TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)

TAKDIR CINTA (Ghea & Tristan)
BUKA PUASA


__ADS_3

Area 21++


Bocil dilarang masuk ya!!!


***


Semakin sore, tamu yang hadir semakin berkurang, Zayn yang sedari tadi rewel karna merindukan kasurnya sudah tidak sabar mengajak Papa Mama nya untuk pulang.


"Yah, Ghea pulang duluan ya, Zayn rewel, sepertinya ngantuk."


"Iya Ghe, hati-hati dijalan ya."


"Tante Diana dimana Yah?"


"Ghe, sekarang Diana adalah Mamamu, kalo tidak keberatan, tolong panggil Diana Mama." Ucap Erick dengan pengertian.


"Ahh Ayah benar sekali, sekarang dia itu Mamaku. Maafkan Ghea Yah.."


"Tidak apa Ghe, nanti juga biasa."


"Jadi dimana sekarang Mama Diana?"


"Mamamu sedang ganti pakaian dikamarnya, Ayah malam ini tidak pulang Ghe, jangan menunggu Ayah untuk makan malam ya."


Ghea mengangguk kemudian mencium pipi Erick.


"Sekali lagi selamat ya Yah, Ayah harus bahagia bersama Mama Diana." Sebuah pelukan hangat Ghea berikan pada Erick.


Ghea juga berpamitan pada Fariz dan Stevi, sementara Tristan dan Jessi sudah pulang dari tadi bersama Monica dan Daniel.


"Lho gak nginep sini aja Ghe, banyak kamar disini." Ucap Fariz.


"Buluknya Zayn gak dibawa mana bisa tidur anak gue kalo gak ada guling buluknya ." Ghea tertawa.


"Ya salam ponakan gue ada-ada aja deh, ganteng-ganteng ngekepin guling buluk."


***


Tok.. tokk.. tokkk.


Erick mengetuk pintu kamar Diana.


"Masuk." ucap Diana dari dalam.


Erick masuk kedalam kamar Diana.


"Sudah siap?" Tanya Erick.


"Sebentar lagi Mas." Diana masih sibuk mengemas perlengkapannya.


Grepp..


Erick menghampiri dan memeluk Diana dari belakang, membuat Diana terkesiap.


"Mas.." Lirih Diana.


"Jangan lama-lama sayang.."


"Ini sebentar lagi selesai Mas."


Erick beralih duduk disisi tempat tidur Diana, matanya terus menatap wajah ayu istrinya itu.


"Yuk Mas, aku udah selesai." Suara Diana membuyarkan lamunan Erick, entah apa yang tengah dipikirkan lelaki bercucu dua itu.


"Sini biar aku yang bawa kopernya." Erick meraih koper dari tangan Diana dan menggaretnya keluar dari kamar.


Setelah berpamitan kepada Kakek Tara dan Fariz, Erick membawa Diana menuju hotelnya. Erick sudah mempersiapkan kamar unggulan dihotelnya yang diperuntukan untuk pemilik hotel dengan taburan bunga mawar merah diatas tempat tidur.


Dengan tidak sabarnya, Erick membawa Diana menelusuri lorong hotel untuk menuju kamar yang sudah ia persiapkan.


"Mas.. Kamarnya koq dihias begini?" Tanya Diana saat memasuki kamar hotelnya.


Erick memeluk Diana dari belakang, "Memangnya kenapa?"


"Aku malu Mas, umur kita tidak muda lagi. Ini lebih cocok untuk kamar pengantin Fariz dan Stevi saat mereka menikah nanti."


Erick membenamkan wajahnya diceruk leher Diana. "Kita jangan kalah sama yang muda." Ucap Erick dengan suara parau.


"Mandi dulu Mas.. Kamu belum mandi sedari tadi."


"Mandiin Di.." Goda Erick.


"Apa sih Mas." Wajah Diana bersemu merah menahan malunya.


"Nanti aja mandinya sekalian." Suara Erick semakin berat.

__ADS_1


"Mandi dulu Mas, badanmu sangat lengket."


Dengan berat hati Erick menuruti kemauan Diana, Ia mengambil pakaian gantinya dan bergegas menuju kamar mandi.


Erick menanggalkan pakaiannya didalam kamar mandi, hasratnya sudah tinggi namun harus menundanya.


"Kamu menginginkannya? Aku pun begitu, sabar, Ini pengalaman pertama untuk Diana, kau harus bermain selembut mungkin" Ucap Erick sambil mengelus pusakanya agar mau sedikit menjinak.


Hanya membutuhkan lima belas menit untuk Erick membersihkan diri, kini Erick hanya memakai boxer dan tubuhnya hanya ditutupi oleh bath thrub. Erick keluar dari kamar dengan rambut basah yang ia keringkan dengan handuk kecil ditangannya.


Diana beranjak dari duduknya dan menghampiri Erick.


"Sini aku bantu Mas." Diana meraih handuk dan membantu Erick mengeringkan rambut basahnya.


"Kamu lapar?" Tanya Erick.


Diana menggeleng. "Belum Mas.. Mas Lapar?"


"Lapar, sangat lapar." Bisiknya.


"Mau aku pesankan makanan?" Tanya Diana.


"Aku bukan ingin makanan itu tapi ingin makanan yang lain."


"Makanan apa? bukankah dihotel ini ada banyak jenis makanannya?" Tanya Diana.


Erick tertawa, istrinya ini sudah umur kepala empat tapi masih sangat polos sekali. Entah karna Diana melupakan masa-masa terpuruknya yang membuatnya hilang kesadarannya selama dua puluh tahun. Sehingga dimasa kini sikap Diana tetap seperti gadis berusia dua puluh tahun.


Sementara Erick, ini adalah pengalaman ketiga kali untuknya.


"Kenapa tertawa Mas? ada yang lucu?" Tanya Diana.


Erick mengajak Diana untuk duduk disofa, dia mengarahkan Diana untuk duduk dipangkuannya.


"Mas.." Ucap Diana.


Tangan Erick terus saja mengusap rambut Diana.


"Hemm??" Tanya Erick.


"Aku malu..." Lirih Diana.


Erick mencapit dagu Diana, "Aku suamimu Di.."


Diana mengangguk.


Diana menggigit bibir bawahnya, ini adalah pengalaman pertama kalinya, karna dulu kesucian Diana direnggut paksa oleh pria tidak bertanggung jawab.


"Apa sakit Mas? aku takut." Diana memejamkan matanya, dia teringat kembali saat dirinya direnggut paksa, sangat menyakitkan.


Erick menangkap sesuatu dari diri Diana, ia mencoba untuk bersikap selembut mungkin pada Diana dan membuatnya berkesan.


"Aku ingin menghapus jejak masa lalumu Di, lupakanlah, akan ku buat setiap sentuhanku membuatmu bahagia."


Diana menatap mata Erick, mata yang sedari dulu membuatnya jatuh cinta. Lalu Diana mengangguk.


Erick mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Diana, Hidung mancung mereka saling bersentuhan sebelum akhirnya Diana memiringkan wajahnya seraya memberikan akses lebih pada Erick kemudian mulai mencium dan membelitnya,


Erick melepaskan pagutannya, mencoba berdiri dengan posisi tidak berubah, menggendong Diana seperti koala dan menuju tempat tidur yang akan menjadi saksi malam pertama mereka.


Perlahan Erick membaringkan tubuh Diana, membukakan satu persatu pakaian Diana, meski awalnya Diana menahannya sambil memejamkan matanya.


"Di.. lihat aku, Aku Erick suamimu."


Diana membuka matanya menatap mata Erick. "Aku kotor Mas.."


Bayangan masa lalu itu masih saja ada,


Erick mengelus pipi Diana, "Kamu berlian dimataku Di, tidak ada yang lebih suci dari dirimu saat ini."


Diana melemaskan tangan yang menahan sisa pakaiannya, membuat Erick kembali leluasa membuka sisa pakaian Diana.


Erick pun membuka bath trub yang masih ia kenakan, sehingga terlihat tubuh Erick, meski diusia yang bukan muda lagi, namun Erick masih merawat tubuhnya agar otot-otonya tetap kencang.


"Aaa.." Diana menutup wajahnya dengan bantal.


"Ada apa Di?" Tanya Erick panik.


"Senjatamu Mas.."


Erick melihat kearah pusakanya, masih tertutup boxernya, namun memang terlihat tonjolan yang seperti menahan sesak didalam sana.


Erick menyeringai tanda ingin menggoda istrinya itu. Ia buru-buru melepas Boxernya dan melemparnya kesembarang arah.


Erick meraih satu tangan Diana dengan lembut dan mengarahkannya untuk menyentuh pusakanya dan membuat Diana terkesiap.

__ADS_1


"Dia yang ingin buka puasa dan ingin makan Di.." Suara parau Erick memecah ketegangan Diana.


Diana mencoba menarik kembali tangannya namun Erick menahannya.


"Sentuh dia Di.. Sudah cukup lama dia berpuasa."


Lagi-lagi tangan Diana melemas, Diana menyentuh pusaka milik Erick.


"Mainkan Di.." Erick mengarahkan tangan Diana untuk memaju mundurkan tangannya dipusakanya.


"Ahhh." Suara Des*han Erick sambil menengadahkan kepalanya seperti menikmatinya.


"Apa seenak itu Mas?" tanya Diana polos.


Erick mengangguk, "Ada yang lebih enak Di, jika dia pulang kerumahnya." Tangan Erick meremas lembut bagian sensitif Diana.


"Ahhh Mas.." Diana merasakan sensasi berbeda ditubuhnya, seolah mendapat sengatan listrik.


"Kamu mulai basah Di.." Lirih Erick saat tangan itu terus bermain diarea sensitif Diana.


Erick mulai merapatkan posisinya, menciumi wajah Diana kemudian bibirnya, ciumannya kini turun kejenjang leher Diana, namun Erick enggan meninggalkan tanda merah disana, usianya yang sudah cukup berumur membuatnya malu jika terlihat tanda merah ditubuh Diana.


Erick lebih memilih tempat tersembunyi untuk melukis tanda merah disana, ia memainkan kedua gunung kembar Diana, Bibirnya meraup satu bagian dan satu tangannya asik meremas bagian satunya lagi, sungguh Erick terlihat seperti seorang bayi yang kehausan, permainan Erick membuat Diana melenguh dan menggusar rambut Erick. Semakin lama, kini turun dan semakin turun lagi, ia sempat menciumi bagian perut Diana, menyesap perut rata putih nan mulus itu.


Kini Erick membuka kedua paha Diana, membenamkan kepalanya disana, mengobrak ngabrik bagian didalamnya dengan permainan lidahnya.


"Mas Erickk..." Lirih Diana.


Erick sedikit mendongakkan kepalanya, "Lepaskan sayang." Ucapnya kemudian memulai kembali aksinya.


Sesuatu meledak dari dalam inti Diana. Erick membiarkannya kemudian naik kembali keatas Diana.


"Aku mulai ya Sayang.." Erick mencium sekilas bibir Diana.


Erick mulai membenamkan pusakanya dibagian inti Diana.


"Sempit dan susah sekali, apa karna Diana hanya melakukan satu kali dan selama dua puluh tahun lebih ia tak pernah disentuh?" Batin Erick.


"Mas.. Sakit..." Lirih Diana.


"Punyamu masih sempit sekali Sayang.."


"Bukan punyaku yang sempit Mas, tapi senjatamu yang terlalu besar, aku sampai takut." Jawabnya polos sehingga membuat Erick tidak mampu menahan tawanya, sungguh istrinya itu sangat menggemaskan.


Setelah Diana merasa rilex, Erick kembali membenamkan pusakanya, "Mas..." lirih Diana.


"Aku sudah didalam sayang.." Bisik Erick.


"Aku akan membawamu terbang dan membuatmu tidak akan melupakan malam ini."


Erick memulai permainannya, memaju mundurkan miliknya, menghentakkan miliknya sehingga membuat Diana tanpa sadar mend*sah.


"Suaramu Sexy sekali Di.. Milikmu juga sangat enak." Racau Erick disela-sela penyatuannya.


"Lebih cepat Mas.." Ucap Diana sambil menggusar rambut Erick dan membenamkannya diceruk leher Diana.


"Akan kulakukan sesuai permintaanmu sayang..."


Erick mempercepat gerakannya, hingga membuat Diana berkali-kali mencapai puncaknya.


"Eummnngggg" Suara erangan Erick saat tiba dipelepasan pertamanya.


.


.


.


Udah ya.. Author ngos-ngosan ngetiknya juga 🤣🤣


Ayo senin nih, yang udah disuguhin buka puasa ala Ayah Erick jangan lupa kasih Vote ya.


Ayah Erick juga butuh kopi nih biar bisa lanjut part selanjutnya,


Mama Diana juga butuh bunga gitu biar makin semangat layanin Ayah Erick. 🤭🤭


Klik Hadiah lalu Klik Bunga atau kopi ya.


Jangan lupa juga yang merasa hareudang tinggalkan koment dan jejak like.


.


.


.

__ADS_1


...Dukung Author yuk, dengan Vote, like dan coment agar tetap semangat....


__ADS_2