jawab Tristan sambil tertawa.
Perlahan kondisi hati Tristan sudah mulai stabil, ia bisa menerima takdir cintanya meski masih ditahap proses melupakan.
Tristan menatap kamar Ghea yang terletak disebrang rumahnya, biasanya ia melihat Ghea nya itu tengah duduk dibalkon kamar dengan wajah sedihnya, kini tak ia lihat lagi kesedihan diwajah Ghea, Tristan yakin Ghea nya kini sangat bahagia.
"Ghe.. Titan rindu..." Gumamnya sambil terus menatap kamar Ghea.
Tristan mengambil ponselnya, melihat foto yang tadi siang diambil saat dicafe, Sebelum bubar mereka sempat berfoto berlima termasuk Fadhil.
"Pak Fadhil memang pria yang baik Ghe, gak ada alasan lagi buat gue khawatir sama lo." Tristan seolah bicara pada layar ponselnya.
"Tuhan, bantu aku untuk melepas Ghea dengan tulus." Doanya dalam hati sambil menghembuskan nafas kasarnya.
***
"Ayah.." Panggil Ghea saat melihat sang Ayah menunggu diparkiran kampus.
Erick tersenyum saat melihat kearah Ghea anak bungsunya itu.
"Sudah selesai Ghe?" Tanya Erick.
"Sudah Yah."
__ADS_1
"Sudah ijin Fadhil?" Tanya Ayah lagi.
"Mas Fadhil lagi jalan kesini, tadi aku sempat telpon Mas Fadhil dulu Yah."
Tak lama Fadhil pun tiba menghampiri Erick dan Ghea.
"Fad, Ayah pinjam anak Ayah dulu sebentar ya." Ucap Erick.
"Iya Yah, nanti Fadhil jemput kerumah Ayah atau gimana Yah?" Tanya Fadhil dengan sopan.
"Tidak usah kamu jemput, Ayah tidak membawa Ghea kerumah, biar nanti Ayah yang antar Ghea kerumah keluargamu."
Fadhil mengangguk kemudian mencium punggung tangan Erick sebagai tanda hormat.
"Hati-hati ya Sayang." Ucap Fadhil pada Ghea sambil mencium keningnya.
"Iya Mas, aku pergi dulu ya Mas, Assalamualaikum." Ucap Ghea.
Fadhil membukakan pintu mobil untuk Ghea, setelah Ghea naik dan menutupnya, Fadhil menjawab salam Ghea. "Waalaikumsalam." Jawabnya sambil tersenyum.
Mobil Erick yang membawa Ghea perlahan bergerak keluar dari area kampus.
"Kita mau kemana Yah?" Tanya Ghea sambil memperhatikan jalanan yang mereka lalui.
"Kesatu tempat, ada yang sedang menunggu kita Ghe." Jawab Erick.
Didalam perjalanan Erick terus menanyakan seputar kegiatan Ghea, hubungannya kini dengan Tristan, dan kehidupan rumah tangga Ghea.
Setelah duapuluh menit perjalanan, mereka tiba disebuah komplek pemakaman Umum. Erick mengajak Ghea turun, tak lupa ia mengambil sebuket bunga dan taburan bunga mawar yang sudah Erick siapkan sebelum menjemput Ghea dikampusnya.
"Yah, kita mau ziarah kemakam siapa?" Tanya Ghea saat Erick menutup pintu mobilnya.
"Ikutlah dengan Ayah Ghe, nanti Ayah akan ceritakan semuanya." Erick merangkul pundak putri bungsunya itu.
Erick membawa Ghea jalan menelusuri makam hingga langkahnya terhenti pada sebuah makam bertuliskan nama yang sangat cantik, Sofia Salsabila dibatu nisannya.
Erick berjongkok disisi makam, sambil mencabuti rumput-rumput kecil diatas makam.
"Assalamualaikum sayang, kali ini aku datang bukan hanya bersama Bryan, tapi lihatlah, aku sudah menepati janji untuk membawa anak bungsu kita." Ucap Erick.
"Yah..." Panggil Ghea.
Ayah mendongakan kepalanya melihat Ghea yang masih berdiri, "Sini Ghe.. Kita berdoa dulu ya, nanti Ayah akan ceritakan."
Ghea berjongkok percis didepan Erick, mengikuti Erick berdoa walaupun dalam hatinya bertanya-tanya.
"Ghe, mungkin kamu bingung dengan semua ini. Dan Ayah ingin meminta maaf karna mungkin telat memberitahumu soal ini."
Erick menjeda kalimatnya.
__ADS_1
"Ghe, ini adalah makam Sofia, dia adalah istri pertama Ayah yang sangat Ayah cintai sekaligus yang pernah Ayah sakiti." Perlahan Erick mengeluarkan bulir-bulir air mata dari matanya.
Dengan ucapan terbata-bata, Erick akhirnya mengungkapkan satu kebenaran dalam hidupnya.
"Dia adalah Ibu mu Ghe, Ibu yang mengandung dan melahirkan Mu, Ibu yang rela mengorbankan nyawanya demi memberi kehidupan untukmu."
Ghea masih menatap sang Ayah dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
"Vika bukan Bunda Mu, Yasmin dia anak Ayah tetapi dari Vika, dan Saudara sekandungmu hanya Bryan."
"Maksud Ayah apa? Ghea gak ngerti Yah?"
Erick mulai menceritakan semua dari awal, bagaimana ia berselingkuh dengan Vika dari Sofia, hingga Vika melahirkan Yasmin, namun Erick enggan meninggalkan Sofia karna sangat mencintainya, Ia hanya tergoda dan terbawa nafsu oleh pesona Vika yang saat itu menjadi model disalah satu perusahaannya. Namun Erick tetap bertanggung jawab dengan memberi nafkah pada Vika dan Yasmin, hingga Sofia hamil dan melahirkan Ghea, nyawanya tidak tertolong. Dengan terpaksa, Erick menikahi Vika secara siri hingga kini demi kehidupan Bryan dan Ghea, tidak disangka, Vika mengambil kendali dan membuat kehidupan Erick bersama anak-anaknya semakin menjauh.
"Maafkan Ayah Ghe, Ayah menyesali perbuatan Ayah pada Ibumu. Meski ibumu tidak tau apa-apa. Perasaan bersalah Ayah membuat Ayah jadi abai terhadapmu. Vika terus-terusan meracuni pikiran Ayah, karnamu, Ibu mu meninggal. Maaf Ghe, maafkan Ayah." Tubuh Erick bergetar.
Ini pertama kali bagi Ghea melihat sang Ayah dengan kondisi rapuh. Ghea pun menangis setelah mengetahui kebenarannya. Ia semakin menyadari dan menemukan jawaban yang slama ini ia cari, mengapa bundanya tidak pernah menyayanginya, ternyata karna Vika bukanlah Bundanya.
"Kenapa Ayah baru bilang? Tak taukah Ayah hatiku terus bertanya mengapa Bunda slalu membeda-bedakan aku dengan Kak Yasmin, Ternyata memang aku bukan anak Bunda." Ghea menutup wajahnya dan menangis.
"Ayah menyayangimu Ghe, hanya saja Ayah tlah dibutakan oleh Bundamu. Maafkan Ayah, Ayah janji akan menebus semua kesalahan Ayah."
Setelah mereka merasa puas menyalurkan emosi dan kini cukup tenang, akhirnya Ghea bisa memahami dan menerima kenyataan dalam hidupnya.
"Apa Ibu sangat baik?" Tanya Ghea sambil mengusap batu nisan itu.
"Tidak ada wanita sebaik Ibumu Ghe, nama Salsabila, Ibumu sematkan dinamamu, Ibumu bilang dia bahagia bisa mempunyai anak perempuan."
"Seperti apa wajahnya Yah?"
"Cantik, sangat cantik seperti dirimu. Nanti Ayah akan berikan fotonya padamu Ghe."
"Apa karna aku begitu mirip dengan Ibu, jadi Ayah mengabaikanku slama ini?"
Erick terdiam, pertanyaan Ghea seperti tamparan keras diwajahnya. Memang benar, Slama ini Erick tidak pernah mau menatap wajah Ghea ketika berbicara, karna itu membuatnya hanya akan ingat pada Sofia.
"Maafkan Ayah Ghe.." Lirih Erick.
Lama Ghea terdiam, akhirnya Ghea berbicara kembali. "Sudahlah Yah, yang penting Ghea udah tau semuanya. dan Ghea berharap Ayah tidak mengabaikan Ghea lagi. Ghea pun ingin disayang Ayah, ingin diperhatikan Ayah, ingin dibela oleh Ayah."
"Ayah janji Ghe, Ayah akan menyayangi Ghea, membela Ghea, dan tidak mengabaikan Ghea lagi."
.
.
Mumpung senin, bagi Votenya dong Readers, jangan lupa tetep di Like, koment dan jadikan Favorit ya biar gak ketinggalan Up nya ❤
.
__ADS_1
.
...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....